Telat Nikah (Zeline & Gavin)

Telat Nikah (Zeline & Gavin)
KEPUTUSAN


__ADS_3

"Vaia tidak ikut?" Tanya Mami Thalita setelah menyambut kedatangan keluarga Diba siang ini.


"Kehamilan Vaia sudah mendekati HPL. Jadi memang kami tidak mengizinkannya bepergian jauh dulu," terang Bunda Vale.


"Kapan HPL-nya?" Tanya Mami Thalita lagi antusias.


"Tiga minggu dari sekarang." Gantian Ayah Arga yang menjawab.


"Semoga semuanya dilancarkan," ujar Papi Zayn yang langsung diaminkan oleh semua yang duduk di ruang tamu kediaman Abraham tersebut.


"Greget masih lama lahirannya?" Tanya Gavin yang langsung membuat Gretha merengut.


"Gretha, Bang!" Sahut Sakya sigap pura-pura mendelik pada Gavin demi membela sang istri tercinta.


"Nama Gretha bagus-bagus kenapa kamu panggil Greget?" Bunda Vale memukul paha Gavin yang ssjak dulu kerap usil.


"Zeline yang ngajarin, Bund," ujar Gavin beralasan sekaligus mengkambinghitamkan Zeline. Mumpung orangnya belum pulang, tidak masalah sepertinya. Nanti kalau orangnya ada, beda cerita lagi. Semuanya akan jadi salah di mata Zeline.


"Wah wah! Sakya laporin nanti ke Kak Zeline!" Kikik Sakya menggoda sekaligus menakut-nakuti Gavin.


"Laporin masalah apa, ya? Kami sudah biasa kok berdebat-" kalimat Gavin belum sekesai, saat terlihat mobil Zeline yang sudah berhenti di depan teras.


"Calon istri sudah datang!" Gavin sigap berdiri untuk menyambut Zeline dari pintu depan. Sepertinya pemuda itu sama sekali tak merasa sungkan pada Mami Thalita ataupun pada Papi Zayn.


Ah, tapi kedua orangtua Zeline itu juga terlihat santai dan mereka juga sudah menerima Gavin sebagai calon menantu.


Zeline-nya saja yang masih jual mahal!


"Loh,mau kemana? Kok lewat samping?" Gumam Gavin saat melihat Zeline yang rupanya tak masuk dari pintu depan melainkan malah memutar ke halaman samping.


"Lewat pintu samping itu, Bang!"


"Oh!" Gavin dengan cepat putar haluan dan menuju pintu samping tanpa melohat sekitar.


"Eh, aduh!" Gavin sedikit tersandung kaki meja karena buru-buru.


"Gavin, pelan-pelan! Kenapa pecicilan begitu?" Desis Bunda Vale merasa gemas pada sang putra bungsu.


"Dari dulu memang pecicilan, Bund!" Celetuk Ezra yang sejak tadi hanya diam menyimak.


Gavin tak menghiraukan teguran sang Bunda serta celetukan sang abang. Pemuda itu terus berjalan ke pintu samping untuk menyambut Zeline yang sepertinya memang tidak tahu kalau Gavin sekarang sudah ada di rumah untuk menyambutnya.


"Dorr!!!" Gavin sengaja mengagetkan Zeline yang langsung terlonjak. Gadis itu langsung diam untuk beberapa saat, dan sepertinya memang terkejut dengan kehadiran Gavin di rumahnya.


"Kaget, ya?" Goda Gavin pada Zeline yang langsung bersedekap dan memalingkan wajahnya.


Kan Gavin sudah bilang, kalau gadis ini selalu saja jual mahal!


"Sedang apa disini?" Tanya Zeline ketus.


"Menunggumu pulang," jawab Gavin to the point.


Wussss!


Angin dari pulau sepertinya baru saja berhembus melewati Zeline dan Gavin hingga membuat beberapa helai rambut Zeline berserakan. Gavin sigap merapikan rambut gadis itu.


Biar seperti di film-film itu, ya!


So sweet, nggak?


