Terikat Kontrak CEO Misterius

Terikat Kontrak CEO Misterius
Ibu Zelle


__ADS_3

Dear readers:


Maaf sebelumnya, berhubung karena saya sudah bosan menulis"-" jadi cerita ini saya bikin langsung kebagian intinya saja. Karena saya takut readers akan bosan membacanya.


🍒Happy reading🍒


Zelle dan Brandon, masih berada di rumah utama. Setelah makan malam kemarin, mereka diminta untuk menginap.


Kakek Deon sangat bahagia, cucu dan menantunya berkumpul dalam satu rumah. Mereka banyak menghabiskan waktu bersama, seperti bermain kartu, menonton TV bersama dan masih banyak kegiatan lainnya.


Ternyata kehadiran Zelle dan Brandon tak membuat semua orang disana bahagia. Terutama bagi Aria dan suaminya, mereka merasa terancam, karena menurut Aria, kakek Deon lebih menyukai Zelle ketimbang dirinya.


"Vernant, lihat dirimu ini. Kamu itu adalah Vernant Dharmendra. Tapi di Gweneth Group, kamu hanya seorang manajer tanpa kekuasaan yang lebih. Sedangkan, dirumah ini, kamu juga tidak disukai. Kenapa aku bisa begitu bodoh mau menikah denganmu?" Aria menarik Vernant ke kamar dan mulai marah padanya.


"Baiklah. Berhentilah mengeluh. Kamu memiliki semua yang kamu inginkan di rumah, kan?" Vernant mencoba menghibur Aria.


"Apa maksudmu dengan mengatakan aku memiliki semua yang kuinginkan dirumah ini? Jika bukan karena hal yang terjadi pada ibumu, tidak mungkin Afina menikah dengan keluarga Dharmendra!Sekarang, semuanya menjadi milik mereka. Kita hanya orang luar." Ketika Aria menikah dengan Vernant, dia merasa bahwa merupakan sebuah kehormatan besar bisa menikah dengan keluarga Dharmendra.


Namun, sekarang setelah menjadi bagian dari keluarga itu, ternyata tak sesuai keinginannya. Dia baru menyadari bahwa Afina adalah nyonya rumah dari seluruh keluarga Dharmendra dan ibu Vernant tidak memiliki kendali atas apa pun.


"Jangan khawatir, Sayang. Luangkan waktumu. Kita akan mendapatkan semuanya kembali." Setelah itu, Vernant tidak mengatakan apa-apa lagi kepada Aria.


Beberapa hari kemudian.......


"Jaster? Apakah itu kamu?" Jaster yang sedang berbelanja di supermarket, dia dikejutkan oleh suara seorang wanita. Beberapa hari kemarin, putrinya telah kembali ke kediaman suaminya. Jadi, tinggalah dia sendirian, tetapi sekarang karena tidak ada urusan bisnis yang harus dia tangani, dia menjalani kehidupan yang santai dan teratur.


Jaster mendengar seseorang memanggilnya, jadi dia berbalik dan melihat seorang wanita cantik yang sedang menatapnya.


Jaster memandang wanita itu dan dia pun terkejut. Dia sangat bersemangat sehingga tas di tangannya jatuh ke lantai.


"Ilona?" Jaster memanggil dengan lembut, tetapi dia tidak bisa bergerak selangkah pun, seolah-olah dia membeku.


Ilona berjalan mendekat dan memegang tangan Jaster. Melihatnya dengan hati-hati, Ilona mulai meratap.


Dia kembali untuk mencari Jaster dan anak perempuannya. Ilona sudah bertemu Jaster diluar negeri, saat dia mengobati penyakit jantungnya.


"Jangan menangis. Wanita yang menangis itu tidak cantik. Ilona-ku adalah wanita tercantik didunia. Jangan menangis." Jaster ingin menghapus air mata Ilona, tetapi setelah dia mengangkat tangannya, dia kembali meletakkannya lagi. Dia tidak bisa melakukan itu lagi.

__ADS_1


Jadi Jaster mengeluarkan tisu dari tasnya dan menyerahkannya kepada Ilona.


