
"Ada perkembangan apa, Pi?" Tanya Sakya masih sambil menggigit roti di tangannya. Sakya tadi memang sedang sarapan, saat tim penyelamat datang menemui Papi Zayn seraya membawa sebuah kabar baik.
"Mereka menemukan letak titik lokasi speedboat yang ditumpangi Zeline. Semoga Zeline juga terdampar di pulau yang sama," jawab Papi Zayn penuh harap.
"Lalu mereka sudah menuju ke sana? Atau malah sudah sampai?" Tanya Sakya lagi.
"Mereka sedang dalam perjalanan ke sana. Kita tunggu info selanjutnya." Raut wajah Papi Zayn sudah terlihat lebih bersemangat ketimbang kemarin saat wajah itu terlihat lesu.
Ya, Zeline memang putri kesayangan Papi Zayn.
"Semoga Kak Zeline lekas ditemukan, Pi!" Ucap Sakya ikut positif thinking.
"Semoga saja!"
****
Zeline mengeratkan dekapannya pada guling besar yang entah sejak kapan ia peluk. Tak cuma tangan Zeline yang melingkar ke guling besar tersebut. Namun kaki Zeline juga sudah melingkar, seolah gadis itu baru saja menemukan sebiah kehangatan hanya karena ia memeluk sebuah guling.
Lagipula, sudah dua malam Zeline tak memeluk gulingnya saat tidur, gara-gara ia harus terdampar di pulau asing antah barantah bersama seorang pemuda menyebalkan bernama Gavin Erdiba.
Tapi tunggu, kenapa pagi ini Zeline bisa memeluk sebuah guling? Apa Gavin baru saja membuatkan Zeline guling baru?
Atau apa ada guling yang baru saja jatuh dari langit?
Zeline sedikit mengendus aroma guling yang rasanya juga tidak lembut di bagian yang mengenai wajah Zeline. Sesikit kasar dan baunya juga aneh. Ini guling apa sebenarnya?
Zeline akhirnya membuka mata untuk memastikan guling macam apa yang sebenarnya tengah ia peluk.
"Aaaaaaa!!"
Zeline seketika menjerit keras saat ia tahu kalau yang semalaman ia peluk dan ia kira guling ternyata adalah Gavin yang kini meringis seraya menggosok-gosok telinganya yang nyaris tuli karena teriakan Zeline.
"Berisik!"
"Ada apa berteriak pagi-pagi?" Tanya Gavin merasa kesal pada Zeline.
"Bukankah sudah kubilang, untuk tak cari-cari kesempatan!"
"Dasar tour guide kurang ajar!"
Bugh! Bugh!
Zeline tiba-tiba sudah memukuli Gavin dengan barbar.
"Hei! Hei!" Gavin berusaha keras menangkis serangan dadakan Zeline yang membabi buta.
"Kenapa kau mendadak memukuliku? Salahku apa?" Cecar Gavin merasa bingung. Pemuda itu masih terus berusaha menangkis serangan dari Zeline.
"Masih bertanya salahmu apa? Jelas-jelas kau itu sudah mencari kesempatan dalam kesempitan untuk kesekian kali!" Zeline bercerocos masih sambil melayangkan pukulan ke arah Gavin.
"Kenapa...."
"Kau memelukku saat aku tidur?"
"Kenapa! Kenapa, hah?" Tanya Zeline pada Gavin dengan nada bicara yang sudah berapi-api. Mungkin sekarang kalau dilihat memakai kacamata infrared, dari mulut gadis ini juga sudah menyembur api berwarna biru!
"Tunggu!" Gavin menahan kedua lengan Zeline dan mencekalnya dengan kuat.
"Kau bilang apa tadi? Aku memelukmu saat tidur?" Gavin mengulangi tuduhan Zeline tadi padanya.
"Ya!" Jawab Zeline dengan wajah ketus.
"Bukannya terbalik, ya?"
"Jelas-jelas semalam kau yang memelukku dan menjadikan aku gulingmu," tukas Gavin yang seperti sebuah skaknlmat untuk Zeline. Padahal kenyataannya memang demikian. Zeline saja yang sengaja membuat playing victim demi menutupi rasa malunya pada Gavin.
