
"Hai! Kau tidak tersesat dan bingung arah lagi?" Sapa Gavin saat Zeline tiba di dermaga resort.
Sore ini rencananya Gavin akan mengajak Zeline ke pulau seberang yang berjarak satu jam naik speedboat. Tour guide menyebalkan itu juga menjanjikan pemandangan sunset yang luar biasa. Jadilah Zeline tak menolak ajakannya sore ini sekalipun Zeline masih sedikit kesal pada Gavin soal kejadian siang tadi di warung ikan bakar.
"Sialan! Kau sedang mengejekku?" Umpat Zeline bersungut pada Gavin yang langsung tergelak tanpa dosa.
Benar-benar menyebalkan, bukan?
"Aku hanya bertanya!" Kelit Gavin yang masih saja tergelak. Zeline memilih untuk tak menjawab lagi dan wanita itu hanya bersedekap. Lagipula, bagaimana Zeline bisa tersesat, jika dermaga ini masih menyatu dengan resort dan jaraknya hanya beberapa meter dari kamar resort Zeline.
"Kau hanya ingin tertawa seperti orang gila begitu atau mau mengantarku ke pulau seberang?" Tanya Zeline akhirnya mulai geram pada Gavin yang tak kunjung berhenti tertawa. Semoga ada lalat yang masuk ke tenggorokan pemuda gila itu biar dia tersedak lalat sekalian!
"Maaf!" Gavin masih saja tergelak.
Dasar sinting!
"Ayo kita pergi sekarang," ajak Gavin akhirnya setelah pemuda itu berhasil mengendalikan tawanya.
Ya, akhirnya tour guide sinting itu sudah berhenti tertawa juga. Zeline langsung mengikuti Gavin naik ke speedboat yang masih bersandar di dermaga.
"Mana pengemudi speedboat-nya? Apa aku masih harus menunggu lagi?" Cerocosan Zeline dengan mada kesal.
"Aku pengemudinya," jawab Gavin santai yang hampir saja membuat Zeline terjengkang karena kaget.
"Apa kau sedang bercanda? Memang kau bisa mengemudikan speedboat? Bagaimana kalau nanti terbalik dan aku jatuh ke laut?" Cecar Zeline yang sepertinya parno sekali.
"Kau tidak bisa berenang memangnya?" Gavin menatap heran pada Zeline, lalu pemuda itu menyodorkan sebuah lifejacket pada Zeline.
"Tentu saja bisa!" Sergah Zeline cepat seraya meraih lifejacket dari tqngan Gavin dengan kasar.
"Bagus kalau begitu!"
"Dan sekedar informasi saja, aku sudah lisensi untuk mengemudikan speedboat." Gavin menunjukkqn kartu lisensinyq pada Zeline.
"Jadi tak perlu ragu atau khawatir," lanjut Gavin lagi yang hanya membuat Zeline berdecak. Zeline baru saja akan melohat dengan seksama kartu lisensi Gavin, saat pemuda itu sudah menariknya dengan cepat.
"Jangan dilihatin lama-lama! Nanti jatuh cinta repot," kelakar Gavin yang langsung membuat Zeline mencibir lalu menampilkan ekspresi seolah mau muntah.
"Siapa juga yang tertarik pada tour guide menyebalkan sepertimu!" Ketus Zeline seeaya memakai lifejacket-nya. Wanita itu lalu naik ke atas speedboat, menyusul Gavin yang sudah terlebih dahulu naik. Setelah tali pengikat dilepaskan dari dermaga, speedboat mulai melaju meninggalkan dermaga resort menuju ke lautan lepas.
Speedboat berjalan ke arah cakrawala, hingga Zeline bisa melihat matahari yang perlahan mulai turun ke garis cakrawala dan menampilkan semburat oranye yang begitu memanjakan mata. Zeline tentu saja sudah bersiap dengan kameranya, dan mulai mengambil bola kuning besar yang terus turun ke garis cakrawala.
__ADS_1
"Wow!" Zeline berdecak kagum dan pemandangan ini benar-benar sesuai dengan yang Gavin tawarkan. Mungkin Zeline akan memberikan tip untuk Gavin setelah ini.
"Mau aku foto bersama sunset?" Tawar Gavin seraya menoleh ke arah Zeline.
"Lalu yang akan mengemudi siapa?" Jawab Zeline ketus.
"Ada mode auto pilot," jawab Gavin santai.
"Apa aman?" Tanya Zeline khawatir.
"Tentu saja!" Gavin segera menyalakan mode auto pilot, lalu pria itu menghampiri Zeline dan mengambil kamera gadis itu.
"Cepatlah sebelum mataharinya terbenam!" Gavin memberikan aba-aba untuk Zeline yang masih sibuk mengatur pose.
"Foto yang bagus dan jangan membuatku terlihat gendut!" Zeline sudah menuding sekaligus memperingatkan Gavin.
