
Liam yang menyadari ternyata, wanita yang berada dalam dekapan nya adalah mantan istrinya. Dia tersenyum puas. Liam memandang Zelle sebentar, kemudian dia celingak celinguk ke kiri dan kekanan, untuk memastikan tidak ada orang disana.
Kemudian Liam menggendong tubuh Zelle dengan lembut lalu membawanya pergi.
๐ผ๐ผ๐ผ
Liam membawa Zelle ke sebuah ruangan tanpa ada orang di dalamnya. Liam membaringkan tubuh Zelle di sebuah tempat tidur, lalu kemudian, dia mengunci pintunya.
Melihat wajah Zelle yang begitu cantik, buah dada yang padat berisi, serta kaki dan pinggang yang ramping, Liam merasa sudah menyia-nyiakan waktu selama tiga tahun bersama Zelle. Liam menyesal sudah melepaskan Zelle begitu saja, tanpa menyicipinya lebih dulu. Bodoh.
Selama ini, Liam hanya fokus untuk menghancurkan Lovata Group, belum lagi, Elea selalu mengganggunya, sehingga dia tidak punya waktu bersama Zelle. Rencana yang diinginkannya sekarang telah berhasil, Lovata Group telah bangkrut. Liam sangat hebat bukan?
Melihat tubuh Zelle yang begitu membuat dada nya naik turun, Liam tidak akan menunda waktu lagi untuk melakukan sesuatu yang lebih pada Zelle.
Liam mulai membungkuk dan mencium pipi Zelle, merasakan kulitnya yang begitu lembut dan sangat halus. Membuat tubuh Liam bergetar menahan hasratnya yang mulai bangkit.
Zelle merasakan sentuhan pada tubuhnya, Zelle pikir dia sedang bermimpi, dimana dia sedang dijilati seekor kucing di wajahnya. Lalu tanpa sadar Zelle berkata, "Ih, Kitty, jangan, geli." Bisik Zelle. Dia mengira itu adalah kucing kesayangan nya.
Liam sudah tidak bisa menahan diri lagi. Dengan rakus nya dia menciumi tubuh Zelle. Dari wajah, telinga, leher dan bahkan turun ke dadanya.
Sentuhan yang diberikan Liam, membangunkan Zelle. Saat, dia membuka matanya, dia melihat Liam, detik berikutnya, Zelle pun berteriak kencang.
"Zelle, aku tahu kamu tidak bisa melupakanku. Sekarang kamu ada di sini bersamaku, aku akan membuatmu puas," kata Liam. Dia mulai melepaskan pakaiannya, lalu beralih melepaskan pakaian Zelle.
"Keluar, brengsek!" Zelle benar-benar sadar, berusaha melarikan diri.
"Jangan bohong padaku, Zelle. Aku tahu kamu tidak bisa melupakanku, jadi, kita akan bersenang-senang disini. Aku juga tidak bisa melupakanmu, Zelle. Buka saja pakaian mu." Liam merobek pakaian Zelle sehingga buah dada Zelle menyembul keluar. Melihat pemandangan indah itu, Liam semakin bersemangat. Tangannya mulai bergerilya membelai bokong Zelle.
Zelle terlalu lemah untuk melawan, separuh pakaian nya sudah terlepas, tubuhnya hampir polos.
Zelle merasa terhina dengan perbuatan Liam, dia hanya bisa menangis. Jika, suaminya tahu, pasti dia akan jijik. Mengapa nasibnya begitu malang?
Melihat Zelle berhenti melawan, Liam melepas celananya.
Tiba-tiba pintu di dobrak oleh seseorang.
BRAKK
__ADS_1
Brandon menerobos masuk bersama Mark, dan langsung menarik kerah baju Liam dan memukulnya membabi buta. Brandon melepaskan jasnya, menutupi tubuh Zelle, lalu mengangkatnya pergi keluar dari sana.
"Jangan sentuh aku. Jangan!." Zelle ketakutan.
"Tuan Brandon, biarkan saya saja yang menangani ini. Saya sangat menyesal tidak bisa menjaga Zelle" kata Mark
Brandon tidak mendengarkan apa yang dikatakan Mark. Dia membawa Zelle keluar dari sana meskipun tubuhnya ikut gemetar menyaksikan kejadian ini. Brandon hanya ingin melindungi kelinci kecil yang gemetar di pelukannya.
"Kalau mau nangis, nangis saja, jangan ditahan begitu." kata Brandon cemas. Tapi, setelah Zelle tahu siapa yang memeluknya, dia malah takut, sehingga dia menahan tangisnya, sampai tersendat-sendat.
