Telat Nikah (Zeline & Gavin)

Telat Nikah (Zeline & Gavin)
AKHIRNYA MENIKAH


__ADS_3

Zeline masih mematung saat melihat Gavin yang kini berlutut di hadapannya Zeline sedikit menoleh ke arah jendela ruangannya untui memastikan kalau yang ia lihat di halaman parkir barusan bukanlah mimpi atau halusinasi.


Dan benar saja. Ratusan atau bahkan ribuan kelopak bunga masih terlihat di halaman parkir, membentuk tanda love dengan tulisan di tengahnya,


"Zeline, will you marry me?"


Ini bukanlah minpi!


Zeline tak sedang bermimpi!


"Fiuh! Kau mau membuatku berlutut sampai kapan, Zel? Celana kain ini sedikit sesak dan tongkatku sedikit terjepit jika harus berlutut terus begini," ujar Gavin yang langsung membuat Zeline menganga.


Bisa-bisanya Gavin berkelakar saat acara lamaran seperti ini!


"Cepat bilang, ya!" Perintah Gavin memaksa.


"Aku pikirkan dulu! Kenapa kau memaksa begitu!" Omel Zeline bersungut-sungut pada Gavin.


"Mau memikirkan apalagi? Dan mau berpikir sampai kapan lagi? Sampai usiamu genap setengah abad?" Tanya Gavin yang langsung membuat Zeline menoyor kepala Gavin.


"Sialan! Kau itu sedang melamarku! Kenapa malah membuatku kesal? Kau mau aku tolak lamaranmu?" Ancam Zeline merasa geregetan pada Gavin.


"Coba saja bilang tidak! Aku akan langsung membuka aibmu disini!" Gavin balik mengancam Zeline.


"Aib yang mana maksudmu?" Tanya Zeline yang sudah terlihat khawatir atau mungkin ketakutan.


"Aib tentang kau yang hobi kentut!"


"Bruuuut!" Gavin menirukan suara kentut Zeline dan berekspresi lebay.


"Sialan! Kau menyebalkan!" Zeline langsung menerjang Gavin hingga pemuda itu jatuh terjengkang ke belakang karena tidak siap.


"Ampun!" Pekik Gavin saat Zeline sudah menindih tubuhnya. Dan barusan Gavin juga mendengar ada sesuatu yang sobek di antara kedua pangkal pahanya.


Oh, jangan celana baru Gavin yang sobek!


Mungkin sebaiknya besok Gavin memakai celana jeans saja ke kantor agar saat ada kejadian tak terduga begini, pangkal pahanya tetap aman!


"Aku hanya hobi kentut saat di depanmu dan aku tak pernah kentut di depan orang lain!" Zeline berucap penuh geregetan pada Gavin.


"Bagus! Sebaiknya memang begitu!" Jawab Gavin yang masih saja bisa berkelakar, meskipun sedang di smack down oleh Zeline.


"Jadi, kau mau menikah denganku, kan? Agar kita bisa smack down seperti ini setiap hari?" Tanya Gavin sekali lagi pada Zeline yang kini merengut.


"Mau, nggak?" Tanya Gavin mulai mendesak.


"Kau itu menyebalkan dan aku membencimu!" Zeline memukul dada Gavin dengan kesal.


"Mau, nggak, Zeline?" Tanya Gavin sekali lagi seraya menggoyang-goyangkan cincin di depan wajah Zeline.


"Iya, aku mau!" Jawab Zeline akhirnya yang langsung serta merta merebahkan kepalanya di dada Gavin.


"Oh, yeah!" Gavin bersorak senang dan langsung mendekap Zeline yang masih berada di atasnya.


"Hore!!! Kita akan menikah!" Seru Gavin lagi girang, bersamaan dengan pintu ruang kerja Zeline yang sudah menjeblak terbuka.


"Astaga!" Pekik semua orang yang kini berdiri di ambang pintu ruang kerja Zeline, saat melihat Zeline yang masih menindih Gavin di lantai kantor.


"Pweeeet! Sedang berlatih posisi woman on top, Zel?" Ryan bersiul dan sebuah keplakan langsung mendarat di lengan pria itu. Rupanya dari Nona yang sukses membuat Ryan meringis.


