Telat Nikah (Zeline & Gavin)

Telat Nikah (Zeline & Gavin)
KESAL


__ADS_3

Wreeek!


Zeline refleks meringis setelah gadis itu merobek kemeja Gavin yang dipinjamkan kepadanya.


"Oh, ya ampun!" Gavin menatap tak senang pada Zeline.


"Aku tak sengaja!" Sergah Zeline cepat. Gadis itu segera melepaskan kemeja Gavin dan melemparkan benda itu pada sang empunya.


"Aku kembalikan!" Ucap Zeline ketus.


"Tidak ada ucapan terima kasih karena sudah aku pinjami hingga kau merusaknya?" Tanya Gavin menyindir.


"Terima kasih!" Ucap Zeline cepat yang sepertinya tak ikhlas.


"Aku akan mengambil bajuku!" Ujar Zeline lagi seraya bangkit berdiri, lalu turun dari gubuk, saat seekor tupai melopmat ke kepala gadis itu.


"Beruaaang!" Teriak Zeline yang langsung gelagapan seperti kerasukan reog. Gavin sontak tertawa terbahak-bahak melihat Zeline yang panik, histeris, dan bertingkah tak karuan hanya karena seekor tupai.


"Gavin! Tolong aku!"


"Aku digigit beruang! Ubur-ubur! Hiu macan!" Zeline menyebutkan nama-nama hewan yang melintas di kepalanya dan terang saja tawa Gavin malah semakin keras sekarang.


"Gaviiin!" Zeline mulai geram sekarang.


"Itu hanya tupai, Zel!"ucap Gavin memberitahu masih sambil tertawa terbahak-bahak.


"Tupai? Tupai apa?" Zeline sudah berhenti histeris dan mengedarkan pandangannya demi mencari seekor hewan yang baru saja membuatnya heboh sendiri. Kini hewan berbulu hitam dengan list warna putih di bagian tengah kepalanya tersebut sedang nangkring tanpa dosa di atas batang kayu seraya melihat ke arah Zeline. Mungkin tupai itu sedang meledek Zeline sekarang.


"Tupai sialan!" Maki Zeline pada tupai di depannya tersebut.


"Jangan menyakitinya!" Seru Gavin memperingatkan Zeline. Gavin lalu bergegas turun dari gubuk dan menghampiri Zeline serta si tupai yang masih nangkring cantik di tempatnya.


"Dia hanya seeang mencari makan," ujar Gavin lagi memberitahu Zeline yang kini bersedekap kesal.


"Aku juga lapar dan ingin mencari makanan sekarang!" Ucap Zeline dengan nada ketus.


"Bagus! Aku akan disini menunggu kau membawa makanan kalau begitu," sahut Gavin yang sudah duduk santai di atas batang kayu.


"Aku tak akan membagi makananku denganmu! Kau siapa memangnya?" Ketus Zeline yang kembali bersedekap.


"Aku Gavin!" Jawab Gavin yang malah menyebutkan namanya. Zeline juga tahu kalau itu!


"Ck! Aku mau mengambil bajuku!" Zeline mengulangi lagi ucapannya beberapa saat yang lalu, sebelum kemudian gadis itu melangkah dengan sedikit terpincang ke arah pantai. Namun baru beberapa langkah, Zeline menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Gavin yang masih duduk santai di atas batang kayu dan seperti tak ada niatan untuk menyusul Zeline.


"Gavin!" Panggil Zeline.


"Apa? Arah pantai benar kesana," jawab Gavin dengan raut wajah tanpa dosa.


"Kau tidak mau menyusulku? Bagaimana kalau ada binatang buas di pantai? Kau mau bertanggung jawab jika terjadi sesuatu padaku?" Cecar Zeline pada Gavin yang raut wajahnya masih santai.

__ADS_1


"Oh, kalau soal itu kau tinggal teriak saja nanti! Suaramu kan keras seperti speaker, jadi aku pasti akan mendengar dan aku akan secepat kilat berlari untuk menyelamatkanmu seperti seirang spiderman! Atau batman? Superman?" Jawab Gavin yang malah justru membuat Zeline kesal hingga gadis itu menghentak-hentakkan kakinya ke atas tanah.


"Baiklah! Aku akan pergi ke pantai sendiri!" Gerutu Zeline akhirnya seeaya melanjutkan langkahnya ke arah pantai tempatnya terdampar kemarin.


"Nanti kalau aku melihat kapal atau helikopter, aku tak akan memberitahu tour guide menyebalkan itu!"


"Aku akan langsung pergi dan biar dia sendiri disini bersama teman tupainya!" Cerocos Zeline tanpa henti sembari berjalan terpincang-pincang ke arah pantai.


"Itu bajuku!" Guman Zeline saat mrlihat baju pink cerahnya yang berkibar tertiup angin di tepi pantai.


"Tunggu di sana! Aku datang, Bajuku tersayang!" Ucap Zeline lagi yang terus mempercepat langkahnya ke arah bajunya yang dijadikan sebuah bendera oleh Gavin.


"Dapat!" Seru Zeline yang langsung mengibaskann sebentar bajunya, lalu memakai kembali baju pink cerah tersebut.


"Akhirnya! Aku tak akan digigit oleh nyamuk-nyamuk biadab itu lagi!" Zeline bersorak senang seraya berjalan kembali ke arah gubuk. Disaat bersamaan suara mesin helikopter terdengar dari langit, dan Zeline segera menatap ke atas untuk mencari-cari keberadaan si helikopter.


"Hey!" Zeline melambaikan tangan ke arah helikopter yang melintas di atas pulau.


