
"Gavin!"
"Astaga!" Bunda Vale terlihat kaget saat melihat Gavin dan Zeline yang masih saling tindih di dalam kamar Gavin.
"Kalian sedang apa?" Tanya Bunda Vale tak mengerti.
"Hehe! Nggak ngapa-ngapain, Bund!" Zeline cepat-cepat bangun dari atas tubuh Gavin yang memang sudah setengah naked. Tadi saat masuk kamar, perasaan pemuda ini memang sudah tak mengenakan kausnya.
"Lagi belajar smack down, Bund! Zeline sejak dulu memang suka seperti itu," ujar Gavin menjelaskan pada Bunda Vale. Dan tentu saja penjelasan Gavin tersebut langsung berhadiah cubitan dari Zeline.
"Auuuwww! Sakit, Zel!" Ringis Gavin lebay.
"Lebay! Aku nyubitnya nggak keras, kok!" Sergah Zeline seraya mencibir pada Gavin.
"Kau tadi katanya mau mandi, Gavin?" Tanya Bunda Vale selanjutnya pada Gavin yang masih duduk santai di atas tempat tidur.
"Iya, ini baru mau mandi, Bund! Ambil baju ganti dulu!" Jawab Gavin seraya bangkit berdiri, lalu membuka lemarinya.
"Kau sudah mandi, Zel?" Tanya Gavin berbasa-basi pada Zeline yang langsung memutar bola matanya.
"Udahlah!" Jawab Zeline malas.
"Kirain belum! Udah tahu kamar mandinya dimana?" Tanya Gavin lagi.
"Iya udah! Kan udah ditunjukin sama Bunda! Udah diajak keliling juga tadi!" Ujar Zeline sedikit bersungut.
"Udah ke toko juga berarti. Besok setelah nikah, kita tinggal disini saja, ya! Kamu bantu-bantu Ayah dan Bunda di toko, trus aku kerja," tutur Gavin memaparkan rencananya setelah nanti menikah dengan Zeline.
"Kau kerja apa? Jadi tour guide?" Tanya Zeline menerka-nerka.
"Iya! Sama nanti aku mau membuka kursus selancar." Jawab Gavin penuh semangat.
"Trus kenapa kuliah jurusan bisnis manajemen, kalau ujung-ujungnya cuma turun ke laut?" Tanya Zeline penuh selidik.
"Iya kan itu formalitas saja! Dulu pas daftar kuliah pilihannya nggak banyak. Kata Bunda disuruh ambil jurusan itu saja, ya aku ikut," jawab Gavin menerangkan.
Zeline hanya menghela nafas, dan mendorong Gavin agar keluar dari kamar.
"Mandi sana! Nanti kita bahas lagi masalah itu!" Ujar Zeline yang masih mendorong Gavin.
"Mandiin, Zel!" Pinta Gavin genit.
"Malas! Mandi saja sendiri!" Jawab Zeline galak. Gavin langsung tertawa terbahak-bahak dan pria itupun berlalu pergi, lalu masuk ke kamar mandi yang letaknya mang ada di luar kamar.
"Gavin sudah mandi, Zel?" Tanya Bunda Vale yang sudah kembali menghampiri Zeline.
"Sudah, Bund!"
"Itu bunda bawa apa?" Tanya Zeline seraya menghampiri Bunda Vale yang terlihat membawa kardus di tangannya.
"Beberapa keperluan dapur. Kebetulan banyak yang habis, jadi tadi ambil ke toko," jelas Bunda Vale.
"Tokonya belum tutup, ya, Bund?" Zeline melongok ke jendela yang mengarah langsung ke toko.
"Belum! Nanti Gavin mau jaga toko sampai malam katanya. Kalau Bunda dan Ayah kebetulan ada acara malam ini," ujar Bunda Vale yang sudah cekatan mengeluarkan barang-barang dari dalam kardus tadi. Zeline turut membantu menyusun barang-barang tadi ke rak dapur.
"Acara apa, Bund?" Tanya Zeline selanjutnya pada Bunda Vale.
"Kumpul-kumpul saja, bersama beberapa tetangga di dekat pantai. Sambil bakar ikan nanti biasanya," terang Bunda Vale.
"Ooo!" Zeline membulatkan bibirnya.
__ADS_1
"Mau ikut? Atau mau menemani Gavin saja menjaga toko?" Tanya Bunda Vale memberikan pilihan.
"Mmmmmm-"
"Udah, kita jaga toko saja!" Sahut Gavin yang sudah selesai mandi.
Cepat sekali!
Mandi gaya apa, coba?
"Kok mandinya cepat? Kau mandi atau hanya cuci muka?" Tanya Zeline curiga.
"Iya mandi, iya cuci muka, iya mencintaimu," jawab Gavin gombal yang langsung membuat Bunda Vale terkekeh dan geleng-geleng kepala.
"Kebiasaan Gavin ya begitu, Zel! Kalau mandi suka terburu-buru," ujar Bunda Vale memberitahu Zeline.
"Biar ketampanan Gavin nggak luntur, Bund!" Sergah Gavin beralasan.
"Aneh sekali alasanmu!" Zeline mengernyit heran ke arah Gavin.
