
"Kok sendirian? Gavin mana?" Tanya Mami Thalita yang rupanya juga sudah pulang.
"Udah pulang, Mi," jawab Zeline asal.
"Ke?"
"Rainer's Resto," jawab Zeline lagi.
"Nggak kamu antar ke rumah Opa Theo? Memangnya resto belum tutup?" Tanya Mami Thalita yang sepertinya khawatir sekali.
Aneh juga kalau di pikir-pikir.
Seharusnya Mami Thalita kan khawatir pada Zeline yang jelas-jelas adalah seorang gadis sekaligus putri kandungnya. Lalu kenapa sekarang Mami Thalita malah khawatir pada Gavin?
"Zeline nggak tahu, Mi! Tadi Gavin minta diantar ke Rainer's Resto, yaudah Zeline antar," jawab Zeline dengan nada malas.
"Zeline mau istirahat! Ngantuk!" Pamit Zeline selanjutnya, seraya meninggalkan Mami Thalita dan menaiki tangga dengan cepat menuju ke kamarnya.
"Pulang sendiri jadinya?" Tanya Papi Zayn yang baru muncul dari arah dapur.
"Iya, sepertinya Gavin dipulangkan secara paksa dan wajahnya Zeline terlihat galau," jawab Mami Thalita sedikit berpendapat.
"Wajah galau seperti apa memangnya?" Tanya Papi Zayn genit seraya meraih dagu Mami Thalita, lalu mengamati wajah istrinya tersebut.
"Papi! Jangan genit begitu!"
"Begitu bagaimana?" Papi Zayn semakin genit menggoda Mami Thalita.
"Iya begitu-"
"Pokoknya, aku mau yang toppingnya tebal begini, Pak Dokter!"
"Nggak mau yang tipis apalagi sampe nggak kelihatan!"
Mami Thalita dan Papi Zayn batal genit-genitan, saat mendengar suara manja Gretha yang baru keluar dari kamar bersama Sakya.
"Iya, iya! Trus kamu maunya yang topping apa? Coklat? Keju? Kacang?"
"Keju, Pak Dokter! Keju!"
"Kan tadi aku udah bilang! Makanya kalau aku lagi ngomong itu didengerin! Jangan sibuk ngelamun!"
"Lagi ngelamunin apa, sih?" Omel Gretha panjang lebar pada Sakya yang masih disimak oleh Mami Thalita dan Papi Zayn.
"Ngelamunin kamu, dong, Sayang!" Sakya mendekap tubuh mungil Gretha dengan lebay.
"Ehem!" Papi Zayn akhirnya berdehem pada putra dan menantunya tersebut.
"Eh, Pi! Sudah pulang?" Sapa Sakya berbasa-basi pada Papi Zayn dan Mami Thalita. Sedangkan Gretha masih bergelayut manja pada Sakya.
"Ngidam apa, Gre?" Tanya Mami Thalita pada sang menantu.
"Terang bulan."
"Martabak manis."
Gretha dan Sakya menjawab berbarengan namun jawabannya sedikit berbeda.
__ADS_1
"Iiih! Namanya terang bulan, Pak Dokter! Kalau martabak itu yang pakai telur!" Protes Gretha pada Sakya yang menyebut terang bulan sebagai martabak manis.
"Iya, iya, Gre!" Sakya kembali mendekap Gretha.
Astaga! Dasar bucin akut!
"Oh, terang bulan? Yang keju?" Tebak Mami Thalita.
"Bener banget, Mi! Kok mami bisa tahu?" Tanya Gretha heran.
"Tahu, dong! Kan kamu sukanya makan apa-apa yang mengandung keju!" Jawab Mami Thalita sok paling tahu. Padahal tadi kan memang Gretha sudah teriak-teriak. Tentu saja mami Thalita tahu!
"Yaudah, ayo beli!" Ajak Sakya selanjutnya pada sang istri. Sakya dan Gretha segerq berpamitan pada Mami Thalita dan Papi Zayn sebelum berangkat membeli terang bulan.
****
"Dor!"
Zeline seketika langsung terlonjak, saat Gavin mengagetkan dirimya yang sedang melamun, entah melamun apa.
"Pagi-pagi melamun!" Cibir Gavin yang kini sudah duduk di dekat Zeline yang hanya mendengus.
"Kamu darimana tadi? Aku cari-cari juga!"
"Ngilang, nggak pamit!" Omel Zeline pada pemuda di sebelahnya tersebut.
