
"Zeline jadi pulang besok, Sakya?" Tanya Papi Zayn pada Sakya yang masih sibuk mengutak-atik ponselnya.
"Sakya belum tahu, Pi! Ponsel Kak Zeline tidak bisa dihubungi sejak siang," lapor Sakya yang langsung membuat raut wajah Papi Zayn berubah khawatir.
"Tidak bisa dihubungi bagaimana? Tidak ada sinyal atau ponselnya mati? Kapan terakhir kali kamu menelepon Zeline?" Cecar Papi Zayn pada sang putra.
"Tadi pagi, Sakya masih bisa bertukar pesan dengan Kak Zeline. Lalu siang pas Sakya ingin menelepon, nomornya sudah tidak aktif," jelas Sakya yang malah membuat Papi Zayn semakin khawatir.
"Kamu telepon ke resort-nya!"
"Iya, ini Sakya lagi cari info tentang resort tempat Kak Zeline menginap, Pi!" Jawab Sakya yang kembali mengutak-atik ponselnya.
"Cari info bagaimana lagi? Jelas-jelas kalu yang memesankan tiket liburan untuk Zeline! Kamu yang mencarikan resort juga, kan?"
"Kak Zeline pindah resort karena resort yang Sakya pesan ternyata kamarnya penuh, Pi!" Jelas Sakya seraya meringis.
"Bagaimana bisa, Sakya? Kenapa kamu bisa tidak teliti? Kakak kamu itu seorang perempuan! Kalau terjadi apa-apa padanya bagaimana?" Cecar Papi Zayn lagi mengomeli Sakya panjang lebar.
"Ada apa, Pi? Kenapa marah-marah?" Tajya mami Thalita yang langsung menghampiri suami serta putranya karena mendengar teriakan Papi Zayn.
"Sakya ini! Mencarikan resort untuk liburan Zeline tapi ceroboh dan tidak teliti-"
"Sakya minta maaf, Pi! Ini Sakya juga sedang mencari informasi tentang keberadaan Kak Zeline!" Sela Sakya cepat yang tak mau disalahkan.
"Mencari info apa? Zeline kemana memangnya, Sakya?" Sekarang gantian Mami Thalita yang mencecar Sakya.
"Ponselnya tidak bisa dihubungi, Mi!"
"Mungkin Kak Zeline lupa bawa charger, jadi ponselnya mati," Sakya mengendikkan kedua bahunya dan masih berasa untuk berpikir positif.
Sakya akhirnya mendapatkan nomor telepon resort tempat Zeline menginap. Segera adik kandung Zeline itu menghubungi nomor resort.
"Pergi? Pergi kemana? Ini sudah malam dan apa iya belum kembali?" Cecar Sakya pada karyawan resort yang menjawab teleponnya.
"Belum, Pak! Kami sudah memeriksa kamarnya dan Nona Zeline memang belum kembali."
"Lalu kakak saya pergi bersama siapa? Kalian tahu?" Tanya Sakya lagi.
"Bersama tour guide yang ia sewa, Pak! Tadi sore pergi naik speedboat, sepertinya hendak melihat sunset."
"Tour guide? Ada wisatawan lain juga berarti?" Tanya Sakya masih berpikir positif.
"Tidak ada, Pak! Mereka hanya pergi berdua."
"Berdua saja? Apa kalian tahu kemungkinan mereka kemana?" Tanya Sakya lagi yang akhirnya berubah cemas.
"Mungkin ke salah satu pulau di gugus kepulauan, Pak!"
"Baiklah! Aku akan meninggalkan nomor dan segera hubungi aku jika kakakku sudah kembali ke resort!" Pesan Sakya seraya menyebutkan nomor ponselnya. Sakya lalu mengakhiri telepondan menyugar rambutnya sendiri.
"Bagaimana?" Tanya Papi Zayn cepat.
__ADS_1
"Katanya kemungkinan Kak Zeline pergi ke salah satu pulau bersama seorang tour guide, dan tidak ada sinyal di pulau tersebut. Makanya Sakya tak bisa menghubungi ponsel Kak Zeline, Pi!" Terang Sakya panjang lebaran yang langsung membuat Papi Zayn ikut menyugar rambut.
"Pak Dokter, ada apa? Kenapa semua cemas?" Tanya Gretha yang baru keluar dari kamar. Istri Sakya itu langsung menggamit lengan Sakya dengan manja dan bergelayut disana.
"Tidak ada apa-apa. Kamu kok bangun lagi, Sayang?" Tanya Sakya seraya merapikan rambut Gretha.
"Pak Dokter ilang soalnya. Aku kira kemana," jawab Gretha masih sambil bergelayut manja pada Sakya.
Papi Zayn hanya berdecak melihat putra dan menantunya, sementara Mami Thalita menahan tawa.
