Telat Nikah (Zeline & Gavin)

Telat Nikah (Zeline & Gavin)
GALAU


__ADS_3

"Zel!"


Panggilan dari Mami Thalita bersamaan dengan pintu kamar yang dibuka dari luar, membuat Zeline terlonjak kaget. Zeline yang sedang memangku laptopnya, sekilas memang terlihat sedang mengerjakan sesuatu, namun sebenarnya gadis itu tengah melamun dan hatinya sedqng merasa galau.


"Mami boleh bicara?" Tanya Mami Thalita seraya duduk di sebelah Zeline.


"Ya!" Jawab Zeline singkat sambil pura-pura sibuk dengan laptopnya lagi.


"Kau dan Gavin putus?" Tanya Mami Thalita yang langsung membuat Zeline memalingkan wajahnya. Zeline sebenarnya sedang malas membahas masalah tersebut.


"Zeline merasa, kalau Zeline tidak cocok dengan Gavin, Mi! Jadi daripada cari penyakit, lebih baik Zeline akhiri saja!" Jawab Zeline beralasan.


"Tidak cocok? Lalu kau cocoknya dengan pria yang bagaimana? Seorang pria kantoran juga sepertimu? Atau seorang direktur, seorang CEO?"


"Mami akan mencarikan pria yang seperti itu untukmu-"


"Tidak usah, Mi!" Sergah Zeline yang langsung menolak dengan cepat.


"Lagipula, bukankah Mami sudah berjanji untuk tak ikut campur tentang siapa pria yang akan menjadi pendamping hidup Zeline? Lalu kenapa sekarang mami malah ikut-ikutan seperti papi dan sok-sokan ingin menjodohkan Zeline?" Cerocos Zeline lagi mengingatkan sang Mami.


"Mencarikan bukan berarti menjodohkan!" Sergah Mami Thalita mencari pembenaran. Zeline hanya berdecak malas.


"Zeline hanya ingin sendiri sekarang!" Zeline menatap tegas pada sang mami.


"Sendiri sampai kapan, Zeline?"


"Tidak tahu! Yang jelas ini sudah menjadi keputusan Zeline dan mami tidak usah mencoba untuk menjodoh-jodohkan Zeline lagi karena Zeline tidak akan mau!" Ucap Zeline tegas seraya memperingatkan Mami Thalita.


"Baiklah!" Mami Thalita mengangkat kedua tangannya.


"Satu hal yang perlu kau tahu, Zeline! Gavin itu mencintaimu dan Mami masih menyayangkan sikap egoismu yang memutuskan pertunangan kalian begitu saja." Mami Thalita menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Itu sudah menjadi keputusan Zeline, Mi!"


"Dan Gavin itu terlalu muda untuk Zeline! Jadi bukan Zeline yang egois disini, tapi Gavin yang memang belum dewasa!'


"Kau juga belum dewasa!" Sergah Mami Thalita yang balik menyalahkan Zeline.


"Tidak perlu lagi membahasnya!" Sergah Zeline dengan nada malas.


"Kau juga egois dan terlalu banyak memakai emosimu!" Ujar Mami Thalita lagi tetap menyalahkan Zeline.


"Zeline bilang tidak usah membahasnya lagi, Mi!" Zeline berteriak pada Mami Thalita.


"Permasalahan di antara kalian itu sederhana dan sangat bisa diselesaikan dengan duduk berdua, lalu saling bicara dari hati ke hati! Bukan dengan emosi dan saling menyalahkan begini!"


"Kau mengatakan Gavin egois dan belum dewasa, padahal kau sendiri juga egois dan kekanakan, Zeline!" Ujar Mami Thalita panjang lebar yang langsung membuat Zeline memijit pelipisnya sendiri.

__ADS_1


"Sudah cukup, Mami!" Sergah Zeline dengan nada suara yang sudah meninggi.


"Zeline dan Gavin sudah putus dan hubungan kami sudah berakhir!" Sambung Zeline lagi tetap keras kepala.


"Gavin pemuda yang baik, dan dia sungguh-sungguh mencintaimu, Zeline!"


"Kau akan menyesal jika nanti Gavin bersanding di pelaminan bersama gadis lain dan kau akan terus sendiri karena sikap keras kepalamu itu!" Pungkas Mami Thalita sebelum kemudian wanita paruh baya itu bangkit dari sofa, lalu keluar dari kamar Zeline.


"Gavin tak akan bersanding dengan gadis lain di pelaminan jika memang dia sungguh-sungguh mencintai Zeline!" Teriak Zeline entah sadar atau tidak.


Tapi Zeline tak peduli!


Zeline sedang marah sekarang!


****


"Payah!" Gerutu Gavin saat ia kembali jatuh dari papan selancarnya dan terombang-ambing bersama ombak.


Sudah tak terhitung berapa kali Gavin jatuh dan tak berhasil menaklukkan ombak. Aneh sekali, mengungat Gavin yang begitu jago bermain selancar.


