
"Seperti ini?"
"Pemanasan begini?" Gavin masih melakukan gerakan senam ringan di depan Zeline yang hanya mendengus sebal.
"Matikan saja AC-nya sekalian agar panasnya totalitas!" Saran Zeline dengan nada ketus.
"Baiklah!"
"Mana remote-nya?" Gavin mencari-cari remote pendingin ruangan, sebelum kemudian Zeline menyodorkannya pada Gavin. Zeline juga tampak mendelik kesal pada Gavin.
"Aku kecilkan saja suhunya, ya!" Izin Gavin yang sama sekali tak ditanggapi oleh Zeline.
"Kau marah? Kenapa mendelik begitu? Apa gerakan pemanasanku keliru?" Cecar Gavin yang tak jadi mengubah suhu AC. Pria itu sudah kembali naik ke atas ranjang dan berbaring di samping Zeline yang sudah menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang sudah setengah naked.
"Kenapa ditutup? Aku mau lihat gunung-mu!" Gavin menyibak selimut Zeline dengan sedikit memaksa. Sedetik kemudian, kedua mata Gavin langsung membelalak saat melihat bongkahan kenyal milik Zeline yang ukurannya begitu menggiurkan.
"Ck! Biasa saja ekspresinya!" Zeline yang kesal langsung mengusap wajah Gavin dengan kasar karena mata suaminya itu masih melotot dan bibirnya menganga seperti goa yang siap dimasuki oleh lalat.
"Besar!" Komentar Gavin yang kedua tangannya langsung sigap menangkup gundukan kenyal milik Zeline.
"Ck!" Zeline sedikit menggeliat karena merasakan sensasi geli dan aneh saat tangan Gavin menyentuh salah satu area sensitifnya tersebut. Ini memang kali pertama Zeline disentuh oleh seorang pria. Dan kini wajah Zeline terasa memanas.
"Kamu itu sebenarnya benar-benar polos atau hanya pura-pura? Masa iya pas aku bilang pemanasan sebelum bercinta, kamu malah melakukan pemanasan seperti orang mau renang!" Tanya Zeline dengan nada bersungut kesal. Namun bukannya langsung memberikan jawaban, Gavin malah terkekeh tanpa dosa seolah pertanyaan Zeline barusan adalah sebuah gurauan.
"Menurut kamu bagaimana?" Gavin balik bertanya sekaligus mengernyit usil pada Zeline.
"Ck! Orang ditanya malah balik bertanya!" Zeline memukul dada Gavin karena kesal. Wanita itu lalu hendak mengubah posisi dan membelakangi Gavin, namun Gavin mencegah dengan cepat.
"Aku benar-benar tak tahu pemanasan yang kau maksud itu," ujar Gavin tetap dengan ekspresi wajah yang mengesalkan.
"Mustahil! Usiamu saja sudah dua puluh tiga tahun! Masa iya belum tahu!"
"Kan pasti sudah pernah dapat mimpi, kan?" Cecar Zeline tak percaya.
"Mimpi apa?" Gavin kembali menunjukkan raut wajah polos.
"Iya mimpi itu! Yang biasa dialami kaum pria saat beranjak dewasa! Mimpi basah!" Jawab Zeline akhirnya karena merasa geregetan.
"Mimpinya sambil mandi apa, ya? Kok bisa basah?" Kekeh Gavin yang benar-benar membuat Zeline ingin mencakar saja suaminya ini.
"Terserah!"
"Awas! Aku mau tidur saja!" Zeline menyingkirkan tangan Gavin dengan kasar dari dadanya, lalu wanita itu berbalik dengan cepat dan memunggungi Gavin.
"Zel! Kamu marah?" Tanya Gavin seraya memainkan jemarinya di punggung polos Zeline. Wanita itu langsung menggeliat dan menaikkan lagi selimutnya.
"Zel!!" Panggil Gavin lagi sok mesra.
"Zeline!" Gavin sudah mendekap Zeline dengan erat.
"Lepas!" Zeline berusaha untuk berontak meskipun sepertinya tak bersungguh-sungguh. Sikap berontak Zeline lemah sekali.
"Kau mau pemanasan di mana?" Bisik Gavin sebelum kemudian pria itu mengecup tengkuk Zeline hingga istrinya itu sedikit menggeliat.
"Aku mau tidur!" Jawab Zeline ketus.
"Memang sudah ngantuk? Aku belum mengantuk!"
"Nonton film dulu, yuk!" Ajak Gavin yang kembali mengecup tengkuk Zeline.
"Film apa? Katanya tadi mau belah duren?" Jawab Zeline tetap ketus, meskipun sesekali wanita itu akan menggeliat saat Gavin mengecup tengkuknya. Gavin rasa, tengkuk Zeline adalah salah satu area sensitif juga.
"Kata kamu harus pemanasan dulu sebelum belah duren."
"Lagipula, kenapa namanya belah duren, ya? Memang bentuknya seperti duren?" Kekeh Gavin yang hanya membuat Zeline mendengus.