"Kalian berdua sedang apa?" Tanya Papi Zayn tak paham.


"Lamaran Gavin diterima, Pi!" Sorak Gavin seraya mengacung-ngacungkan tangan Zeline yang kini sudah kembali memakai cincin dari Gavin. Zeline sendiri sudah bergegas bangun dari atas Gavin, lalu gadis itu juga membantu Gavin untuk bangkit berdiri.


"Ck! Tapi apa lamarannya harus pakai acara smack down begini?" Tanya Opa Theo merasa heran.


"Zeline memang hobi mengajak Gavin smack down, Opa!" Ujar Gavin yang langsung berhadiah keplakan di pundak dari Zeline.


"Zeline! Jangan barbar begitu!" Sergah Papi Zayn yang langsung mengingatkan sang putri.


"Dia memang menyebalkan, Pi!" Ujar Zeline beralasan.


"Meskipun menyebalkan, dia tetap calon suamimu, Zel! Nanti kalau lama tak bertemu uring-uringan lagi!" Ledek Ryan yang langsung berhadiah delikan dari Zeline.


"Diam, kau! Kenapa juga kau masih disini? Bukannya tadi sudah pamit pulang?" Omel Zeline pada sepupunya tersebut.


"Kan aku ingin menyaksikan acara lamaran Gavin yang lumayan absurd ini!"


"Nanti kita nikah barengan, ya!" Ajak Ryan mencetuskan ide.


"Tidak!" Jawab Gavin dan Zeline kompak.


"Zeline dan Gavin akan menikah satu pekan setelah pernikahanmu dengan Nona, Ryan!" Ujar Papi Zayn memberikan informasi pada semua orang.


"Yeay! Nikah!" Gavin tiba-tiba sudah mendekap Zeline dengan lebay dan semua orang kembali harus tergelak melihat tingkah lebay Gavin tersebut.

__ADS_1


****


Beberapa minggu kemudian....


"Hatchi!" Gavin menggosok-gosok hidungnya yang kembali terasa gatal.


"Pakai tisu, Gavin!" Bunda Vale langsung mengeplak tangan Gavin yang hendak mengelap ingusnya memakai lengan suit yang ia kenakan.


Hari ini adalah hari pernikahan Zeline dan Gavin. Namun Gavin yang sudah terlihat gagah memakai setelan jas pengantin malah terus-terusan bersin sejak tadi.


"Sudah dibilang untuk jaga kesehatan! Sekarang, di hari pernikahanmu, kau malah bersin-bersin dan kena flu begini!" Bunda Vale tak berhenti mengomeli Gavin yang kembali bersin-bersin.


"Ayah dapat obat flunya," ayah Arga yang masuk ke ruangan segera mengangsurkan obat flu pada Gavin.


"Sebentar! Ini obatnya membuat mengantuk! Bagaimana kalau nanti Gavin malah menguap terus sepanjang acara?" Bunda Vale merampas obat flu tadi dari tangan Gavin yang langsung melayangkan protes.


"Bunda! Gavin butuh obat itu-"


"Hatchi!" Gavin kembali bersin, lalu pria itu segera menyambar tisu untuk meniupkan ingusnya ke sana.


"Ya ampun! Zeline tidak akan mau menciummu nanti, Vin!" Ayah Arga berucap prihatin dan menepuk pundak sang putra.


"Ck! Zeline yang sudah membuat Gavin begini-"


"Hatchi!" Gavin kembali bersin.


"Ini! Minum air hangat agar kau berhenti bersin!" Bunda Vale akhirnya mengangsurkan segelas air hangat untuk Gavin yang langsung diteguk oleh pemuda itu hingga tandas.


"Aaaah! Sedikit lega!" Gavin lanjut membenarkan dasinya yang miring.


"Tante Vale! Abang Gavin sudah siap?" Tanya Alicia yang sore ini memang menjadi penanggung jawab dari WO yang mengatur acara pernikahan Gavin dan Zeline. Selain Alicia, ada Aunty Audrey juga yang ikut terjun langsung untuk memastikan acara sore ini berjalan dengan lancar. Secara, Zeline adalah keponakan kesayangan Aunty Audrey yang akhirnya melepas masa lajang.


"Sudah, Alice!" Jawab Bunda Vale sigap.


