
"Auuuw! Punggungku!" Jerit Gavin saat Zeline kembali menindih dan memukulinya dengan barbar.
Sekarang Gavin tahu alasan gadis di depannya ini berstatus jomblo. Dia hobi sekali mengajak kaum pria smack down saat sedang kesal. Jadi, siapa juga yang tahan menjadi pacarnya?
"Rasakan!" Zeline tertawa puas melihat Gavin yang kini meringis-ringis tak jelas.
"Barbar!" Cibir Gavin sebelum kembali meringis.
"Harus, dong! Biar kalian kaum pria tidak bisa semena-mena!" Jawab Zeline seraya menuding pada Gavin.
"Memangnya, siapa yang semena-mena padamu? Kita saja baru bertemu dua hari yang lalu!" Tanya Gavin merasa bingung.
"Apa kau amnesia?" Zeline sudah mendelik pada Gavin.
"Di hari kita baru bertemu kau sudah menyebutku buldozer!"
"Lalu setelah itu, kau mengejekku saat aku bingung arah, kau menyebut-nyebut statusku yang jomblo!" Zeline mengungkapkan semua dosa Gavin kepadanya.
"Hei! Aku tak pernah menyinggung soal status jomblomu!"
"Lagipula, aku juga jomblo! Sesama jomblo harus saling mendukung, bukan begitu?" Gavin masih saja berkelit dan pemuda itu malah berani sekali menaik turunkan alisnya tanpa dosa ke arah Zeline. Dasar si tukang nge-less!
"Memang siapa yang bertanya soal statusmu, hah? Tidak usah pamer-pamer begitu!" Cibir Zeline pada Gavin.
"Kau pernah dilakukan semena-mena oleh mantan pacarmu memang?" Tanya Gavin tiba-tiba yang langsung berhadian sebuah delikan dari Zeline.
"Bukan urusanmu!" Jawab Zeline ketus.
"Oh, ayolah! Kau bisa cerita apapun kepadaku karena kita akan punya banyak waktu berdua di pulau ini sembari menunggu bantuan datang!"
"Kita tak mungkin saling diam dan membisu seperti patung, kan? Kita manusia!" Cerocos Gavin panjang lebar yang langsung membuat Zeline memutar bola mata.
"Aku haus! Jadi aku sedang malas bicara!" Zeline tetap ketus.
"Ayo cari mata air kalau begitu!" Gavin sudah bangkit berdiri dan pemuda itu tak lagi meringis-ringis.
Aneh sekali!
Apa itu artinya yang tadi itu hanya akting belaka?
"Zeline! Kau mau tetap disini menunggu kapal lewat?" Tanya Gavin yang sudah berjarak sedikit jauh dari Zeline.
Zeline tampak menimbang-nimbang sebelum menjawab.
"Cepatlah, Zeline! Hari segera gelap dan kita harus membuat tempat untuk bermalam.
"Apa maksudnya tempat untuk bermalam? Tenda?" Tanya Zeline yang akhirnya menyusul langkah Gavin.
"Tenda dari dedaunan mungkin," Gavin mengendikkan kedua bahunya dan terus berjalan mencari sumber mata air.
"Lihat!" Zeline tiba-tiba sudah menepuk punggung Gavin saat gadis itu melihat sebuah bangunan gubuk dari kayu, di tengah-tengah pulau. Gubuk tersebut memang tertutup pohon dan semak-semak hingga sebelumnya Zeline dan Gavin tak bisa melihatnya.
"Apa itu artinya ada penduduk lokal pulau?" Tanya Zeline yang sudah sangat berharap.
"Sepertinya tidak! Bisa saja itu gubuk yang dibuat oleh orang uang pernah tersesat juga di pulau ini," pendapat Gavin menerka-nerka.
"Ayo kita periksa!" Ajak Zeline bersemangat.
Tak ada pintu maupun jendela di gubuk sederhana itu. Bentuknya lebih mirip sebuah gazebo.
__ADS_1
"Lumayanlah, daripada kita harus tidur di atas tanah," ujar Gavin setelah memeriksa struktur bangunan sederhana tersebut. Kayu-kayunya masih cukup kuat. Hanya saja bagian lantai lumayan kotor. Gavin melepaskan kemeja pantainya, lalu memakai benda tersebut untuk membersihkan lantainya.
"Silahkan!" Ucap Gavin dengan nada lebay, setelah ia selesai membersihkan lantai gubuk sederhana tersebut.
"Lalu kita akan disini sampai kapan?" Tanya Zeline yang sudah duduk meringkuk.
"Sampai bantuan datang!" Jawab Gavin santai.
"Lalu bagaimana bantuan akan datang, kalau mereka tidak tahu kita hilang?" Tanya Zeline lagi semakin pesimis.
"Kita bisa membuat tanda di pantai!" Jawab Gavin lagi.
"Tanda? Tanda apa? Lalu mau membuat memakai apa?" Cecar Zeline pada Gavin.
"Bajumu warnanya cerah," Gavin mengendikkan dagunya ke blouse Zeline yang berwarna pink cerah.
"Kau gila! Kau mau menyuruhku naked, begitu?" Omel Zeline berapi-api.
"Oh ayolah! Kau masih memakai tank top di dalamnya. Jadi tak masalah aku pinjam dulu bajumu yang bagian luar!"
"Atau kita tak usah memasang tanda di pantai, lalu kita bisa hidup disini berdua saja selamanya!" Ujar Gavin yang langsung membuat kedua mata Zeline membelalak lebar.
