
" Iya, tapi masalah nya, aku masih harus bekerja sekarang, aku tidak punya waktu menunggu bunga ini mekar." Zelle Sebenarnya ingin membantu, tapi pekerjaan nya belum selesai. Ini masih jam kerja.
" Jangan khawatir Nona. Saya sudah meminta cuti beberapa hari untuk Nona. Selesai ini, nona bisa kembali ke kantor." Jawab Ezra sambil memberi kamera.
🍃🍃🍃
' Hari libur hanya untuk sekuntum bunga? Bukankah terlalu berharga? 'pikir Zelle
Tapi Zelle tidak mengatakan apa-apa. Akan lebih baik jika dia bisa beristirahat selama beberapa hari. Bagaimanapun, Zelle masih merasakan sakit di tangannya. Palingan bulan ini gajinya yang berkurang.
'Baru beberapa hari sejak aku bergabung dengan perusahaan. Sekarang aku malah meminta cuti. Berbicara tentang presiden mesum sialan itu, ya Tuhan, apa yang akan dia lakukan padaku? Sudahlah. Bukan masalah besar. Paling tidak, pekerjaanku berubah dari karyawan kantor ke tukang bunga. tak apa, yang penting cuan ngalir.' pikir Zelle
Zelle mengambil kamera dari Ezra, dan duduk di samping bunga, menunggu. Zelle tidak tahu persis jenis bunga apa itu, tapi hanya melihat kuncup merah muda di daunnya yang hijau.
Sangat menarik untuk mengamati kuncup tumbuh dan kemudian mekar. Zelle tidak pernah melakukan ini selama 24 tahun umurnya. Sungguh menakjubkan.
****
"Nona, ini obat untukmu. Saya melihat tanganmu saat makan siang tadi. Apa yang terjadi?" kata Ezra
"Aku baik-baik saja. Terima kasih banyak, Ezra." Zelle mengambil obatnya , dan melihat banyak tulisan dalam bahasa Prancis. Sepertinya itu tidak di beli dari apotek umum.
Karena bosan menunggu, Zelle tertidur disofa. Jika bukan karena panggilan dari Vela, dia pasti sudah tidur sampai larut malam.
"Zelle, aku bertemu seorang pria bajingan di kantor. Si brengsek itu membuatku kesal! Aku datang untuk mencarimu, tapi mereka bilang kamu sudah cuti. Apa yang terjadi? Apa kamu baik-baik saja?" kata Vela, bertanya bertubi-tubi, sehingga Zelle tidak punya waktu untuk menjawab.
"Aku... aku tidak tahu harus mulai dari mana. Aku tidak akan bekerja selama beberapa hari ini. Aku ada sedikit masalah." Zelle bahkan tidak tahu harus berkata apa pada Vela.
"Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku? Katakan padaku agar aku bisa membantumu menyelesaikannya." Vela sebenarnya merasa ada yang salah dengan Zelle.
"Aku akan memberitahumu semuanya nanti pada waktu yang tepat, bukan sekarang." jawab Zelle. Dia ingin memberi tahu Vela semuanya, tapi dia merasa dia tidak memiliki kebebasan sekarang, dia seperti tawanan.
" Baiklah, aku akan menunggu waktu itu tiba. Nanti kita pergi ke restoran lobster yang biasa kita kunjungi. Aku kangen banget!" Vela berusaha membuat Zelle lebih bahagia.
Setelah menutup telepon, mereka berdua menghela nafas.
__ADS_1
Zelle pergi tidur lebih awal setelah menyelesaikan makan malam. Suasana hatinya sedang kacau sekarang. Dia tidak memiliki energi untuk melakukan apa pun. Larut malam, dengan nyanyian jangkrik dan angin sejuk, membuat Zelle tidur dengan nyenyak.
Tak lama kemudian, pintu kamar dibuka, Brandon masuk.
Melihat tangan Zelle di dahinya, Brandon menurunkannya dengan lembut. Lepuhnya sudah berkurang, tinggal warna kemerahan.
Brandon mengambil sebuah kotak kecil dari sakunya, dia meletakkan tangannya di kaki Zelle, mengoleskan salep hati-hati ke tangan Zelle. Salep dingin membuat Zelle begitu nyaman, dan kemudian tanpa sengaja kakinya mengenai piton Brandon.
"Gadis nakal." Kata Brandon sambil meletakkan kaki Zelle kembali ketempat tidur. Namun, Brandon merasakan panas dikaki Zelle, Brandon memeriksa suhu tubuh Zelle. Brandon meletakkan tangannya di dahi Zelle.
'Tidak heran Zelle tidur begitu nyenyak. Ternyata dia demam.'
Brandon meminta Ezra untuk memanggil dokter.
Dokter pun datang dan memeriksa Zelle.
"Tuan, sepertinya nona demam karena angin dingin dan suasana hatinya yang buruk yang dia alami akhir-akhir ini." Kata dokter.
