Telat Nikah (Zeline & Gavin)

Telat Nikah (Zeline & Gavin)
MUAK


__ADS_3

"Kau Gavin Rainer Diba, kan? Anaknya Tante Vale dan Om Arga?" Tanya Sakya memastikan setelah pria itu memindai wajah Gavin dengan seksama.


"Iya. Kau kenal?" Gavin garuk-garuk kepala karena Gavin benar-benar lupa pada pria di depannya ini.


Dia siapa memangnya?


Kemarin Gavin tidak tahu dan sekarang Gavin masih tidak tahu.


"Kenapa kau malah mengenalinya, Sak?" Tanya Zeline heran. Gadis itu sudah melepaskan pelukan Papi Zayn.


"Sak!" Sakya berdecak.


"Sak semen," gumam Papi Zayn yang langsung membuat Zeline dan Gavin menahan tawa.


"Aku ingat pada foto yang ditunjukkan Ezra saat pertemuan di Rainer's Resto waktu itu," ujar Sakya menjawab pertanyaan Zeline.


"Ezra, anak keduanya Valeria dan Argadiba, ya?" Tanya Papi Zayn.


"Iya, Pi!"


"Iya, Om!" Gavin dan Sakya menjawab berbarengan.


"Abang Ezra itu Abang saya, Om!" Imbuh Gavin lagi memberitahu Papi Zayn. Atau mungkin sedang pamer juga? Pemuda itu kan suka pamer!


"Jadi benar, kamu anak bungsunya Valeria dan Argadiba?" Papi Zayn sekali lagi.


"Benar, Om!" Jawab Gavin seraya tersenyum.


"Lalu tadi kata tim penyelamat kau adalah-"


"Tour guide," jawab Gavin cepat padahal pertanyaan Sakya belum selesai.


"Oh, jadi kemarin kalian berdua tidak datang ke acara di Rainer's Resto itu karena sudah ada kencan untuk terdampar di pulau kosong?" Tebak Sakya mulai usil.


"Mana ada!" Sergah Zeline cepat.


"Aku saja tidak tahu kalau pemuda menyebalkan ini anaknya Tante Vale!" Sambung Zeline lagi terap dengan nada bersungut.


"Masa tidak tahu?" Papi Zayn mengernyit pada sang putri.


"Bagaimana bisa tahu kalau setiap acara arisan keluarga saja dia tidak mau datang, Pi!"


"Yang katanya takut ditanya, kapan nikah?"


"Padahal tinggal dijawab saja kapan-kapan, beres!" Cerocos Sakya panjang lebar yang benar-benar membuat Zeline ingin menguncir saja bibir adiknya itu.


"Tapi ngomong-ngomong, kau siapa?" Tanya Gavin dengan raut wajah polos pada Sakya yang langsung melongo.


"Kau tidak tahu siapa aku, Sepupu?" Tanya Sakya dengan raut wajah tak percaya. Gavin refleks menggeleng.


"Dia adiknya Zeline. Namanya Sakya," papi Zayn yang akhirnya menjawab pertanyaan Gavin.


"Oh, yang kata Zeline menyebalkan dan tidak pengertian itu, ya! Yang katanya sudah lancang juga karena mendahuluinya menikah," ujar Gavin ember yang sekarang membuat Zeline ganti menatap geram pada Gavin.


Dasar ember!


Hal seperti itu juga harus ia katakan secara blak-blakan?


"Aku menyebalkan, ya, Kak?" Tanya Sakya menatap tak senang pada Zeline.


"Ya! Satu frekuensi dengan pria itu juga!" Zeline menunjuk ke arah Gavin yang hanya menahan tawa.


"Jadi silahkan kalian mengobrol karena kalian sama-sama menyebalkan!" Lanjut Zeline lagi dengan nada ketus seraya berbalik dan hendak masuk ke dalam resort.


"Zel!" .


"Zeline mau berendam, Pi!"jawab Zeline seraya berseru. Gadis itu tak sedikitpun menoleh dan terus melanjutkan langkahnya menuju ke kamarnya di resort.


"Sudah kembali ke kodratnya," gumam Gavin seraya menahan tawa.


"Kau juga sebaiknya beristirahat, Gavin! Kau menginap di resort ini juga?" Tanya Papi Zayn seraya menepuk punggung Gavin.


"Gavin tinggal di pondok di luar resort, Om!"


"Gavin kan hanya tour guide dan bukan tamu," ujar Gavin panjang lebar seraya terkekeh.