"Selamanya?"
"Iya, selamanya! Seperti tarzan dan pacaranya tarzan itu."
"Auoooowwwww!!" Gavin menirukan suara tarzan saat sedang berayun yang sontak membuat Zeline berekspresi ngeri.
"Aku tidak mau jadi tarzanwati disini bersamamu!" Zeline akhirnya melepas bajunya yang berwarna pink cerah, lalu melemparkannya pada Gavin.
"Sana! Pasang tanda agar cepat ada helikopter yang melihat! Aku tak mau disini selamanya bersama tour guide menyebalkan!' Zeline bercerocos panjang lebar sementara Gavin hanya tertawa terbahak-bahak. Gavin akhirnya mengambil baju Zeline seraya bersiul.
"Kurang ajar kamu Gavin!" Maki Zeline merasa kesal pada Gavin yang selalu saja meledeknya. Zeline lalu menatap pada lengannya yang memang terlihat besar dan berisi namun tak berbentuk sama sekali!
Bagaimana mau berbentuk kalau Zeline saja tak pernah nge-gym?
Zeline kembali duduk di dalam gubuk, sembari melemparkan tatapannya ke arah Gavin pergi tadi. Pemuda itu masih belum kembali dan perasaan Zeline mendadak jadi tak enak.
"Gavin kemana, sih?" Gumam Zeline mulai cemas sekaligus khawatir.
"Kok lama? Pria menyebalkan itu kemana?" Zeline susah bangkit berdiri dan mondar-mandir di depan gubuk meninggu Gavin yang tak kunjung terlihat batang hidungnya.
"Ish!" Zeline mulai menghentak-hentakkan kakinya ke tanah karena Gavin lama sekali.
Hingga akhirnya setelah hampir satu jam menunggu, Zeline mendengar suara Gavin dari kejauhan.
"Zel!"
"Zeline, lihat apa yang aku temukan!" Seru Gavin seraya menunjukkan tas Zeline yang kini berada di tangannya.
"Tas!" Seru Zeline yang langsung berlari menghampiri Gavin. Namun Zeline tak terlalu memperhatikan langkahnya, hingga akhirnya kaki gadis itu menginjak duri.
"Auuuuw!" Jerit Zeline yang langsung jatuh terduduk lalu meringis.
"Kau sedang apa? Berlatih jadi tarzanwati?" Tanya Gavin heran seraya menghampiri Zeline yang masih meringis.
"Kau kemana saja, hah?" Zeline langsung memukul lengan Gavin yang kerasdemi meluapkan kekesalannya. Namun yang terjadi tangan Zeline malah terasa sakit sekarang.
Sial!
__ADS_1
Apa Gavin membawa besi di lengannya?
"Auuuw!" Zeline kembali meringis seraya memeriksa tangannya yang ikut terasa nyeri.
"Kakimu kenapa?" Tanya Gavin seraya memeriksa kaki Zeline. Ada duri lumayan besar yang tertancap di bagian tumit Zeline.
"Duri," gumam Gavin yang hendak mencabut duri tadi dari telapak kaki Zeline. Namun jeritan Zeline langsung menghentikan tindakan Gavin.
"Jangaaaan!!"
"Gavin menggosok-gosok telinganya yang nyaris tuli karena jeritan Zeline. Dasar speaker konslet!
"Ada apa? Kau tidak rela durinya aku cabut? Sudah jadi soulmate, hah?" tanya Gavin dengan nada lebay seperti biasa.
"Sialan!" Zeline kembali mengumpat.
"Aku hanya ingin bilang, kalua kau mencabut durinya, kakiku akan infeksi, lalu membusuk, dan aku biza diamputasi!" Tutur Zeline mengungkapkan ke-parno-annya yang berlebihan seperti biasa.
Apa hidup gadis ini memang penuh dengan rasa parno?
"Lebay!" Cibir Gavin seraya merobek sedikit kausnya bagian bawah.
"Nanti aku balut pakai ini agar tak infeksi!" Ujar Gavin seraya menunjukkan kain panjang hasil ia merobek kausnya. Kini kaus Gavin jadi terlihat rombeng-rombeng.
Ck!
"Aku cabut, ya!" Izin Gavin selanjutnya seraya membersihkan sedikit telapak kaki Zeline dari pasir. Lalu dalm satu gerakan cepat, Gavin mencabut duri tadi dari telapak kaki Zeline.
Zeline bahkan belum sempat menjerit dan Gavin sudah dengan cekatan membalut kaki Zeline.
"Ngomong-ngomong, kau menemukan tasku dimana?" Tanya Zeline yang mulai memeriksa isi tasnya.
Ponsel Zeline sudah basah kuyup dan mati total. Barang-barang Zeline yang lain juga sama saja. Tak ada yang bisa diharapkan. Zeline akhirnya melempar tasnya tersebut dengan frustasi.
"Kenapa dilempar?" Tanya Gavin bingung.
"Tak ada yang berguna!"
"Dan kau belum menjawab pertanyaanku!" Zeline mengingatkan Gavin.
"Oh, soal itu. Aku menemukan speedboatku di sisi lain pulau," jawab Gavin dengan nada lebay.
"Benarkah? Apa itu artinya kita bisa pulang?" Tanya Zeline yang sudah bersemangat.
"Tidak!"
"Karena speedboatnya terbalik, dan aku tidak tahu kemana perginya bahan bakar di dalam speedboat," jawab Gavin yang langsung membuat Zeline menganga.
"Jadi, kita akan lama disini?"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1