Telat Nikah (Zeline & Gavin)

Telat Nikah (Zeline & Gavin)
SIAPA YANG EGOIS?


__ADS_3

"Pagi, Bund!" Sapa Gavin yang baru tiba di rumah. Pemuda itu berjalan lesu dan meletakkan papan selancarnya secara serampangan.


"Sudah pulang?" Tanya Bunda Vale yang tadi sedang menyapu halaman rumah.


"Sudah! Ombaknya sedang tidak bersahabat, Bund," jawab Gavin lesu seraya duduk di undakan tangga depan rumah.


"Ombaknya yang tak bersahabat atau kau yang sedang tak bersemangat?" Tanya Bunda Vale yang sudah ikut duduk di samping Gavin, lalu membantu melepaskan ransel putra bungsunya tersebut.


"Aunty Thalita kemarin menelepon Bunda," cerita Bunda Vale selanjutnya.


"Ada kabar apa? Zeline akhirnya bertemu pangeran impian dan akan menikah?" Tanya Gavin kembali dengan nada bicara yang lesu. Bunda Vale sontak terkekeh dengan pertanyaan Gavin tersebut.


"Katanya, kamu mau menyuruh Zeline menjadi gadis pulau yang berjualan es kelapa dan ikan bakar. Apa itu benar?" Tanya Bunda Vale memastikan. Kemarin Bunda Vale juga kaget saat menerima laporan dari Mami Thalita perihal es kelapa dan ikan bakar.


"Mana ada seperti itu, Mi!" Sanggah Gavin cepat.


"Gavin hanya minta Zeline pindah kesini setelah kami menikah nanti. Tapi Zeline tidak mau dan bersikeras tetap ingin jadi Nona Direktur."


"Lalu Gavin menawarkan hubungan LDR saja setelah menikah, karena Zeline yang tetap ingin menjadi Nona Direktur dan Gavin yang tak bisa meninggalkan pekerjaan Gavin di sini." Cerita Gavin panjang lebar menjelaskan pada Bunda Vale.


"Pekerjaanmu disini? Memangnya kau kerja apa?" Tanya Bunda Vale tiba-tiba yang langsung membuat Gavin menganga.


"Kerja sebagai tour guide dan instruktur selancar. Itu kan pekerjaan, Bund!" Jawab Gavin cepat.


"Bunda pikir itu hanya hobimu. Hobi yang menghasilkan." Bunda Vale tertawa kecil, lalu mengusap kepala Gavin.


"Itu pekerjaan, Bund!" Sergah Gavin bersikeras.


"Jadi kau menyuruh Zeline pindah kesini agar kau bisa tetap melakukan hal yang menjadi kesenanganmu itu?" Tanya Bunda Vale yang langsung membuat Gavin diam seketika.


"Lalu siapa yang egois disini?" Tanya Bunda Vale lagi dan Gavin masih diam.


"Tapi bukankah Zeline juga egois karena menyuruh Gavin meninggalkan hobi Gavin, Mi?" Sergah Gavin akhirnya seolah menemukan pembenaran.


"Memang Zeline menyuruhmu meninggalkan semua hobimu? Tak mengizinkanmu bermain selancar lagi?" Tanya Bunda Vale sekali lagi.


"Tidak juga sebenarnya," Gavin menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Kata Zeline, tiap weekend Gavin masih bisa ke sini untuk melakukan hobi Gavin. Tapi pasti rasanya membosankan, Mi!"

__ADS_1


"Main selancar hanya saat weekend," keluh Gavin yang kembali beralasan.


"Belum juga dijalani, sudah bilang bosan. Padahal kemarin ngadi-adi bilang kalau Gavin itu pintar dalam mata kuliah. Ngerjain skripsi satu bulan selesai, tapi ilmu tak diterapkan sama sekali dan kalah sama hobi surfing!" Bunda Vale geleng-geleng kepala.


"Dari awal, saat kamu minta untuk melamar Zeline kan Bunda sudah tanya apa kau tahu usia Zeline itu berapa-"


"Dua sembilan!" Jawab Gavin menyela.


"Itu tahu! Zeline itu kerja di kantor sudah tahunan, Gavin! Jadi jika sekarang kau mendadak menyuruhnya berhenti, lalu pindah kesini hanya untuk melihatmu bermain bersana papan seluncur setiap hari, yang ada ya dia bakal stress!"


"Memang Zeline jadi Nona direktur sudah sejak kapan, Mi?" Tanya Gavin kepo. Mami Vale sontak mengacak rambut putra bungsunya tersebut.