"Kenapa bukan belah nangka atau belah sawo saja?" Lanjut Gavin yang masih terkekeh.
"Bukan aku yang kasih nama! Kenapa tanyanya ke aku?" Sungut Zeline tetap dengan nada ketus. Namun sedetik kemudian, Zeline kembali menggeliat saat Gavin mencium tengkuknya lagi.
"Kenapa menggeliat-geliat begitu? Geli, ya?" Tanya Gavin menggoda.
__ADS_1
"Enggak!" Sanggah Zeline cepat. Namun kemudian Zeline menggeliat-geliat lagi karena Gavin yang tak berhenti menciumi tengkuk serta lehernya.
"Kau ternyata-"
"Tak benar-benar-"
"Polos!" Zeline berbicara dengan terbata-bata karena Gavin yang terus-terusan mencumbu leher serta tengkuknya. Dan kini, tangan Gavin juga sudah kembali menangkup dua gundukan kenyal milik Zeline.
"Hah!" Zeline sedikit memekik sekaligus tersentak, saat tangan Gavin mulai merem*s kedua gundukan kenyalnya. Rasanya seperti ada sengatan listrik yang menjalari setiap inchi saraf Zeline.
Gavin sudah membalik tubuh Zeline dengan cepat hingga kini posisi wanita itu ganti telentang. Gavin lalu menyibak selimut Zeline sebelum kemudian pria itu berguling dan menindih tubuh chubby Zeline.
"Oooh! Rasanya seperti naik ke atas kasur!" Ucap Gavin seraya mendekap tubuh Zeline.
"Sialan!" Zeline memukul punggung Gavin karena disebit kasur.
"Kasur katamu? Rasakan ini!" Maki Zeline sekali lagi sebelum kemudian Zeline dengan sekuat tenaga mengajak Gavin berguling dan kini pasangan suami istri itu sudah berganti posisi menjadi Zeline yang berada di atas Gavin.
"Aaarrgh! Aku tertindih kasur!" Pekik Gavin saat Zeline semakin memenggencet tubuh Gavin.
"Zeline!"
"Aku nanti gepeng! Ampuuun!!!" Gavin memekik semakin keras.
"Enak, kan?"
"Kasurnya empuk, kan?" Cecar Zeline merasa geregetan.
"Aaaargh! Aku ingin pingsan!" Gavin berekspresi lebay karena Zeline yang terus-terusan menindihnya.
"Pingsan, gih! Nanti tinggal aku guyur pakai air!" Zeline terus merapatkan smack down-nya pada Gavin.
"Zeline!"
"Uhuuk! Uhuuk! Aku sesak nafas!" Wajah Gavin sudah memerah seperti kepiting rebus.
"Zeline!" Pekik Gavin mulai kelojotan.
Zeline sedikit lengah dengan ekspresi lebay Gavin tersebut, dan saat itulah, Gavin tiba-tiba sudah mendekap Zeline dengan erat lalu kembali mengajaknya berguling.
"Lepas!" Zeline mendelik pada Gavin yang kini malah meledeknya.
"Apa? Nggak bisa gerak? Cium bau ketek aku!" Gavin mendekatkan ketiaknya ke hidung Zeline.
"Gavin!!" Zeline langsung berteriak sekuat tenaga.
"Lepaskan aku dan jauhkan ketek baumu itu!" Gertak Zeline pada Gavin yang malah cengengesan.
"Nanti pasti aku lepaskan, kalau sudah-"
"Sudah apa?" Potong Zeline yang emosinya sudah naik ke ubun-ubun.
"Kalau sudah...."
"Kalau sudah...." ekspresi wajah Gavin benar-benar mengesalkan sekarang. Zeline benar-benar akan menendang suaminya ini ke planet mars!!
"Kalau sudah ini!" Tanpa aba-aba, tanpa ancang-ancang, Gavin tiba-tiba sudah menyatukan bibirnya dengan bibir Zeline hingga membuat kedua mata Zeline membelalak.
Namun hal tersebut hanya berlangsung beberapa detik, karena Zeline yang langsung bisa menguasai dirinya, langsung membalas pagutan Gavin tanpa malu-malu.
Kuncian Gavin pada tangan Zeline perlahan juga mengendur, dan pagutan antara Zeline dan Gavin semakin panas saja. Zeline bahkan sudah menekan kepala Gavin agar pria itu semakin memperdalam ciumannya pada bibir Zeline.
Sial!
Zeline sudah kecanduan dengan bibir serta ciuman Gavin yang barbar ini!
Zeline dan Gavin terus berpagutan, hingga akhirnya mereka berdua sama-sama kehabisan nafas dan akhirnya saling melepaskan tautan bibir masing-masing.
Masih dengan nafas yang terengah-engah, Zeline dan Gavin saling menatap satu sama lain, seolah sedang memberikan isyarat.
