
Mereka melanjutkan berbelanja. Afina memborong semuanya. Mereka berdua pun pergi membayar belanjaannya.
"Permisi, Nyonya Dharmendra dan Nona Zelle, tagihan kalian sudah dibayar," kata kasir dengan sopan kepada mereka.
"Apa?" Afina sangat terkejut. Dia melihat sekelilingnya, dia tidak melihat siapa pun yang dia kenal.
"Nyonya Wade sudah membayar tagihannya. Nyonya Dharmendra, Nona Zelle, izinkan saya membantu kalian untuk membawakan barang-barang ini." Pramuniaga dengan antusias membantu mereka mengeluarkan barang-barang mereka.
🍀🍀🍀
"Nyonya Wade sangat murah hati ya. Dia bahkan mau membayar tagihan kita. Aku merasa berkewajiban untuk mentraktirnya makan malam suatu hari nanti. Tapi kudengar dia jarang mau menerima undangan makan malam." Dalam perjalanan pulang, Afina bergumam di dalam mobil.
"Baiklah, Mom, mengapa kita tidak membelikan dia sesuatu saja dan mengunjunginya untuk mengungkapkan rasa terima kasih kita?" Zelle juga merasa bahwa Ny. Wade sangat baik hati, tetapi menurutnya itu mungkin ada hubungannya dengan kerja sama antara Wade Group dan Gweneth Group
Ketika mereka tiba di Mansion, Afina meminta para pelayan untuk membawakan barang-barang yang dibelinya untuk Zelle. Kemudian dia melihat ternyata ada banyak barang yang dibelikan Ny. Wade di bagasi.
"Apa pramuniaga itu melakukan kesalahan? Mengapa dia memasukkan barang-barang Nyonya Wade ke dalam mobil kita?" Mereka ada di sana saat Nyonya Wade membeli barang-barang itu.
"Mom, ada kartu." Zelle melihat kartu di dalamnya.
"Untuk Zelle tersayang. Kuharap kau akan menyukainya." Tulisan tangannya sangat anggun.
"Jadi Nyonya Wade memberikannya padamu sebagai hadiah. Mommy paham sekarang, mungkin karena wajah mu yang imut membuat dia tertarik padamu. Cara dia memandang mu juga beda, penuh dengan kasih sayang." Afina merasa sangat senang kalau Zelle disenangi oleh banyak orang
Hanya Zelle yang merasa aneh. Di pesta itu, hadiah misterius Tuan Charlie sangat membuat dia terkejut. Sekarang istri dari Tuan Charlie pun memberinya begitu banyak hadiah. Zelle merasa begitu beruntung.
Afina akan kembali ke rumah utamanya. Dia masih harus mengatur makan malam untuk kakek Deon.
"Zelle, Mommy akan pulang. Setelah aku berhasil membujuk Brandon nanti , kamu bisa tinggal bersamaku. Betapa senangnya kita bisa bersama!" Sebenarnya Afina sangat enggan pergi.
Zelle tidak menganggapnya serius. Dia tidak pernah berencana untuk tinggal di rumah utama Dharmendra
Setelah mengemasi barang-barangnya, Zelle menelepon Vela dan Audy. Mereka sudah siap untuk pulang kerja dan akan datang sebentar lagi.
Zelle kemudian menelepon Mark. Dia menantikan makan malam dan bercanda bersama mereka. Bahkan Zelle rela melewatkan sarapannya hanya demi makan bersama teman-teman nya.
__ADS_1
Zelle tersenyum. Mark mungkin bersikap dingin terhadap orang lain, tetapi dia selalu bersikap baik kepada mereka.
Zelle memakai rok biru sederhana, memperlihatkan kulitnya yang lembut.
Dia selalu menyukai warna-warna cerah. Dengan pakaian berwarna cerah, dia akan terlihat bahagia
Sebelum dia akan pergi, Zelle memberitahu Ezra terlebih dahulu bahwa dia tidak akan makan malam di rumah.
Ezra tersenyum dan mengangguk. Dia melihat mobil Brandon terpakir diperkarangan Mansion. Mungkin mereka akan berkencan. Pikir Ezra.
Saat Zelle keluar, dia juga melihat mobil Brandon. Detik berikutnya, dia mempercepat langkahnya untuk menghindar dari Brandon
Saat dia melewati mobil, Zelle melihat sepasang sepatu kulit mengkilap dan sepasang kaki ramping. Ternyata Brandon bersandar dimobil sedang menatap nya.
Zelle kemudian mendongak dan tersenyum pada Brandon
"Tuan Brandon, apakah Anda sedang menunggu seseorang?"
"Ya." Brandon mendengus. Dia tahu kalau Zelle ingin bersembunyi darinya, tetapi Brandon tidak mengatakan apa pun.