So sweet, nggak?


"Apa, sih!" Tangan Gavin malah disentak oleh Zeline sekarang.


Yaelah! Masih jual mahal ternyata!


Gavin sumpelin pakai petatas bakar lagi nanti!


"Merapikan rambut kamu!"


"Ayo masuk!" Gavin langsung menarik tangan Zeline, meskipun gadis itu sedikit berontak. Tapi benar-benar hanya sedikit berontaknya, karena Gavin yakin kalau Zeline sebenarnya juga mau Gavin gandeng-gandeng begini.


"Kita mau kemana, Gavin? Kenapa kesini? Ada tamu itu!" Cerocos Zeline melemparkan pertanyaan bertubi-tubi karena Gavin yang malaha membawanya ke ruang tamu.


Yaiyalah! Acaranya memang di ruang tamu!


"Gavin! Sedang ada tamu!"


"Iya, aku tahu! Tamunya penting sekali malahan!" Jawab Gavin yang malah cengengesan.


"Lalu kenapa-" pertanyaan Zeline belum selesai, saat gadis itu tiba-tiba diam dan mematung dan sepertinya juga kaget karena melihat semua anggota keluarganya dan semua anggota keluarga Gavin sedang duduk di ruang tamu kediaman Abraham.

__ADS_1


"Lihat, tamunya penting semua! Ayo duduk!" Ajak Gavin selanjutnya pada Zeline yang masih terlihat kaget.


Zeline menyentak tangan Gavin, lalu buru-buru duduk bersama Mami Thalita. Gadis itu terlihat bisik-bisik pada sang Mami.


"Ini kenapa Tante Vale dan Om Arga ada disini, Mi?" Tanya Zeline berbisik pada Mami Thalita.


"Mereka mau melamar kamu." Bukan Mami Thalita, melainkan Gavin yang malah menjawab dan ikut berbisik di telinga Zeline.


"Gavin!" Panggil Bunda Vale sedikit geram pada sang putra yang malah ikut bisik-bisik dan nempel-nempel pada Zeline.


"Iya, Bund! Gavin duduk," jawab Gavin cengengesan yang langsung duduk di samping Abang Ezra.


"Jaga sikap kamu!" Abang Ezra yang ikut gemas dengan kelakuan Gavin, langsung menoyor kepala adik bungsunya tersebut. Sakya yang melihat pemandangan tersebut sontak menahan tawa.


"Eheeem!" Papi Zayn yang sejak tadi hanya diam menyaksikan keakraban keluarganya dengan keluarga Diba akhirnya berdehem, dan semua langsung diam serta menghentikan gurauan masing-masing.


"Mi!" Zeline mencengkeram lengan Mami Thalita, sembari menatap pada Gavin si pemuda cengengesan yang bisa-bisanya membawa semua keluarganya ke rumah untuk melamar Zeline tanpa bertanya dulu pada Zeline.


Memangnya dia pikir Zeline akan langsung menerima lamarannya, begitu?


"Iya, Gavin dan keluarganya mau melamar kamu?" Ucap Mami Thalita berbisik sekaligus memberitahu Zeline.


"Apa? Zeline tidak mau, Mi!" Ucap Zeline tiba-tiba dengan suara yang cukup keras yang langsung membuat semua orang menatap ke arah gadis itu.


"Tidak mau apa, Zel?" Gantian papi Zayn yang bertanya dan mengernyit pada sang putri.


"Menikah dengan Gavin! Bukankah kami sepupu?" Jawab Zeline seraya tertawa kaku dan menatap bergantian pada semua yang duduk di ruang tamu.


"Sepupu jauuuuuh sekaliii, Zel! Dan kata Opa Theo, kita sangat bisa menikah!" Tukas Gavin yang langsung menjelaskan pada Zeline.


"Iya, tapi kan kemarin aku sudah mengatakan kepadamu kalau aku belum mau menikah!"


"Apalagi dengan pemuda cengengesan sepertimu," Zeline berucap geram pada Gavin.