"Langsung menuju ke tempat acara, ya! Nanti Tante Vale dan Om Arga yang mengantarnya," ujar Alicia memberikan arahan.


"Hahahaha! Seperti anak paud saja!" Gelak Gavin yang langsung berhadiah keplakan dari Bunda Vale.


"Jangan tertawa keras-keras!"


"Iya, Bunda! Iya!" Jawab Gavin merengut.


"Alicia keluar duluan, Om, Tante-"


"Iya, Bang! Ada apa?"


"Zeline sudah siap?" Tanya Gavin yang merasa penasaran dengan penampilan Zeline sore ini. Meskipun sebelumnya mereka sudah fitting baju pengantin bersama, namun tetap saja, penampilan Zeline pastilah berbeda sore ini.


"Sudah! Kak Zeline sudah cantik sekali dan serasi dengan Abang Gavin!" Jawab Alicia seraya mengulas senyum.


"Jadi tak sabar untuk segera bertemu dengan Zeline-"


"Hatchi!" Gavin kembali bersin dan Bunda Vale cepat-cepat menyodorkan tisu pada putra bungsunya tersebut.


"Ck! Calon pengantinnya ingusan! Mirip anak paud," ledek ayah Arga pada Gavin yang langsung berhadiah teguran dari Bunda Vale.


"Ayah! Ini acara sakral!"


"Iya, Bund! Ayah tahu!"


"Ayah hanya mencairkan suasana agar Gavin tak tegang," tukas Ayah Arga beralasan dan Gavin langsung berdecak.


"Gavin tidak tegang, Ayah! Gavin kan sudah latihan kemarin!" Jawab Gavin sedikit sombong.


"Jangan sampai salah menyebut nama Zeline!" Bunda Vale mengingatkan sang putra.


"Siap, Bund! Ayah dulu salah menyebut nama Bunda tidak saat acara pernikahan?" Tanya Gavin kepo.


"Tidaklah!" Ayah Arga langsung menoyor kepala Gavin dan Bunda Vale hanya menahan tawa.


"Padahal acaranya dadakan waktu itu," gumam Bunda Vale yang masih menahan tawa saat mengingat moment pernikahannya dengan Ayah Arga yang benar-benar di luar rencana.


"Kok bisa dadakan, Bund?" Gavin masih kepo saat MC sudah memanggil nama mempelai pria.


"Nanti saja ceritanya! Acara sudah dimulai!" Bunda Vale dan Ayah Arga segera menggamit lengan Gavin kiri dan kanan, lalu mereka mengantarkan Gavin menuju ke tempat dimana Gavin akan mengikat janji suci pernikahan dengan Zeline sore ini.


Beberapa saat setelah Gavin tiba, gantian Zeline yang berjalan menuju ke arah Gavin dengan kedua tangan yang digamit oleh Papi Zayn dan Mami Thalita.


Zeline terlihat anggun dalam balutan gaun pengantin satin yang dipadu dengan kain broklat mewah warna putih. Gavin sampai terpukau melihat penampilan Zeline yang benar-benar berbeda sore ini. Senyum lebar langsung menghiasi bibir Gavin, saat pria itu menyambut Zeline yang sudah tiba di hadapannya.


Acara langsung dimulai dan tak butuh waktu lama, kata sah langsung menggema di tempat acara.


Selesai acara utama, dilanjutkan dengan acara pengucapan janji antara Gavin dan Zeline, lalu setelahnya resepsi akan sekalian digelar malam ini, masih di tempat yang sama.


"Aku, Zeline Abraham berjanji untuk selalu mencintaimu, Gavin Rainer Diba!"

__ADS_1


"Selalu menyayangimu di kala sehat maupun sakit-"


"Hatchi!" Gavin bersin dan memotong sejenak pengucapan janji dari Zeline.


"Lanjutkan!" Ucap Gavin sembari pria itu menggosok-gosok hidungnya sendiri.


"Untuk selalu menyayangimu di kala sehat maupun sakit. Selalu berada di sampingmu di kala sedih maupun senang." Ucap Zeline yang langsung membuat Gavin mengangguk dan menggosok-gosok hidungnya lagi.


"Kau sakit?" Bisik Zeline khawatir.


