
Zelle merasa sangat malu dan air mata mengalir di pipinya.
Brandon yang merasakan air matanya, kemudian memindahkan bibirnya dari bibir Zelle ke pipinya yang basah.
"Zelle, jangan pernah tinggalkan aku, hm? Jangan tinggalkan aku," bisiknya di telinga Zelle.
Sang sopir sudah melewati beberapa jalan dan tikungan, dan tidak tahu kapan dia bisa berhenti. Dia tidak bisa membuat keputusan tanpa persetujuan Brandon.
"Brandon, biarkan aku pergi," kata Zelle kepada Brandon dengan air mata yang berlinang.
🍒🍒🍒
Zelle berbicara kepada Brandon dengan air mata yang berlinang. Dia menyuruhnya untuk melepaskannya. Dia sudah tidak lagi ingin menjalani kehidupan seperti itu.
"Zelle, apa kamu tidak pernah mencintaiku?" Brandon menatap wajah sedihnya dan bertanya padanya.
"Tapi apa itu penting? Aku sudah tidak tahan lagi. Kita berasal dari dua dunia yang berbeda. Mengapa kita harus tetap bersama?" teriak Zelle.
"Bagaimana kamu bisa mengatakan hal itu? Kalau itu benar, kita tidak akan menikah. Dari sekian banyak wanita dikota ini, tapi aku memilih mu. Seharusnya kamu bisa menyadari nya kalau kita memang ditakdirkan untuk bersama. Dasar gadis bodoh, aku tidak bisa hidup tanpamu." Brandon mengetuk hidung Zelle dan memeluknya.
Zelle terkejut mendengarnya. Ternyata kata-kata Brandon mampu membuat dia melongo
"Ke Mansion," kata Brandon kepada sang sopir, dan sopir itu langsung melaju menuju Mansion.
"Ayo keluar dari mobil, Sayang. Kalau tidak, aku tidak akan keberatan menggendong mu masuk ke dalam rumah." Brandon membuka pintu mobil dan mencondongkan tubuhnya ke dekat Zelle.
"Aku akan keluar sendiri." Zelle tahu kalau Brandon bersungguh-sungguh, jadi dia segera keluar dari mobil.
Melihat Mansion yang telah ditinggalinya selama beberapa bulan itu, Zelle diliputi emosi yang begitu rumit.
Dia sama sekali tidak ingin kembali kesini. Terlalu banyak kenangan yang menyakitkan hatinya disini.
__ADS_1
Tapi dia tidak punya pilihan lain. Dia hanya bisa menghela nafas.
"Nyonya Dharmendra, Anda akhirnya kembali. Saya senang bisa melihat anda disini lagi." Melihat Zelle, Ezra tersenyum seperti anak kecil yang bahagia.
Dia begitu khawatir saat Zelle pergi, yang lebih dia takutkan lagi adalah, kedatangan Prilly ke Mansion ini dengan gelar nyonya Dharmendra. Untungnya, Brandon tidak melakukan kesalahan itu.
"Ezra, bagaimana kabarmu?" Zelle menyapa Ezra.
"Tidak baik. Nyonya Dharmendra, Anda pergi tanpa mengatakan apa-apa. Saya berkali-kali dimarahi oleh Tuan Dharmendra." Ezra ingin meningkatkan hubungan antara pasangan muda itu.
"Aku sangat menyesal." Zelle sedikit malu. Ketika dia pergi, dia mengira Brandon akan segera menceraikannya. Dia tidak berharap untuk kembali dengan cara seperti ini.
Sambil memegang tangan Zelle, Brandon membawanya ke dalam rumah dan naik ke atas. Zelle tidak ingin naik ke atas bersamanya, tetapi dia tidak bisa mempermalukannya di depan begitu banyak pelayan.
Ketika pintu ditutup, hati Zelle tiba-tiba menegang. Namun, Brandon tidak melakukan apa-apa. Dia hanya menariknya kepelukannya.
"Zelle, biar kujelaskan semuanya padamu." Brandon bukan tipe pria yang suka berbicara panjang lebar, tapi dia harus melakukannya hari ini. Kalau tidak, kesalah pahaman akan memisahkan mereka berdua.
Zelle tidak mengatakan apa-apa. Bahkan jika itu benar, mengapa dia pergi ke Prancis bersama Prilly ketika dia baru saja mengalami keguguran?
