
Mobil merah milik Zeline masih melaju membelah jalanan kota yang malam ini lumayan padat. Hampir setiap saat, jalanan di kota metropolitan ini memang tak pernah lengang. Kuda besi selalu saja memenuhi setiap ruas jalan, seolah sedang berpacu dengan waktu menuju ke tujuan masing-masing.
Gavin sesekali menoleh ke arah Zeline yang masih fokus mengemudi. Namun pandangan nakal Gavin selalu saja tertuju ke belahan dada Zeline.
Sialan!
Gavin kembali memalingkan wajahnya ke jendela samping, lalu mengangkat satu tangannya ke samping wajah untuk menghalangi pandangannya pada dada Zeline yang uwooow!
Sebelas dua belas dengan lengan gadis itu!
Mungkin bedanya, lengan Zeline hanya mengingatkan Gavin pada gebuk maling. Sedangkan dada Zeline...
Jangan ditanya mengingatkan Gavin pada apa!
Yang jelas, para turis asing maupun lokal yang hanya berbikini di pantai yang sudah menjadi pemandangan sehari-hari untuk Gavin kalah jauh dengan Zeline saat ini.
Entah dimana masalahnya!
Bukankah pria normal biasanya menyukai wanita seksi berbikini?
Lalu apa itu artinya Gavin adalah pria tak normal?
"Pria tak normal?" Gavin bergumam lalu terkekeh sendiru, membuat Zeline yang sedang menunggu lampu merah berubah jadi hijau mengernyit tak paham.
"Kau sedang menelepon seseorang?" Tanya Zeline seraya menyingkirkan tangan Gavin yang sejak tadi masih menutupi sisi wajah pria itu.
"Apa? Tidak!" Jawab Gavin cepat.
"Lalu kenapa kau tadi tertawa sendiri?", tanya Zeline heran.
"Kau tidak...." Telunjuk Zeline membentuk garis miring di kening.
"Sama sekali tidak! Aku masih waras!"
"Sangat-sangat waras!" Sergah Gavin dengan nada lebay yang teramat lebay.
Terserah!
"Jangan tertawa atau bicara sendiri kalau memang kau masih waras!" Pesan Zeline sebelum gadis itu kembali menginjak pedal gas karena lampu lalu lintas sudah berubah jadi hijau.
"Kau selalu mengemudi sendiri?" Tanya Gavin membuka obrolan. Mata Gavin masih melirik ke belahan dada Zeline sesekali.
Oh, ya ampun!
Kenapa cobaan malam ini begitu berat!
"Ya!" Jawab Zeline singkat.
"Kenapa tidak pakai sopir? Nona direktur biasanya kan diantar sopir kemana-mana?" Tanya Gavin heran.
"Aku lebih nyaman mengemudi sendiri" jawab Zeline yang malas menjelaskan alasannya dengan lebih detail.
"Oh, astaga! Aku tak tahan lagi!" Gavin menyambar satu lembar tisu dari atas dashboard mobil, lalu menutupkan tisu tersebut ke belahan dada Zeline yang sejak tadi terpampang nyata dan menggoda iman.
Ciiittt!!
Zeline refleks menginjak rem karena kaget dengan tindakan yang dilakukan oleh Gavin barusan.
"Apa maksudnya?" Tanya Zeline seraya mendelik pada Gavin.
"Belahan gaunmu terlalu menggoda!"
__ADS_1
"Apa kau tak takut masuk angin?" Tanya Gavin to the point seraya memejamkan mata agar tak terus-terusan menatap pada dada Zeline.
Padahal tadi Gavin juga sudah kena tindih benda itu dan reaksi Gavin biasa saja. Lalu kenapa sekarang Gavin malah gelagapan?
Entah!
"Ini masih normal!" Jawab Zeline beralasan.
"Normal?" Gavin mengangkat satu alisnya.
"Yang lain belahannya sampai bawah! Jadi apa masalahnya? Kau merasa h*rny?" Tanya Zeline blak-blakan.
"Sama sekali tidak!" Sanggah Gavin cepat.
"Aku sudah biasa melihat yang belahannya sampai perut! Banyak di pantai!" Ujar Gavin lagi pamer.
"Lalu kenapa mempermasalahkan belahanku yang hanya lima centi ini?"
"Itu tujuh centi!" Gavin mengoreksi.
"Baiklah tujuh centi! Lalu apa masalahmu?" Tanya Zeline sekali lagi.
"Tidak ada masalah apa-apa!" Jawab Gavin akhirnya.
"Ayo jalan lagi! Kita sudah terlambat!" Ajak Gavin lagi mengalihkan pembicaraan. Zeline mendengus dan segera menyingkirkan tisu dari dadanya, mengumpulkan benda itu, lalu melemparkannya ke arah Gavin. Gadis itu lanjut mengemudikan mobilnya ke lokasi acara.
Tak sampai sepuluh menit, mobil Zeline sudah masuk ke sebuah gedung pertemuan yang penuh dengan hiasan bunga-bunga serta papan ucapan yang berjejer di sepanjang halaman gedung.
"Apa nanti jika kau menikah juga akan semewah ini?" Tanya Gavin, setelah ia dan Zeline turun dari mobil.