"Tudak usah playing victim! Aku tak akan menghakimi!" Ujar Gavin lagi seraya melepaskan cekalannya pada tangan Zeline. Kini gadis di depan Gavin itu terlihat merengut sembari menggosok-gosok tangannya yang tadi dicekal oleh Gavin.
"Bagaimana kau bisa tahu kalau aku yang memelukmu dan menjadikanmu guling?" Tanya Zeline masih dengan nada ketus.
__ADS_1
"Aku melihat dan merasakannya." Gavin tersenyum tipis seolah sedang meledek pada Zeline.
"Jadi kau awalnya tidur disini, membelakangikku," Gavin menunjuk ke temoat dimana Zeline mengambil posisi tidur pertama kali semalam.
"Lalu selang beberapa menit. Kau tiba-tiba berbalik ke arahku dan kakimu sudah menindih kakiku," ujar Gavin melanjutkan ceritanya.
"Kau tidak tidur memangnya semalam? Kenapa bisa bercerita detail begini?" Cecar Zeline menyela cerita Gavin.
"Aku tidur. Tapi hantaman kakimu yang uwooow!"
Plak!
Zeline mengeplak kepala Gavin yang meledeknya.
"Auuuw! Sakit juga keplakanmu! Padahal belum sarapan." Gavin terkekeh.
"Jadi aku terbangun saat kakimu menindih kakiku. Aku kaget dan tak bisa tidur lagi!" Gavin melanjutkan lagi ceritanya.
"Lalu setelah itu? Kau sengaja dekat-dekat agar aku memelukmu?" Sergah Zeline menuduh.
"Tentu saja bukan! Aku hanya diam di tempat dan kau sendiri yang meraba-raba ke samping seolah sedang mencari gulingmu yang hilang. Lalu kau menemukan aku dan pluk!"
"Kau memelukku," Gavin menaik turunkan alisnya dengan genit ke arah Zeline.
"Lalu kenapa kau tak melepaskan pelukanku atau membangunkan aku saja jika memang kau belum tidur! Bukankah itu sama saja dengan mencari kesempatan dalam kesempitan!" Cecar Zeline berapi-api.
"Tadinya memang aku ingin melepaskan pelukanmu. Tapi tiba-tiba angin berhembus,"
"Wussss!" Tangan Gavin mengibas ke kiri dan ke kanan seolah sedang menirukan gerakan angin.
"Dan hawanya berubah dingin." Lanjut Gavin lagi.
"Kau tahu sendiri, kausku rombeng-rombeng begini dan aku kedinginan, jadi ya aku pasrah saja kamu peluk dan kamu jadikan guling."
"Anget!" Ujar Gavin lagi yang kembali berhadiah keplakan dari Zeline.
Plak!
"Bukan mesum! Tapi memanfaatkan apa yang ada! Kan tidak ada yang rugi juga!"
"Kamu dapat guling, aku dapat kehangatan!" Kekeh Gavin yang selalu saja bisa menjawab dan beralasan.
"Sudah, tidak usah ngambek!" Ucao Gavin lagi seraya beranjak, lalu pemuda itu juga mengacak rambut Zeline dengan lancang.
"Gavin!" Zeline kembali bersungut.
"Apa? Mau ikut? Aku mau ke pantai," tawar Gavin yang sudah turun dari atas gubuk.
Cuaca pagi ini begitu cerah, setelah tadi malam terjadi badai hebat. Mungkin sebaiknya Zeline memang ikut Gavin ke pantai untuk menikmati pemandangan serta ombak yang bergulung-gulung.
"Kita akan sarapan apa pagi ini, Vin?" Tanya Zeline seraya menyusul langkah Gavin.
"Aku belum tahu! Nanti kita periksa dulu jebakan yang aku pasang semalam. Kalau tidak ada ikan, kita bisa ke hutan mencari petatas dan buah-buahan," ujar Gavin memaparkan rencananya.
"Kau akan membuatku terkentut-kentut lagi jika kita sarapan petatas lagi!" Celetuk Zeline tak senang. Gavin justru terkekeh dengan celetukan Zeline tersebut, dan mereka berdua terus melanjutkan langkahnya ke arah pantai.
****
"Halooo!"
"Apa ada orang disini?"
