
"Kita bisa membalik speedboat ini, lalu mendayungnya mungkin," Zeline memberikan ide pada Gavin setelah pria itu mengajak Zeline ke sisi lain pulau untuk melihat speedboat Gavin yang masih terdampar dan terbalik di sana.
"Mendayung kemana maksudmu? Kita hanya akan terombang-ambing di tengah laut, dan jika ada badai lagi kita bisa terdampar lagi di pulau asing," Cerocos Gavin panjang lebar yang merasa tak setuju dengan usulan Zeline.
"Lagipula, kita juga tidak tahu, saat ini kita sedang berada di pulau mana dan pulau berpenghuni yang paling dekat ke sebelah mana." Ujar Gavin lagi memberitahu Zeline.
"Kau tidak punya peta memangnya?" Tanya Zeline heran. Jelas-jelas Gavin adalah tour guide di kepulauan ini. Jadi seharusnya pemuda ini hafal letak-letak pulau dan mungkin bentuknya juga.
Dasar payah!
"Ada belasan pulau di gugus kepulauan ini. Dan yang berpenghuni hanya lima pulau. Aku memang sudah sering mengunjungi yang lima pulau itu! Tapi yang tak berpenghuni seperti pulau ini, aku tidak hafal bentuk serta letaknya!"
"Ini juga kali pertama aku terdampar di sebuah pulau kosong." Cerita Gavin panjang lebar yang langsung membuat Zeline mendes*h putus asa.
"Lalu bagaimana kita akan keluar dari pulau ini? Kita tak mungkin selamanya berada di sini, Gavin!" Teriak Zeline frustasi
"Kenapa memangnya kalau kita disini selamanya? Bukankah seharusnya kau merasa senang karena tak ada lagi yang akan menanyai kapan kau akan menikah?" Tanya Gavin yang langsung membuat Zeline memutar bola matanya.
"Tak ada lagi yang mengungkit tentang status jomblomu!" Lanjut Gavin lagi.
"Tapi bukan berarti juga aku harus hidup jauh dari peradaban, Gavin!"
"Aku makhluk sosial dan aku butuh bersosialisasi, berinteraksi, dan membaur bersama manusia lain!" Sergah Zeline bercerocos panjang lebar pada Gavin.
"Kau bisa bersosialisasi dan berinteraksi denganku! Aku juga manusia dan aku juga makhluk sosial," ujar Gavin memberikan solusi sekaligus menyeringai tanpa dosa.
"Aku akan menua lebih cepat jika banyak berinteraksi denganmu! Baru dua hari kita bersama saja, aku sudah stress dan tekanan darahku mungkin juga sudah naik sekarang!"
"Kau itu menyebalkan!" Zeline menuding kesal ke arah Gavin.
"Benarkah? Lalu kau pikir kau itu tak menyebalkan juga?"
"Sesama orang jomblo dan sesama orang yang menyebalkan seharusnya kita itu saling mendukung!" Ujar Gavin panjang lebar yang langsung membuat Zeline kehilangan kata-kata. Ternyata selain menyebalkan dan pandai beralasan, Gavin juga adalah manusia yang pandai menjawab saat diajak berdebat.
Ada saja jawaban pemuda ini!
Mimpi apa Zeline bisa bertemu pemuda aneh dan menyebalkan ini!
"Dengar ya, Gavino atau siapapun namamu -"
"Gavin R Diba!" Sela Gavin menyebutkan nama panjangnya dan seolah merasa bangga.
__ADS_1
"Baiklah, dengar, Gavin Erdiba-"
"R nya itu singkatan dari nama tengahku. Jadi bukan Erdiba pakai E di depannya. Kau paham maksudku, kan?"
"Gavin R. Diba!" Gavin memperjelas penyebutan namanya yang sontak membuat Zeline geregetan sekaligus ingin mendorong saja pemuda dua puluh tiga tahun ini ke tengah laut.
"Aku tidak peduli mau R pakai E atau R singkatan! Yang jelas adalah, asal kau tahu saja Erdiba-"
"Panggil Gavin saja! Tidak bagus memaki memakai nama belakangku yang merupakan nama keluarga." Gavin kembali menyela dan Zeline benar-benar ingin menjambak rambut Gavin sekarang.
"Bisakah kau membiarkan aku meluapkan dulu kemarahanku tanpa harus menyela tentang nama panjangmu yang tak penting itu!"
"Gavin Erordiba! Kenapa juga tak sekalian ayahmu memberikan nama itu padamu karena kau itu yang sedikit eror dan sinting!" Gerutu Zeline seraya membentuk garis miring di keningnya sama seperti yang pernah dilakukan Gavin saat pertemuan pertama mereka.
"Aku akan mengatakannya nanti pada ayahku, karena mungkin setelah ini ayahku akan bersilaturahmi ke rumahmu untuk mendengarkan penjelasan tentang kau yang seenaknya sendiri mengganti namaku," Cerocos Gavin yang semakin membuat Zeline menganga pada pria aneh di depannya ini.
