Telat Nikah (Zeline & Gavin)

Telat Nikah (Zeline & Gavin)
SEDANG APA?


__ADS_3

"Selamat pagi, Nona Zeline! Bagaimana liburannya?" Sapa Sekretaris Nona saat Zeline baru tiba di kantor.


"Kacau!" Jawab Zeline malas.


Zeline langsung masuk ke dalam ruangannya dan menenggelamkan diri bersama setumpuk berkas yang mungkin akan membuatnya cepat menua.


Baiklah! Ini lebih baik ketimbang menghadapi pertanyaan dari dunia, "Zeline, kapan kau akan menikah?"


"Kapan-kapan! Apa peduli kalian memangnya? Aku saja tak pernah bertanya kapan kalian dipanggil Yang Maha Kuasa!" Zeline menyalak si dalam ruang kerjanya entah pada siapa.


Tak ada siapa-siapa memang!


Zeline mengangkat gagang telepon ibternal di atas mejanya, lalu nona direktur itu menghubungi Sekretaris Nona yang meja kerjanya berada di depan ruang kerja Zeline.


"Selamat pagi, Nona Zeline!"


"Pagi!"


"Pesankan aku makanan yang aku kirim lewat email." Titah Zeline seraya menekan tombol send di email yang baru selesai ia ketik. Kurang kerjaan sekali Zeline!


"Sudah masuk?" Tanya Zeline lagi pada sang sekretaris.


"Sudah, Nona! Tapi apa anda yakin ingin membeli semuanya?" Tanya Sekretaris Nona ragu. Sepertinya sekretaris Zeline itu sedikit trauma karena kejadian saat Zeline putus dari Armando waktu itu lalu Zeline memaksa Nona untuk makan banyak.


"Tentu saja! Aku sudah hampir sepekan hanya makan petatas bakar dan itu membuatku terkentut-kentut! Menyebalkan, bukan?" Curhat Zeline pada Sekretaris Nona.


"Petatas bakar? Itu makanan, Nona?"


"Iya! Si Gavin menyebalkan yang memberikan!" Cerita Zeline lagi.


Entah bagaimana sekarang ekspresi wajah Sekretaris Nona saat mendengarkan curhatan aneh Zeline tentang Gavin dan petatas bakar.


"Jadi, saya harus memesankan semua yang ada di email, Nona?"


"Iya! Apa masih kurang jelas perintahku? Apa bahasa manusiaku sudah berubah jadi bahasa asing setelah aku menghilang?" Cecar Zeline merasa geregetan pada Sekretaris Nona.


"Sudah sangat jelas, Nona! Akan saya pesankan secepatnya."


"Bagus!" Sahut Zeline cepat.


"Anda butuh hal lain lagi, Nona?"


"Ya! Aku butuh kau dan perutmu untuk membantu menghabiskan semua makanan itu-"


"Tapi, Nona-


"Tidak ada tapi-tapi! Segera ke ruanganku setelah semua makanan datang!" Perintah Zeline tegas seolah tak mau dibantah.


"Ba-baik, Nona Zeline!",


Zeline meletakkan kembali gagang telepon, lalu lanjut memeriksa beberapa file. Gadis itu bekerja sembari memutar-mutar kursinya, saat pintu ruangan tiba-tiba menjeblak terbuka.


"Kau sudah datang, Zel?" Sapa Papi Zayn yang langsung menghampiri Zeline dan menyodorkan sebuah paperbag pada gadis itu.


"Nomor ponselmu sudah selesai diurus," ujar Papi Zayn memberikan info.


"Oh," Zeline hanya membulatkan bibirnya dan lanjut memeriksa paperbag yang tadi dibawa Papi Zayn.


"Dan, tadi pagi Mami kamu juga sudah menelepon Tante Vale untuk menanyakan perihal barang kamu yang terbawa oleh Gavin.


Barang?


Barang apa memang?

__ADS_1


Zeline menggaruk kepalanya dan sedikit bingung. Gadis itu masih berpikir tentang barangnya yang mungkin terbawa oleh Gavin. Tapi apa? Sepertinya tidak ada!


"Tapi berhubung Tante Vale masih ada acara di luar kota, jadi baru nanti malam atau besok pagi tante Vale akan menanyakan pada Gavin."


"Dan tante Vale juga ingin tahu barang apa saja milikmu yang terbawa oleh Gavin, agar mudah dicari." Lanjut Papi Zayn lagi.


"Apa saja?" Tanya Papi Zayn seraya menatap pada Zeline dan menunggu jawaban dari putrinya tersebut.


"Zeline lupa, Pi!" Jawab Zeline seraya meringis.


Sepertinya yang tertinggal bukan barang, melainkan sesuatu yang lain.


Apakah gerangan?


Papi Zayn sontak geleng-geleng kepala.


"Kamu ingat-ingat dulu kalau begitu. Lalu nanti kamu sampaikan langsung ke Tante Vale," pesan Papi Zayn akhirnya.


"Zeline tak punya kontak tante Vale, Pi!" Zeline beralasan. Apa Zeline boleh sekalian minta kontak Gavin menyebalkan itu agar Zeline bisa mengomelinya?


Zeline akan mengomeli Gavin yang lupa mengambil tip-nya!


Padahal Zeline kan sudah mempersiapkan dengan sangat repot!


Dasar menyebalkan!


"Ck!" Papi Zayn kembali geleng-geleng kepala, lalu mengeluarkan ponselnya. Pria paruh baya tersebut mengutak-atik ponselnya sebentar, sebelum memberikannya pada Zeline.


