Terikat Kontrak CEO Misterius

Terikat Kontrak CEO Misterius
Gelang yang begitu familiar


__ADS_3

Mendengar Afina yang hendak pergi, Prilly buru-buru bersembunyi ke arah samping.


"Attar, ini sudah tiga hari. Apa kamu belum mendapatkan apa-apa?" setelah ibunya pergi, Brandon mengangkat telepon dan langsung mendesak Attar


"Tidak. Aku hanya bertanya pada Vela. Kurasa dia tahu sesuatu karena dia terlihat cukup tenang. Menurutku itu sangat tidak normal." Attar mencari di seluruh kota B tapi tidak dapat menemukan Zelle.


"Kalau begitu mari kita mulai dengan Vela dan gunakan semua caramu yang tidak tahu malu itu untuk membuka mulutnya!"


🍒🍒🍒


"Attar, kamu sudah mengikutiku selama tiga hari. Sudah kubilang aku tidak tahu di mana Zelle." Vela tidak tahu apa yang harus dilakukan nya dengan Attar.


"Aku hanya mengikutimu diam-diam. Aku tidak akan melakukan apapun padamu." Attar telah mengikuti Vela selama ini. Beberapa hari yang lalu, dia bertanya pada Vela di mana Zelle berada. Tapi, Vela bilang kalau dia tidak tahu, dan Attar sekarang tidak bertanya lagi. Dia hanya mengikuti Vela, yang semakin hari semakin membuatnya gila.


"Baguslah, kamu tidak bertanya lagi, tapi tolong jangan ikuti aku!" Vela sedikit kesal dengan Attar.


Attar telah mengikutinya tanpa mengatakan apa-apa. Sehingga rekan-rekannya bertanya apa dia telah menyinggung orang seperti Attar.


"Aku hanya melakukan urusanku sendiri. Bagaimana kamu bisa menuduhku kalau aku sedang mengikutimu?" Attar mulai bertingkah tak tahu malu.


"Kau yakin ingin mengikutiku masuk?" Vela tiba-tiba berhenti. Dia berbalik dan bertanya pada Attar.


Attar mengangkat kepalanya dan dia melihat ternyata mereka sekarang berada di depan toilet wanita. Dia pun segera menggelengkan kepalanya.


"Tidak, tidak. Aku tidak akan masuk. Aku akan berdiri di sini sebentar."


"Terserah!" Vela masuk ke kamar mandi. Jika ada jendela atau sesuatu, mungkin dia akan memanjat untuk keluar. Brandon tidak dapat menemukan Zelle, dan dia pantas mendapatkannya. Tapi, dia tidak tahu mengapa Attar masih saja mengganggunya.


Vela ingin sekali memperingatkan Attar, kalau begini terus, hidupnya tidak akan tenang.

__ADS_1


Setelah memikirkannya, Vela pun keluar dari toilet. Dia menarik tangan Attar membawanya ke suatu tempat yang tanpa ada orang di sekitarnya.


"Attar, aku mau bertanya padamu, ada apa dengan mu? apa kamu disuruh Brandon? Kenapa kamu mau menyusahkan dirimu sendiri?."


"Kamu pikir aku mau melakukannya? Aku tidak punya pilihan lain. Aku ingin tahu sebuah rahasia yang tidak ku ketahui tapi Brandon mengetahui nya. Hanya Brandon yang bisa memberitahuku, jadi, sebagai gantinya, aku harus membantunya. Vela, kamu adalah sahabat Zelle. Bagaimana mungkin kamu tidak tahu di mana dia? Brandon dan Zelle hanyalah salah paham. Bantu aku agar bisa menemukannya!" Attar terus meminta bantuan Vela.


"Kenapa kamu tidak mengerti juga? Zelle tidak mau ada yang menemukannya, jadi dia tidak ada memberitahu siapa pun. Aku tidak tahu di mana dia. Kalau pun aku tahu, menurutmu apa aku akan tetap tinggal di sini tanpa melakukan apa-apa? Kamu sudah lama mengikutiku. Apa kamu pernah melihatku menemuinya?" Pada akhirnya, Vela berkata dengan berteriak pada Attar dengan nada jengkel.


Suaranya sangat keras sehingga, Attar merasa gendang telinganya hampir pecah.


"Kalau begitu katakan padaku, siapa pria yang ada dihatimu itu?" Seperti nya, Vela memang tidak berbohong, dia tidak bisa menemukan Zelle. Sekarang, Attar tida ingin buang-buang waktu lagi, dia langsung menanyakan pertanyaan yang sudah lama dia ingin tanyakan.


"Itu bukan urusanmu. Kau tahu, Attar, lebih baik kamu kembalikan gelangku itu. Kalau tidak, aku tidak akan mau berbicara denganmu lagi." Vela ingin mengancam Attar dengan gelang itu, tetapi setelah dia berpikir sejenak, dia tidak akan bisa menentangnya.


"Aku akan mengembalikannya kepadamu, tapi setelah kamu memberitahuku. Bagaimana? Aku hanya ingin tahu siapa pria itu. Bagaimana dia bisa lebih baik dariku?" Kata Attar dengan jahat. Dia mendekati Vela dan menekannya ke dinding.