"Baiklah, sekali lagi!" Gumam Gavin sebelum kemudian pria itu kembali meraup bibir Zeline dan memberikan pagutan panasnya. Pun dengan Zeline yang langsung membalas pagutan Gavin, sambil tangannya tak berhenti merem*s dan menjambak rambut Gavin. Dan lagi-lagi, nafas yang habis membuat Gavin dan Zeline terpaksa mengakhiri pagutan panas mereka.
__ADS_1
"Apa ada yang jual oksigen agar kita tak perlu berhenti?" Sebuah pertanyaan konyol tiba-tiba terlontar dari bibir Gavin.
"Ck! Tentu saja tidak ada!" Jawab Zeline seraya memukul dada Gavin yang kini masih menindihnya.
"Kau sudah panas sekarang?" Tanya Gavin yang benar-benar tak tahan melihat bibir bengkak Zeline yang malah membuatnya semakin seksi. Gavin akhirnya meraup bibir itu sekali lagi.
"Sedikit panas!" Ujar Zeline menjawab pertanyaan Gavin setelah pagutan panas mereka yang kesekian kali. Nafas Zeline bahkan masih terengah, saat Gavin kembali memagut bibirnya lagi.
Ya ampun!
Kapan ini akan selesai?
"Lalu aku harus menciummu berapa kali lagi agar kau benar-benar panas, hah?" Tanya Gavin masih di sela-sela pagutannya.
"Aku sebenarnya-"
"Tidak keberatan!" Gavin terus memagut bibir Zeline dan seolah tak mau berhenti.
"Tapi aku khawatir, kalau bibirmu akan semakin bengkak dan tak bisa kembali normal lagi besok," kelakar Gavin yang langsung membuat Zeline memukuli suamimya itu karena kesal sekaligus geregetan.
"Kenapa kau selalu saja meledekku?" Geram Zeline merasa kesal.
"Karena aku suka wajah marahmu!" Jawab Gavin yang malah terkekeh tanpa dosa.
"Lalu kau sengaja membuatku terus-terusan marah?" Zeline menatap tak percaya pada Gavin.
"Ya!"
"Karena aku menyukainya," jawab Gavin jujur.
"Ck! Kau benar-benar menyebalkan!" Zeline yang sudah dipenuhi emosi, langsung melakukan satu gerakan yang membuat tubuhnya dan tubuh Gavin kembali berganti posisi.
"Woman on top!!" Gavin bersorak girang dan Zeline langsung sekuat tenaga memberikan smack down pada Gavin.
"Rasakan ini! Woman on top! Rasakan! Rasakan!" Zeline semakin barbar menindih Gavin.
"Aaaarrrgh! Aku menyerah, Zel!" Ringis Gavin yang mulai kewalahan menghadapi serangan bertubi-tubi dari Zeline.
"Aku belum selesai!"
"Tapi kau akan membuat pinggangku patah!" Cicit Gavin memohon ampun.
"Aku minta maaf!" Ekspresi wajah Gavin sudah berubah lebay sekaligus mengesalkan.
"Ayo kita mulai belah duren saja dan kita sudahi smack down ini!" Mohon Gavin pada Zeline tetap dengan wajah lebay-nya.
Ck!
Zeline berdecak, lalu berguling dan berbaring memunggungi Gavin.
"Aku mau tidur!" Gumam Zeline seraya menarik selimut.
"Kok tidur? Nggak jadi belah duren?" Tanya Gavin yang sudah mendekap Zeline dan melihat ke wajah istrimya tersebut. Kedua mata Zeline sudah terpejam dan Zeline sepertinya sudah tidur.
"Hoaaaaam!" Gavin menguap lebar dan rasa kantuk yang tadi hilang, akhirnya sudah kembali lagi. Jam di nakas sudah menunjukkan pukul empat pagi.
"Baiklah! Ayo kita tidur dulu dan lanjut besok saja! Aku juga mengantuk," Gavin menguap sekali lagi, lalu pria itu mendekap tubuh Zeline dari belakang, dan membelitkan kakinya ke kaki Zeline. Gavin juga ikut masuk ke dalam selimut, dan tak butuh waktu lama, Gavin sudah terlelap sembari mendekap Zeline. Samar-samar terdengar dengkuran dari Gavin yang langsung membuat Zeline yang ternyata belum tidur berdecak kesal.
"Ck! Tidurnya mendengkur ternyata! Dasar menyebalkan!" Zeline mengeplak tangan Gavin dengan kesal dan wanita itu hendak meloloskan diri dari dekapan Gavin. Namun kemudian dekapan Gavin malah terasa mengerat dan pria itu juga bergumam entah sedang meracau atau memang Gavin belum tidur.
"I love you, Zeline!"
Kembali terdengar dengkuran Gavin. Zeline akhirnya hanya pasrah dan mencoba untuk ikut tidur saja. Zeline malah jadi mengantuk gara-gara dengkuran aneh Gavin.
.
.
.
Belum belah duren ternyata 🙈🤪
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.