Terikat Kontrak CEO Misterius

Terikat Kontrak CEO Misterius
Zelle dalam bahaya


__ADS_3

Kepergiannya mengejutkan lelaki tua itu. Bukankah dia sudah menjelaskan semuanya kepada Ezra ?


Ketika Zelle meninggalkan ruangan itu, dia merasa pria itu seharusnya baik-baik saja sekarang, jadi dia merasa lega.


Kamar 001? Nah, nomor itu terdengar begitu familiar. Tunggu! Apakah Ezra memintanya pergi ke Kamar 001?


🍀🍀🍀


Zelle tiba-tiba menyadari bahwa kamar pribadi yang dia tuju juga Kamar 001, jadi dia bertanya kepada seorang pelayan. "Maaf, berapa banyak 'Kamar 001' di hotel ini?"


"Hanya ada satu di sini. Semua kamar memiliki nomor yang unik." Pelayan mengira Zelle tidak dapat menemukan kamarnya, jadi dia dengan antusias memberi tahu Zelle di mana Kamar 001 berada.


"Ya Tuhan! Orang tua itu adalah kakek suamiku?" Zelle merasa kesal. Tadi, dia bersikeras menelepon keluarganya. Kakek itu pasti merasa kalau dia gadis yang menyebalkan.


Zelle ragu mau kembali atau tidak. Tapi dia tidak bisa membuat lelaki tua itu menunggu. Dia tidak punya pilihan selain berani dan pergi ke Kamar 001.


Ketika dia membuka pintu lagi, lelaki tua itu masih berada di dalam sedang menatapnya sambil tersenyum.


"Zelle! Kupikir kamu melakukan kesalahan sebelumnya!" Orang tua itu berkata kepada Zelle


"Yah, kakek, aku terlalu kasar tadi. Aku benar-benar minta maaf. Jangan marah padaku, ya." Zelle menunduk dan masuk, duduk di hadapan pria itu.


"Kamu harus disalahkan. Seharusnya kita sudah menikmati makanan ini tapi kamu malah pergi. Aku menunggu mu, sampai perut ku keroncongan." Deon bertepuk tangan dan hidangan segera disajikan. Tadi Deon meminta untuk mengganti makanan nya karena makanan pertama nya tadi sudah dingin.


"Kakek, kesehatanmu buruk, tapi kakek malah datang menemuiku. Sebenarnya, kakak tidak perlu repot. Keluargaku bangkrut, dan ayahku memiliki penyakit jantung. Ibuku sudah lama meninggalkan ayahku dan aku." Zelle menjelaskan situasinya kepada Deon


Deon mengangguk paham. Deon sudah menyelidiki latar belakang Zelle. Deon pikir, Zelle sedikit berbeda dari kebanyakan wanita. Jarang ada wanita yang mau seterus terang seperti Zelle. Dia seakan tidak malu menceritakan kehidupannya.


"Tidak masalah. Keluarga kami tidak perlu menantu kaya. Kami lebih mengutamakan kebajikan dan kamu sangat baik. Lagi pula kami punya banyak uang." Kata Deon dengan percaya diri.


"Makan lah yang banyak. Jangan sungkan. Lihat badan mu itu, kurus sekali." Deon menyendokkan makanan ke piring Zelle.


"Kakek, kamu sangat baik. Kamu mengingatkan ku pada ayahku. Ketika aku makan di rumah, ayahku selalu membantuku menyendokkan makanan ke piring ku." Zelle tersenyum pada Deon


Zelle menganggap Deon benar-benar aneh. Dia datang menemuinya, tetapi dia tidak memberi tahu tujuannya, setidaknya bisa beri tahu namanya. Apa yang dia inginkan sebenarnya?


"Yah, cucuku memiliki temperamen yang buruk. Dia tidak tahu bagaimana membuat wanita bahagia. Tolong bersabar lah menghadapi nya. Oh, aku datang untuk menemuimu secara diam-diam. Dia tidak mengizinkan kami untuk bertemu dengan mu. Jangan beri tahu dia!" Deon tiba-tiba teringat bahwa dia datang tanpa sepengetahuan Brandon


"Baiklah, kalau begitu ini antara kakek dan aku." Kata Zelle tersenyum.