__ADS_1


"Om akan memesankan kamar untukmu di resort ini kalau begitu." Ucap Papi Zayn cepat.


"Gavin bisa menempati kamar Sakya saja, Pi! Sakya akan pulang siang ini karena Kak Zeline kan sudah bertemu," sahut Sakya cepat yang sepertinya sudah tak sabar untuk segera pulang dan mencumbu istri remajanya. Dasar bucin akut!


"Kenapa buru-buru, Sak?" Tanya Gavin yang langsung membuat Sakya berdecak.


"Maaf, bukan bermaksud memanggil Sak semen!" Ucap Gavin cepat seraya menahan tawa.


"Kenapa buru-buru, Sepupu?" Gavin mengulangi pertanyaannya dan sedikit mengoreksi panggilannya pada Sakya.


"Karena sudah ada yang menunggu di rumah dan menyuruhku untuk segera pulang," jawab Sakya seraya tertawa kecil.


"Oh, pengantin baru," Gavin manggut-manggut dan seolah langsung paham.


"Ayo ke kamarmu dan beristirahat, Gavin!" Ajak Papi Zayn selanjutnya pada Gavin yang langsung mengangguk. Ketiga pria itupun meninggalkan dermaga resort dan segera menuju ke kamar masing-masing.


****


Tok tok tok!


Zeline masih mengenakan jubah mandi dan sedang menyisir rambutnya yang sudah tak bisa digambarkan dengan kata-kata lagi kondisinya, saat pintu kamar diketuk dari luar.


Zeline benar-benar harus menghabiskan waktu seharian saat pulang nanti agar rambutnya kembali ke kondisi semula.


Tok tok tok!


Pintu kembali diketuk dari luar. Zeline akhirnya bangkit berdiri meskipun masih malas. Gadis itu membuka pintu kamarnya, dan saat itulah, Zeline ingin mengumpat seketika.


"Selamat siang menjelang sore, Sepupu!" Sapa Gavin seraya mendorong troli berisi makanan ke dalam kamar Zeline.


"Aku belum mempersilahkanmu untuk masuk, Gavin!" Geram Zeline seraya membanting pintu kamarnya.


"Oh, ayolah! Aku sepupumu. Jadi tak perlu bersikap seperti orang lain!" Jawab Gavin santai.


"Sejak kapan kau beralih profesi jadi pelayan resort?" Tanya Zeline yang kini sudah ganti bersedekap pada Gavin yang sedang menata makanan ke atas meja.


"Lihat! Ada ikan bakar sambal dabu-dabu!" Bukannya menjawab pertanyaan dari Zeline, Gavin malah memamerkan sepiring ikan bakar yang disiram sambal dabu-dabu dan terlihat begitu menggiurkan.


"Kau belum menjawab pertanyaanku!" Zeline masih bersedekap di tempatnya.


"Apa Tante Vale dan Om Arga tidak memberikanmu uang jajan, hingga kau mengambil semua pekerjaan part time dan mengabaikan kuliahmu?" Tanya Zeline penuh selidik.


"Bukan seperti itu!" Sanggah Gavin cepat.


"Ini hanya soal hobi dan kesenangan! Bukankah hidup harus dinikmati?" Jawab Gavin sok diplomatis yang hanya membuat Zeline berdecak. Zeline lalu duduk di dekat meja yang kini sudah penuh makanan.


"Ayo kita makan!" Ucap Gavin yang juga sudah ikut duduk di depan Zeline.


"Tunggu!!"


"Kau pelayan di resort ini! Kenapa ikut makan bersama tamu?" Tanya Zeline mengingatkan Gavin yang tangannya sudah hampir memotong ikan bakar di hadapan mereka.


"Aku kan sepupumu," Gavin masih tak kehabisan akal untuk menjawab.


"Tapi kau tetap karyawan disi-"


"Kak!" Zeline belum menyelesaikan kalimatnya, saat pintu kamarnya sudah menjeblak terbuka dan Sakya yang kini berdiri di ambang pintu kamar.


"Wah wah! Ada yang sedang bernostalgia!" Sakya langsung masuk ke kamar dan melontarkan sebuah tuduhan konyol.


"Ada apa kau ikut-ikutan masuk kesini?" Tanya Zeline galak pada sang adik.


"Aku ingin beristirahat dan kalian malah datang semua ke kamarku!" Omel Zeline lagi menuding bergantian pada Sakya dan Gavin.


"Aku kesini mau mengajakmu makan," jawab Gavin tanpa dosa yang sekarang sudah mulai melahap makanan di depannya.