"Tenang saja! Ada aplikasi yang bisa membuatmu terlihat langsing. Atau aku akan membantu mengedit fotomu nanti jika masih terlihat gendut!" Cerocos Gavin panjang lebar seraya cengengesan. Tentu saja hal itu justru membuat Zeline semakin kesal.
"Sudah belum" tanya Zeline pada Gavin yang tetap memegang kameranya. Zeline sudah lelah berpose, tapi kenapa Gavin tak kunjung selesai memotretnya?
"Sudah, sejak tadi!"
Sementara Zeline yang berdecak kesal atas sikap Gavin, segera memeriksa fotonya sendiri yang tadi diambil oleh tour guide menyebalkan tersebut.
"Bagus juga," gumam Zeline setelah melohat lima foto dirinya yang berhasil diabadikan oleh Gavin. Dan kelimanya terlihat sempurna bahkan sama sekali tak menperlihatkan tubuh lebar Zeline.
"Masih berapa lama lagi? Langit sudah gelap," tanya Zeline sembari memberikan laporan tentang langit yang sudah betubah jadi hitam.
"Itu sudah terlihat pulaunya," jawab Gavin santai. Pulau yang tak seterang pulau tempat resort berada tersebut memang sudah tampak di depan mata.
"Pulaunya kecil," komentar Zeline lagi.
"Simpan komentarmu, sampai kau melihat matahari terbit di pantainya besok pagi!" Jawab Gavin seraya menyandarkan speedboat-nya ke dermaga pulau.
"Lalu aku tidur dan istirahat dimana malam ini? Bukankah katamu tak ada resort disini?" Tanya Zeline lagi.
"Aku sudah mengatur soal itu!" Jawab Gavin tetap santai.
"Lepaskan lifejacket-mu dan cepatlah turun! Kita sudah sampai!" Perintah Gavin pada Zeline yang tak kunjung melepaskan lifejacket-nya padahal mereka sudah bersandar di dermaga sekarang.
"Iya, iya!" Jawab Zeline kesal. Gadis itu dengan cepat melepaskan lifejacket-nya, lalu melemparkan benda tersebut pada Gavin.
__ADS_1
"Sialan!" Umpat Gavin karena kaget dilempar lifejacket oleh Zeline.
Zeline turun duluan dari atas speedboat, lalu Gavin segera menyusul gadis itu dan ikut turun juga. Dua orang tersebut menyusuri dermaga yang terbuat dari kayu, lalu lanjut ke pemukiman penduduk yang bisa dibilang begitu jarang.
"Aku sudah menyewa rumah warga yang dekat dengan pantai untuk kita malam ini," ujar Gavin seraya menunjuk ke salah satu rumah warga yang berada di tepi pantai.
"Tunggu! Maksudnya kita?" Zeline memaksa untuk menghentikan langkah Gavin, dan gadis itu bertanya dengan lebih detail.
"Aku dan kamu jadi kita, apa masih kurang jelas?" Jelas Gavin yang malah semakin membuat Zeline melongo.
"Kita menginap di satu rumah?" Kedua mata Zeline sudah membulat sempurna.
"Ada dua kamar di rumah tersebut! Jadi tidak usah lebay atau khawatir begitu!" Sergah Gavin yang bisa dengan cepat menangkap kekhawatiran Zeline.
"Tidak usah lebay dan khawatir katamu? Tentu saja aku lebay dan khawatir! Bisa saja malam-malam kau menyelinap ke kamarku, lalu membuka seluruh bajuku!" Tuduh Zeline seraya menuding pada Gavin.
"Aku tidak semesum itu, oke! Kecuali kau pacarku mungkin akan beda cerita!"
"Tapi kau customerku dan kebetulan aku belum mendapatkan tip darimu. Jadi jika sekarang aku menidurimu, aku tak akan jadi dapat tip dan kau juga akan menjebloskanku ke dalam penjara!"
"Hahahahaha! Aku tidak mau hidupku dan masa mudaku berakhir sekonyol itu!" Gavin bercerocos panjang lebar sembari meyakinkan Zeline kalah malam ini tak akan terjadi apapun.
"Ck! Aku pegang omonganmu!"
"Jika sampai besok pagi aku mendapati kau sudah berada di kamarku, aku akan langsung melemparmu ke tengah laut agar kau dimakan paus, hiu, kuda nil, ubur-ubur, ikan pari." Zeline menyebutkan beberapa hewan laut yang malah membuat Gavin tergelak.
"Tidak ada kuda nil di tengah laut, Zeline!" Celetuk Gavin mengingatkan Zeline masih sambil tergelak.
"Baiklah terserah!" Zeline mendahului Gavin untuk masuk ke rumah panggung yang disewa oleh Gavin tersebit, lalu gadis itu masuk ke salah satu kamarnya, meninggalkan Gavin yang kini hajya mengendikkan kedua bahunya, lalu duduk di undakan rumah panggung tersebut.
Ya, Gavin akan menikmati angin pantai yang sepoi-sepoi dulu.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1