
Liam menangkap kaki Zelle yang berusaha menendang nya. " Aku suka gaya mu ini Zelle." Liam memepet tubuh Zelle ke mobil, dan bibirnya mulai mendekat.
Zelle ingin menangis rasanya. Dia benar jijik saat Liam menyentuhnya. Zelle tidak tahu harus berbuat apa. Zelle berharap dewi fortuna berpihak padanya.
🍁🍁🍁
"Oh, Tuan Abrisam. Anda sungguh tidak sabaran ya. Ini kantor ku. Dan Anda melakukan ini pada staf saya? Kedengarannya tidak bagus, bukan? Oh, iya, ada hotel yang cukup bagus di dekat sini. Mengapa tidak melakukannya di sana?" Brandon berkata kepada Liam dengan nada tenang.
Liam yang mendengar suara Brandon pun melepaskan Zelle. Zelle segera menjauh dari Liam. Brandon menatap mereka berdua dengan jijik. Padahal dalam hatinya, ingin sekali mengoyak-ngoyak daging Liam.
" Tuan Brandon, ini bukan seperti yang anda pikirkan." Zelle cemas berusaha menjelaskan.
" Aku tidak perduli. Sepertinya hidup mu selalu di kelilingi pria. Lain kali lakukan lah di tempat yang wajar." Kata Brandon sinis.
Zelle tidak mengatakan apa-apa. Dia tidak ingin berdebat lagi dengan Brandon. Lagi pula buat apa dia menjelaskan nya? Brandon hanya bos.
Zelle pergi meninggalkan mereka berdua. Dia tidak ingin mendengar ocehan dua pria itu.
" Tuan Brandon, apa mungkin kita masih bisa bekerja sama? saya tidak tahu alasan anda membatalkan kerja sama ini." Liam berusaha membujuk Brandon.
Liam tidak memperdulikan kepergian Zelle. Yang terpenting baginya Sekarang adalah masalah kerja sama ini. Jika Gweneth Group membatalkannya, maka dia harus siap di permalukan. Ini tanggung jawabnya.
" Karena..........." Brandon berpura-pura berpikir.
Liam menunggu jawaban nya. Dia bertanya-tanya, mengapa? jika Brandon tidak puas dengan kerjanya, dia akan berusaha lebih keras lagi.
"Karena aku melakukan apa yang aku inginkan." Setelah mengatakan itu, Brandon pergi masuk ke mobil.
" Hey, tuan Brandon, tuan Brandon! kita masih perlu bicara." Liam mengejar mobil Brandon, namun, mobil itu bergerak dengan kencang. Liam hampir saja terjatuh ke tanah, dia sudah tidak sanggup lagi berlari.
__ADS_1
BOOM
Liam menendang mobilnya, melampiaskan kekesalannya. Setelah bercerai dengan Zelle, nasib sial selalu menghampirinya. Kemudian, dia teringat dengan Elea, Liam melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
***
Zelle bergegas ke terminal bus. Beruntung dia tidak ketinggalan bus. Lalu dia langsung naik.
Zelle merasa ada yang salah dengan dirinya akhir-akhir ini. Dia selalu membuat masalah dengan bosnya. Bahkan tadi dia menampar nya. Zelle merasa frustasi, kenapa dia selalu berurusan dengan bosnya.
Zelle melihat tangannya. " wahai tangan, mengapa kamu begitu cepat bereaksi? padahal kamu tidak tahu wajah nya?." Zelle bergumam sendiri.
Tidak heran mengapa Brandon berkata begitu padanya. Pasti dia berpikir kalau Zelle wanita yang tidak baik. Dan dia bahkan merekomendasikan hotel pada mereka. Mengingat hal itu membuat Zelle menyesal karena sudah menampar bos nya.
Bus berhenti di stasiun. Zelle turun dari bus, dia melihat Ezra, ternyata sedang menunggu nya.
"Ezra." Zelle merasa hangat. Sangat menyenangkan ada seseorang yang menunggunya distasiun, sangat baik seperti ayahnya.
Zelle tidak tahu harus berkata apa. Dia terharu mendengar nya. Suaminya sangat baik, Zelle ingin sekali bertemu dengannya. Zelle tidak perduli seperti apa tampangnya, selama suaminya memperlakukannya dengan baik, dia akan menerimanya.
Sesampainya di rumah, makan malam sudah siap. Yang perlu dia lakukan adalah mencuci tangannya.
Bagi Zelle, ini sudah sangat baik dari kehidupan sebelumnya. Meskipun suaminya tidak akan bersamanya sepanjang waktu, dia tidak pernah mengkhianatinya. Itu sudah cukup.