"Tapi kata Gavin, kau sudah setuju, Zeline!" Ujar Ayah Arga yang seolah sedang mengkonfirmasi.


"Kapan aku bilang setuju pada lamaranmu?" Zeline mendelik tajam pada Gavin yang kini hanya meringis.


"Sekarang! Kau setuju, kan?" Tanya Gavin tanpa dosa.


"Ti-"


"Papi rasa kita harus bicara dulu, Zeline!" Potong Papi Zayn yang sepertinya ikut geram dengan sikap keras kepala Zeline. Pria paruh baya itu sudah menarik sang putri ke ruangan lain. Mamu Thalita juga ikut bangkit dan mengekori suami serta putrinya.


"Zeline bukannya belum setuju, Bang! Zeline hanya mengira Gavin tidak serius melamarnya. Makanya Gavin memabwa Ayah dan Bunda agar Zeline percaya," tutur Gavin beralasan.


"Ck!" Bunda Vale dan Ayah Arga hanya berdecak berbarengan.


"Zeline pasti setuju dan menetima lamaran ini, Bund!" Gavin menatap melas pada Bunda Vale.


"Berdoa saja!"


Sementara Zelin kini sudah duduk di kursi yang ada di dapur.


"Mau kamu bagaimana sebenarnya? Gavin pemuda yang baik dan-"


"Dia itu masih labil, Pi!" Sergah Zeline menyela.


"Dia juga masih muda! Usianya terpaut jauh dari Zeline!" Zeline kembali membeberkan sejumlah alasan.


"Dan kami belum lama kenal!" Imbuh Zeline lagi.


"Lalu kau mau mengenalnya berapa lama lagi? Apa kedekatan kalian berdua saat tersesat di pulau, lalu keseriusan Gavin yang sudah dengan gentle datang kesini membawa kedua orang tuanya belum cukup untuk membuatmu percaya?" Cecar Papi Zayn yang benar-benar tak mengerti dengan cara berpikir Zeline. Putrinya ini benar-benar keras kepala.


"Tapi Gavin itu melamar Zeline hanya karena rasa iba! Dia ingin menikahi Zeline hanya karena kasihan pada Zeline yang tak kunjung menikah-"


"Itu bukan sebuah alasan, Zeline!" Sergah Papi Zayn seraya menyugar rambutnya sendiri.


"Zayn! Jangan memaksa Zeline!" Tegur Mami Thalita yang selalu saja membela sang putri.


"Aku tak memaksanya, Thalita! Aku hanya ingin Zeline itu sedikit menekan egonya dan mulai menerima pria yang memang serius dan tak perlu lagi mencari-cari alasan!"


"Zeline tak mencari alasan, Pi! Zeline belum lama mengenal Gavin dan Zeline tidak bisa begitu saja menikah dengan Gavin! Zeline harus mengenal Gavin luar dalam dulu!" Sergah Zeline yang tetap keras kepala


"Lalu kau mau mengenal Gavin berapa lama lagi? Mau menjajaki Gavin berapa lama lagi? Mau seperti yang sebelumnya itu?"


"Zayn!" Tegur Mami Thalita lagi karena Papi Zayn membawa-bawa masa lalu Zeline.


"Sampai Gavin bisa bertanggung jawab pada dirinya sendiri dan juga pendidikannya," tukas Zeline akhirnya yang ingat pada obrolannya dengan Gavin tempo hari.


"Papi tidak mengerti," papi Zayn mengernyit.

__ADS_1


"Zeline yang akan bicara pada Tante Vale dan Om Arga!" Putus Zeline seraya mengusap wajahnya sendiri. Setelah menarik nafas berulang kali, Zeline akhirnya kembali ke ruang tamu, dimana keluarga Diba sudah menunggu. Papi Zayn dan Mami Thalita mengekor di belakang Zeline.


"Jadi bagaimana, Uncle?" Tanya Gavin setelah keheningan selama beberapa menit di ruang tamu kediaman Abraham.