Sebelum Zelle melangkah, Brandon sudah mencengkeram lengannya.
"Zelle, kamu bilang kamu akan mentraktirku makan malam kemarin saat kamu memenangkan hadiah itu. Aku sedang menunggu janji mu. Apa kamu lupa?" Brandon menarik Zelle ke arahnya.
Zelle tidak menyangka kalau Brandon akan menanggapi ucapan asalnya dengan begitu serius. Dia bahkan memintanya untuk mentraktirnya makan malam. Tapi, benar yang Brandon katakan, dia baru saja mendapatkan lima ratus ribu.
"Tidak, tidak. Bagaimana lain kali saja? Aku sudah membuat janji dengan teman-teman ku hari ini." Zelle tergagap. Dia bisa saja mentraktir Brandon, tetapi dia tidak ingin membawanya menemui teman-temannya. Itu akan terlalu memalukan.
"Itu bagus. Ayo pergi bersama." Brandon langsung memasukkan Zelle ke dalam mobilnya
"Tuan Brandon, ini bukan waktu yang tepat untuk Anda hari ini." Zelle merasa cemas. Brandon terlalu mendominasi.
"Kenapa?" Brandon memasang wajah muram. Apakah dia begitu jelek sehingga Zelle menolak untuk membawanya menemui teman-temannya?
"Kami akan nongkrong di warung makan biasa hari ini. Itu sangat tidak cocok untukmu. Apa lagi kamu memakai setelan jas. Apa tidak akan canggung duduk di sana?" Melihat Brandon yang terlihat sedikit marah, Zelle buru-buru menjelaskan kepadanya.
__ADS_1
"Oke!" Brandon tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia berpikir sejenak dan menarik Zelle keluar dan ke dalam rumah.
"Tunggu sebentar. Aku akan segera kembali." Brandon buru-buru pergi ke kamarnya.
Dengan secepat Kilat, Brandon keluar dengan kaos biru muda dan celana panjang berwarna putih. Dalam balutan busana casual tersebut, Brandon yang berusia 29 tahun terlihat semuda mahasiswa.
"Ayo pergi." Brandon menarik Zelle kembali ke mobil. Keduanya mengenakan pakaian berwarna biru muda. Entah disengaja atau tidak oleh Brandon, mereka terlihat seperti cute couple yang sangat serasi.
Zelle tidak bermaksud meminta Brandon untuk mengganti pakaiannya. Dia hanya menggunakan itu sebagai alasan untuk menghentikannya agar dia tidak jadi ikut bersamanya. Namun, dalam keadaan ini, dia tidak punya alasan lagi untuk menolaknya
"Kemana kita akan pergi?" Brandon bertanya dengan suasana hati yang baik.
"Gray's Restaurant of Crayfish." Zelle merasa tertekan. Jika teman-temannya melihat Brandon, bukankah itu sangat memalukan?
Selama perjalanan, Zelle hanya diam dengan pikiran yang entah kemana, hingga mereka sampai ke tempat tujuan yang dimaksud. Dari kejauhan, Zelle bisa melihat Vela dan Audy baru keluar dari taksi.
"Pergilah. Aku akan memarkir mobil dulu." Brandon juga melihat kedatangan mereka, jadi dia meminta Zelle untuk bertemu teman-temannya terlebih dahulu
Setelah meninggalkan Brandon, Zelle menarik napas dalam-dalam. Dia merasa sangat tercekik saat di dalam mobil barusan.
"Zelle, kemarilah. Meja ini bagus." Vela tidak melihat mobil Brandon tetapi hanya melihat keberadaan Zelle.
"Baiklah, aku akan datang." Zelle berjalan mendekat, bertanya-tanya bagaimana cara dia memberi tahu mereka bahwa dia telah membawa Brandon bersamanya.
"Zelle, Vela, Audy, kalian datang cepat sekali. Apa aku yang terlambat?" Mark juga datang. Hari ini, dia mengenakan setelan kasual abu-abu, terlihat keren dan tampan. Dia mampu menarik perhatian semua orang.
Bahkan gadis-gadis yang lewat tersenyum padanya dengan penuh kekaguman.
"Ayo duduk di sini. Sudah ada empat kursi, sangat pas dengan kita." Vela menunjuk ke meja.
"Satu lagi. Maksud ku, kita butuh satu kursi lagi," kata Zelle buru-buru. Jika Brandon datang dan melihat kalau dia tidak memiliki tempat duduk, dia pasti akan marah.
"Satu lagi?" Vela dan Audy bertanya serempak.
"Ya, untuk kakakmu" Ketika Zelle mengatakan nya, dia menjadi tersipu.
__ADS_1
Bersambung.........