"Dasar anak papi!" Cibir Zeline pada Gavin.
"Kau itu yang anak papi! Aku tak punya papi. Aku punyanya Ayah!" Sergah Gavin yang benar-benar membuat Zeline geram sekarang.
"Memang apa bedanya papi dan ayah? Mereka sama-sama pria yang menjadi orang tua kita berdua!" Sungut Zeline pada Gavin.
"Apa kau sedang mabuk?" Tanya Zeline masih bersungut.
"Aku tidak suka mabuk-mabukan karena itu tak baik untuk kesehatan! Tapi kalau naik pesawat aku masih sering mabuk juga. Ayah juga kadang mabuk. Jadilah kalau kami ke rumah Opa, ayah memilih perjalanan darat saja memakai mobil dan sangat jarang naik pesawat," Cerocos Gavin panjang lebar yang amat sangat tak nyambung dengan pembicaraan mereka di awal. Sepertinya pria di depan Zeline ini memanglah pria sinting yang sudah mulai gila.
Kenapa juga Zeline bisa terjebak disini bersama pria gila ini?
Seseorang!
Tolong selamatkan Zeline dari pria gila bernama Gavin Erdiba ini!
"Ck! Aku tak akan bicara lagi kepadamu!"
"Bisa-bisa aku akan gila sendiri jika mendengarkan cerocosan yang tak nyambung itu!" Zeline mengacak sendiri rambutnya dengan frustasi.
"Tapi bukankah katamu tadi kau butuh berinteraksi dan bersosialisasi dengan sesama manusia?"
"Di pulau ini, manusia satu-satunya selain kau hanyalah aku. Jika kau tak berinteraksi denganku, kau akan berinteraksi dan berbicara dengan siapa? Tupai? Ubur-ubur? Beruang? Atau macan hiu yang tadi kau sebut-sebut itu?" Cerocos Gavin panjang lenar yang benar-benar haris membuat Zeline menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan.
Selain penuaan dini, darah tinggi akut, dan kejang-kejang, mungkin Zeline juga akan terkena serangan jantung kronis karena harus marah-marah pada Gavin setiap detik setiap waktu.
__ADS_1
Zeline benar-benar akan gila jika dua puluh empat jam ke depan ia masih berada di pulau ini bersama Gavin!
"Aku akan menganggap kau bukan manusia mulai sekarang! Jadi aku tak akan lagi bicara apalagi berinteraksi denganmu!" Gertak Zeline seraya mendelik-delik pada Gavin.
"Kau baru saja bicara padaku sebanyak tujuh belas kata barusan," sahut Gavin yang benar-benar membuat Zeline ingin meledak seperti kembang api.
"Sudahlah! Aku akan gila jika terus-terusan berada di dekatmu! Aku akan pergi!" Geram Zeline seraya berlalu pergi dari hadapan Gavin sinting.
"Kau mau makan apa malam ini, Zeline!" Seru Gavin pada Zeline yang kini melangkah sembari menghentak-hentakkan kakinya senagai ungkapan kekesalannya pada Gavin.
"Kau yakin tak mau makan apapun?" Seru Gavin lagi pada Zeline.
"Tidak! Sudah kubilang aku tak mau lagi bicara padamu! Jadi tak usah menanyaiku lagi!" Teriak Zeline dengan nada marah pada Gavin.
"Baiklah! Aku akan membuat ikan bakar sambal dabu-dabu!" Seru Gavin lagi memancing.
"Kau dapat bumbu darimana memangnya? Pohon bawang dan cabe saja tidak ada di pulau ini!"
"Tidak usah memancing-mancing!" Zeline balik berseru pada Gavin. Sepertinya gadis itu lupa pada niatnya tadi yang tak mau lagi bicara pada Gavin.
"Delapan belas kata! Wow!" Seru Gavin lagi seraya tertawa terbahak-bahak.
"Dasar Gavin Erordiba menyebalkan!" Maki Zeline yang suaranya sudah nyaris tak terdengar di telinga Gavin. Sepertinya gadis itu sudah pergi jauh dari pantai dan mungkin juga sudah hampir sampai di gubuk.
Gavin segera memeriksa speedboat yang posisinya masih terbalik tersebut dan mencari-cari sesuatu yang mungkin bisa ia gunakan malam ini sebagai penerangan.
"Ck! Tidak ada apa-apa!" Gumam Gavin sedikit frustasi. Gavin lalu menatap ke lautan lepas di depannya, dan gulungan ombak yang datang silih berganti, mendadak membuat Gavin rindu dengan papan selancarnya.
"Sinyal yang kemarin sampai atau tidak? Kenapa bantuan tak kunjung datang?" Gumam Gavin lagi setelah pria itu memeriksa alat komunikasi di speedboat yang sudah ikut rusak karena terhantam gelombang besar.
Gavin masih sempat mengirim sinyal darurat kemarin, sebelum badai membawanya ke pulau kosong ini. Semoga ada yang menerima sinyal darurat itu dan bantuan segera datang.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1