"Ayo ke toko!" Ajak Gavin selanjutnya pada Zeline, setelah pria itu mekemparkan handuknya serampangan.
"Gavin!"
"Siap, Bund!"
"Handuknya belum punya kaki, ya?" Gavin terkekeh dan segera memungut handuk bekas pakainya tadi, lalu menjemurnya di tempat yang seharusnya.
"Kebiasaan kamu!" Omel Bunda Vale.
"Kan udah Gavin benerin, Bund!" Gavin mencari pembenaran.
"Gavin dan Zeline ke toko dulu, Bund!"
"Jalan-jalan sebentar nggak boleh, Bund?" Gavin menawar.
"Nggak boleh!" Jawab Bunda Vale tegas.
"Kalau mau jalan-jalan besok pagi saja!" Imbuh Bunda Vale lagi yang langsung membuat Gavin sedikit mendes*h.
"Baiklah!"
"Kami akan di toko saja!" Putus Gavin akhirnya seraya menarik tangan Zeline ke toko di seberang rumah. Ayah Arga baru saja akan meninggalkan toko, saat Gavin dan Zeline tiba.
"Ayah kira tidak jadi menjaga toko," ujar Ayah Arga yang sudah hendak menutup toko.
"Jadilah, Yah! Jangan ditutup!" Cegah Gavin yang malah membuat Ayah Arga terkekeh.
"Sudah mandi tadi, Vin?" Tanya Ayah Arga selanjutnya pada sang putra.
"Sudah! Nggak lihat, rambut Gavin basah, Yah!" Jawab Gavin sedikit bersungut.
"Oh, kirain belum! Kok kulitnya masih gosong gitu, lho!" Tukas Ayah Arga yang sontak membuat Zeline tergelak.
"Brownies, Yah!" Celetuk Zeline yang masih tergelak.
"Brownies gosong! Kebanyakan berjemur ya begitu,' timpal Ayah Arga seraya mengacak rambut Gavin yang kini merengut.
"Tumben-tumbenan mandi. Biasanya kalau tidak ada Zeline, juga jarang mandi," gumam Ayah Arga lagi yang langsung membuat Gavin menggeram kesal.
"Ayah! Gavin kan selalu mandi!" Protes Gavin merasa tidak terima.
__ADS_1
"Iya, iya!" Sahut Ayah Arga yang sudah mengayunkan langkahnya dan menyeberang pulang.
Zeline sudah mendahului Gavin masuk ke dalam toko.
"Nanti malam kita tidur disini, ya!" Ajak Gavin yang sudah menyusul masuk.
"Nggak ah! Kata Bunda aku disuruh tidur di kamarmu nanti malam. Kamu aja yang tidur disini sendiri!" Jawab Zeline menolak.
"Ayolah! Ada ayunan disini!"
"Lihat! Bisa buat kita berdua," Gavin menurunkan ayunan model hammock dari langit-langit.
"Langsung putus talinya! Kamu nggak lihat body aku?" Zeline bersungut-sungut pada Gavin yang malah tergelak.
"Kan belum di coba!"
"Ayo kita coba dulu!" Paksa Gavin yang hanya membuat Zeline berdecak.
"Aku tidak akan naik ke atas sana!" Ujar Zeline yang sudah langsung menolaknya.
"Coba dulu, Zel! Kalau jatuh palingan juga Bugh, begitu saja," tukas Gavin memaksa.
"Enggak!" Tolak Zeline tegas.
"Yaudah! Aku yang naik dan baring-baring saja!" Gavin sudah naik dan berbaring santai di atas hammock. Sementara Zeline hanya menatap pada pria tersebut sembari bibirnya mengerucut kesal.
Zeline akhirnya berbalik dan pergi meninggalkan Gavin yang masih asyik berayun di atas hammock.
"Zel!"
"Hmmm!"
"Mau kemana?" Tanya Gavin saat melihat Zeline yang pergi ke salah satu rak di dalam toko. Gadis itu dama sekali tak menjawab pertanyaan Gavin.
"Zel!"
"Zeline!" Panggil Gavin lagi karena Zeline tak menjawab pertanyaannya barusan.
"Zeline!" Gavin akhirnya turun dari atas hammock, lalu menyusul Zeline yang rupanya sedang merapikan barang-barang di rak.
"Kenapa, sih? Kok nggak jawab aku panggil?" Tanya Gavin bingung.
"Nggap apa-apa!" Zeline menguap lebar.
"Udah ngantuk, ya?" Goda Gavin seraya terkekeh.
"Aku akan pulang-"
"Hei, bagaimana kalau kita duduk sebentar di belakang. Langit sedang cerah," usul Gavin tiba-tiba yang langsung membuat Zeline mengernyit.
"Kamu ambil camilan aja! Aku tutup toko sebentar!" Gavin sudah menberikan sebuah keranjang belanja pada Zeline, lalu pria itu bergerak cepat untuk menutup toko dari arah dalam.
Jadilah sekarang Zeline dan Gavin berada di dalam toko yang sudah tertutup. Gavin mau mengajak Zeline kemana dan berbuat apa memang?
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.