Telat Nikah (Zeline & Gavin)

Telat Nikah (Zeline & Gavin)
INTEROGASI KELUARGA


__ADS_3

"Terima kasih, Pak!" Ucap Gavin pada supir taksi yang mengantarnya sampai ke Rainer's Resto. Gavin sedikit mengendurkan dasinya, dan langsung masuk ke restorant milik keluarga Rainer tersebut. Restorant juga sudah hampir tutup karena ini memang sudah pukul sepuluh lewat.


"Itu anaknya sudah datang!" Celetukan dari Abang Ezra membuat Gavin terkaget-kaget. Terlebih saat Gavin juga melihat Ayah Arga, Bunda Vale, Oma, Opa, serta Kak Joanna yang turut duduk bersama Abang Ezra.


Apa sedang ada arisan keluarga?


"Kau darimana, Gavin?" Bunda Vale yang pertama kali melemparkan pertanyaan pada Gavin yang wajahnya terlihat lesu.


Bagaimana tak lesu, Gavin baru saja mendapat penolakan dari Zeline tanpa tahu salah dia apa.


"Dari acara," jawab Gavin seraya mengendikkan kedua bahunya.


"Acara apa? Tadi siang maksa-maksa minta aku antar ke rumah Uncle Zayn!"


"Lalu sekarang kenapa pulang-pulang memakai kemeja dan dasi lengkap begitu? Seperti baru dari acara pesta," cecar Abang Ezra yang entah mengapa sekarang jadi cerewet sekali. Dulu abang Gavin ini pendiam dan irit bicara serta tak pernah punya pacar sampai usianya seperempqt abad. Bunda Vale sampai cemas waktu itu dan mengura Abamg Ezra tak tertarik pada kaum hawa, hingga bunda kandungnya tersebut berinisiatif untuk menjodohkan Abang Ezra dengan putri sulung keluarga Arthur yang Gavin lupa namanya.


Lalu entah apa yang terjadi, perjodohan tiba-tiba batal beberapa hari jelang pertunangan dan Abang Ezra malah menikah dengan Kak Joanna yang merupakan teman lamanya. Aneh sekali bukan?


"Memang dari acara pesta," gumam Gavin sedikit merengut."


"Pesta apa? Bersama siapa?" Tanya Bunda Vale lagi.


"Tadi Gavin disuruh Uncle Zayn, menemani Zeline ke acara perusahaan, Bund!" Jawab Gavin jujur.


"Ini setelan suit juga dapat pinjam dari Sakya, adiknya Zeline," imbuh Gavin lagi.


"Zeline putri sulungnya Uncle Zayn yang jarang ikut acara keluarga itu ya, Sayang?" Kak Joanna berbisik pada Abang Ezra.


"Iya, sebelas dua belas dengan Gavin dan sepertinya ada udang di balik bakwan di antara mereka," jawab Ezra.


"Enak dong, Bang! Udang di balik bakwan," sahut Gavin yang mendengar jawaban serta guyonan Abang Ezra.


"Jadi sebenarnya ada hubungan apa antara kamu dan keluarga Uncle Zayn, Gavin?" Ayah Arga akhirnya buka suara dan ikut menginterogasi Gavin.


"Benar itu! Opa juga penasaran. Karena kamu sejak dulu jarang mengunjungi Opa. Lalu sekali berkunjung, mampir disini tidak sampai satu jam, dan sudah langsung pergi ke rumah Zayn dan Thalita sampai malam begini!"


"Pasti ada apa-apa ini!" Opa Theo ikut-ikutan menginterogasi Gavin seraya menuding-nuding pada cucu kesayangannya tersebut.


Kesayangan di antara semua yang disayang! Secara cucu Opa Theo ada lima dan semuanya kesayangan! Bingung jadinya.


"Ada apa-apa apa maksudnya? Orang nggak ada apa-apa!" Kilah Gavin seraya garuk-garuk kepala.


"Biasanya kalau garuk-garuk kepala begitu lagi bohong!" Celetuk Kak Joanna yang sepertinya sok tahu sekali.


"Ck!"


"Jadi begini," Gavin berdehem dan sekarang pemuda dua puluh tiga tahun itu akan mulai mendongeng asal muasal pertemuannya dengan putri gendut tukang kentut bernama Zeline Abraham.


Untung cantik!


Jadi kebiasaan kentutnya masih bisa termaafkan!


"Gavin dan Zeline sempat tersesat di pulau kosong beberapa minggu yang lalu."


