
"Bunda!" Zeline langsung menghambur ke pelukan Bunda Vale yang sudah menyambutnya di teras rumah. Setelah sempat mundur satu pekan, Zeline dan Gavin akhirnya pergi ke rumah Bunda Vale hari ini dan rencananya mereka akan menginap sampai hari Minggu sore.
"Sehat?" Tanya Bunda Vale yang masih memeluk Zeline dengan erat.
"Sehat!"
"Bunda Sehat juga, kan? Bunda semakin cantik saja!" Puji Zeline yang langsung membuat Bunda Vale tertawa kecil.
"Kau juga semakin cantik!"
"Sudah ada kabar baik?" Tanya Bunda Vale lagi seraya mengusap perut Zelinr. Senyuman di bibir Zeline seketika memudar.
"Masih proses usaha, Bund! Diakan saja agar secepatnya!" Seru Gavin yang juga mendengar pertanyaan Bunda Vale tadi.
Begitulah Gavin!
Selalu menjawab pertanyaan semua orang dengan santai dan tanpa beban. Sangat berbeda dengan Zeline yang selalu terbawa perasaan dan sedikit sendiri jika ada pertanyaan sudah hamil atau belum.
"Hamil itu bukan kompetisi, jadi tak perlu risau atau sedih jika memang belum diberi kepercayaan," nasehat Bunda Vale pada Zeline yang langsung mengangguk.
"Semua akan mendapatkan gilirannya masing-masing! Jadi tidak perlu dipikirkan, ya!" Ujar Bunda Vale lagi seraya mengusap lembut wajah Zeline yang matanya sudah berkaca-kaca.
"Sudah!" Bunda Vale langsung memeluk Zeline yang sibuk menyeka airmatanya.
"Maaf jika pertanyaan Bubda tadi menyakitimu," sesal Bunda Vale dan Zeline ganti menggeleng kali ini.
"Enggak, kok, Bund!" Kilah Zeline cepat.
"Kenapa menangis?" Tanya Gavin yang sudah menghampiri Bunda Vale dan Zeline yang masih rangkul-rangkulan.
"Enggak! Siapa yang nangis? Orang cuma kelilipan!" Sanggah Zeline cepat.
"Sini bunda tiupin!" Bunda Vale meniup-niup mata Zeline yang sontak membuat Gavin mengernyit heran.
"Pengantin baru sudah datang?" Tanya Ayah Arga yang baru datang dari toko di seberang jalan.
"Udah nggak baru-baru amat, Yah! Udah sebulan lebih!" Jawab Gavin yang langsung membuat Ayah Arga terkekeh.
"Mau langsung ke pantai-"
"Biar istirahat dulu!" Sergah Bunda Vale memotong pertanyaan Ayah Arga.
"Gavin udah kangen papan selancarnya Yah!" Lapor Zeline pada sang ayah mertua.
"Yah, sayang sekali! Sudah ayah jadikan pajangan-"
"Ayah!!" Jerit Gavin yang langsung berlari ke toko di seberang jalan untuk mencari papan selancar kesayangannya.
"Kenapa, sih? Papan selancar doang," gumam Zeline seraya geleng-geleng kepala. Disaat bersamaan terdengar suara Kak Joanna yang keluar dari rumah disusul oleh Abang Ezra. Pasangan suami istri itu sepertinya tengah berdebat.
"Iya, pokoknya aku mau sekarang, Ezra!" Sungut Joanna seraya mengusap perutnya yang mulai terlihat membulat.
Membuat Zeline merasa iri saja!
"Iya, iya!" Jawab Ezra yang terlihat pasrah.
"Loh! Ada Kak Zeline-"
"Eh, adik Zeline maksudnya!" Ezra mengoreksi dengan cepat panggilannya pada Zeline.
"Jadi kelihatan siapa yang udah tua, ya!" Ujar Zeline dengan mimik wajah melas.
"Enggak, Zel! Kapan datang?" Joanna langsung berbasa-basi pada Zeline.
"Baru saja." Jawab Zeline seraya mengusap perut Joanna.
Nular!
__ADS_1
Nular!
Nular, dong!
Zeline meracau dalam hati.
"Sendiri? Gavin-" Ezra belum.menyelesaikan pertanyaannya, saat Gavin sudah kembali dari toko seraya menenteng papan selancar kesayangannya.
Ya ampun!
"Ayah ini! Masa papan selancar Gavin dipajang sampai berdebu!" Omel Gavin pada Ayah Arga yang hanya terkejeh tanpa dosa.
"Iya, ayah kira sudah pensium main selancar karena sudah jadi tuan direktur sekarang!" Seloroh Ayah Arga yang sontak membuat semuanya tertawa. Termasuk Zeline yang masih belum berhenti mengusap-usap perut Joanna.
"Udah berapa bulan ini, Kak?" Tanya Zeline pada Joanna, mengabaikan perdebatan Ayah Arga dan Gavin yang sepertinya tak akan berakhir dalam.waktu dekat.
"Lima jalan enam bulan!" Jawab Joanna sumringah.
"Kamu bagaimana?" Tanya Joanna yang langsung ditanggapi Zeline dengan senyum tipis. Zeline mau mencoba menjadi Gavin yang selalu santai menanggapi segala hal dan tak sedikit-sedikit terbawa perasaan.
"Doain aja semoga ceoat nular, Kak!" Jawab Zeline seraya mengusap perut Joanna, lalu ganti ke perutnya sendiri.
