
Setelah Zelle mendengar Jawaban Audy, dia tidak mengatakan apa-apa lagi Semuanya sudah jelas sekarang. Bayinya sudah tiada, tapi Brandon pergi bersama Prilly untuk bersenang-senang. Keduanya adalah monster yang sangat kejam!
Melihat sup ayam itu, Zelle jadi ingin melahapnya. Mengapa dia harus begitu tertekan sementara mereka bahagia di luar sana?
"Ayah, berikan aku sup ayam itu. Aku ingin memakannya." Zelle menunjuk sup ayam itu dan berkata kepada Jaster.
๐๐๐
"Ezra, aku mau jalan-jalan, kamu tidak perlu menyuruh sopir untuk mengikutiku. Ayahku sudah lama tidak kembali, dan aku akan pergi bersamanya." Zelle memberi tahu Ezra. Dia membawa tasnya, mengenakan T-shirt putih biasa dan celana jeans serta sepatu kanvas putih. Dia tampak seperti anak SMA.
"Baiklah kalau begitu, apa kamu akan pulang nanti untuk makan malam?" Ezra setuju. Brandon memintanya untuk mencoba yang terbaik untuk memenuhi permintaan apa pun yang diminta Zelle. Permintaan ini terlalu sederhana.
"Kalau nanti kami pulang, aku akan meneleponmu. Tapi, kalau aku tidak menelepon, maka kamu tidak perlu menyiapkan makan malam untuk kami." Ujar Zelle sambil tersenyum.
"Oh baiklah." Ezra pun pergi dan menyibukkan diri.
Zelle pergi dengan Jaster
"Ayah, kamu tidak bisa selalu tinggal di rumah menantumu. Aku telah menyewa apartemen untuk ayah. Persyaratan sewanya adalah ayah harus merawat dan membersihkannya, hanya itu dan tidak ada lagi yang lain." Setelah pergi, Zelle berkata kepada Jaster
"Itu masuk akal. Ayah sudah lama ingin menyewa rumah. Namun, kamu selalu sibuk, dan ayah tidak bebas. Ayah tidak menyangka kamu akan menyewakannya untukku. Ternyata Zelleku sudah dewasa, dan telah sangat bijaksana sekarang." Meski rumah Brandon luas dan mewah, tapi Jaster selalu merasa tidak pantas tinggal di sana.
"Kalau begitu aku akan membawa ayah hari ini kerumah itu. Ini kuncinya." Zelle dan Jaster pergi kerumah kontrakan.
"Zelle, apartemen yang kamu sewa ini sangat luar biasa.Tapi dengan kondisi sebagus ini, pasti harganya sangat mahal, kan?" Jaster sangat puas dengan rumah itu.
"Ayah, jangan khawatir. Pemilik apartemen ini tidak akan kembali untuk saat ini. Menantumu sangat kaya, jadi tentu saja aku bisa menyewakan rumah yang lebih baik untukmu. Saat waktunya tiba nanti, aku akan membelikannya untukmu." Zelle mengajak Jaster berkeliling rumah.
__ADS_1
Zelle berencana bahwa dalam beberapa tahun ini, dia akan mengambil lebih banyak pekerjaan, menabung, dan membeli rumah untuk ayahnya. Dia sudah menyewa rumah ini selama beberapa tahun kedepan, waktu selama itu bisa dia gunakan untuk mengumpulkan uang.
"Zelle, ayah sudah mengecewakanmu. Seharusnya, ayahlah yang memberimu kehidupan yang lebih baik, tapi sekarang, malah kamu yang melakukannya untukku." Jaster merasa bersalah dan kasihan pada Zelle
"Ayah, apa yang kamu bicarakan? Ayah sudah membesarkanku dan aku sudah lebih dari 24 tahun. Jadi sudah waktunya aku merawatmu sekarang." Mata Zelle berkaca-kaca.
Selama dua puluh empat tahun ini, Jaster sangat baik pada Zelle. Dia adalah ayah sekaligus ibu, dan dia juga harus mengembangkan karirnya sendiri. Dia selalu menolak untuk menikah lagi dan dia tidak mau Zelle memiliki ibu tiri. Dia bilang kalau dia takut Zelle akan menderita.
"Anak yang baik." Jaster memegang tangan putrinya. Perasaannya campur aduk sekarang, tetapi dia tidak bisa mengungkapkannya kepada Zelle.
"Ayah, kebetulan Brandon pergi untuk urusan bisnisnya. Jadi aku bisa menghabiskan lebih banyak waktu denganmu. Aku akan tinggal di sini juga. Kita bisa berbicara dengan bebas sekarang. Saat, di mansion aku selalu merasa tidak nyaman." Zelle duduk dikursi goyang dan memandangi langit biru di luar jendela. Rasa sedih dihatinya sedikit mereda.