"Hanya sedikit flu-"


"Hatchi!" Gavin kembali bersin.


"Sudah minum obat? Kenapa tak bilang kalau kau flu? Aku punya obat yang manjur-"


"Bagus! Berikan obatnya kepadaku setelah aku selesai mengucapkan janji cintaku padamu!" Potong Gavin seraya tangannya membuka secarik kertas yang sepertinya berisi ucapan janji Gavin.


"Aku, Gavin Rainer Diba berjanji untuk selalu mencintaimu, Zeline Abraham!"


"Di kala sehat maupun sakit, maupun saat kau menularkan flu kepadaku." Gavin menjeda kalimatnya sejenak karena Zeline kini sudah mendelik ke arahnya.


"Kau sungguh-sungguh menulis kalimat itu?" Zeline merebut paksa kertas dari tangan Gavin dan membaca dengan seksama tulisan Gavin.


"Memang kau yang menularkan flu ini kepadaku-"


"Hatchi!" Gavin bersin lagi, dan kali ini ada sedikit ingus yang keluar dari hidung pemuda itu. Bunda Vale cepat-cepat maju ke depan untuk menyodorkan tisu pada Gavin.


"Saat kemarin kita foto prewedding, kau sedang flu dan kau malah menciumku. Lihatlah hasilnya-"


"Hatchi!"


"Ck! Itu sudah satu minggu yang lalu! Kenapa kau baru terkena flu sekarang!" Sergah Zeline membantah tuduhan Gavin yang menuding dirinya sebagai penular flu pada Gavin.


"Virusnya harus ber-inkubasi dulu, makanya, flunya baru datang sekarang," ujar Gavin beralasan dan Zeline langsung berdecak.


"Berikan kertasnya! Aku mau lanjut membaca janji cintaku padamu," Gavin meminta kembali kertasnya yang tadi dirampas Zeline.


"Kau menulisnya sendiri, kan? Jadi kau pasti hafal isinya!" Tukas Zeline santai seraya merem*s kertas Gavin.


"Oh, baiklah!"


"Ehemm!!" Gavin berdehem sejenak sebelum lanjut mengucapkan janji cintanya pada Zeline.


"Jadi, aku berjanji untuk selalu mencintaimu dan menyayangimu apa adanya, Zeline Abraham! Termasuk mencintai kebiasaan jujurmu yang hobi ken-"


"Brengsek!" Zeline menyingkirkan mikrofon dari tangan Gavin dengan cepat hingga benda itu terbanting di lantai, lalu Zeline juga dudah secepat kilat menyatukan bibirnya dengan bibir Gavin.


"Kau sedang apa? Aku belum selesai," Gavin bergumam masih sambil berciuman dengan Zeline.


"Mengambil kembali virus flu yang aku tularkan kepadamu!" Jawab Zeline yang sudah melepaskan tautan bibirnya pada Gavin. Namun seolah sedang mencari kesempatan, Gavin malah langsung meraup bibir Zeline dan melum*tnya dengan dalam dan panas hingga membuat beberapa tamu undangan melongo.


Sakya bahkan harus menutup kedua mata Gretha yang melongo melihat adegan ciuman panas antara Gavin dan Zeline.


"Pak Dokter! Gretha mau lihat!" Gretha menyingkirkan tangan Sakya dan kembali melongo melihat Zeline dan Gavin yang masih saja berpagutan, hingga akhirnya terdengar deheman keras dari Papi Zayn.


"Eheeeem!!!"


Saat itulah, Gavin langsung buru-buru melepaskan ciumannya pada bibir Zeline yang sudah lumayan bengkak.


Astaga!


Kesempatan sekali.


"Jadi, mari berikan tepuk tangan yang meriah untuk pasangan pengantin baru, Zeline dan Gavin!" Ucap Papi Zayn mencairkan suasana yang langsung diiringi tepuk tangan dari semua tamu undangan yang hadir.


"Jangan lupa untuk memberikan aku obat sebelum resepsi nanti!" Bisik Gavin pada Zeline yang hanya memutar bola matanya.


Tapi ngomong-ngomong, ciuman Gavin boleh juga!


Zeline jadi ingin dicium lagi oleh Gavin...


Eh!!!


.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2