Dalam perjalanan, Zelle tertidur dalam pelukan Brandon. Terlihat raut wajah lelah dan ketakutan nya.
Mereka telah sampai di Mansion. Ezra yang melihat bosnya menggendong Zelle, dia mengurungkan niatnya untuk bertanya. Brandon meletakkan tubuh Zelle di kasurnya.
Saat Brandon hendak pergi, Ezra bertanya, "Tuan, apa Anda akan pergi malam ini? Sepertinya nona tidak sehat."
"Dia tidak selemah itu. Dia akan baik-baik saja. Panggil saja dokter. Aku tidak akan kembali selama beberapa hari." Brandon pergi tanpa menoleh ke belakang.
Ezra menghela napas. Apa yang terjadi pada Zelle? Apakah mereka bertengkar? Sepertinya ada hal lain. Baiklah, dia tidak akan pernah tahu apa yang dipikirkan Brandon. Sebaiknya dia menjaga Zelle.
Zelle tidak makan apa-apa. Satu-satunya hal yang ingin dia lakukan adalah mandi. Dia perlu membasuh seluruh tubuhnya. Ezra mengkhawatirkannya. Dia meminta seorang pelayan untuk menemani Zelle, tapi Zelle mengabaikannya.
Apa tuan tidak mencintai Nona lagi?
Selama 4 hari, Brandon tidak ada di rumah. Zelle juga tidak pergi bekerja. Dia hanya melamun dengan tatapan kosong.
Akhirnya di hari ke-5, seseorang datang menemuinya.
"Apa itu Zelle?"
"Ya, itu nona Zelle." kata Ezra kepada Afina
"Aku dengar dia sedang tidak sehat, jadi aku kesini untuk melihat keadaan nya." kata Afina
Afina perlahan berjalan mengahmpiri Zelle, dia duduk di sampingnya.
Zelle melihatnya, dia berbalik, dengan buah jatuh dari tangannya.
__ADS_1
"Mama?" panggil Zelle
"Iya" Afina tidak berharap Zelle tahu siapa dirinya. Lagi pula, ini adalah pertama kalinya mereka bertemu satu sama lain. Bagaimana bisa dia mengetahuinya?
"Ma, apa ini benar-benar mama? Aku sangat merindukanmu." Selama lima hari dia diam. Sekarang dia akhirnya berbicara. Dia menangis di pelukan Afina.
'Wanita yang sangat cantik, Brandon beruntung memiliki mu' Puji Afina.
"Sayang, jangan menangis. Mama di sini." Afina menyeka air mata di wajah Zelle dengan tangannya.
"Ma, jangan tinggalkan aku." Zelle memegang tangannya begitu erat, melihat nya dengan mata berkaca-kaca. Hati Afina seketika meleleh.
***
Tidak semudah itu untuk melunakkan hati Afina. Tapi mendengar kata-kata Zelle, Afina tiba-tiba menunjukkan empatinya, merasa seperti Zelle adalah anaknya sendiri. Zelle menangis tersedu-sedu dalam pelukannya. Dia merasa lega dari semua kebencian dalam hatinya. Pikirannya kembali jernih.
Tiba-tiba Zelle menghentikan tangisannya. Dia merasa ada yang ganjal. Kemudian dia mendongak menatap orang yang memeluknya.
"Maaf, Madam. Saya salah orang. Saya kira anda mama saya." Zelle kembali duduk tegak.
Zelle melepaskan diri dari pelukan Afina. Sedangkan, Afina merasa sedih. Dia memiliki anak perempuan satu-satunya, tapi dia tidak pernah memeluk Afina seperti Zelle memeluknya.
Dipeluk oleh seorang gadis seperti Zelle, Afina juga merasa sangat nyaman.
"Tidak masalah. Kamu bisa menganggapku sebagai ibu kandung mu. Jadi, aku akan punya tiga anak. Mulai sekarang panggil aku Mommy, oke?." Afina menatap nya penuh kasih sayang.
Zelle tersenyum malu-malu, tetapi tiba-tiba dia menyadari bahwa wanita elegant di depannya, pasti kerabat pemilik Mansion ini. 'Apakah dia ibu mertuaku?'
Bersambung......
Note :
Hai pembaca setia๐
Jangan lupa ya,
karena Novel ini adalah karya pertama ku, mohon maaf nyak, kalau banyak typo or ceritanya ga nyambung, xixixi
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, comment, vote, dan bintang lima nya juga ya ๐
Love You All ๐ค