Terikat Kontrak CEO Misterius

Terikat Kontrak CEO Misterius
Akhirnya menemukan Zelle


__ADS_3

Setelah keluar dari salon kecantikan Ramit, Attar meregangkan tubuhnya dengan malas. Dia pun pergi naik taksi. Dia terbiasa bermain-main sepanjang hari. Tiba-tiba dia memiliki sesuatu yang harus dilakukan, jadi dia merasa itu adalah hal yang sangat menarik baginya. Sekilas, Attar melihat seseorang!


Ketika Attar melihat orang yang tidak asing baginya, dia buru-buru meminta sopir taksi untuk menghentikan mobilnya dan mengikutinya ke sebuah supermarket. Orang itu membeli beberapa makanan dan barang-barang lainnya.


Attar mengikuti orang itu keluar dari supermarket, lalu orang itu pergi naik bus.


Attar turun dari taksi dan berusaha menghentikan bus itu yang hampir bergerak. Sehingga sopir bus itu menjadi sangat kesal.


🍒🍒🍒


Attar mengikuti orang itu dan ikut naik bus. Saat Attar hendak mendekat, sopir bus itu berkata, "Hei, yang berjas, bayar!"


Attar belum pernah naik bus sebelumnya, jadi dia tercengang mendengarnya.


"30 ribu Masukkan ke dalam kotak itu. Cepatlah! Kalau tidak punya uang, turunlah," kata sopir bus itu ketus. Dia tidak percaya pria berpakaian bagus mau mencuri tumpangan.


Attar merogoh sakunya dan mengeluarkan dompetnya. Namun, tidak ada uang tunai selain kartu yang berjejer.


"Bisakah saya membayarnya dengan kartu ini?" Kevin bertanya pada sang sopir.


"Tidak! Turun!" kata sopir itu dengan serius.


Tidak ada yang bisa dilakukan Attar selain turun. Jadi dia dipaksa turun dari bus hanya karena dia tidak punya uang tunai.


Attar turun dari bus dan buru-buru menelepon Brandon. "Brandon, aku punya kabar baik untukmu. Aku baru saja melihat ayahnya Zelle. Dia datang ke Ocean Super market untuk membeli sesuatu."


"Kalau begitu ikuti dia dan lihat ke mana dia pergi." Brandon berdiri dengan bersemangat.


"Aku tidak bisa. Aku kehilangan dia," kata Attar tak berdaya. Dia juga tidak ingin ini terjadi.


"Apa? Bagaimana kamu bisa kehilangan dia?" Suara Brandon semakin keras. Meski Attar terlihat seperti playboy, ia pernah bertugas sebagai pengintai di ketentaraan.


"Yah, aku akan memberitahumu detailnya dikantormu nanti. Ada terlalu banyak orang di sini. Sulit untukku menjelaskannya" Attar agak malu mengatakan bahwa dia telah kehilangan pria itu. Memang, ini adalah aib bagi mantan militer sepertinya.


"Baiklah." Brandon menghela napas. Bagaimana ini bisa terjadi? Apakah ayah Zelle melihat Attar?


Segera Attar tiba di kantor Brandon. Saat dia masuk, dia langsung dihadang oleh Brandon.

__ADS_1


"Apa yang terjadi? Katakan padaku."


"Aku mengikuti Pak Jaster sepanjang dia belanja, hingga dia naik bus!" Attar mendorong tangan Brandon agar menjauh darinya.


"Lalu mengapa kamu tidak mengikutinya?" Brandon tidak merasakan sesuatu yang aneh dengan bus itu.


"Karena aku tidak punya uang tunai dan sopir bus itu memaksaku untuk turun, jadi aku kehilangan dia. Pada saat itu, aku mau mengejarnya, tapi taxy ku sudah pergi. Aku juga tidak bawa mobil, alhasil bus itu pergi." Attar mengangkat bahunya.


"Sepertinya aku harus membawa beberapa uang tunai saat aku pergi keluar." Attar menghela nafas. Di masa lalu, dia tidak pernah berada dalam situasi di mana uang sangat berguna.


"Lupakan saja. Aku senang mengetahui kalau dia masih berada dikota B." Brandon mengira Zelle pergi jauh dari kota, tapi setelah mendapat kabar ini, hatinya begitu lega, ternyata mereka tinggal tidak jauh dari tempatnya. Dia masih memiliki harapan. Ini berita terbaik yang pernah dia dengar.


****


Setelah Zelle menyerahkan terjemahannya, Malvin memberinya lagi setumpuk dokumen dan menyuruhnya bergegas mengerjakannya. Kali ini, dia hanya punya waktu tiga hari untuk menyelesaikannya.


Zelle melihat-lihat tumpukan dokumen itu dan dia pikir kalau dia bisa menyelesaikannya dalam waktu yang sudah ditentukan. Jadi dia menyetujuinya.