"Haloo! Tolong aku!" Zeline terus berteriak sembari melambai-lambaikan tangannya. Namun penumpang helikopter yang terlihat mengenakan baju pengantin itu malah balas melambaikan tangan ke arah Zeline sepertu selebriti yang bertemu fansnya.


Apa?


"Hei! Aku tersesat disini!"


"Tolong aku!" Zeline berteriak semakin keras namun helikopter juga malah terbang semakin tinggi dan sama sekali tak menghiraukan teriakan Zeline. Atau mungkin mereka memang tak mendengar teriakan Zeline?


"Hei! Kembalilah helikopter sialan!"


"Bawa aku pergi dari pulau menyebalkan ini!" Zeline berteriak-teriak seperti orang gila saat helikopter tadi sudah pergi semakin jauh dan lama kelamaan tak terlihat lagi.


"Dasar sialan!" Maki Zeline seraya melempar segenggam pasir ke udara. Zeline sedang kesal sekarang karena helikopter bodoh tadi yang tidak tanggap dengan teriakan minta tolong Zeline.


"Zeline!" Seru Gavin dari kejauhan, saat mrlihat Zeline yang masih melempar-lempar pasir ke udara.


"Zel! Aku mendengar suara helikopter tadi!" Seru Gavin lagi seraya menghampiri Zeline.


"Sudah pergi jauh!"


"Kenapa juga kau tak buru-buru kemari untuk membantuku memanggilnya?" Zeline yang emosi mendorong kasar tubuh Gavin demi meluapkan kemarahannya.


"Sekarang bagaimana aku akan pulang? Aku tak mau selamanya terjebak di pulau ini bersama pria menyebalkan sepertimu!" Zeline terus meluapkan kemarahannya pada Gavin.


"Kenapa juga Sakya tak berinisiatif mencariku? Dasar adik tak tahu diri!" Sekarang Zeline ganti memaki sang adik yang mungkin sedang sibuk bermain kuda-kudaan bersama Greget Gretha sekarang.


Zeline akhirnya duduk di atas pasir lalu melipat lututnya, dan menyusupkan kepalanya di sana. Gadis itu lalu menangis tergugu.


"Zel," panggil Gavin lirih pada Zeline yang semakin menangis histeris. Gavin akhirnya memutuskan untuk tak mengganggu Zeline dulu, dan Gavin akan menunggu sampai gadis tinggi besar itu selesai menumpahkan semua kekesalannya.


Ya, kadang menangis memang jadi solusi untuk beberapa orang yang sedang sedih, kesal, ataupun tertekan.

__ADS_1


Gavin ikut duduk di samping Zeline dan sedikit memberi jarak. Zeline masih terus menangis sambil sesekali kaki gadis itu menendang-nendang pasir di bawahnya.


Hingga setengah jam berlalu, tangis Zeline akhirnya mulai reda. Kini gadis itu sesenggukan dan sesekali mengelap air mata serta ingusnya dengan lengan baju yang ia kenakan.


Gavin yang sejak tadi masih duduk di sebelah Zeline memperhatikan Zeline dan berusaha untuk tidak tertawa apalagi meledek gadis di depannya tersebut. Sekalipun sikap Zeline sekarang terlihat lucu dan membuat Gavin ingin tertawa.


"Sudah menangisnya?" Tanya Gavin yang langsung membuat Zeline kaget dan buru-buru menoleh ke arah Gavin. Wajah gadis itu terlihat sembab sekarang.


"Kau sedang apa disini? Mau meledekku?" Tuduh Zeline dengan nada ketus.


"Mana ada! Aku hanya sedang menjagamu agar tak dimakan baby shark dudu dudu," Gavin sedikit bersenandung.


"Jawabanmu tidak lucu!" Ujar Zeline yang kembali menghapus airmatanya.


"Tapi aku dengar baby shark suka memakan orang-orang yang menangis di tepi pantai." Ujar Gavin lagi sedikit mengajak Zeline berkelakar.


"Dongeng menyesatkan darimana itu? Kau pikir aku bocah empat tahun yang bisa kau takut-takuti?" Cerocos Zeline yang sudah bisa mengomeli Gavin lagi.


"Sudah menangis sudah lega, kan?" Tanya Gavin tiba-tiba yang langsung membuat Zeline terdiam.


"Aku tak mau bicara denganmu!" Zeline bersedekap dan memalingkan wajahnya dari Gavin.


"Tapi kau baru saja bicara padaku dan mengomeliku," Gavin menaik turunkan alisnya ke arah Zeline, meskioun gadis itu tak menghiraukan.


"Iya itu tadi! Sekarang tidak lagi!" Ketus Zeline masih bersedekap.


"Trus barusan itu apa?" Gavin masih tak berhenti menggoda Zeline, hingga suara perut Zeline yang nyaring membuat Gavin menahan tawa.


"Jadi tadi belum menemukan makanan?" Tanya Gavin selanjutnya pada Zeline yang masih memalingkan wajahnya.


"Belum!" Jawab Zeline yang oerutnya kembali berbunyi. Dasar perut tak pengertian.


"Aku tadi menemukan setandan pisang di dalam hutan-"


"Pisangnya dimana sekarang?" Tanya Zeline yang sudah bangkit berdiri dengan cepat, lalu berjalan ke arah gubuk dengan langkahnya yang masih terpincang-pincang.


Gavin hanya tertawa kecil melihat tingkah konyol Zeline tersebut.


"Urusan makan saja cepat sekali!" Gumam Gavin sebelum pemuda itu menyusul Zeline untuk kembali ke gubuk.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2