Gavin dan Zeline yabg sedang duduk di dekat pantai samar-samar mendengar teriakan orang dari bagian belakang pulau. Atau lebih tepatnya dari sisi pulau, dimana speedboat Gavin terbalik dan terdampar.
"Kau mendengar sesuatu?" Tanya Gavin memastikan karena ia khawatir salah dengar.
"Halooo!" Kembali terdengar panggilan dari arah hutan.
"Aku mendengarnya! Itu pasti tim penyelamat!" Zeline sudah bangkit berdiri dengan cepat, lalu berlari ke arah sumber suara.
__ADS_1
"Haloo!"
"Haloo! Kami disini!" Teriak Zeline lantang menjawab panggilan dari tim penyelamat.
"Kami disini!" Seru Zeline sekali lagi sambil terus berlari ke arah sisi lain pulau.
"Zeline, tunggu!" Gavin ikut berlari untuk mengejar Zeline yang terus berteriak-teriak pada sumber suara tadi.
"Haloo! Apa kalian tim penyelamat!" Seru Zeline yang akhirnya tiba di sisi lain pulau dan gadis itu langka bersorak saat mendapati rombongan tim penyelamat yang mengenakan seragam warna oranye.
"Gavin!"
"Gavin! Itu tim penyelamat!" Zeline berteriak-teriak pada Gavin yang sudah berhasil menyusulnya.
"Kita selamat! Kita selamat, Gavin! Kita tak akan tinggal disini selamanya!" Zeline refleks memeluk Gavin masih sambil bersorak senang.
"Mereka pasti menangkap sinyal darurat yang aku kirimkan," gumam Gavin yang tak sengaja didengar oleh Zeline.
"Sinyal darurat apa? Kau mengirim sinyal darurat dari mana?" Cecar Zeline yang sudah melepaskan pelukannya pada Gavin bersamaan dengan tim penyelamat yang kini mulai mendekati mereka.
"Nona Zeline Abraham?" Tanya salah satu tim penyelamat yang tak terlalu dihiraukan oleh Zeline karena gadis itu masih menunggu jawaban Gavin perihal sinyal darurat.
"Aku mengirimkannya sebelum badai menerjang," jelas Gavin pada Zeline.
"Gavin Rainer?" Tanya anggota tim penyelamat selanjutnya pada Gavin.
"Ya, itu saya!" Jawab Gavin cepat yang sesaat langsung membuat Zeline menatap pada Gavin.
Gavin.... Rainer?
"Namaku Gavin R. Diba!"
"R nya adalah singkatan nama tengahku dan bukan R Diba pakai E! Gavin R. Diba!"
"Namamu Gavin Rainer Diba?" Tanya Zeline tiba-tiba pada Gavin.
"Ya! itu benar! Rainer nama keluarga Opa dan jadi nama tengahku," terang Gavin yang langsung membuat Zeline ingat pada Rainer's Resto milik Opa Theo yang kini dikelola oleh Om Bennedic. Lalu cucu Opa Theo yang tinggal di pesisir...."
"Ini Vaia, Ezra, dan Gavin!"
"Gavin ini yang paling kecil dan paling usil!" Ujar Tante Vale saat memperkenalkan anak-anaknya pada keluarga Halley.
"Kau anak bungsu Tante Vale?" Tanya Zeline lagi pada Gavin yang langsung terkejut.
"Iya, benar. Kau tahu nama bundaku?" Gavin mengernyit pada Zeline.
"Brengsek! Kau tidak mengenali aku, sepupumu sendiri, hah?" Zeline tiba-tiba sudah mendorong pundak Gavin dengan emosi.
"Tunggu tunggu! Apa maksudmu? Kita sepupu?" Raut wajah Gavin terlihat bingung.
"Sepupu dari jalur mana?" Tanya Gavin lagi masih bingung.
"Dari jalur keluarga Halley!"
"Aku anak Mami Thalita Halley dan Papi Zayn Abraham!" Jawab Zeline yang langsung membuat Gavin refleks berteriak.
"Apa?"
.
.
.
Nah lo!
🤣🤣🤣
Makanya kalau ada acara arisan keluarga itu ikut, Vin! Jangan sibuk melaut saja! Jadi popeye lama-lama!
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.