"Sejak lulus kuliah."


"Makanya kalau ada acara kumpul keluarga itu ikut, biar tahu dan kenal-"


"Zeline juga tak pernah ikut," potong Gavin kembali beralasan.


"Iya, kalian berdua itu sama! Sama-sama keras kepala, sama-sama tak ada yang mau mengalah, padahal dalam hati sudah saling cinta!"


"Kata siapa tidak ada yang mau mengalah? Gavin akan belajar cara menjadi tuan direktur mulai sekarang!" Jawab Gavin seraya menepuk dadanya.


"Hmmmm, tapi Bunda rasa sebaiknya kau telepon Uncle Zayn dulu dan bertanya apa ada lowongan di Perusahaan Abraham. Takutnya nanti kamu belajarnya jadu tuan direktur, ternyata lowongan yang ada malah lowongan security," saran Bunda Vale seraya terkekeh.


"Di Halley Development ada lowongan tuan direktur, tidak?" Tanya Gavin lagi pada Bunda Vale.


"Bunda rasa tidak ada. Sudah ada dua tuan direktur di Halley Development. Fairel dan Ryan."


"Di Rainer's Resto?" Gavin masih pantang menyerah.


"Itu Restorant, Gavin! Mana ada tuan direkturnya?" Ujar Ayah Arga yang entah sejak kapan ikut mendengarkan obrolan Gavin dan Bunda Vale.


"Kalau begitu, ayah bikin perusahaan saja bagaimana? Nanti Gavin yang jadi tuan direkturnya," Cetus Gavin memaparkan sebuah ide.


"Perusahaan apa? Ayah nggak ngerti!" Ayah Arga mengacak rambut putranya tersebut lalu menyodorkan ponsel pada Gavin.


"Apa maksudnya?" Tanya Gavin bingung.


"Ada pesan itu dari Uncle Zayn. Coba kamu baca!" Titah Ayah Arga pada Gavin.

__ADS_1


"Pesan apa?" Gavin mengernyit bingung, namun tangannya bergerak cepat membuka pesan yang baru masuk.


[Zeline butuh sekretaris baru karena Nona akan menikah dan resign sebentar lagi. Apa Gavin bisa jadi sekretaris sekaligus asisten Zeline?] -Uncle Zayn-


[Gavin pemuda yang cerdas dan cepat belajar. Jadi pasti di bisa, Arga! Opa Theo pasti tak keberatan mengajari Gavin] -Uncle Zayn-


"Kok opa Theo?" Gavin mengernyit bingung saat membaca pesan terakhir fari Uncle Zayn. Pemuda itu lalu menatap bergantian pada Bunda Vale dan Ayah Arga.


"Opa bukannya pemilik restorant, Bund?" Tanya Gavin lagi masih bingung.


"Kata siapa? Opa kamu itu dulu asisten sekaligus sekretarisnya Oma Belle." Ujar Bunda Vale seraya terkekeh.


"Serius? Pantesan Gavin pandai di mata kuliah! Titisan Opa ternyata!" Gavin menepuk dadanya sendiri dan merasa bangga.


"Iya, iya yang titisan Opa Theo!" Ayah Arga mengacak rambut Gavin dengan gemas.


"Jadi kapan mau mulai belajar? Bunda akan menghubungi Opa kamu nanti," tanya Bunda Vale selanjutnya pada Gavin.


"Gavin berangkat siang ini, Bund!"


"Eh, ada penerbangan siang kan, Yah?" Gavin ganti bertanya pada Ayah Arga.


"Sekarang sudah nggak mabuk memang naik pesawat? Ayah kira mau menyetir ke rumah Opa," kekeh Ayah Arga menggoda Gavin yang langsung merengut.


"Sudah nggak mabuk, Yah! Ayah itu yang masih suka mabuk kalau naik pesawat!" Cibir Gavin pada Ayah Arga.


"Sok tahu!" Ayah Arga kembali mengacak rambut Gavin sebelum kemudian pemuda itu berlari masuk ke rumah meninggalkan ransel serta papan selancarnya.


"Papan selancarmu sudah bisa Ayah jadikan pajangan di toko, Gavin?" Seru Ayah Arga yang langsung berhadiah pukulan di lengan dari Bunda Vale.


"Nanti dia berubah jadi reog lagi kalau kamu mengusik papan kesayangannya!"


"Sudah ada pawangnya sekarang kalau mendadak berubah jadi reog," sahut Ayah Arga seraya terkekeh dan Bunda Vale ikut terkekeh juga


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2