"Eheem! Apa sudah terjadi something di antara kalian berdua selama di pulau?" Tanya Sakya penuh selidik pada Zeline dan Gavin.


"Ya!"


"Tidak!"


Jawab Gavin dan Zeline berbarengan nqmun dengan jawaban yang berbeda.


"Apanya yang iya? Tidak terjadi apa-apa di antara kita!" Zeline langsung membentak Gavin yang masih asyik melahap ikan bakar sambal dabu-dabu.

__ADS_1


"Itu ikanku! Kenapa kau makan, hah?" Protes Zeline seraya merebut piring ikan dari hadapan Gavin.


"Hei, itu punyaku! Kembalikan!" Gavin berusaha merebut balik piring ikannya dari tangan Zeline.


"Ini semua makananku. Keluar kau!" Usir Zeline lanjutnya pada Gavin.


"Itu ikanku! Yang ini baru ikanmu!"


"Lihat! Aku tak memakan bagianmu!" Gavin menunjukkan satu piring ikan bakar sambal dabu-dabu yang masih utuh pada Zeline.


"Hahahahahaha!" Sakya sontak tertawa terbahak-bahak melihat Zeline yang kini salah tingkah.


"Bawa keluar ikanmu sana! Dan aku tak mau makan bersamamu! Dasar menyebalkan!" Maki Zeline pada Gavin seraya memberikan dengan kasar ikan Gavin tadi.


"Dan kau juga keluar sana! Aku mau istirahat!" Zeline turut mengusir Sakya dari kamarnya.


"Sakya hanya ingin pamit, Kak!" Ujar Sakya yang masih berusaha mengendalikan tawanya.


"Pamit kemana?"


"Pulanglah! Sakya sudah kangen dengan Gretha!" Jawab Sakya dengan nada lebay.


"Pulang sana! Siapa juga yang menyuruhmu kemari!" Usir Zeline sekali lagi pada Sakya.


"Dan aku tak akan meminta paket liburan menyesatkan lagi darimu!" Zeline menuding pada Sakya.


"Baiklah! Sakya pulang dulu, Bye!" Pamit Sakya seraya melambaikan tangan dengan lebay pada Zeline.


"Bye, Gavin! Sampaikan salamku untuk Ezra, Vaia, Ayah, dan Bundamu!" Pamit Sakya juga pada Gavin yang ternyata masih belum keluar dari kamar Zeline.


Pria ini benar-benar keras kepala ternyata!


"Bye, Sakya!" Jawab Gavin.


"Kau kenapa belum pergi dari sini?" Tanya Zeline galak pada Gavin.


"Ikanku belum habis," jawab Gavin tetap dengan raut tanpa dosa.


"Habiskan di luar kalau begitu! Aku sudah muak melihat mukamu!"


"Tiga hari aku nyaris gila karena tersesat bersamamu!" Zeline tak berhenti bercerocos pada Gavin.


"Aku pikir kau menikmatinya! Kau bahkan memegang milikku di malam pertama, lalu memeluk dan menjadikan aku guling di malam kedua-"


Plak!


Zeline mengeplak kepala Gavin karena sudah benar-benar geram.


"Kau bahkan kentut dan sendawa di depanku tanpa malu-malu," Gavin masih tetap lanjut membuka semua aib Zeline selama mereka terdampar di pulau asing. Dan Zeline hanya mampu menahan geram karena semua yang dikatakan oleh Gavin itu memang benar adanya.


"Ngomong-ngomong, hubungan sepupu kita kan jauh sekali! Jadi aku rasa tidak masalah jika kita mulai-"


"Mulai apa? Kau pikir aku tertarik padamu? Jatuh cinta padamu? Tidak usah kegeeran!" Sergah Zeline yang langsung memotong kalimat Gavin.


"Sayang sekali! Padahal aku hanya ingin menyelamatkanmu dari pertanyaan yang selalu menghantuimu di pertemuan keluarga besar!" Ujar Gavin blak-blakan yang langsung membuat Zeline berdecih.


"Aku tak butuh bantuanmu! Aku bisa mengatasi semuanya sendiri!" Jawab Zeline keras kepala.


"Baiklah kalau memang begitu!" Gavin melahap potongan ikan terakhir dari piringnya.


"Habiskan ikanmu, Zeline! Aku akan pergi!"


"Selamat siang!" Pungkas Gavin seraya membawa piring kotornya, lalu pemuda itu keluar dari kamar Zeline.


Zeline hanya membisu sambil menatap pada punggung Gavin yang akhirnya keluar dari kamarnya.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2