Telat Nikah (Zeline & Gavin)

Telat Nikah (Zeline & Gavin)
KURANG MENARIK


__ADS_3

"Coba sini!" Gavin menarik Zeline agar mendekat ke arahnya. Lalu tanpa aba-aba pria itu sudah nyengir sembari mengambil foto dirinya dan juga Zeline memakai kamera ponsel barunya.


"Naaahhh! Bagus juga!" Gavin terkekeh saat melihat ekspresi wajah Zeline yang tak siap. Gadis itu terlihat kaget dengan kedua mata yang membulat sempurna.


"Iiih! Hapus, nggak!" Zeline mendelik pada Gavin dan memaksa untuk merebut ponsel baru pria itu.


"Jangan! Foto kamu bagus, kok!"


"Aku jadikan wallpaper, lihat!" Jemari Gavin sudah bergerak cepat dan foto nereka barusan sudah jadi walpaper di ponsel Gavin.


Ck! Dasar norak!


"Aku foto sekali lagi, ya! Buat foto kontak," pinta Gavin lagi pada Zeline.


"Enggak, ah! Nggak mau!" Tolak Zeline sok jual mahal.


"Satu kali saja, Zel!" Rayu Gavin seraya mengekori Zeline keluar dari gerai resmi sebuah merk ponsel di dalam mall di pusat kota.


"Aku lapar!" Zeline mengalihkan pembicaraan. Tapi Zeline memang sudah lapar lagi. Tadi pulang dari kantor, Zeline belum sempat makan dan hanya ngemil kudapan saja.


"Pas sekali! Aku juga lapar! Ayo ke Rainer's Resto dan makan sepuasnya!" Ajak Gavin yang langsung membuat Zeline tergelak.


"Kenapa harus jauh-jauh ke Rainer's Resto, sih?" Tanya Zeline heran sekaligus tak paham.


"Ya biar kita bisa makan sepuasnya! Itu kan restoran Opa!" Jawab Gavin mengemukakan sebuah alasan.


"Ck! Disini juga banyak yang jual makanan, Vin! Dasar!" Zelin menoyor kepala Gavin seperti tadi yang dilakukan oleh Abang Ezra.


Wah!


Menyenangkan ternyata!


"Makanan apa?" Tanya Gavin celingukan, mencari-cari resto atau penjual makanan yang dimaksud oleh Zeline.


"Kau maunya makan apa? Apa saja ada biasanya di foodcourt," ujar Zeline yang malah membuat Gavin semakin bingung.


"Iya di menu adanya apa? Nanti aku baru pilih," jawab Gavin yang juga balik melontarkan pertanyaan.


"Kamu maunya menu apa dulu? Western, oriental, atau masakan lokal saja? Karena kan yang jual beda-beds gerainya!" Jelas Zeline panjang lebar yang benar-benar tak percaya kalau ia harus menjelaskan sedetail ini pada si anak pantai.


Memang Gavin tak pernah ke mall?


Perasaan di kota pesisir itu ada pusat perbelanjaan juga dekat airport. Apa Gavin tak pernah ke sana?


Lalu pemuda ini nongkrongnya di mana?


Di pantai?


Pantas saja gosong seperti brownies!

__ADS_1


"Ikan bakar sambal dabu-dabu ada juga?" Tanya Gavin yang langsung membuat Zeline mendengus.


"Bisakah kau itu memikirkan menu lain selain ikan bakar dan sambal dabu-dabu? Kita tidak sedang di pantai!" Jawab Zeline seraya mendelik pada Gavin.


"Aku pikir itu makanan kesukaanmu. Jadi aku juga mulai menyukainya sekarang," Gavin meringis dan menunjukkan deretan giginya yang begitu rapi.


"Ck! Itu bukan makanan kesukaanku!" Ujar Zeline menyanggah tebakan Gavin barusan.


"Baiklah, aku idem saja! Aku makan apa saja yang kau pesan," ujar Gavin akhirnya memberikan jawaban untuk pertanyaan Zeline barusan tentang mereka akan makan apa. Zeline hanya menghela nafas, lalu mengajak Gavin untuk naik ke lantai tiga, dimana foodcourt berada.


Namun, saat keduanya hendak naik eskalator, tatapan mata Zeline malah tertuju pada tas berwarna hijau daun yang begitu mencolok dari kejauhan dan sedang ditenteng oleh seorang wanita.


"Akhirnya!" Gumam Zeline seraya menarik tangan Gavin dan mengajaknya menghampiri wanita yang tadi menenteng tas hijau kesayangan Zeline yang sudah hampir tiga tahun jalan-jalan dan tak tahu arah jalan pulang.


"Tasku akhirnya ketemu?" Tanya Zeline dengan nada sinis pada wanita yang sedang duduk di salah satu resto. Wanita itu tampak terkejut dan tatapannya seperti sedang melihat hantu saja.


Dia siapa memangnya?


Musuh bebuyutan Zeline?


"Apa maksudmu?" Tanya wanita itu seraya menarik tas hijau mencolok di atas meja mendekat ke arahnya. Namun ternyata tangan Zeline sigap mencegah.