Setelah meninggalkan perusahaan dengan membawa tumpukan dokumen itu, Zelle merasa sedikit haus dan membeli sebotol air. Bus datang tepat setelah dia selesai membelinya. Dia pun berlari mendekat kearah bus.


Ada sedikit orang yang berada di dalam bus, dan Zelle memilih duduk di samping kursi kosong.


Seseorang tiba-tiba duduk di kursi sampingnya. Zelle tidak repot-repot untuk melihatnya. Bagaimanapun, orang-orang terus saja naik turun, jadi dia tidak tertarik untuk mengetahui seperti apa orang yang berada disampingnya.


Tetapi orang itu tampak sedikit tidak normal. Dia mengulurkan tangan dan mengambil air dari tangan Zelle dan meminumnya.


Zelle sangat terkejut. Dia menoleh dan melihat sepasang mata yang begitu familiar tertuju padanya. Dia sudah menghabiskan setengah air dari botol itu.


"Kamu, kenapa kamu di sini?" Zelle melihat sekeliling, ternyata semua penumpang lain sedang duduk atau berdiri di depan atau di belakang mereka. Tidak ada yang mendekati mereka, seolah-olah mereka memiliki penyakit yang sangat menular.


"Aku seharusnya ada di sini. Zelle, sangat sulit menemukanmu!" Dengan botol ditangannya, Brandon menatapnya, membuat punggung Zelle merinding.


Brandon mengangkat tangannya dan Zelle langsung menutup matanya. Dia pikir Brandon akan memukulnya.


Brandon terlihat kesal sekaligus geli melihat Zelle seperti itu. Dia bertanya-tanya apa dimata Zelle dia adalah pria yang pemarah yang akan memukul seorang wanita.


Brandon mengulurkan tangannya dan merapikan rambut Zelle yang berantakan didahinya.

__ADS_1


"Ayo pulang," kata Brandon lembut.


Zelle membuka matanya dan menatap Brandon dengan aneh.


"Ayo kita turun. Akan kujelaskan padamu semuanya." Melihat bus yang sudah berhenti, Brandon menyeret Zelle turun dari bus.


"Brandon, aku tidak mau mendengarkan penjelasanmu. Apa pun yang kamu lakukan tidak ada hubungannya denganku. Aku sangat menikmati hidupku sekarang. Kalau kamu ingin bercerai, beri tahu aku." Zelle menepis tangan Brandon.


Kulitnya yang lembut menjadi merah karena pegangan dari Brandon.


"Cerai? Zelle, kamu sangat tidak masuk akal. Kenapa aku harus menceraikanmu?" Melihat Zelle tidak mengikutinya, Brandon mengangkatnya kebahunya.


"Lepaskan aku! Brandon, bajingan." Zelle terus saja berteriak, sehingga menarik perhatian semua orang di jalan.


Brandon mengabaikan teriakannya dan membawanya ke pinggir jalan. Mobilnya terparkir disana. Dia menjejalkan Zelle masuk ke dalam mobil dan mengunci pintu mobil. Sopir pun menjalankan mobil menuju kembali ke Mansion.


Di dalam mobil, Zelle menyerah pasrah. Dia tidak bisa melarikan diri sekarang, dan mobil itu membuatnya semakin sulit melarikan diri.


Sikap diam Zelle membuat Brandon marah. Dia meletakkan partisi di kursi belakang. Saat Zelle hendak bertanya apa yang dia lakukan, Brandon pun langsung menyambar bibirnya.


Kerinduan yang menumpuk dalam hatinya selama beberapa bulan terakhir ini semua berubah menjadi ciuman dan ******* mesra. Brandon merasa tidak pernah puas dan sangat agresif, dia menekan Zelle ke kursi dan merebahkan tubuhnya.


Berciuman saja tidak cukup. Tangan Brandon menelusup ke dalam pakaian Zelle dan mencari bagian sensitif tubuhnya, tubuh Zelle gemetar merasakan gelenyar aneh yang membuatnya merasa panas.


Namun, kedua tangannya dipegang oleh Brandon, sehingga Zelle tidak bisa menolak sama sekali.


Zelle merasakan tubuhnya mulai memanas, dia tidak mau bercinta didalam mobil.


Zelle merasa sangat malu dan air mata mengalir di pipinya.


Brandon yang merasakan air matanya, kemudian memindahkan bibirnya dari bibir Zelle ke pipinya yang basah.


"Zelle, jangan pernah tinggalkan aku, hm? Jangan tinggalkan aku," bisiknya di telinga Zelle.


Sang sopir sudah melewati beberapa jalan dan tikungan, dan tidak tahu kapan dia bisa berhenti. Dia tidak bisa membuat keputusan tanpa persetujuan Brandon.


"Brandon, biarkan aku pergi," kata Zelle kepada Brandon dengan air mata yang berlinang.

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2