Gavin masih duduk di tepi pantai, saat aroma ikan bakar menusuk-nusuk hidungnya dan mengingatkan Gavin pada tawa Zeline serta nafsu makan Zeline saat menikmati ikan bakar. Gavin mengusap wajahnya sendiri, lalu menatap pada lautan lepas di depannya.


"Kenapa kamu begitu keras kepala, Zel?" Gumam Gavin menyesalkan sikap keras kepala Zeline yang dengan mudahnya memutuskan begitu saja pertunangannya dengan Gavin.


"Apa susahnya pindah kesini, lalu kita bisa memandangi ombak setiap hari, aku akan mengajarimu bermain selancar," Gavin kembali bergumam bersamaan dengan ombak yang datang bergulung-gulung dan menerjang kakinya.


"Atau memang aku yang egois?" Gavin ganti bertanya pada dirinya sendiri. Pria itu lalu mengacak rambutnya dan mendadak merasa bingung.


****


Zeline bersedekap dan berdiri di antara para karyawan kantornya yang saat ini tengah menyaksikan acara lamaran Ryan pada Nona. Sepupu Zeline itu ternyqta benar-benar serius pada Nona dan saat ini, Ryan tengah melamar Nona di lobi kantor.


Tawa bahagia langsung menghiasi wajah Nona, saat Ryan berlutut di depan Nona dan menyodorkan sebuah cincin. Dan entah setan apa yang melintas, karena tiba-tiba Zeline malah membayangkan Gavin yang kini sedang berlutut di depan Nona yang tiba-tiba berubah menjadi dirinya.


Eh, sejak kapan bisa begitu?


"Zeline-ku Sayang! Maukah kau menikah denganku?"


"Iya, aku mau!" Jawab Zeline spontan yang sontak membuat semua karyawan Zeline menoleh ke arah Nona direktur tersebut dan dalam waktu sepersekian detik, Gavin sudah kembali berubah menjadi Ryan. Lalu gadis gendut yang tadi berdiri di depan Ryan sudah kembali langsing dan berubah jadi Nona lagi.


Ya ampun!


Bisa-bisanya Zeline berkhayal di siang bolong!


"Ck! Lama sekali acara lamarannya! Cepatlah sedikit, Ryan!" Zeline berseru pada Ryan demi mengalihkan perhatian para karyawan pada dirinya yang yadi secara spontan menjawab, "Iya, aku mau!"


Mau apa memangnya?

__ADS_1


Mau dilamar ulang oleh Gavin?


Belum ada seminggu putus, masa iya Zeline sudah harus mengemis pada pemuda itu.


Tapi selama seminggu ini pikiran Zeline benar-benar kacau dan mendadak merasa bersalah karena sudah memutuskan begitu saja pertunangannya dengan Gavin.


"Kau akan menyesal jika nanti Gavin bersanding di pelaminan bersama gadis lain dan kau akan terus sendiri karena sikap keras kepalamu itu!"


Kata-kata Mami Thalita kembali terngiang di benak Zeline dan kini hati Zeline merasa galau.


Tapi misalnya Zeline tetap melanjutkan hubungannya bersama Gavin, itu artinya Zeline juga harus mengalah dan meninggalkan pekerjaannya saat ini sebagai Nona direktur, lalu ikut Gavin ke pulau.


Ck!


Tidak! Zeline tidak mau!


Kenapa tidak Gavin saja yang mengalah dan pindah kesini, lalu memanfaatkan ilmunya selama di perguruan tinggi!


Kalau benar Gavin mencintai Zeline, bukankah seharusnya Gavin yang pindah dan mengalah?


Memang dasarnya saja Gavin itu egois, tidak dewasa, dan tidak serius pada Zeline!


Dasar pemuda labil!


"Ya, aku mau!" Jawaban keras Nona pada lamaran Ryan langsung membuyarkan lamunan Zeline. Sorak sorai para karyawan yang turut berbahagia atas diterimanya lamaran Ryan pada Nona langsung menggema di lobi kantor.


"Jawabnya pelan saja kan bisa! Kenapa harus lebay dan berteriak begitu, sih?" Gerutu Zeline seraya berbalik dan pergi meninggalkan loby. Zeline masih sempat menghentakkan satu kakinya karena kesal, sebelum gadis itu masuk ke dalam lift.


Zeline memang sedang kesal sekarang, dan Zeline akan memborong makanan demi meluapkan rasa kesalnya!


Sebentar lagi pasti pernikahan Nona dan Ryan akan digelar, dan saat hari itu tiba, Zeline akan bersembunyi di dalam bunker agar tak ada yang bertanya, kapan Zeline. menyusul.


Mungkin Zeline tak akan pernah menyusul dan tak akan pernah menikah!


Dasar Gavin menyebalkan!


Bisakah pria itu berhenti bersikap egois dan mengalah sedikit saja?


.


.


.


Maunya Zeline bagaimana, sih?


Bingung saya.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2