"Aku bantuin!"
"Nular! Nular!" Joanna ikut-ikutan mengusap perutnya lalu memindahkannya ke perut Zeline, dan dua wanita itu terkekeh bersama.
"Tapi Kak Joanna dulu katanya juga ada jeda beberapa bulan-"
"Tiga bulan lebih tepatnya!" Jawab Joanna cepat.
"Sering ditanyain juga sama orang, Kak?" Tanya Zeline lagi penasaran.
"Sampai panas ni kuping!" Joanna menggosok-gosok telinganya sendiri.
"Tapi aku dan Ezra santai aja, sih! Toh waktu itu aku juga masih pemulihan kaki aku-"
"Kaki Kak Joanna kenapa?" Sela Zeline.
"Bisa begitu, ya?" Tanya Zeline heran.
"Bisalah!" Jawab Joanna tetap tergelak.
"Jo! Jadi pergi tidak?" Tanya Ezra akhirnya karena sejak tadi dicueki Joanna yang malah asyik mengobrol bersama Zeline.
"Mau kemana, Bang?" Tanya Zeline dan Gavin serempak.
"Beli lobster bakar ke pantai sana. Joanna ngidam lobster tadi katanya," jawab Ezra.
"Wah, enak dong! Bunda mau dibelikan juga!" Ujar Bunda Vale.
"Ayo ikut saja, Bund! Zeline juga mau," ajak Zeline yang sudah menggamit lengan Bunda Vale.
"Aku mau juga." Gavin ikut-ikutan menggamit lengan Zeline.
Dasar aneh!
"Trus Ayah ditinggal sendiri, jagain toko?" Tanya Ayah Arga pura-pura mencebik.
"Tutup saja tokonya, Yah!" Sahut Gavin memberikan solusi. Namun ayah Arga langsung menggeleng.
"Bungkusin buat Bunda dan Ayah saja, Ezra!" Pesan Bunda akhirnya menengahi.
"Ciyeee! Bunda sama Ayah mau pacaran di toko sambil makan lobster!" Ledek Gavin pada kedua orang tuanya tersebut.
"Nanti Ezra bungkusin, Bund!" Janji Ezra pada Bunda Vale.
"Ayo pergi beli lobster!" Seru Gavin bersemangat.
__ADS_1
"Nggak capek kamu, Vin? Tadi kesini naik apa?" Tanya Kak Joanna penasaran.
"Naik pesawatlah!"
"Ngeeeng! Sampai!" Jawab Gavin pamer.
"Udah nggak mabuk, Zel?" Kak Joanna gantian bertanya pada Zeline yang berekspresi aneh.
"Enggak, Kak! Asal dikasih mainan buat terapi selama di pesawat," jawab Zeline sedikit berbisik.
"Mainan terapi apa?" Gantian Ezra yang bertanya penasaran.
"Rahasia!" Sahut Gavin cepat.
"Pokoknya, asal naik pesawatnya bareng Zeline, aku udah nggak mabuk sekarang," ujar Gavin lagi pamer.
"Mencurigakan sekali mainan terapi Gavin," Joanna berbisik-bisik pada Ezra yang hanya terkekeh.
"Udah, ayo pergi, Sayang!" Ajak Gavin yang sudah menarik tangan Zeline dan mengajaknya menghampiri motor Ayah Arga.
"Naik motor?" Tanya Zeline memastikan.
"Iya biar romantis!" Jawab Gavin beralasan.
"Kak Joanna dan Abang Ezra biarin naik mobil! Kita naik motor saja!" Ujar Gavin lagi yang hanya membuat Zeline memutar bola mata.
"Oh, ya! Bawain papan selancar Gavin, Bang!" Seru Gavin pada Abang Ezra.
"Jadinya mau makan lobster apa mau selancaran, Vin?" Tanya Abang Ezra bingung.
"Dua-duanya!" Jawab Gavin santai.
"Nanti kamu main selancar bareng aku, ya, Zel!" Ujar Gavin yang sydah menggenggam tangan Zeline.
"Enggak, ah! Nanti papan selancar kamu patah lagi," jawab Zeline malas.
"Hahaha! Enggaklah! Papannya kuat, kok!"
"Sekuat cintaku padamu," jawab Gavin sedikit bergombal.
"Tuing! Tuing!" Gavin mentowel-towel pipi chubby Zeline.
"Apa, sih! Dari kemarin tuing tuing melulu!" Komentar Zeline seraya menyentak tangan Gavin.
"Yaudah ganti!"
"Towel! Towel!" Gavin kembali mentowel pipi chubby Zeline.
"Vin! Jadi pergi atau masih mau pacaran bareng Zeline?" Tegur Ezra yang sudah naik mobil bersama Joanna.
"Ck! Duluan sudah, Bang! Nanti Gavin naik motornya pelan-pelan bareng Zeline! Biar mesra!" Jawab Gavin yang tangannya tetap mentowel-towel pipi Zeline.
Hhh!
Gavin yang aneh
"Ayo pergi beli lobster!" Ajak Zeline selanjutnya pada Gavin.
"Siap!" Gavin mengecup pipi Zeline sebelum naik ke atas motor. Zeline ikut naik dan langsung melingkarkan kedua lengannya dengan erat ke pinggang Gavin.
"Ayo pergi!" Seru Gavin seraya melajukan motornya menuju ke arah pantai.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.