"Tersesat bagaimana?"


"Tersesat di pulau sebelah mana?"


"Bagaimana ceritanya kau bisa tersesat dan kau sama sekali tak memberitahu Bunda?"


"Lalu kenapa tersesatnya bisa bersama Zeline?"

__ADS_1


Gavin baru membuka cerita dengan satu kalimat, dan cecaran pertanyaan dari keluarganya langsung berdengung di kepala pemuda itu seperti suara tawon yang seolah sedang menjadikan kepala Gavin sebagai sarang.


Nguuuung! Nguuuuung! Ngguuuuuuung!


"Bagaimana rapatnya? Sudah selesai?" Tanya seseorang yang mendadak datang menyela sembari menggandeng tangan seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah hampir setengah abad. Siapa lagi kalau bukan Om Bennedic!


"Kita duduk disini saja, Ay! Kita ikut menyimak pembahasan keluarga Diba Rainer ini!" Ujar Om Ben lagi yang sudah langsung mendaratkan bokongnya ke salah satu kursi yang memang masih kosong.


Baiklah, terserah!


Yang itu juga masih keluarga Gavin karena Om Ben adalah adik Bunda Vale.


"Jadi bagaimana ceritanya kau bisa tersesat bersama Zeline dan tak memberitahu kami semua, Gavin?" Cecar Ayah Arga akhirnya mewakili pertanyaan semua orang.


"Tour guide bisa tersesat juga?" Om Ben langsung tergelak dan semua anggota keluarga Rainer refleks menoleh ke arah putra bungsu Opa Theo tersebut.


"Apa? Aku kan hanya tanya dan merasa lucu saja," Om Ben masih terus tergelak hingga akhirnya keplakan dari Tante Ayunda berhasil menghentikan tawa konyol Om Ben.


Baiklah, ini lebih baik!


"Jelaskan, Gavin!" Titah Ayah Arga pada sang putra.


"Iya, Gavin awalnya juga tak tahu kalau Zeline itu ternyata anaknya Uncle Zayn! Gavin hanya mendapat tugas mengantarnya berkeliling pulau. Lalu saat kami akan kembali dari pulau W, ada badai yang datang tiba-tiba di tengah laut yang membuat speedboat hilang kendali."


"Kami akhirnya terdampar di sebuah pulau kosong berdua saja, selama tiga hari-"


"Pweeeet!" Langsung terdengar siulan dari Om Ben resek.


"Terdampar tiga hari di pulau kosong bersama seorang gadis! Jangan bilang kalau kau membawa oleh-oleh calon cicit untuk Papi, Gavin-"


"Ben!"


Plak!


Gavin menutup mulutnya sendiri dan sekuat tenaga menahan tawa dengan adegan barusan. Kadang kalau dipikir-pikir, kelakuan Gavin lebih mirip kelakuan Om Ben ketimbang kelakuan Ayah dan Bunda yang cenderung kalem. Apa ini efek dari Gavin yang suka ditimang-timang Om Ben saat bayi dulu? Jadi kesomplakan Om Ben terciprat sedikit ke dalam diri Gavin?


"Gavin berani bersumpah, kalau selama tiga hari di pulau Gavin tak melakukan hal-hal yang melanggar norma bersama Zeline, Bund!" Ujar Gavin seraya mengangkat satu tangannya dan menatap pada Bunda Vale yang hanya menghela nafas.


Bunda Vale sepertinya percaya pada sumpah Gavin.


"Lalu kapan kau tahu kalau gadis yang tersesat bersamamu itu adalah Zeline Abraham? Memang awalnya dia memperkenalkan diri sebagai siapa?" Cecar Ayah Arga selanjutnya.


"Sejak awal dia sudah bilang kalau namanya Zeline. Tapi kan Gavin tak ingat kalau Gavin punya sepupu bernama Zeline," Gavin beralasan.


"Ck! Makanya! Kalau acara kumpul keluarga itu ikut!" Celetuk Opa Theo sebelum pria tua itu menyesap teh hangatnya.


"Lalu saat tim penyelamat datang, mereka kan menyebutkan nama lengkap kami berdua. Nah, dari situ akhirnya kami tahu." Cerita Gavin panjang lebar yang langsung membuat semuanya mengangguk.


"Tapi sepertinya kamu langsung kepincut sama Zeline ya, Vin? Karena pas kamu pulang itu, kata Kak Vaia, kamu tiba-tiba langsung bikin pohon keluarga," celetuk Kak Joanna yang langsung membuat semua orang menoleh pada Gavin seolah minta penjelasan.