"Keliling pulau, cari makanan untuk perut kamu ini!" Gavin iseng mengusap perut Zeline.
"Gavin!" Zeline langsung refleks mengeplak tangan usil Gavin.
"Auuuuw! Sakit juga," ringis Gavin pura-pura kesakitan.
"Cium juga, dong!" Bisik Gavin sedikit genit yang langsung berhadiah delikan dari Zeline.
"Sakit, Zel!" Gavin kembali merengek manja.
"Lebay!" Cibir Zeline bersamaan dengan perutnya yang tiba-tiba berbunyi.
"Hahahaha! Lapar, ya! Nyaring sekali bunyi perutmu!" Ledek Gavin yang langsung membuat Zeline merengut.
"Jadi tadi dapat makanan atau tidak? Katanya udah keliling pulau?" Tanya Zeline seraya memegangi perutnya.
"Dapat, dong!"
"Pisang!" Gavin tiba-tiba sudah mengeluarkan setandan pisang entah darimana.
"Kelapa muda!"
"Petatas, singkong, jagung, pepaya, semangka, donat, pizza, croffle, burger, nasi bakar...." satu demi satu makanan terus Gavin keluarkan entah darimana, dan kini semuanya sudah berjejer di hadapan Zeline.
"Kamu habisin semuanya, ya! Aku mau kamu dan calon anak kita sehat," ucap Gavin seraya mengusap perut Zeline yang mendadak jadi bulat dan mulai membesar layaknya orang yang sedang hamil.
Hah?
Zeline hamil?
Sejak kapan?
__ADS_1
Kriiiing!
Suara alarm dari ponsel, membuat Zeline langsung membuka lebar kedua bola matanya. Gadis itu mengerjap-ngerjap sebentar, lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar. Zeline juga meraba perutnya sendiri yang di dalam mimpi tadi membulat....
"Fiuuuhhh!" Zeline seketika bernafas lega saat mendapati perutnya yang ternyata masih normal dan ia tak sedang hamil.
"Aneh sekali mimpiku barusan." Zeline menggaruk kepalanya yang tak gatal, lalu mengusap wajah berulang kali. Baru sekarang, Zeline mendapatkan mimpi seaneh tadi.
Entahlah!
Zeline akhirnya menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, dan hendak pergi mandi. Namun pintu kamar tiba-tiba di ketuk dari luar, dan hal itu sukses membuat Zeline terlonjak lagi.
"Zeline! Kau sudah bangun?" Panggil Mami Thalita dari luar.
"Astaga!"geram Zeline seraya meraih sendal bulu warna pink dengan hiasan telinga kelinci, lalu gadis itu membuka pintu kamar dengan malas.
"Sudah, Mi! Zeline sudah bangun," jawab Zeline sembari mengucek kedua matanya di depan Mami Thalita.
"Kau ke kantor hari ini?" Tanya Mami Thalita lagi yang sudah masuk ke kamar sang putri. Maki Thalita sigap membereskan tempat tidur Zeline, lalu membuka lemari besar Zeline.
Entahlah!
Tumben sekali Mami Thalita melakukan hal aneh ini setelah mimpi aneh Zeline tadi tentang dirinya yang sedang hamil anak Gavin.
Eh, memang benar di mimpi tadi Zeline hamil anaknya Gavin?
Tapi di pulau tadi sepertinya hanya ada Zeline dan Gavin, jadi Zeline pastilah hamil anaknya Gavin.
Aneh-aneh saja!
"Zel! Kok malah melamun?" Tegur Mami Thalita yang langsung membuat Zeline tersentak.
"Eh, iya, Mi! Bagaimana?" Tanya Zeline tergagap.
"Kau ke kantor hari ini?" Tanya Mami Thalita sekali lagi.
"Iya, Mi!" Jawab Zeline.
Mami Thalita mengangsurkan satu stel baju kerja warna mocca pada Zeline.
"Nanti pulang saat makan siang, ya!" Pesan Mami Thalita pada sang putri.
"Memang kenapa, Mi? Ada yang penting?" Tanya Zeline menyelidik.
"Iya anggap saja begitu!"
"Sana siap-siap!" Titah Mami Thalita sebelum akhirnya mami kandung Zeline itu keluar dari kamar.
"Mau ada hal penting apa, sih?" Tanya Zeline pada dirinya sendiri. Zeline hanya mengendikkan bahu, lalu segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap pergi ke kantor.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.