"Ini nama-nama anggota keluarga Rainer, ya, Pi?" Tanya Zeline seraya mencari-cari nama Gavin di sana.


"Iya! Makanya kalau ada acara keluarga itu ikut, Zel! Bukan malah kabur atau banyak alasan," nasehat Papi Zayn pada sang putri.


"Iya, Pi! Iya!" Jawab Zeline malas sambil masih terus mencari nama Gavin di ponsel sang Papi.


Huruf G kan setelah E. Tapi kenapa setelah nama Ezra malah langsung tertera nama Savannah?


Siapa Savannah?


Temannya Steppe?


Seperti pelajaran Geografi saja!


"Kok nggak ada nama Gavin?" Zeline bergumam sendiri, sambil jarinya tak berhenti men-scroll ponsel Papi Zayn, naik dan turun.


Tetap saja tak ketemu!


Payah!


Atau jangan-jangan Gavin memang bukan anggota keluarga Rainer?


Anak pungut mungkin, secara dia gosong begitu.


"Sudah belum, Zel? Kenapa malah melamun?" Tegur Papi Zayn yang langsung membuat Zeline tersadar.


"Eh! Iya!" Zeline buru-buru memindahkan kontak Tante Valeria ke ponselnya.


"Sudah, Pi!" Ucap Zeline seraya mengembalikan ponsel Papi Zayn.


Tak berselang lama, telepon internal di meja Zeline berdering.


"Halo!" Sambut Zeline cepat setelah mengangkatnya.


"Nona Zeline, makanannya sebagian sudah datang. Mau langsung dibawa ke ruangan atau bagaimana?"

__ADS_1


"Bawa masuk saja!" Titah Zeline.


"Baik, Nona!"


"Kenapa memanggil namamu sendiri?" Zeline sedikit berkelakar pada sang sekretaris.


"Baik, Nona Zeline!"


Tak berselang lama, pintu ruangan dibuka dari luar oleh sekretaris Nona yang hampir tak kelihatan wajahnya karena tertutup kantong makanan.


"Selamat pagi Nona Zeline. Selamat pagi, Pak Zayn!" Sapa Sekretaris Nona yang langsung membawa semua kantung makanan ke atas meja dan menyusunnya dengan rapi.


"Zeline!" Papi Zayn segera menatap tak senang pada sang putri yang masih saja hobi memborong makanan.


"Zeline kangen dengan semua makanan ini, Pi! Zeline hanya makan seadanya saat kemarin terdampar di pulau antah barantah bersama Gavin!"


"Zeline sudah malnutrisi ini!" Cerocos Zeline beralasan panjang kali lebar pada Papi Zayn.


"Tapi seharusnya, kau itu membeli satu persatu saja dan tidak serta merta membeli semuanya dalam satu waktu begini!"


"Kau juga tak akan mungkin menghabiskan semuanya sendiri-"


"Masih ada Nona dan karyawan lain yang akan bantu menghabiskan, Pi!" Jawab Zeline santai.


"Ck! Ubah sedikit kebiasaan kamu yang berlebihan ini, Zel! Kamu itu seorang gadis!" Cerocos Papi Zayn yang langsung membuat Zeline memutar bola mata dengan malas.


"Nona Zeline, ada undangan ke acara perusahaan," ucap sekretaris Nona yang ganti mengangsurkan sebuah undangan pada Zeline. Disaat bersamaan, ponsel Papi Zayn juga berdering.


Papi Zayn berbicara sebentar di telepon, sebelum kemudian papi kandung Zeline itu pamit pada sang putri karena sudah ada klien yang menunggunya.


"Makan satu atau dua saja, dan jangan menyumpalkan semua junkfood itu ke dalam perutmu!" Pesan Papi Zayn sebelum pria paruh baya itu keluar dari ruangan Zeline.


"Iya, Pi!" jawab Zeline ketus. Zelineembuka undangan yang tadi diberikan oleh sekretaris Nona, lalu membacanya sekilas dan lanjut menggerutu.


"Sejak kapan juga, acara pernikahan menjadi acara bisnis dan perusahaan?"


"Hanya karena anak dari direktur perusahaan A menikah dengan anak dari direktur perusahaan B, jadilah acaranya dianggap sebagai acara perusahaan. Memangnya perusahaan bisa menikah, trus melakukan malam pertama, gitu? Nanti kalau perusahaannya hamil, gedungnya menggembung, begitu?" Zeline terus bercerocos sendiri, sebelum kemudian gadis itu memeriksa satu per satu makanan yang sudah ia pesan.


Zeline mencicipi ikan bakar sambal dabu-dabu terlebih dahulu, namun hanya sebatas mencicipi karena Zeline merasa kalau rasanya aneh.


"Lebih enak ikan bakar buatan Gavin meskipun tanpa bumbu." Komentar Zeline.


Gadis itu lanjut mencuil ubi jalar goreng dari kantung yang berbeda.


"Ck! Apa ini? Berminyak sekali!" Komentar Zeline lagi yang tak jadi melahap ubi jalar goreng tadi.


"Yang dibakar lebih sehat! Meskipun kulitnya gosong dan hitam!" Celetuk Zeline lagi yang mendadak kehilangan selera makan.


Zeline menghela nafas, sebelum akhirnya gadis itu keluar dari ruangannya untuk menghampiri Sekretaris Nona.


"Nona!" Zeline baru membuka pintu ruangannya, saat seorang laki-laki yang kini sedang berbicara pada sekretaris membuat Zeline kaget sekaligus mengernyit.


"Sedang apa kau disini?"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2