"Tuan Attar yang terhormat, kalau Anda benar-benar sudah bosan, Anda bisa menghitung bintang saat malam hari. Saya sangat sibuk, bersama anda hanya membuat waktu ku sia-sia. Minggir, aku harus pergi." Vela mendorong dada Attar agar dia menjauh.


Melihat bibir Vela yang terus saja mengoceh, Attar pikir dia sudah lama sekali tidak menciumnya. Attar menundukkan kepalanya karena adanya dorongan dari dalam hatinya dia tiba-tiba mencium bibir Vela.


Attar menciumnya lagi! Otak Vela mendadak menjadi kosong dan dia seakan lupa cara bernapas.


Sejak Attar menciumnya terakhir kali, dia terus saja mengingat ciumannya setiap malam. Bukankah seharusnya dia membencinya? Tapi kenapa dia tidak benar-benar melakukannya. Dan Vela bahkan merindukan ciumannya. Vela merasa kalau sekarang dirinya sudah gila.


Vela tersadar. Apa yang dia lakukan? Dia seharusnya menolak, namun dia malah menutup matanya seakan menikmati ciuman itu. Detik berikutnya, Vela membuka matanya dan dia ingin melayangkan tinjunya, mengangkat kedua tangannya.


Attar dengan cepat meraih kedua tangannya. Dia tidak bisa berhenti mencium Vela. Bibir Vela seakan sudah menjadi candunya. Attar merasa dia sudah sepenuhnya jatuh cinta padanya.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" Manajer departemen penjualan datang memergoki mereka secara tidak sengaja. Melihat keduanya yang sedang berciuman, Manager itu tertegun. Mengapa mereka melakukan nya diperusahaan? Apalagi mereka berada di departemen penjualannya.

__ADS_1


Saat Attar mendengar suara manager tersebut, Attar langsung menggunakan mantelnya untuk menutupi wajah Vela. Lagi pula, dia memakai seragam, jadi manajer itu tidak akan bisa mengenali siapa dia.


Attar berbalik dan menatap manajer departemen penjualan itu dengan dingin.


"Tuan Chokri? Oh, maaf. Saya tidak melihat apa-apa. Silakan lanjutkan." Melihat bahwa orang tersebut adalah Attar, sang manajer itu buru-buru berbalik dan pergi. Tadi, dia tidak tahu kalau itu Attar. Jika dia tahu, dia tidak akan mengatakan apa-apa. Dia hanya tidak tahu siapa gadis yang beruntung itu.


Setelah manajer itu pergi, Vela menyelipkan kepalanya keluar dari mantel Attar. Dia hampir ketakutan setengah mati, ketahuan oleh manager.


Vela menatap Attar dengan penuh rasa terima kasih. Untungnya, dia menutupi wajahnya. Kalau tidak, mungkin dia akan merasa sangat malu.


Namun, dia tidak berani berada disana lebih lama lagi. Vela pun mendorong dada Attar dan dia buru-buru pergi.


Attar menjilat bibirnya dan tersenyum bahagia. Sepertinya Vela tidak terlalu menolaknya.


Attar mengeluarkan gelang dari sakunya. Dia selalu merasa gelang itu sangat tidak asing baginya. Tapi, di mana dia pernah melihat gelang ini sebelumnya?


Attar pun dengan cepat mencoba mengingat semua orang yang dia kenal dalam benaknya. Tapi dia tidak ingat siapa yang memakai gelang ini. Gelang ini adalah gelang biasa yang warnanya sudah sedikit memudar, tapi kenapa Vela begitu sangat menghargainya? Attar merasa iri dengan pria itu.


Ngomong-ngomong, Vela sepertinya memang tidak tahu di mana Zelle berada, jadi Attar harus mencoba cara baru. Kemana perginya Zelle? Mungkinkah dia pergi ke luar negeri?


Memikirkan hal ini, Attar menelepon temannya dan memintanya memeriksa daftar orang yang sudah membeli tiket pesawat.


"Halo, periksa daftar nama orang yang membeli tiket pesawat dalam beberapa bulan terakhir ini. Ingat, kalau ada nama Grizelle Lovata disana, segera kabari aku."


Setelah keluar dari Gweneth Group, Attar pulang naik taksi. Dia ingin pergi ke salon Ramit. Kemaren, sudah terjadi kecelakaan di sana tetapi masih belum diketahui kebenarannya. Meskipun para wanita kaya yang berkunjung kesana tidak mengatakan apa-apa, tapi Attar sangat yakin mereka pasti memiliki keluhan di hati mereka.


Attar sampai di salon Ramit. Dan Ramit sudah menunggunya di ruangannya.


"Attar, bantu aku menyelesaikan masalah ini" Ramit yang melihat Attar datang dan dia akhirnya merasa lega.

__ADS_1


Sebagai kakak dari Ramit, Attar akan berusaha membantu Ramit dalam mencari tahu kebenarannya.


Bersambung........


__ADS_2