"Ya, baiklah. Ini hanya rahasia kita. jika kamu butuh sesuatu, kamu bisa meminta Ezra untuk memberitahuku. Aku akan membantumu." Deon memperhatikan Zelle makan dengan lahap, seolah dia seperti tidak makan 3 hari.


"Kakek, Sebenarnya, aku tidak mempermasalahkan kejelekan suamiku, tapi dia tidak pernah membiarkan aku melihatnya. Kakek, tolong beritahu dia. Sejelek apa pun dia, aku tidak akan membencinya. Dia membayar biaya pengobatan ayahku. Dan aku benar-benar berterima kasih padanya." Zelle berkata dengan tulus kepada Deon


Deon yang sedang minum pun tersedak saat mendengar ucapan Zelle. Apa katanya, Brandon jelek? hanya wanita buta yang mengatakan nya. Cucu kesayangan nya itu sangat tampan. Dia tidak habis pikir Zelle bisa berkata seperti itu.


Zelle segera menepuk punggung Deon untuk membantunya.


Sementara Deon mengutuk Brandon di dalam hatinya. 'Bran, kamu sangat misterius. Istri mu bahkan menganggap mu sangat jelek sampai kamu takut menemui orang. Itu sangat lucu.'


Deon sangat menyukai Zelle. Saat dia melihat Kalung di leher Zelle, dia tahu kalau Afina telah bergerak lebih cepat darinya. Namun, itu tidak masalah. Dia punya kartu unlimited


"Zelle, ini pertama kalinya kita bertemu. Aku tidak menyiapkan sesuatu yang spesial untukmu. Ini Sepasang anting peninggalan nenekmu. Meski agak kuno, tapi terlihat bagus." Deon menyerahkan kotak yang telah dia siapkan pada Zelle


Zelle terkejut. Orang kaya sangat murah hati. Mereka berbagi kebiasaan memberi hadiah ketika mereka bertemu seseorang untuk pertama kalinya. Deon adalah kakek suaminya, jadi wajar baginya untuk memberi Zelle hadiah. Namun, Mommy Audy juga sudah memberinya hadiah. Zelle tidak bisa memahami cara pikir orang kaya.


"Kakek, aku tidak bisa menerima nya." Zelle tidak mau mengambil apa pun lagi. Dia akan bercerai nanti, bagaimanapun juga dia tidak akan bisa mempertahankan pernikahannya, jadi dia tidak mau repot-repot menerimanya.


"Ambillah. Jika tidak, aku akan marah. Jika aku marah, konsekuensinya akan sangat serius. Aku akan pingsan, dan aku bahkan akan kejang-kejang, mulut berbusa, mata ku berputar-putar, dan aku akan...."


Zelle berhasil ditakuti olehnya. "Baiklah, aku akan mengambilnya." Zelle takut hal seperti itu benar-benar terjadi pada Deon

__ADS_1


Dia bisa mengembalikan hadiah ini kepada suaminya nanti, jadi dia mengambilnya, takut Deon akan marah.


"Bagus!" Senyum Deon terbit seketika.


Setelah membuka kotak itu, Zelle dapat melihat sepasang anting kuno, sepertinya sangat unik. Zelle belum pernah melihat anting seperti itu.



Deon yang melihat raut wajah penasaran Zelle pun memberitahu nya, kalau anting itu adalah anting tusuk giwang suweng. Meski harga nya tak seberapa karena hanya dilapisi emas murni, tapi anting itu sangat berharga bagi mendiang istrinya.


Setelah makan malam, Deon menarik tangan Zelle dan berjalan ke arah pintu. Dia berulang kali meminta Ezra untuk menjaga Zelle dengan baik, karena dia berharap memiliki cicit.


Ezra menganggukkan kepalanya. Kemudian Deon pergi, dan Zelle pun mengikuti Ezra untuk pulang.


"Nona, sepertinya kakek menyukaimu. Selamat!" Ezra ikut senang untuk Zelle


Namun, Zelle tidak senang. Dia tahu betul di dalam hatinya bahwa tidak ada gunanya keluarga itu menyukainya. Suaminya akan menceraikannya setelah dua tahun nanti.Tepatnya, hanya tersisa satu tahun sepuluh bulan.