"Ini, Kak Vaia barusan kirim coretan kamu," Kak Joanna ganti menunjukkan pohon keluarga karya Gavin yang sepertinya sengaja difoto oleh Kak Vaia, lalu dikirimkan ke ponsel Kak Joanna.


Benar-benar konspirasi yang sempurna!


"Apa ini maksudnya nama Sava disilang besar?" Tanya Om Ben saat melihat nama sang putri yang diberi tanda silang oleh Gavin.


"Artinya Gavin nggak boleh nikah sama Sava, Om!" Jawab Gavin seraya meringis.


"Heleh! Siapa juga yang mau punya mantu pecicilan sepertimu!" Cibir Om Ben pada Gavin.


"Kamu sendiri juga pecicilan, Ben!" Bunda Vale balik mencibir sang adik dan semuanya sontak tertawa.

__ADS_1


"Lalu ini kenapa garis kamu ke Zeline di beri tulisan apa ini?" Opa Theo membenarkan kacamatanya untuk membaca tulisan rumput bergoyang ala Gavin.


"Jauuuuuh sekaliiiii!" Oma Airin akhirnya membantu Opa Theo membaca tulisan Gavin.


"Apanya yang jauh sekali?" Tanya Opa Theo heran.


"Ya hubungan sepupu kami, Opa!"


"Sepupu jauuuuh sekaliii!" Jawab Gavin dengan nada lebay.


"Jadi kami boleh nikah, kan?" Tanya Gavin to the point.


"Boleh! Boleh sekali malahan," Jawab Om Ben ikut to the point.


"Kau tahu berapa usia Zeline, Gavin?" Tanya Bunda Vale yang sejak tadi hanya diam.


"Dua puluh sembilan, Bunda! Memang kenapa? Tante Ayunda juga lebih tua dari Om Ben, tapi mereka rukun terus sampai sekarang," jawab Gavin yang ternyata sudah tahu dan menjadikan rumah tangga Om dan Tantenya itu sebagai panutan.


"Baiklah, Bunda hanya bertanya."


"Kalau memang kau sudah tahu dan menerimanya, ya sudah!" Tukas Bunda Vale.


"Cuma, Bunda pesan satu hal pada kamu. Kalau memang kamu ingin serius dengan Zeline, kamu harus belajar bersikap dewasa mulai sekarang." Sambung Bunda Vale lagi menasehati sang putra.


"Dewasa dan bertanggung jawab," timpal Ayah Arga.


"Zayn dan Thalita sudah tahu, kalau kau menjalin hubungan dengan Zeline?" Tanya Ayah Arga selanjutnya pada sang putra.


"Sudah, Ayah! Malahan, Uncle Zayn sendiri yang tadi nyuruh Gavin nemenin Zeline ke acara perusahaan," cerita Gavin.


"Tapi memangnya, Zeline mau dengan bocah dekil sepertimu, Gavin?" Tanya Abang Ezra yang sontak membuat Gavin merengut.


"Dekil bagaimana, sih, Bang? Gavin kan tampan! Lebih tampan dari Abang Ezra!" Sahut Gavin sedikit kesal.


"Iya, iya! Yang paling tampan!" Cibir Abang Ezra seraya terkekeh.


"Ezra, sudah!" Tegur Bunda Vale pada sang putra.


"Jadi Zeline juga sudah memberikan lampu hijau, kan? Ayah Bunda tinggal kesana besok untuk melamar Zeline, begitu?" Tanya Ayah Arga memastikan dan seketika pertanyaan sederhana itu langsung membuat Gavin salah tingkah.


"Soal itu...." Gavin menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Ada apa? Kenapa ekspresi wajah kamu aneh begitu?" Tanya Bunda Vale tak mengerti.


"Aku tahu! Zeline pasti nolak kamu, kan?" Tebak Abang Ezra yang langsung membuat Gavin mendelik pada abangnya tersebut.


"Nggaklah! Zeline udah setuju, kok!" Sanggah Gavin cepat sekaligus berdusta.


"Besok Ayah dan bunda lamarin Zeline buat Gavin, ya!" Pinta Gavin menatap bergantian pada Ayah Arga dan Bunda Vale.


"Iya!" Jawab kedua orang tua itu serempak.


Semoga dengan langkah ini, Zeline akan percaya kalau Gavin memang sungguh-sungguh dan sama sekali tak bercanda apalagi main-main!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2