"Sembuhkan dia segera." Brandon berkata dengan sangat cemas sehingga dia tidak menyadarinya.
Dokter segera menyuntik Zelle, dan hendak menyeka tubuh Zelle dengan alkohol. "Biarkan aku melakukannya. Kamu keluar." Brandon menghentikannya. Mereka melihat Brandon dan kemudian keluar diam-diam.
Ketika Zelle bangun lagi, dia merasa tenang dan segar. Zelle tidur sangat nyenyak tadi malam. Dia merasakan sedikit rasa sakit ditangannya, yang mulai kering dan bersih, tidak seperti kemarin yang terlihat lengket.
Zelle membersihkan diri dan berpakaian, kemudian membereskan kamar ya, menarik tirai. Sinar matahari masuk menambah kehangatan.
Dalam sekejap, perutnya keroncongan. Dia lapar sekarang.
"Pagi, Ezra" Zelle menyapa.
"Eh... Selamat pagi, Nona." Ezra berpikir sejenak dan berkata.Tapi sekarang sudah jam 4 sore. Pagi apanya?
"Aku sangat lapar. Apa ada makanan?" Zelle mengusap perutnya.
"Tentu, Nona. Silakan duduk. Saya akan mengambilkan makanan. Segera, Ezra membawakannya bubur, dan beberapa sayuran. Zelle tidak berselera untuk memakannya.
__ADS_1
"Aku mau daging, Ezra." Dia tidak akan makan.
"Tidak, kamu sakit sepanjang malam, kata dokter kamu hanya bisa makan makanan biasa," kata Ezra
Zelle menatap Ezra dengan wajah sedih. "Apa aku demam? Mengapa aku tidak tahu apa-apa? Siapa yang merawat ku tadi malam?" Zelle berpikir sendiri.
"Kamu hanya bisa makan ini" Ezra sama sekali tidak menerima negosiasi.
Zelle dengan enggan memakan buburnya, dia baru menyadari kalau hari sudah menjelang sore. "Sial, aku harus menunggu sampai bunganya mekar." Zelle ingin mati saja rasanya.
Zelle bergegas ke atas untuk mengambil kameranya dan kemudian ke taman, senang melihat kuncupnya belum mekar.
"Nona, Anda tidak perlu menunggu disini hari ini. Anda baru saja sembuh, kalau tidak...?" Ezra belum menyelesaikan kalimatnya, Zelle sudah berlari ke taman. Ezra buru-buru mengejarnya untuk kembali ke rumah. Dia tidak ingin Zelle sakit lagi, kalau tidak Brandon akan sangat marah padanya.
Zelle mengira suaminya dalam keadaan sehat meski dia sibuk bekerja.
"Hmm, tidak apa-apa, mungkin butuh berhari-hari untuk mekar. Kesehatan yang utama, nona." Ezra terbatuk. Ia tidak menyangka Zelle tidak bisa membedakan bunga asli dan palsu.
" Ezra, bolehkah aku berjalan sendiri? Kamu tidak perlu mengikutiku." Zelle tahu Ezra adalah assistant dari Brandon, jadi, dia bertanya dengan hati-hati.
"Ya, tentu saja, Nona. Kamu boleh pergi kemanapun yang kamu mau. Saya akan menjemputmu karena tuan ingin melindungimu." Ezra mengira perilakunya mungkin membuat Zelle salah paham. Zelle adalah istri Tuannya, bukan tahanan. Mereka hanya ingin menjamin keselamatannya saja.
Zelle yang mendengarnya, sangat senang. Zelle pikir suaminya yang jelek, takut kalau Zelle akan menjauh darinya, jadi, dia menugaskan Ezra untuk memantaunya.
Benarkah, suaminya yang jelek mengkhawatirkannya? Sungguh pria yang bijaksana.
" Baiklah, itu sangat menyenangkan. Aku ingin jalan-jalan sendiri malam ini. Aku akan kembali pukul 22:00. Kamu tak perlu menjemput ku, aku naik taksi saja.
" Baiklah, nona. kalau begitu saya tidak akan menyiapkan makan malam Anda. Oh, tolong ambil ini, Nona." kata Ezra menyodorkan kartu hitam ke Zelle
"Apa ini?" Zelle melihat kartu yang merupakan kartu bank vip.
"Itu adalah uang saku yang Tuan berikan kepada Anda, Nona. 100 juta untuk sebulan.Tidak banyak. Lebih baik jangan marah sekarang. Selama Tuan senang, dia akan memberi Anda lebih banyak."
"Apa? 100 juta?" Zelle terkejut.
__ADS_1
"Tuan berkata jika nona tidak mengambilnya, Maka Nona tidak diizinkan keluar." Lanjut Ezra dengan cepat saat melihat kartu bank di tangan Zelle hampir jatuh.
Zelle terbengong, lalu memasukkan kartu itu ke dalam dompetnya. Zelle ingin bertemu Vela. Dan menceritakan semuanya padanya.