"Ezra, apa kamu lupa? Tuanmu dan aku hanya memiliki kontrak sesingkat dua tahun. Ketika saatnya tiba, kita akan bercerai. Semua ini bukan milikku."Zelle memasukkan kotak berisi anting-anting itu ke dalam tas salempangnya


Ezra tidak mengatakan apa-apa. Dia tidak bisa menebak apa yang terjadi kedepan nya. Baik itu dari Brandon atau pun Zelle.


Brandon menyukai Prilly sejak dia masih kecil. Tapi menurut Ezra Prilly adalah wanita yang sok dan sombong. Dia sama sekali tidak sopan kepada pelayan. Hanya saat di depan Brandon lah dia berpura-pura baik.


Tapi Brandon tidak akan percaya siapa pun yang menjelek-jelekkan Prilly. Dalam hatinya, hanya Prilly yang terbaik.


Memikirkan hal itu, Ezra hanya dapat menghela napas dalam-dalam.


****


"Hei, Zelle, ini dokumen penting. Aku sedang sibuk sekarang. Segera bawa ke Kamar No 888 Palmer Hotel. Putri presedir Mandao Group menunggumu di sana." Key menyerahkan sebuah dokumen kepada Zelle dan memintanya untuk segera mengantar kannya.


"Bukannya Sinta yang seharusnya melakukannya?" Pekerjaan pengantaran seperti ini biasa dilakukan oleh Sinta


Zelle melihat dokumen di tangannya. Masih disegel. Hanya butuh dua jam baginya untuk pergi ke Palmer Hotel, dia bisa cepat kembali.


"Baik." Setelah mengepak barang-barangnya, Zelle memasukkan dokumen-dokumen itu ke dalam tasnya dan bersiap untuk pergi.


Melihat punggung Zelle yang mulai menghilang di pintu, Key mencibir. Zelle, semoga kamu beruntung.


Zelle naik taksi dan tiba di Palmer Hotel dalam waktu lebih dari 40 menit. Dia naik lift menuju ke lantai delapan.


TING


Lift berhenti dilantai delapan. Zelle keluar, terlihat sangat sepi. Pelayan hotel pun tidak terlihat satu pun.


Zelle menemukan Kamar 888. Pintunya dibiarkan tidak terkunci. Zelle mengetuk pintu, tetapi tidak ada yang menjawab. Dia mencoba menempelkan telinga nya, terdengar suara gemericik air dalam kamar mandi.


Melihat pintunya tidak dikunci, Zelle mengira pintu itu sengaja dibuka untuknya. Jadi, dia masuk dan mengeluarkan dokumen dari tasnya.


"Miss Mandao, dokumen nya sudah saya taruh diatas meja. Anda bisa melihatnya setelah anda selesai dengan kegiatan anda." kata Zelle ke kamar mandi.


Zelle menganggap pekerjaannya sudah selesai dan dia ingin pergi. Dia merasa sedikit tidak nyaman di ruangan itu. Dia mencium bau yang sangat menyengat.


Tak lama kemudian, pintu tertutup dari luar. Zelle pun mencoba membuka pintu tersebut, tetapi gagal.


Suara air di kamar mandi berhenti. Lalu pintu kamar mandi terbuka.


Zelle berbalik dan ingin Miss Mandao membukakan pintu untuknya, tetapi dia sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya.


Tidak ada Miss Mandao, selain pria yang perutnya lebih besar dari wanita hamil. Dia botak, dan wajahnya gemuk. Kira-kira dia berumur lima puluh atau enam puluh tahun.

__ADS_1


Dia tidak tinggi dan handuk melilit pinggangnya yang gempal


Di mana Nona Mandao? Zelle merasa sedikit pusing, dan dia mulai merasakan panas.


"Tidak buruk, tidak buruk. Aku menyukaimu. Kamu cantik dan buah dada mu besar. Bagus sekali." Pria gendut itu berjalan ke arah Zelle, menatapnya dengan tersenyum puas.


"Kamu siapa? Kenapa kamu di sini? Miss Mandao memintaku untuk mengantarkan dokumen itu padanya." Zelle mencengkeram kenop pintu dengan erat. Dia ingin segera keluar dari sana. Dia yakin pria gendut itu bukanlah orang baik.


Tapi kakinya sangat lemas sehingga dia bahkan tidak bisa berdiri dengan kokoh.


"Saya adalah Ried Mandao!" Si gendut itu mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Zelle. Kulit Zelle tampak cerah, dan dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi.