"Entahlah! Aku belum memikirkannya," jawab Zeline dengan nada malas. Membicarakan tentang pernikahan selalu membuat Zeline merasa malas.
"Tapi biasanya setiap gadis punya pernikahan impian untuk diwujudkan."
"Apa yang terjadi dengan pernikahan Kak Vaia?" Tanya Zeline penasaran.
"Tak perlu aku ceritakan kepadamu karena aku tak mau membuatmu takut untuk menikah!" Kekeh Gavin yang sudah bisa bergurau lagi.
"Ck! Menyebalkan!" Zeline memukul lengan Gavin dengan kesal.
Dua sepupu itu sudah masuk ke dalam gedung dan mereka ternyatq memang sudah terlambat, karena sekarang acaranya sudah sampai pada acara lempar bunga.
"Satu....dua...."
"Tiga...."
Tepat di hitungan ketiga, buket bunga yang dilempar oleh pengantin sudah terbang melintasi ruangan. Gavin yang melihat buket bunga tersebut buru-buru memegangi kedua tangan Zeline, lalu mengarahkannya agar menangkap buket bunga.
"Gavin!" Zeline yang tak siap, refleks melayangkan protes pada Gavin yang sudah secara kurang ajar memegangi kedua tangannya, sembari merangkul dari belakang.
"Apa-apaan-"
"Tangkap!" Gavin memberikan aba-aba dan membantu Zeline menangkap buket bunga pengantin tadi.
Hap!
Buket bunga berhasil mendarat di tangan Zeline yang kini melongo.
"Yeay!!! Dapat!!!!" Sorak Gavin seraya mengacungkan tangan Zeline sekaligus buket bunga yang berhasil ditangkap Zeline meskipun dengan mode pemaksaan.
"Huuuuu!!" Sorakan dari para tamu undangan langsung terdengar bersama riuhnya tepuk tangan. Sementara Zeline masih melongo dan merasa bingung dengan apa yang baru saja terjadi.
__ADS_1
Apa Gavin baru saja memaksa Zeline untuk menangkap buket bunga dari pengantin malam ini?
"Congrats! Kau akan menyusul naik ke pelaminan sebentar lagi!" Gavin menangkup wajah chubby Zeline, dan nona direktur itu masih melongo. Merasa bingung harus menanggapi bagaimana.
"Ayo dansa!" Ajak Gavin selanjutnya serat menarik lengan Zeline yang masih linglung, untuk berdansa seperti pasangan lain.
"Kau bisa dansa, kan?" Tanya Gavin memastikan.
"Apa?" Zeline yang masih linglung balik bertanya.
"Kau bisa dansa? Kalungkan kedua lenganmu di leherku," Gavin memberikan arahan pada Zeline.
"Lalu bunganya bagaimana? Harus kubuang?" Tanya Zeline yang langsung membuat Gavin terkekeh.
"Baiklah, satu tangan saja!" Gavin akhirnya membimbing tangan Zeline untuk bergelayut di lehernya.
"Kenapa aku harus berdansa denganmu?" Tanya Zeline lagi seraya menatap Gavin dengan tatapan tajam, tapi bukan tatapan kemarahan.
"Karena aku pasanganmu malam ini!" Jawab Gavin.
"Tanganmu di pinggangku!" Zeline memperingatkan Gavin dan mendelik pada pria itu.
"Tentu saja! Karena kita sedang dansa! Jika tanganku di bokongmu, aku khawatir kau akan terkentut-kentut lagi," seloroh Gavin yang langsung membuat Zeline merengut dan memukul dada Gavin.
"Sialan! Aku bukan tukang kentut!" Gerutu Zeline kesal.
"Tak perlu menutupi! Aku tahu semua rahasia indahmu itu!"
"Suka kentut dan ileran saat tidur," bisik Gavin yang langsung membuat kedua mata Zeline membelalak.
"Bercanda soal ileran! Kenapa shock begitu?" Kekeh Gavin yang sepertinya puas sekali karena berhasil menggoda Zeline.
"Kau menyebalkan!"
"Kau itu yang tidur ileran!" Zeline kembali memukul dada Gavin.
"Masa, sih? Kok pas bangun nggak ada bekasnya? Kamu bersihin, ya?" Tanya Gavin yang langsung membuat Zeline mendengus.
"Nggaklah! Kurang kerjaan!" Zeline mencibir.
"Tapi kalau naik pelaminan bareng aku mau, kan?" Tanya Gavin tiba-tiba yang langsung membuat kedua bola mata Zeline kembali membelalak.
"Apa katamu barusan?" Zeline mengerjap-ngerjap tak percaya dan punggung tangan gadis itu refleks berpindah ke kening Gavin. Khawatir kalau-kalau Gavin mendadak demam atau mungkin mabuk.
"Ish! Aku nggak demam!" Gavin menyingkirkan tangan Zeline dari keningnya seraya terkekeh.
"Kau mabuk?" Tanya Zeline serius.
"Tidak! Aku sedang bertanya serius,"
"Kau mau naik pelaminan bersamaku tidak, Zeline Abraham?" Gavin bertanya sekali lagi dan Zeline refleks membeku di tempatnya.
Mimpi apa Zeline semalam, tiba-tiba dilamar oleh bronies hitam tapi manis ini?
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.