
"Ikan bakar!" Gavin meletakkan sepiring ikan bakar ke hadapan Zeline.
"Lagi?" Gumam Zeline seraya menyesap air kelapa muda di depannya.
"Bosan, ya? Mau aku pesankan yang lain?" Tawar Gavin.
"Tidak usah! Tiga puluh menit lagi aku harus ke airport," ujar Zeline seraya menunjukkan arlojinya pada Gavin.
"Pulang besok saja, bagaimana? Aku masih kangen," usul Gavin sedikit merengek sekaligus merayu.
"Aku harus kerja besok!" Jawab Zeline mengingatkan Gavin.
"Ck! Resign sudah! Skripsiku juga rampung sebentar lagi. Nanti aku yang akan bicara pada Sakya agar dia mau menggantikanmu di kantor jadi Tuan Direktur Sakya," Cerocos Gavin mengungkapkan rencananya.
"Coba saja kalau bisa! Sakya akan langsung menolaknya mentah-mentah!" Cibir Zeline yang kembali menyesap es kelapa mudanya.
"Makan ikannya dan jangan minum terus! Kembung kamu nanti!" Gavin memotong daging ikan bakar di depan mereka, lalu mulai menyuapi Zeline.
"Panas!" Zeline mengibas-ngibaslan tangannya di depan mulut karena kepanasan.
"Panas dikit aja!" Gavin terkekeh dan ikut melahap ikan bakar yang tadi ia suapkan pada Zeline.
"Skripsi kamu jadinya selesai kapan?" Tanya Zeline memastikan.
"Sebulan lagi." Jawab Gavin di sela-sela pemuda itu mengunyah ikan.
"Lah, kan kemarin udah dapat dua minggu! Harusnya dua minggu lagi selesai!" Sergah Zeline dengan suara meninggi.
"Iyakah? Tapi kan dua hari ini aku nggak bisa ngerjain apa-apa karena aku sibuk nemenin kamu!" Ujar Gavin beralasan.
"Yaudah! Aku akan pulang dan tak menganggumu lagi!" Jawab Zeline cepat.
"Aku tak keberatan kamu gangguin, Zel!" Beneran!" Gavin mengerling genit pada Zeline yang langsung memutar bola matanya.
"Aku tetap akan pulang!"
"Aku boleh ikut pulang?" Tanya Gavin yang kembali membuat Zeline memutar bola mata. Sementara Gavin langsung terkekeh.
"Ponsel kamu mana?" Tanya Zeline selanjutnya pada Gavin yang langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam saku.
"Jangan di-silent lagi mulai sekarang!" Zeline memperingatkan Gavin.
"Trus telepon aku! Biar kelihatan kalau kita itu sudah tunangan!"
"Masa iya, aku itu udah punya tunangan tapi kayak jomblo! Nggak ada yang telepon atau ngajakin video call," Zeline mengungkapkan uneg-unegnya pada Gavin.
"Ya kan aku sibuk sama skripsi. Trus biar kamu juga kesini kalau aku nggak angkat video call kamu," jawab Gavin mengungkapkan secara jujur alasannya.
"Ck! Ternyata!" Cibir Zeline pada Gavin.
"Ternyata apa? Kamu juga suka disini, kan?" Gavin menaik turunkan alisnya pada Zeline.
"Nggak! Lebih enak juga di rumah!" Bantah Zeline cepat.
"Iya yang disini kan rumah kamu juga, Zel!"
"Iya, kan?" Gavin meraih tangan Zeline, lalu mengecupnya.
"Iya!" Jawab Zeline akhirnya untuk menyenangkan hati Gavin.
"Udah jam!" Zeline mengingatkan Gavin.
"Yuk, aku antar ke airport!" Gavin bangkit berdiri terlebih dahulu, lalu Zeline menyusul berdiri, dan dua orang itu segera berangkat ke airport. Zeline akan pulang hari ini!
****
"Selamat pagi, Nona Zeline!" Sapa Nona di hari Senin pagi. Wajah Zeline terlihat berseri karena ia baru saja bertemu Gavin kemarin.
"Pagi!"
"Jadinya bagaimana kemarin? Kau hamil?" Tanya Zeline penuh selidik pada Nona yang langsung membelalakkan kedua matanya.
__ADS_1
"Tidak, Nona Zeline! Saya hanya keracunan makanan," jelas Nona seraya mengibas-ngibaskan tangan ke arah Zeline.
Zeline langsung tergelak dan sepertinya senang sekali karena berhasil menggoda sekretarisnya tersebut.
"Iya, iya! Aku tahu! Ryan juga sudah memberitahuku!"
"Wajahmu pucat dan ketakutan sekali!" Zeline masih tak berhenti menertawakan Nona yang kini salah tingkah.
"Ayo ke ruanganku!" Ajak Zeline selanjutnya pada Nona.
"Baik, Nona Zeline!" Jawab Nona cepat seraya mengekori Zeline dan masuk ke ruangan Nona direktur tersebut.
Nona membacakan jadwal Zeline serta melaporkan beberapa berkas yang perlu Zeline periksa.
"Sudah, ini saja?" Tanya Zeline memastikan.
"Iya, Nona Zeline!"
"Baiklah! Pesankan aku kudapan, ya! Aku sudah lapar," pesan Zeline pada sang sekretaris.
"Anda mau kudapan apa, Nona?"
"Apa saja tapi yang gurih, ya! Jangan yang manis-manis!" Jawab Zeline.
