
"Laki-laki dan laki-laki," ujar dokter setelah mengamati jenis kelamin kedua bayi kembar Zeline dan Gavin.
"Hah! Kita akan punya dia Gavin junior, Sayang!" Zeline langsung berekspresi lebay sambil tak berhenti mengguncang tubuh Gavin demi meluapkan rasa bahagianya.
"Nggak ada perempuan yang nyelip di tengah-tengah mungkin, Dok? Coba dicek lagi!" Titah Gavin yang masih meragukan ucapan dokter tentang jenis kelamin kedua bayinya.
Yang benar saja! Masa dua-duanya laki-laki?
Kenapa tidak satu perempuan satu laki-laki saja biar adil?
Atau haruskah Gavin menukar bayinya dengan bayi Sakya?
Secara anak Sakya tiga malah perempuan semua jenis kelaminnya. Hahahaha!
"Tidak ada, Pak! Bayinya kembar dua saja dan jenis kelaminnya laki-laki semua," terang dokter.
"Dan ini kembar identik juga, plasentanya hanya satu." Dokter menunjuk ke gambar plasenta di foto USG.
"Tapi untuk berat janin, sudah sesuai dengan usia kandungan-"
"Oh, malah sudah lebih dari cukup."
"Yang satu sudah 1,5 kilogram dan yang satu sudah 1,6 kilogram. Padahal baru dua puluh delapan minggu, ya?"
"Bayinya kebesaran, Dok?" Tanya Gavin khawatir.
"Tidak apa-apa, Pak! Masih dalam batas normal. Kurangi makan yang manis-manis dan perbanyak makan kacang-kacamgan serta sayuran hijau, ya, Bu!" Pesan Dokter pada Zeline yang langsung mengangguk patuh.
"Sayang! Teleponin Bunda dan minta tolong masak bubur kacang hijau!" Bisik Zeline pada Gavin.
"Oke!"
"Pakai ketan hitam tidak? Kan enak tu bubur kacang hijau campur ketan hitam," tanya Gavin yang langsung membuat Zeline menelan salivanya membayangkan bubur ketan hijau dicampur ketan hitam.
"Iya, iya mau!" Jawab Zeline cepat.
"Oke!" Tangan Gavin langsung lincah mengirim pesan pada Bunda Vale.
Pesan terkirim!
Gavin lanjut mendengarkan penjelasan dokter.
"Lalu kenapa saya jadi kurus, Dok? Tadi bb saya sudah turun enam kilo dari bulan kemarin. Padahal saya makan banyak, Dok di rumah!" Tanya Zeline menyampaikan keluhannya dan keluhan semuaborang pada dokter.
__ADS_1
"Nah benar itu, Dok! Makanan yang dimakan Zeline kira-kira kabur kemana? Masa iya habis diserap sama bayi kembar kami?" Gavin ikut menimpali dan ikut-ikutan bingung.
"Bisa jadi begitu, Pak! Karena ibi kasus yang lumayan langka juga."
"Jarang terjadi ibu hamil yang malah kurus tapi bbj nya normal. Atau mungkin ibunya banyak pikiran?" Dokter mulai menerka-nerka.
"Uang belanja ibu mungkin kurang, Pak! Atau ibunya jarang bapak ajak jalan-jalan?" Tebak dokter lagi yang langsung membuat Gavin berdecak.
"Sembarangan dokter ini! Uang belanja dia semua yang pegang, Dok! Dan meskioun kami LDR dari senin sampai Jum'at,saya selalu mengajak istri saya jalan-jalan di hari Sabtu dan Minggu, Dok!"
"Itu penjual es kelapa muda dj pantai sampai hafal sama saya dan istri saya karena sering beli!" Cerita Gavin pada dokter yang malah mirip curhat colongan.
Terserahlah!
"Ibunya tekanan batin?" Tanya dokter memastikan.
"Tidak, Dok! Saya bahagia sekali malahan."