Meskipun Zelle merasa panas dan lemah pada saat yang sama, dia tetap menggertakkan giginya dan menghindari serangan seksual dari Ried.


"Biarkan aku keluar. Aku sudah menikah. Beraninya kau!" Suara Zelle terdengar lebih manis bagi Ried dan membuatnya lebih bersemangat. Bagaimana dia bisa peduli dengan peringatan Zelle? Dia membungkuk dan ingin menggendong tubuh Zelle ke tempat tidur.


Zelle terus memberontak. Tapi dia merasa kehilangan kekuatannya. Dari sudut pandang Ried, usaha Zelle untuk melepaskan diri malah membuat nya semakin menggila.


Ried gemuk dan kuat. Dia mengangkat Zelle dengan mudah dan berjalan menuju tempat tidur.


Penghinaan karena kehilangan keperawanannya pada pria tak dikenal di malam pernikahannya diingat kembali oleh Zelle. Dan sekarang sejarah itu akan terulang kembali.


Tidak tidak! Dia tidak akan mengizinkannya! Apalagi setelah dia menikah, dia peduli dengan suaminya!


"Ried, hentikan! Atau kamu akan melihat mayat!" Mata Zelle dipenuhi dengan kekejaman.


BAGH! Ried melempar Zelle ke tempat tidur.


"Beraninya kamu mengancamku? Biarkan aku memberitahumu. Bahkan jika kamu mati hari ini, kamu akan mati di tempat tidurku!" teriak Ried. Dia sama sekali tidak percaya pada Zelle. Ayolah, dimasyarakat modern ini, bagaimana mungkin seorang perempuan bunuh diri hanya karena diperkosa?


Ini bukan zaman kuno lagi. Tidak ada yang menghargai kesucian sekarang.


Pakaian Zelle telah dirobek oleh Ried, memperlihatkan dadanya yang cantik. Ried yang melihatnya, langsung menerkam nya seperti anjing kelaparan.


Melalui kamera yang dipasang disudut langit-langit, Prilly tersenyum bahagia saat melihatnya. Jika video itu disebar di media, dia yakin tidak akan ada yang tertarik lagi pada Zelle.


Mengetahui hal-hal terjadi sesuai keinginannya dan tidak ada cara bagi Zelle untuk melarikan diri, Prilly pergi dengan bahagia sambil tersenyum.


Saat berada di dalam kamar, darah mengucur dari sudut mulut Zelle. Menatap langit-langit, dia menangis.


Tepat ketika dia putus asa, pintunya tiba-tiba di dobrak. Dan Brandon masuk dengan wajah murka.


Handuk Ried telah jatuh dari tubuhnya, dia menoleh ke arah Brandon, tampak seperti badut yang mengerikan.


Brandon menendang Ried begitu keras sehingga Ried jatuh terkapar di lantai. Bisa di bayangkan betapa murkanya Brandon, sampai Ried yang segemuk itu tumbang oleh tendangan nya.


Brandon melihat Zelle yang sedang berbaring ditempat tidur. Dia tak bernyawa seperti boneka yang compang-camping. Seprai itu ternoda oleh darahnya.


"Zelle, Zelle, hei, kamu tidak boleh mati tanpa izinku!" Brandon melepas jasnya dan membalut tubuh Zelle. Dia mengangkatnya dan bergegas keluar. Sebelum pergi, dia tidak lupa mengatakan kepada bawahannya, "Hancurkan dia!"


Terlepas dari seberapa keras Brandon berteriak, Zelle tetap tidak sadarkan diri. Sekarang dipikiran nya, dia hanya ingin mati.


Brandon tidak menyadari wajahnya sudah basah oleh air matanya sendiri. Dia sangat takut kalau Zelle akan meninggalkannya, dia akan menyesal seumur hidupnya.


Setelah melewati lampu merah yang tak terhitung jumlahnya, Brandon bergegas ke rumah sakit dengan Zelle di pelukannya.


Semua dokter sudah siap. Melihat kedatangan Brandon, mereka mulai membantu dan langsung membawa Zelle ke ruang ICU.


Sementara Brandon menunggu diluar dengan rasa cemas, dia mondar mandir, meremas jari-jari nya.


Bersambung......

__ADS_1


.


Good afternoon 🌺


__ADS_2