
"Bagaimana jika kita tak usah menikah saja! Sepertinya kita memiliki banyak ketidakcocokan!"
"Apa? Apa maksudmu bicara seperti itu, Zel? Kita kan sudah sepakat dan sama-sama setuju!"
"Bisakah kau itu fokus saja dan tak plin plan begini?"
"Tapi aku mendadak merasa tak cocok denganmu. Kita sama-sama keras kepala!"
"Ck! Itu bukan alasan!"
"Aku tak bisa menjalani hubungan jarak jauh begini!"
"Ini tidak akan lama! Bersabarlah dulu dan aku akan segera menyelesaikan skripsiku!"
"Lalu kau akan pindah kesini setelah skripsimu selesai?"
"Kau yang akan pindah kesini setelah kita menikah!"
"Tidak bisa begitu! Aku tak bisa pindah dan aku tak mau menjalani hubungan jarak jauh!"
"Zeline!"
"Apa?" Zeline menatap linglung pada Papi Zayn dan pada karyawan lain yang saat ini sedang duduk di dalam ruang rapat.
Ya, Zeline tadi sedang rapat bersama para karyawan dan juga Papi Zayn. Lalu kenapa pikiran Zeline malah melayang pada perdebatannya bersama Gavin di telepon tadi?
Perdebatan yang sama sekali tak menemukan solusi!
Dan sekali lagi, permasalahan tentang siapa yang akan pindah setelah Zeline dan Gavin menikah nanti masih buntu dan belum sedikitpun menemukan titik terang.
Entahlah!
Ini membingungkan.
"Kau melamun?" Tanya Papi Zayn setengah berbisik.
"Tidak!" Bantah Zeline cepat. Zeline langsung berpura-pura fokus ke layar laptopnya. Padahal saat ini pikiran Zeline sudah bercabang kemana-mana. Zeline memijit pelipisnya sendiri dan sedikit bingung tadi dia rapat membahas perihal apa.
Papi Zayn mengangsurkan sebuah kertas pada Zeline dan gadis itu langsung meringis.
"Terima kasih, Pi!"
"Pikiranmu terbang kemana?" Tanya Papi Zayn tak habis pikir.
Terbang bersama Gavin dan semua sikap keras kepala pemuda itu!
Entahlah!
Apa Zeline harus menjadi gadis pulau setelah menikah nanti, lalu berjualan kelapa muda dan ikan bakar sambal dabu-dabu?
Kenapa Gavin tidak mau meninggalkan pekerjaan bodohnya saja di kota pesisir itu, lalu pindah kemari dan hidup sebagai pria normal.
Hhhhh!
Dasar pemuda keras kepala!!
__ADS_1
****
Beberapa minggu kemudian....
Zeline merebahkan tubuhnya dengan malas ke atas sofa, lalu memeriksa ke layar ponselnya. Tak ada pesan dari Gavin hari ini. Pria itu juga belum menelepon Zeline apalagi mengajak video call. Mungkin Gavin masih sibuk dengan tahap akhir skripsinya. Zeline tak akan mengganggu, sekalipun ia sudah sangat rindu pada Gavin.
"Kak, nggak ke kantor?" Tanya Gretha yang sudah ikut-ikutan duduk di samping Zeline.
"Hari Sabtu! Apa kau lupa?" Tanya Zeline seraya mengacak rambut adik iparnya tersebut.
"Ish!"
"Ke salon, yuk, Kak!" Ajak Gretha tiba-tiba.
"Tumben ngajakin ke salon?" Zeline sedikit heran karena boasanya Gretha akan mengajak pergi Mami Thalita atau Sakya. Sangat jarang adiknya ini mengajak dirinya pergi, karena Zeline memang selalu sibuk di kantor.
"Biar Kak Zeline tidak suntuk!"
"Gretha lihat, Kak Zeline sedikit murung belakangan ini! Nanti kalau merengut terus, cepat tua, lho!" Cerocos Gretha menakut-nakuti Zeline yang terang saja hal itu langsung membuat Zeline merasa geregetan dan ingin menoyor kepala adik iparnya tersebut.
Dasar Greget!
"Ayo, Kak!" Ajak Gretha sekali lagi sedikit merayu.
"Sakya kemana?"
"Pak Dokter sedang ada praktek dan katanya pulang telat karena harus ikut operasi juga. Banyak yang patah tulang!" Jawab Gretha menjelaskan pada Zeline.
"Ayo, Kak Zeline! Ayo, ayo, ayo!" Ajak Gretha sambil terus bergelayut pada lengan Zeline seperti bocah.
Hei, tapi adik ipar Zeline ini memang masih bocah!
"Yeaayy!" Gretha langsung bersorak lebay dan gadis itu ikut-ikutan masuk ke kamarnya untuk mengambil tas. Sementara Zeline juga sudah pergi ke kamar untuk berganti baju.
Selang sepuluh menit, mobil Zeline sudah meluncur meninggalkan kediaman Abraham, menuju ke salon langganan Gretha.