"Zeline sendiri yang akan menjawabnya, Gavin!" Jawab Papi Zayn seraya menatap pada Zeline dan memberikan kode pada putrinya tersebut agar segera buka suara.


"Maaf, Om Arga dan Tante Vale. Sebelum menjawab lamaran dari Om dan Tante, Zeline mau bertanya pada Gavin dulu-"


"Mau bertanya apa?" Sela Gavin cepat yang langsung membuat Zeline memutar bola mata.


Ya ya ya! Seperti Zeline tak tahu saja!


"Kau sudah menyelesaikan skripsimu?" Tanya Zeline to the point yang langsung membuag kedua bola mata Gavin melebar dan Ezra yang langsung menahan tawa.


"Sukurin!" Bisik Ezra meledek sang adik.


"Yang itu sudah masuk dalam wishlist! Kau tenang saja!" Gavin menjawab dengan sedikit salah tingkah.


"Masuk wishlist? Lalu kapan mulai kau kerjakan?" Tanya Zeline lagi.


"Sudah aku kerjakan judulnya!" Jawab Gavin beralasan.


"Baru judulnya?"


"Iya penting kan sudah ada judulnya! Nanti tinggal cari data dan bimbingan sedikit sebulan juga kelar," jawab Gavin sombong.


"Yakin sebulan kelar? Ayah kok ragu," Ayah Arga bergumam pada Bunda Vale.


"Laptopnya saja sampai berdebu di atas lemari," gumam Ayah Arga lagi.


"Kita harus mendukungnya!" Bunda Vale menepuk paha sang suami dan ikut berbisik-bisik.


"Kau selesaikan dulu skripsimu kalau memang sebulan bisa selesai lalu setelah itu aku akan memberikan-"


"Sementara kau menyelesaikan skripsimu, kau dan Zeline bisa bertunangan dulu, Gavin!" Ucap Mami Thalita lantang sekaligus memotong kalimat Zeline.


Tentu saja hal itu langsung membuat Zeline kaget.


Kok tunangan?


Kan Zeline belum bilang iya!


"Semoga dengan begitu, kau akan semangat mengerjakan skripsimu!" Tukas Mami Thalita lagi.


"Mi!" Zeline mendelik pada sang mami namun Mami Thalita sama sekali tak menghiraukan sepertinya.


"Jadi Zeline sudah menerima lamaran Gavin, Aunty?" Tanya Gavin dengan kedua mata yang sudah berbinar.


"Iya, sudah!" Jawab Mami Thalita dan Papi Zayn serempak.


"Mami!" Zeline hanya menggeram sendiri karena ini seperti sebuah konspirasi.


"Tapi Zeline memang mengajukan syarat tadi sebelum kalian menikah," ujar Papi Zayn lagi mengingatkan Gavin.


"Siap, Uncle! Gavin akan menyelesaikan skripsi Gavin!"


"Sebulan!"


"Awas kalau sebulan nggak kelar!" Zeline menuding pada Gavin.


"Kita tetap menikah nanti, trus kamu bantuin aku menyelesaikannya," sahut Gavin cengengesan.


"Hhhh! Masih saja!" Zeline bersedekap dan memutar bola matanya.


"Gavin!" Panggil Bunda Vale selanjutnya seraya menyodorkan seduah kotak cincin.


"Ah, iya!" Gavin sigap mengambil kotak cincin dari tangan Bunda Vale, lalu meraih tangan Zeline dan melingkarkan cincin tersebut ke kari manis Zeline.


"Taraaaa! Pas, kan?" Gavin menaik turunkan alisnya pada Zeline. Cincinnya memang pas sekali di jari manis Zeline.


"Pasti yang beliin Tante Vale," gumam Zeline yang ragu kalau Gavin membeli dan memilih cincin ini sendiri. Kemarin saja pemuda ini lupa membawa cincin saat melamar Zeline!


"Yeay! Kita tunangan!" Sorak Gavin lebay seraya mengangkat tangan Zeline. Tepuk tangan dari dua keluarga langsung terdengar di kediaman Abraham siang itu.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2