"Jangan mengambil barang yang bukan milikmu, Herlina! Kau tidak mau menyandang status sebagai pencuri, kan?" Zeline kembali berucap sinis pada wanita yang rupanya bernama Herlina tersebut.


"Ini tasku!" Klaim Herlina seeaya menatap tajam pada Zeline.


"Oh, benarkah? Lalu kenapa ada inisial Z-nya? Apa namamu sudah berubah jadi Zerlina sekarang?" Tanya Zeline seraya bersedekap yang langsung membuat wajah Herlina merah padam.


"Jaga ucapanmu, Zeline! Jangane mentang-mentang kau kaya dan punya banyak uang, lalu kau bisa menindaslu begini!"


"Tanpa warisan dan nama besar kakekmu, kau juga belum tentu jadi nona direktur!" Herlina memberikan tas Zeline dengan kasar.


Pun dengan Zeline yang langsung membalik tas mahal tersebut dan membuat semua isi di dalamnya berhamburan ke atas meja. Semuanya adalah barang-barang milik Herlina.


"Aku kembalikan semua barang-barangmu! Dan lain kali-"


"Zeline!" Sapa seorang pria yang mekbiat Zeline tak jadi melanjutkan kalimatnya.


"Kau sedang apa disini?" Tanya Armando yang hendak menghampiri Zeline, namun Zeline sudah dengan cepat mebjaga jarak dari mantannya yang brengsek itu.


"Jaga jarak dan jangan dekat-dekat!"Zeline memperingatkan Armando dengan tegas


"Zeline sayang, aku minta maaf-"


"Aku bilang jaga jarak dan tak lerlu lagi minta maaf atau mengemis cintamu yang palsu itu! Aku sudah bertunangan!" Ucap Zeline lantang seraya menunjukkan cincin pemberian Gavin pada Armand dan Herlina.


Mantan pacar dan mantan sahabat Zeline itu seketika langsung terkejut.


"Tunangan?" Tanya Armando tak percaya.

__ADS_1


"Ya, dan-"


"Aku tunangannya Zeline!" Sela Gavin memamerkan diri pada Armando dan Herlina yang langsung tertawa meledek pada Zeline dan Gavin.


"Pria ini tunanganmu? Yang benar saja, Zeline! Akh seribu kali lebih tampan dan lebih baik dari dia-"


"Hoeek!" Gavin balik meledek saat Armando mengatakan kalau dirinya baik dan tampan. Mabuk kecubung mungkin pria ini.


"Seleramu payah sekali, Zel!" Herlina ikut-ikutan mencela Zeline dan Gavin.


"Ya, dari fisik memang dia kurang menarik, tapi yang pasti dia tidak seperti kau atau Armando yang luarnya terlihat sempurna tapi hati kalian busuk!"


"Kalian sudah kompak menipu dan mengkhianatiku, menguras uangku, termasuk mengemis fasilitas gratis di hotel dan restorantku!"


"Membangun image sebagai orang kaya dan berada di medsos kalian, tapi semuanya hasil mengemis, meminjam, dan gratisan."


"Munafik sekali!" Cerocos Zeline panjang lebar menguliti semua kebusukan Herlina dan Armando.


"Ayo pergi dari sini, Zel!" Ajak Gavin yang sudah jengah melihat mantan pacar Zeline.


Dan Gavin sedikit cemas juga sebenarnya. Cemas kalau-kalau Zeline akan kembali kepincut jika berlama-lama ribut dengan mantannya itu! Meskipun kecil kemungkinan hal itu bisa terjadi.


Tunggu!


Apa Gavin sedang cemburu sekarang?


"Tunggu sebentar!" Zeline menyentak tangannya yang sudah dicekal oleh Gavin.


"Apalagi, sih?" Gumam Gavin tak mengerti.


"Hanya ingin memberitahu mantan sahabatku ini, kalau video live instagramnya belum dimatikan." Kalimat Zeline langsung membuat Herlina membelalakkan kedua matanya dan memeriksa ponselnyq yang masih berada di phone holder di atas meja.


"Wow! Penonton siaran live-mu sudah tembus 3k!"


"Good job, Herlina!" Zeline tertawa puas, lalu menarik tangan Gavin dan mengajak pemuda itu meninggalkan Herlina dan Armando yang sibuk berdebat perihal keteledoran Herlina.


"Kita tidak jadi makan?" Tanya Gavin seraya merangkul pinggang Zeline. Mumpung gadis ini belum sadar, bolehlah Gavin cari-cari kesempatan.


"Kita makan di Rainer's Resto saja!" Jawab Zeline yang langsung membuat Gavin mengangguk.


"Dan singkirkan lenganmu dari pinggangku! Kau mau aku smack down lagi?" Ujar Zeline lagi mengancam yang langsung membuat Gavin terkekeh. Gavin akhirnya melepaskan lengannya dari pinggang Zeline dan pasangan kekasih itupun segera meninggalkan kawasan pusat perbelanjaan.


Zeline masih jual mahal ternyata!


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2