****
"Laper, Kak!" Keluh Gretha, setelah ia dan Zeline menghabiskan waktu hampir lima jam di salon. Zeline sengaja mengubah warna rambutnya, atas saran dari Gretha.
Tidak tahu kenapa Zeline nurut-nurut saja pada adik iparnya yang kekanakan ini! Tapi rambut Zeline bagus juga sekarang! Warnanya sudah tak lagi hitam, namun sudah ganti menjadi golden blonde.
"Mau makan dulu sebelum pulang?" Tanya Zeline pada Gretha yang langsung mengangguk-angguk penuh semangat.
"Enaknya makan dimana, ya, Kak? Di Rainer's Resto saja bagaimana? Kalo aja ada Bang Gavin di sana," Cerocos Gretha mengajukan usil dan masih sambil menggoda Zeline.
"Mana mungkin! Gavin masih sibuk ngurusin skripsi!" Sergah Zeline mencibir. Gretha sontak tergelak.
"Kita ke Rainer's Resto saja, ya!" Ajak Gretha sekali lagi.
"Iya, iya! Duduk diam dannpakai sabuk pengaman!" Perintah Zeline yang juga sudah duduk di belakamg kemudi. Tak berselang lama, mobil Zeline sudah meluncur pergi menuju ke Rainer's Resto.
Butuh waktu hampir tiga puluh menit untuk Zeline dan Gretha menuju ke Rainer's Resto karena hari yang sydah agak sore ditambah ini adalah weekend, dimana semua orang pergi jalan-jalan.
"Haduuh! Cacing sudah demo hebat," keluh Gretha seraya mengusap-usap perutnya yang kini sudah terlihat membulat.
__ADS_1
"Padahal sudah buncit begitu! Ternyata masih bisa lapar, ya?" Gurau Zeline yang langsung membuat Gretha merengut.
"Buncit ini kan isi bayi, Kak! Dikira Gretha busung lapar apa?" Omel Gretha yang sontak membuat Zeline terkekeh tanpa dosa.
Setelah memarkirkan mobilnya di halaman depan Rainer's Resto, Zeline dan Gretha segera turun dan masuk ke dalam restoran keluarga yang mulai padat tersebut.
"Belum bikin reservasi lagi, ada meja kosong tidak, ya?" Zelije bergumqm ragu danasij mengedarkan pandangannya untuk mencari-cari meja yang kosong.
"Kak Zeline bilang sana kalau Kak Zeline menantu keluarga Rainer! Pasti nanti langsung dicarikan meja yang kosong!" Usul Gretha mengungkapkan ide cemerlangnya.
"Ck! Malas!" Jawab Zeline yang masih mengedarkan pandangannya ke dalam Rainer's Resto. Namun kemudian, pandangan mata Zeline terhenti pada seorang pria yang sedang duduk bersama seorang pria juga di salah meja.
"Bukankah itu...." Zeline memperhatikan lebih seksama pria yang kini sedang tergelak bersama temannya tersebut.
"Kak, itu ada meja kosong!" Gretha memberitahu Zeline sembari menunjuk ke meja di sudut yang memamg masih kosong. Namun Zeline hanya mengabaikan Gretha dan gadis itu sudah berjalan cepat ke arah meja, dimana pria hitam.manos yang kini membuat Zeline naik darah, masih bercengkerama bersama temannya.
"Gavin!" Panggil Zeline to the point yang langsung membuat Gavin menoleh pada Zeline dan bangkit dari duduknya.
"Zeline!"
"Kau sedang apa disini? Aku pikir kau masih mengerjakan skripsi dan masih sibuk-"
"Skripsiku sudah selesai," jawab Gavin cepat.
"Dan ini teman lamaku, tadi kami mengobrol...." Gavin tak melanjutkan kalimatnya karena melihat perubahan pada raut wajah Zeline.
"Aku selesai sidang siang tadi, lalu aku langsung terbang kesini untuk mengejutkanmu, Zel!"
"Dan..... Surprize!" Gavin berekspresi lebay namun Zeline malah tetap berekspresi datar dan seolah sedang memberitahu Gavin kalau Zeline tengah kecewa.
Tapi Zeline kecewa kenapa?
"Zel,"
"Kau bahkan tak menghubungiku sejak kemarin!"
"Tak memberitahuku kalau kau ada sidang hari ini dan hendak terbang kesini-"
"Ini kejutan!" Sergah Gavin memotong dan kembali beralasan.
"Kejutan? Kejutan untuk temanmu?" Suara Zeline sudah meninggi sekarang.
"Seharusnya kau langsung menemuiku dari airport kalau memang kau ingin memberikan aku kejutan, dan bukan malah nongkrong santai bersama temanmu begini, lalu mengabaikan aku! Tak sedikitpunmengirimiku pesan!"
"Dari kemarin aku menunggu telepon dan pesan darimu!"
"Kau memang egois!" Zeline mendorong dada Gavin karena kesal, sebelum kemudian gadis itu berbalik dan meninggalkan Gavin.
"Zeline!"
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.