****
"Ezra, apa katamu? Zelle dan Jaster sama-sama menghilang?" Sudah lebih dari sebulan semenjak kepergian Zelle dan ayahnya, Ezra akhirnya menghubungi Brandon dan segera melaporkan keadaan disana kepadanya.
'Aku meneleponmu saat itu tapi kau malah mematikan teleponmu. Apa yang sedang kamu lakukan sebenarnya?' Ezra tidak berani mengatakannya, dia hanya mengeluh di dalam hatinya.
"Baiklah, aku mengerti." Brandon menutup telepon dia juga meminta seseorang untuk memesan tiket pesawat untuk pulang.
"Brandon, apa yang terjadi?" Prilly berbaring di ranjang rumah sakit dan menatap wajah cemas Brandon. Tentu saja, dia tahu apa yang telah terjadi.
"Prilly, hubungan kita sudah berakhir. Operasinya sudah selesai. Kewajibanku sudah terpenuhi. Kuharap kau ingat apa yang kau katakan sebelumnya." Ucap Brandon dengan wajah tegas
โBrandon, bagaimana kamu bisa berbicara seperti itu, apalagi saat aku masih terbaring di rumah sakit seperti ini? Bukankah kakiku sakit karena mu?" Prilly mulai menangis.
Air matanya membuat Brandon semakin kesal. Dia tidak tahu ke mana Zelle pergi. Dia pasti sangat marah, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Demi mengakhiri hubungannya dengan Prilly untuk selamanya, dia harus melakukan ini.
__ADS_1
"Prilly, dengar, aku sudah di sini bersamamu selama dua bulan. Kamu menyuruhku mematikan ponselku dan menghabiskan dua bulan ini bersamamu. Dan aku sudah melakukannya. Kuharap kamu tidak mengingkari janjimu. Hanya ada dua hari sebelum dua bulan. Aku harus pergi." Brandon merasa dia tidak bisa tinggal lebih lama lagi.
"Kamu bilang masih ada dua hari lagi. Saat itu, kita sepakat kalau kamu akan bersama ku dua bulan penuh. Kamu tidak bisa pergi Brandon, masih ada dua hari lagi, sebelum dua bulan." Prilly terisak lagi, dan Brandon merasa akan gila mendengarnya. Dia benar-benar ingin pergi dari sana.
Baiklah, masih ada dua hari lagi. Tunggu saja. Brandon menelepon Ezra dan berkata bahwa dia akan kembali dalam dua hari lagi dan meminta Ezra untuk terus mencari keberadaan Zelle
Ezra tidak punya pilihan lain. Dia berhasil memberitahu Brandon tentang apa yang terjadi, tetapi Brandon malah tidak mau kembali sekarang. Dia sudah mencari kesemua tempat ke mana menurutnya Zelle akan pergi, termasuk Rumah Vela.
Malah, Vela bertanya mengapa dia datang ke rumahnya, dan pada akhirnya dia hanya bisa mengatakan kalau Zelle hilang.
Saat Ezra mencari Zelle diseluruh kota B, dia merasa seolah Zelle menghilang dari dunia tanpa jejak.
Tapi nyatanya, Zelle selalu keluar seminggu sekali. Dia memberi tahu Jaster kalau dia akan pulang kekediaman Brandon. Kemudian, dia akan kembali tepat saat sore hari. Jaster tidak meragukannya. Dia pikir, Zelle punya hak atas semua itu. Dia sangat senang karena Zelle akan menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya.
Vela tidak datang untuk mencari Zelle karena Zelle sudah meninggalkan pesan untuk nya kalau dia menyuruhnya untuk tidak mencarinya atau bertanya kemana dia pergi. Dia baik-baik saja dan tidak perlu mengkhawatirkannya.
Meskipun Vela tidak pergi mencari Zelle, dia masih sedikit khawatir. Dia tidak tahu ke mana Zelle pergi, jadi Vela pergi menemui Mark.
Mark terlihat cukup tenang.
"Zelle bukan lagi anak kecil. Dia pasti punya alasan melakukan semua ini. Dia baru saja keguguran, tapi suaminya malah pergi dengan wanita lain. Apa yang akan kamu lakukan kalau kamu jadi dia?" Mark meletakkan dokumen-dokumennya di atas meja dan bertanya pada Vela
"Aku? Aku mungkin akan membuat pilihan yang sama."
"Karena Brandon tidak mencintainya lagi, mengapa mereka masih bersama? Buang-buang waktu saja!" Vela berpikir sejenak dan memahami keputusan Zelle
"Berarti, Brandon tidak mencintai Zelle. Kalau tidak, dia tidak akan melakukan ini. Zelle mungkin ingin menghibur dirinya, jadi kita tidak perlu mengganggunya. Vela, tetaplah di rumah. Kamu tidak boleh pergi kemana pun!"
__ADS_1
Bersambung.............