"Nona, kami telah menemukan jantung yang cocok untuk ayah anda. Tapi, tidak ada dokter di negara ini yang dapat melakukan operasi. Jadi, Tuan, memutuskan untuk membawa ayah anda ke luar negeri untuk operasi. Disana, memiliki alat yang lebih canggih, yang memungkinkan keberhasilan transplantasi. Bagaimana menurut Anda, Nona?" Ezra memberitahunya kabar baik di meja.
"Kamu sudah menemukan jantung nya? syukur lah, akhirnya ayah bisa segera di operasi. Meskipun harus keluar negeri, kalau itu yang terbaik untuk ayah, aku menyetujui nya. Kapan kamu akan berangkat? aku sudah tidak sabar melihat ayah sembuh." Zelle sangat senang mendengar kabar baik ini.
"Ya, tentu saja Nona. Tuan Dharmendra bilang kita harus pergi secepat mungkin. Jadi kita akan mengatur penerbangan lusa. Nona, bisa menjenguk ayah anda besok." Ezra berkata dengan tenang.
__ADS_1
Ezra sadar dia kecoplosan menyebutkan nama belakang Tuannya. Tapi seperti nya Zelle tidak begitu menanggapinya. Dia terlalu senang dengan kabar ini.
"Baiklah. Aku akan menghabiskan waktu dengan ayahku besok. Aku harus meminta cuti pada Rania." Zelle tidak pernah menghitung berapa hari dia cuti. Dia tahu itu tidak baik, tapi dia harus melakukannya.
***
"Apa? Zelle, besok kamu cuti lagi?" Rania merasa canggung, karena Zelle baru bekerja selama 2 minggu tapi dia sudah mengambil cuti 5 hari sampai sekarang!
Sebenarnya sangat sulit Rania memberikan izin. Dia menyerah kan Zelle ke rekan SDM lainnya, namun, mereka bilang, mereka tidak punya hak atas masalah itu.
Zelle pun beralih ke staf SDM, tetapi mereka juga tidak bisa mengambil keputusan. Mereka meminta Zelle untuk menghubungi presedir langsung.
Zelle tidak ingin menghubungi Brandon, jadi, dia memutuskan untuk tidak meminta cuti. Dia akan menghabiskan waktu bersama ayahnya setelah jam kerja.
"Nona, apa Anda meminta izin? Saya akan meminta sopir untuk mengantar Anda ke sana," Ezra bertanya pada Zelle.
"Tidak, atasan ku menyuruh ku meminta izin langsung dengan bos. Aku tidak ingin menganggu waktu bos, hanya karena meminta cuti. Jadi, aku masih bisa menjenguk ayah setelah selesai kerja. Lagian ayah perginya besok lusa. Masih punya waktu." Zelle menjelaskan apa yang dia alami barusan.
"Mengapa tidak meneleponnya? Dia mungkin setuju. Apa Anda tidak ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan Pak Jaster?" Ezra mencoba membujuknya.
" Itu tidak mungkin, Ezra. Dia orang aneh! Aku tidak mau menelepon nya, kamu pasti tidak akan menyangka, kalau dia itu adalah pria brengsek. Tadi, aku diganggu oleh mantan suamiku. Dia tidak membantuku, malah mempermalukan ku. Coba kamu pikir, perbuatan nya itu sangat keterlaluan kan? apa bedanya dia dengan mantan suami ku?." Mengingat perkataan Brandon tadi siang membuat Zelle kesal.
Ezra setuju dengan perkataan Zelle. Dia menganggap bos nya orang aneh. Zelle begitu berani mengatakan sesuatu yang tidak berani dia katakan.
"Baiklah, Nona. Anda akan berangkat besok sore. Saya akan menjemput Anda setelah Anda selesai bekerja dan mengantar Anda ke rumah sakit. Maka Anda tidak perlu menghabiskan banyak waktu dalam perjalanan ke sana." Ezra tidak bisa berbuat apa-apa selain melakukan apa yang dikatakan Zelle.
"Oke." Mereka setuju satu sama lain.
***
__ADS_1
" Kenapa sampai sekarang Zelle belu meneleponku?" Brandon terus menunggu telepon dari Zelle. Dia tidak bisa menunggu lagi. Dia memang memberi tahu pihak HRD untuk tidak memberikan izin pada Zelle selain darinya. Brandon menghubungi HRD.
"Maaf, Tuan Brandon. Saya tidak tahu kenapa? Saya sudah mengatakan kepadanya bahwa dia harus bertanya kepada Anda jika dia ingin meminta cuti." HRD menjawab gugup. Dia yakin sudah menjelaskan nya pada Zelle tadi, tapi kenapa juga tidak meneleponnya?