"Kadi kenapa saya bisa mendadak kurus, ya, Dok?" Tanya Zeline sekali lagi.
"Mungkin memang sudah bawaan bayi, Bu!" Jawab Dokter akhirnya.
"Yang penting asupan nutrisinya tetap dijaga dan kalau ada keluhan langsung periksa, ya, Bu! Jangan dipendam saja!" Pesan dokter yang langsung membuat Gavin dan Zeline terkekeh.
"Nanti kembali dua minggu lagi agar berat badan janin bisa terus dipantau." Dokter menuliskan resep vitamin untuk Zeline, lalu mengangsurkan kertas resep pada Gavin.
"Baik, Dok! Sampai jumpa dua minggu lagi!" Pamit Gavin pada dokter seraya melambaikan tangan
Gavin lalu membimbing Zeline untuk keluar dari ruang periksa dan keduanya langsung menuju ke apotik klinik untuk mengambil obat.
"Ini nanti kalau udah sembilan bulan, perut kamu jadi maju dua meter berarti, Sayang!" Seloroh Gavin seraya mengusap perut Zeline yang sudah sebesar semangka jumbo.
"Masa dua meter!" Zeline mencebik.
"Lha ini belum genap tujuh bulan aja udah sebesar semangka jumbo," Gavin terkekeh seolah sedang meledek Zeline.
"Ish! Ini kan perbuatan kamu, Sayang! Kamu yang udah bikin aku hamil!" Cebik Zeline seraya menghentakkan satu kakinya.
"Iya, iya,aku ngaku salah! Maaf, ya, Istriku tersayang!" Gavin mencium pipi Zeline dengan mesra.
"Tapi aku seneng kok kamu hamilin begini," ucap Zeline jujur.
"Benar?"
__ADS_1
"Iya!" Jawab Zeline seraya mengangguk yakin.
"Nanti habis lahiran aku hamili lagi mau?" Tanya Gavin lagi.
"Mau!" Jawab Zeline cepat.
"Yess!" Gavin langsung bersorak lebay.
"Mau hamilin aku sampai berapa kali memangnya?" Tanya Zeline seraya bergelayut pada Gavin.
"Sampai anak kita lengkap ciwok dan cewek."
"Yang ini nanti kan udah dua cowok semua. Jadi nanti yang kehamilan selanjutnya kalau cewek, bearti udah aku nggak akan bikin kamu hamil lagi."
"Tapi kau yang selanjutnya cowok lagi, ya aku bakal hamilin kamu terus sampai dapat cewek! Biar aku punya Zeline junior juga!" Gavin menangkup gemas wajah Zeline.
"Kenapa nggak cowok semua aja? Kan lucu kalau cowok semua, gemesin kayak kamu!" Zeline balik menangkup gemas wajah Gavin.
"Harus adil, dong, Sayang!" Tukas Gavin beralasan.
"Emmm, tapi aku nggak mau punya saingan." Zeline ikut beralasan.
"Saingan bagaimana? Aku bakal tetep sayang ke kamu selamanya!" Gavin mengecup pipi Zeline lagi.
"Tapi kan udah ada tiga cewek juga di rumah, Sayang!" Celetuk Zeline lagi.
"Anaknya Sakya dan Gretha, ya?" Gavin terkekeh.
"Ya, ada Crystal, Kathleen, dan Kathrine!" Jawab Zeline menghafalkan nama sang keponakan.
"Anaknya Kak Joanna dan Abang Ezra cewwk juga kemarin," ujar Gavin mengingatkan.
"Nah itu! Keponakan cewek kamu udah banyak!" Tukas Zeline cepat.
"Bener, bener! Tapi aku akan tetap membuat Zeline junior!" Ucap Gavin tetap pada pendiriannya.
"Terserah!" Zeline memutar bola mata bersamaan dengan namanya yang sudah dipanggil oleh petugas apotik. Gavin swgera bangkit berdiri dan mengambil obat serta vitamin Zeline, sebelum kemudian ia dan Zeline pulang ke rumah.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.