Telat Nikah (Zeline & Gavin)

Telat Nikah (Zeline & Gavin)
SERANGAN PAGI


__ADS_3

Satu bulan kemudian....


"Kita harus ke kantor hari ini, Zel! Kau ada meeting-" kalimat Gavin tak jadi selesai,saat Zeline tiba-tiba sudah menyatukan bibirnya dengan bibir Gavin.


Oh, ya ampun!


Bagaimana Gavin bisa menolak, sekalipun badan Gavin rasanya sudah tak karuan.


"Mami!! Gretha mau melahirkan!"


Samar-samar terdengar teriakan Sakya dari lantai bawah. Entah bmsekeras apa Sakya berteriak, hingga teriakannya sampai ke kamar Zeline yang berada di lantai dua.


"Sayang!" Gavin memaksa untuk melepaskan pagutannya bersam Zeline.


"Mmmmmm!" Zeline sontak merengek.


"Kenapa dilepas, sih?" Protes Zeline yang kembali meraup bibir Gavin dan mel*matnya dengan panas.


"Lepas dulu!" Gavin kembali memaksa untuk melepaskan pagutan Zeline.


"Apa, sih?" Zeline berdecak kesal.


"Itu di bawah! Gretha mau melahirkan!" Ujar Gavin memberitahu Zeline.


"Iya biarin! Kan udah ada Sakya, suaminya Gretha! Kenapa kamu harus khawatir? Memangnya kamu suami Gretha?" Zeline mengomel panjang kali lebar sembari memukuli dada Gavin dengan kesal.


"Udahlah! Nggak usah dilanjutin!" Ujar Zeline lagi yang sepertinya sudah ngambek sekarang. Istri Gavin itu bahkan sudah melepaskan miliknya dari milik Gavin dengan kasar hingga membuat Gavin meringis.


"Auuuw! Linu!" Ringis Gavin seraya menatap pada miliknya yang masih tegak menantang. Padahal Gavin tadi sudah nyaris keluar.


"Sayang!" Panggil Gavin yang cepat-cepat bangun dan menyusul Zeline yangsudah berjalan ke arah kamar mandi. Tak ada jawaban dari Zeline.


"Zeline, Sayang!" Panggil Gavin lagi.


"Kamu tadi khawatir soal Gretha, kan? Yaudah kamu ikut urusin Gretha sana! Aku mau mandi!"


Braaak!


Zeline membanting pintu kamar mandi, tepat di depan wajah Gavin hingga membuat pria itu terlonjak.


"Ya ampun! Begitu saja marah! Dasar wanita!" Gerutu Gavin yang ikut-ikutan kesal.


Gavin ganti menatap pada miliknya yang masih mencari-cari lubang Zeline.


"Sudah selesai! Silahkan tidur dan tak usah menunggu lagi!" Omel Gavin pada miliknya sendiri.


Gavin sudah seperti orang gila sekarang karena bicara sendiri pada 'adiknya'.


"Tidur kau!" Perintah Gavin lagi metasa geregetan.


Saat itulah, pintu kamar mandi tiba-tiba kembali menjeblak terbuka.

__ADS_1


"Aku sedang mandi! Kenapa kau terus-terusan menyuruhku untuk tidur?" Omel Zeline seraya melotot pada Gavin.


"Aku tidak menyuruhmu! Aku menyuruh dia!" Kilah Gavin seraya menunjuk pada 'adiknya' yang masih tegak.


Zeline hanya diam, namun sedetik kemudian, Zeline langsung menarik Gavin dan mengajaknya untuk masuk ke kamar mandi.


"Zeline!"


"Akan aku bantu menidurkannya! Begitu saja tidak bisa!" Ketus Zeline yang sudah mendorong Gavin hingga punggung suaminya itu menabrak tembok kamar mandi. Zeline lalu memegang milik Gavin dengan mantap, mengurutnya sebentar, lalu nengarahkan ke dalam miliknya, setelah Zeline mengangkat satu kakinya ke atas dan menyandarkannya di pundak Gavin.


"Aku rasa gaya d*ggy style lebih enak," pendapat Gavin memberikan masukan pada Zeline.


"Kau benar! Kenapa aku tak kepikiran!" Zeline langsung dengan cepat mengubah posisinya, sementara Gavin langsumg menghela nafas panjang, sebelum mulai memasuki Zeline dari arah belakang.


Yeah!


Yang ini adalah gaya favorit Gavin!