"Ayo ke kamar lagi, Pak Dokter!" Ajak Gretha selanjutnya seraya menarik lengan Sakya dan mengajaknya masuk ke kamar.
"Ke kamar main dokter-dokteran, Gre?" Cibir Papi Zayn yang sepertinya tak didengar oleh Gretha maupun Sakya. Putra dan menantu Zayn itu sudah masuk ke kamar dan menutup pintu.
"Mimpi apa punya menantu seperti itu," Papi Zayn geleng-geleng kepala.
"Udah terlanjur mau bagaimana lagi, Pi? Sakya juga bucin berat pada Gretha! Sama kayak papi dulu ke mami," ujar Mami Thalita seolah sedang mengenang masa lalu.
"Siapa yang bucin, ya?" Papi Zayn pura-pura lupa.
"Papi lah! Sok sokan lupa!" Mami Thalita mencubit perut sang suami sebelum kemudian wanita paruh baya itu berlalu pergi.
"Mi! Papi lapar! Buatin salad buah!" Seru Papi Zayn seraya menyusul Mami Thalita ke dapur.
****
"Hatchi!" Zeline menggosok-gosok hidungnya yang mendadak gatal karena angin malam ini yang lumayan dingin. Mana Zeline hanya mengenakan tank top!
Ck!
"Hatchi!" Zeline kembali bersin.
"Pakai ini!" Gavin menyodorkan kemeja yang tadi ia pakai untuk mengelap lantai gubuk pada Zeline.
Yang benar saja!
Masa iya Zeline disuruh pakai kemeja kotor? Bisa gatal-gatal nanti badan Zeline!
"Itu kan kotor!" Tolak Zeline setaha melemparkan balik kemeja Gavin pada sang empunya.
"Sudah aku cuci!"
"Lihat! Sudah bersih!" Gavin menjembreng kemejanya dan menunjukkan pada Zeline kalau kemeja tipis itu memang sudah bersih
"Kapan kau mencucinya?" Tahya Zeline seraya menyambar kemeja Gavin dari tangan pria itu.
"Tadi, saat mencari air," jawab Gavin.
Zeline sudah memakai kemeja Gavin, meskipun tak bisa dikancingkan karena ukurannya terlalu mini.
Mau dipaksa, nanti malah sobek!
__ADS_1
"Nggak bisa dikancing! Payah!" Komentar Zeline yang kembali duduk meringkuk dan memeluk lututnya.
Gavin ikut-ikutan duduk meringkuk dan memeluk lututnya juga
"Kausmu rombeng-rombeng begitu, kamu nggak kedinginan?" Tanya Zeline sedikit khawatir pada Gavin.
Sedikit saja!
Tidak usah banyak-banyak!
Nanti tour guide menyebalkan ini merasa geer!
"Aku sudah biasa tidur di tempat terbuka seperti ini," jawab Gavin sombong.
"Sombong!" Cibir Zeline.
"Mana ada? Aku kan bicara kenyataan!" Kilah Gavin.
"Kau tinggal di gubuk juga memang?" Tanya Zeline kepo.
"Di rumah Ayah dan Bundaku kalau sedang pulang," jelas Gavin yang langsung membuat Zeline menahan tawa.
"Apa tadi katamu? Ayah Bunda?" Zeline sekarang sudah ganti tergelak seolah ada hal yang lucu.
"Apa yang lucu memang?" Tanya Gavin mengernyit heran.
"Kau! Memanggil Ayah dan Bunda?" Zeline masih saja terkekeh.
"Memang ada yang salah?" tanya Gavin semakin heran.
"Nggak salah! Cuma aneh saja karena pemuda petakilan sepertimu memanggil ayah bunda. Biasanya yang manggil ayah bunda itu kan yang modelan anak-anak kalem," tutur Zeline berpendapat.
"Nggak ada hubungannya!" Sergah Gavin mencibir.
"Kau sendiri juga petakilan, sok-sokan mengomentari diriku!" Lanjut Gavin lagi tetap mencibir pada Zeline.
"Ish! Aku sedang malas debat! Nanti kalau aku lapar lagi, kamu juga yang aku makan!" Omel Zeline yang sudah ganti mendelik pada Gavin.
"Dasar kanibal!" Cibir Gavin sekali lagi, sebelum kemudian Zeline menguap lebar.
"Hoaaaam! Ngantuk!" Zeline mengucek-ngucek matanya.
"Ngantuk tidur! Bukan sibuk ceramah atau komentar!" Sahut Gavin tetap dengan nada mencibir.
"Awas kamu kalau malam nanti gr*pe-gr3pe!" Zeline memperingatkan sekaligus menuding pada Gavin sebelum akhirnya gadis itu berbaring miring san membelakangu Gavin. Zeline menggunakan tangannya sebagai bantal, dan tak butuh waktu lama, Zeline sudah langsung terlelap.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.