"Kamu juga menyalahkanku karena tidak berada di sisimu setelah keguguran itu. Sayang, aku minta maaf, Prilly mengalami cedera pada tulang kakinya, karena saat kami kecil dulu, dia yang menyelamatkan aku dari tabrakan mobil. Akibatnya, kakinya terluka. Dokter mengatakan bahwa dia harus segera dioperasi. Jika dia terus menunggu, kondisinya mungkin akan semakin memburuk, tetapi karena takut dia malah menunda operasinya. Kakinya terluka karena aku. Jika diamputasi, itu akan semakin membebaniku, jadi aku membawanya ke Prancis untuk melakukan operasi." Saat ini, Brandon merasa bahwa menjelaskan sesuatu kepada seseorang juga merupakan hal yang sangat indah.
Zelle merasa lega. Ternyata begitu ceritanya. Zelle hargai karena Brandon bersedia menjelaskan kepadanya dalam keadaan tenang. Ini cukup untuk membuktikan bahwa dia memang mencintainya.
"Zelle, apa kamu percaya padaku?" Brandon menunduk menatap Zelle.
"Aku percaya." Zelle mengangguk. Karena Brandon sudah mau menjelaskannya, berarti apa yang dikatakannya pasti benar. Jika dia tidak mau menjelaskannya, dia tidak mungkin akan mencarinya dan membawanya pulang.
"Jangan tinggalkan aku lagi. Jangan pergi dariku. Aku tidak tahan hidup sendiri di sini." Brandon meletakkan tangan Zelle di jantungnya.
"Baiklah." Zelle mengangguk. Dalam bulan terakhir ini, Zelle juga selalu memikirkan Brandon. Dia merindukannya sama seperti Brandon merindukannya. Makanya, saat itu, Zelle memilih membenamkan diri dan pikiran dalam pekerjaannya berharap rasa rindu dan semua tentang Brandon dapat dia lupakan.
__ADS_1
Melihat Zelle yang telah memaafkannya, Brandon ingin lebih dekat dengannya. Dia menangkup wajah Zelle dengan kedua tangannya dan perlahan mendekatkan bibirnya.
BRAK
"Zelle, aku...." Pintu didorong paksa dan terbuka dengan keras. Zelle yang terkejut, langsung mendorong Brandon menjauh darinya.
Tangan Afina membeku di udara. Apa yang dia lakukan? Dia telah menghancurkan momen romantis Zelle dan Brandon, momen ini lah yang diinginkan putranya, yang setiap hari selalu mengkhawatirkan istrinya.
Afina menurunkan tangannya dan berjalan mendekat untuk menarik Zelle lebih dekat padanya, dia mengamati wajah hingga tubuh Zelle dengan cermat.
"Mom," Zelle dan Brandon memanggilnya serempak.
"Zelle, biarkan aku melihatmu. Kamu sangat kurus sekarang." Afina sangat peduli pada Zelle.
"Apa yang bisa aku katakan padamu anak muda? Kamu tidak memberitahuku tentang kehamilan istri mu, dan kamu juga menyembunyikan kegugurannya dariku. Siapa aku ini bagimu?" Afina marah ke Brandon. Bagi Afina, apapun yang terjadi semua itu adalah kesalahan putranya.
"Mom, bayi kita memang sudah memiliki cacat fisik bawaan," jelas Brandon kepada ibunya. Dia juga menginginkan seorang anak. Saat dia mengetahui bahwa Zelle mengandung anaknya, dia merasa sangat bahagia. Tapi, setelah dia mengetahui keadaan bayinya yang memiliki cacat bawaan, dia juga ikut merasakan sakit.
"Cacat? Jadi kamu bisa menyembunyikannya dariku? Zelle adalah istrimu. Kamu harus merawatnya. Jika sekali lagi kamu menyakitinya dan dia pergi untuk kedua kalinya meninggalkanmu, maka, sudah terlambat untukmu menyesalinya." Afina memutar matanya ke arah putranya.
Ekspresi dan kata-kata nya, membuat Zelle dan Brandon berpikir, apa Afina ini ibu kandung Zelle atau ibu tiri Brandon?
Melihat Zelle yang baik-baik saja, Afina merasa lega. Saat dia datang, dia mendengar dari Ezra bahwa Zelle sudah kembali. Dia langsung bergegas ke atas untuk menemuinya. Dia tidak menyangka akan merusak momen romantis pasangan itu.
Sekarang setelah dia melihat Zelle dan langsung memarahi Brandon, Afina merasa sudah waktunya untuk dia pergi.
"Baiklah. Karena Zelle baik-baik saja, aku merasa lega. Aku masih harus pergi ke tempat Ramit untuk melakukan perawatan. Kalian harus membicarakan masalah ini, apa kalian akan bercerai atau tidak."
"Kakekmu juga mengkhawatirkanmu!" Afina memutar matanya ke arah Brandon lagi sebelum dia pergi.
Bersambung........
__ADS_1