"Meeting pagi jam berapa?" Tanya Zeline saat Gavin sudah mulai bergerak maju dan mundur. Tangan Gavin juga sudah aktif memainkan kedua gundukan Zeline yang menggantung bebas.


"Jam sembilan," jawab Gavin sebelum pria itu mencium tengkuk dan leher Zeline, hingga membuat Zeline sedikit menggeliat.


"Selesaikan saja yang ini dan jangan minta lagi! Kita harus mandi, lalu pergi ke kantor-" Zeline menggigit bibir bawahnya, saat wanita itu merasakan milik Gavin yang menyentuh area paling sensitif di dalam miliknya.


"Ouuuh! Rem*s lebih kuat!" Zeline memberikan aba-aba pada tangan Gavin yang sejak tadi seperti tidak niat bermain-main dengan dada Zeline.


"Seperti ini? Begini?" Gavin merem*s dengan kuat sambil sesekali memainkan ujungnya.


"Kenapa keras-keras begitu! Nanti kalau meletus bagaimana?" Omel Zeline lagi yang sesekali diselingi dengan des*han juga.


"Kau sendiri tadi yang minta lebih kuat. Giliran sudah aku perkuat, kau malah memukulku!"


"Maumu bagaimana sebenarnya?" Tanya Gavin bingung.


"Aaaahhh!" Zeline tiba-tiba merem*s tangan Gavin.


"Ada apa lagi sekarang? Kau mau keluar?" Tebak Gavin yang sudah mempercepat tempo gerakannya.


"Kau bagaimana? Sudah mau keluar belum?" Zeline malah balik bertanya pada Gavin.


"Belum aku rasa." Jawab Gavin yang langsung membuat Zeline berdecak.


"Cepatlah!" Perintah Zeline sambil melenguh sesekali.


"Ck! Sepertinya milikku sudah terlanjur masuk lagi dan sekarang ngambek tak mau keluar. Salahmu sendiri tadi tiba-tiba kamu cabut saat aku hampir sampai," Cerocos Gavin yang malah menyalahkan Zeline.


"Kau membuatku kesal tadi! Kenapa malah menyalahkan aku?"


"Jelas-jelas tadi kau memikirkan wanita lain saat kita sedang bercinta. Dan sekarang kau malah menyalahkan aku yang tiba-tiba berhenti di tengah jalan!" Zeline yang tak terima disalahkan langsung balik menyalahkan Gavin dan memaparkan semua kesalahan Gavin.


Ya ya ya!

__ADS_1


Wanita selalu benar!


Itulah kata mutiara dari Ayah Arga yang sekarang sudah terbukti kebenarannya.


"Iya, iya aku yang salah!" Jawab Gavin akhirnya merasa pasrah.


"Cepat keluarkan!" Perintah Zeline yang sudah mulai gelagapan.


"Sebentar! Aku masih menikmati sempitnya milikmu-"


"Ouuuh!" Gavin melenguh dengan lebay karena apa yang sejak tadi ia tunggu dan ia cari akhirnya datang juga.


"Kau ingin keluar?" Tebak Zeline yang langsung tanggap.


"Ya! Cepat hitung sampai lima!" Gavin merem*s bokong kenyal Zeline.


"Kenapa banyak sekali? Tiga saja!" Protes Zeline.


"Baiklah! Hitung sampai sepuluh!" Ujar Gavin mengoreksi.


"Gavin!!" Zeline langsung menyalak pada suaminya tersebut.


"Hitung sampai tiga!" Ujar Gavin akhirnya bersamaan dengan Zeline yang mulai menghitung...


"Satu!"


"Dua!"


"Tiga!!" Gavin berseru keras dan langsung sekuat tenaga menumpahkan benih-benih ketampanannya ke dalam rahim Zeline.


"Akhirnya!" Gavin baru bergumam lega, saat tiba-tiba Zeline sudah berbalik dengan cepat, lalu melompat ke arah Gavin dan meraup bibir Gavin dengan barbar.


"Zeline!" Pekik Gavin yang tak siap yang otomatis langsung terjengkang ke belakang dan tertindih tubuh bohay Zeline.


Oh, ya ampun!


Seseorang, tolong slamatkan punggung Gavin!


"I love you!" Ucap Zeline yang masih menindih Gavin dan menciumi bibir Gavin sesekali.


"I love you too, Istriku sayang!" Balas Gavin seraya meringis menahan nyeri di punggungnya.


"Sakya! Tolong gips punggungku!" Jerit Gavin dalam hati.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2