"Baik, Nona Zeline!"
"Jangan lupa beli untukmu juga!" Pesan Zeline mengingatkan sebelum Nona keluar dari ruangannya.
"Iya, Nona Zeline!" Nona akhirnya keluar dari ruangan Zeline bersamaan dengan ponsel Zeline yang berdering.
Gavin menelepon!
Tumben sekali!
"Halo!" Sambut Zeline penuh semangat.
"Pagi, Nona direktur! Sedang dimana?"
"Di depan laptop!" Jawab Gavin pamer. Zeline langsung tertawa renyah.
"Sudah mandi? Pasti belum!" Tebak Zeline sok tahu.
"Baru bangun!"
"Hoaaaam!" Gavin menguap lebar.
"Ck! Jam berapa ini? Kenapa baru bangun?" Omel Zeline.
"Tadi malam nggak bisa tidur. Mikirin kamu."
"Gombal!" Sahut Zeline seraya terkekeh.
"Beneran! Mikirin nanti kita habis nikah bagaimana."
"Apanya yang bagaimana?" Zeline mengernyit bingung.
"Ya semuanya!" Gavin terkekeh.
"Kapan mau nikah memangnya? Habis nikah katanya LDR! Nanti malam pertamanya via video call berarti?" Cerocos Zeline.
"Ya enggaklah, Zel! Masa iya malam pertama video call! Aneh-aneh aja kamu!"
"Malam pertamanya di pulau kosong saja, bagaimana?" Usul Gavin yang langsung membuat Zeline memutar bola matanya.
"Skripsi udah selesai memang? Kok udah mikirin malam pertama?" Tanya Zeline mengingatkan.
"Sedikit lagi. Tinggal diketik dan dirapikan saja. Trus langsung bisa sidang, selesai!" Jawab Gavin penuh semangat dan penuh percaya diri.
"Cepat sekali ngerjain skripsi. Itu kamu dibantu Bunda jangan-jangan!" Zeline menuding curiga.
"Mana ada! Aku kerjakan semuanya dari nol! Bunda bantu doa saja dari kemarin!" Jawab Gavin bersungguh-sungguh.
__ADS_1
"Hmmm. Encer juga otakmu." Puji Zeline sedikit tidak ikhlas.
"Memang! Kata Bunda, aku ini pintar. Cuma malas saja!" Gavin terkekeh dan Zeline langsung mendengus.
"Cuma malas!"
"Iya cuma malas dan kebanyakan main."
"Eh, bukan main! Tapi bisnis!" Sergah Gavin mencari-cari alasan.
Ya ya ya!
Bukan Gavin namanya kalau tak pandai beralasan.
"Bisnis jadi tour guide, ya! Aku sebenarnya sedikit cemburu," Zeline mengungkapkan uneg-unegnya.
"Cemburu kenapa? Aku nggak pernah selingkuh dengan klien, kok! Kalau pacaran dengan klien pernah, sih! Tapi hanya sekali."
"Kapan?" Sergah Zeline dengan suara yang sudah meninggi.
"Beberapa bulan lalu, saat aku tersesat di pulau kosong bersama gadis gendut tukang kentut-"
"Sialan! Itu aku!" Jawab Zeline blak-blakan.
"Akhirnya ada yang mengaku juga!" Gavin tertawa terbahak-bahak seolah puas sekali pada pengakuan Zeline.
"Iya, jadi itu saja klien yang membuatku jatuh cinta dan terpesona. Lainnya tidak! Jadi kau tenang saja! Aku tipe cowok setia!" Ucap Gavin penuh kesungguhan.
"Hmmmm, masih belum terbukti," Zeline masih merasa ragu.
"Oh, ayolah, Zel! Kau harus percaya!"
"Kau sudahi saja pekerjaanmu di pulau dan datanglah kemari setelah wisuda! Aku punya pekerjaan untukmu! Bagaimana?" Tawar Zeline mencoba merayu Gavin.
"Pekerjaan apa? Aku juga punya pekerjaan untukmu disini. Kenapa bukan kau saja yang pindah kemari setelah kita menikah nanti?" Gavin balik memberikan tawaran untuk Zeline.
"Pekerjaan apa?" Tanya Zeline penasaran.
"Pekerjaan sebagai istri dan ibu dari anak-anakku!"
Jawaban Gavin langsung membuat Zeline memutar bola matanya.
"Bagaimana?"
"Tidak, terima kasih! Aku akan tetap jadi nona direktur setelah kita menikah!" Ujar Zeline tetap pada pendiriannya.
"Ck! Kita LDR berarti, ya!"
"Oke! Sudah diputuskan! Kita akan LDR serelah menikah! Kau akan tetap jadi Nona direktur di sana dan aku akan tetap jadi tour guide disini!"
Kalimat Gavin malah membuat Zeline merasa ragu dengan hubungannya bersama Gavin saat ini. Apa sebaiknya Zeline tak usah menikah dengan Gavin dan mencarj pria lain saja yang satu passion dengannya?
"Zel! Kok diam?"
"Enggak, cuma lagi mikir aja!" Jawab Zeline tergagap.
"Mikirin apa?"
"Mikirin tentang bagaimana kalau kita tidak usah menikah saja! Sepertinya kita memiliki banyak ketidakcocokan," jawab Zeline seraya meringis yang langsung mekbuat Gavin menyalak di ujung telepon.
"Apa?"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1