"Kamu masih pandai bicara, Jaster." Ilona mengambil tisu dan menyeka air matanya. Dia merasa sangat berutang pada Jaster.


"Sudah berapa lama kamu kembali? Apa kamu sudah melihat putri kita?" Jaster bertanya pada Ilona.


"Hampir setengah tahun. Aku sudah bertemu Zelle. Kamu telah mendidiknya dengan sangat baik. Aku sangat berterima kasih padamu. Jaster, bagaimana kalau kita pergi minum teh sebentar?" Perasaan Ilona mulai teratur kembali.


Tepat ketika dia berada di dalam mobil, secara tidak sengaja, dia melihat Jaster. Dia buru-buru meminta sopir untuk berhenti dan turun mengikuti Jaster ke supermarket. Supermarket itu sangat besar sehingga dia harus berjalan bolak-balik sebelum menemukan Jaster di tempat sayuran yang ditawarkan.


"Kedengarannya cukup bagus." Jaster tahu hari dimana, kebenaran akan terungkap. Dia sudah menduganya sejak pertemuan nya dengan Ilona diluar negeri.


"Jaster, aku masih ingat teh Sencha adalah teh kesukaanmu, kan?" Ilona memesan teh Sencha untuk Jaster.


"Kamu baik sekali dalam mengingat preferensiku. Terima kasih, Ilona." Jaster mengambil cangkir tehnya, tetapi dia tidak bisa menikmati tehnya.


Suasananya terasa basi. Ilona tidak tahu harus mulai dari mana. Dia berutang banyak pada Jaster.


Jaster juga tidak tahu harus berkata apa. Dia jujur, dan bahkan sedikit bodoh.


"Jaster"


"Kamu saja duluan." Keduanya berkata pada saat yang sama, lagi.


"Oke. Aku akan mulai." Jaster merasa bahwa karena dia laki-laki, jadi, dia pasti harus mencairkan suasana terlebih dahulu.


"Zelle adalah gadis yang baik. Dia tidak pernah mengeluh selama bertahun-tahun tanpa dirimu. Dia mungkin terlalu muda untuk mengingatmu." Jaster melaporkan kepada Ilona tentang kehidupan masa lalu Zelle.


Jaster menceritakan segala hal tentang Zelle secara detail, mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi, namun dia sedikit bingung dengan pernikahan Zelle.


Ilona menyeka air matanya, sesaat kemudian dia tersenyum dan mendengarkannya.


"Terima kasih, Jaster." Ilona sangat berterima kasih kepada Jaster.


"Aku telah memperlakukan Zelle sebagai putriku sendiri. Aku adalah ayahnya selama 24 tahun terakhir ini. Itu sudah cukup bagiku. Karena kalian semua telah kembali, bawalah dia kembali agar menjalani kehidupan yang layak. Aku sudah bangkrut sekarang, dan aku sudah tidak bisa memberinya apa-apa lagi." Saat mengucapkan kalimat terakhir itu, Jaster sedih seolah jantungnya ditusuk pisau.


Zelle adalah segalanya baginya. Dia tidak bisa lagi memberikan kehidupan terbaiknya, jadi dia hanya bisa menyerah dan pasrah. Dia hanya berharap Zelle bisa menjalani kehidupan yang lebih baik.

__ADS_1


"Tidak. Aku di sini bukan untuk mengambilnya darimu. Aku tahu kalau Zelle sangat penting dalam hidupmu. Aku hanya ingin melihatnya dari jauh." Bagaimana Ilona bisa mengambil Zelle dari Jaster yang sudah banyak membantunya?


Saat Zelle lahir, Ilona tidak dalam keadaan sehat. Jaster-lah yang merawat Zelle saat di malam hari. Dia bisa begadang semalaman dan pergi bekerja seperti biasa disiang hari.


Ilona tahu Jaster sangat baik pada Zelle, jadi dia memercayainya dengan putrinya.


"Terima kasih, Jaster." Ilona tidak tahu bagaimana menyampaikan rasa terima kasihnya, jadi dia hanya bisa terus mengucapkan kata itu.


"Kamu tidak perlu berterima kasih padaku. Zelle juga putriku meskipun dia tidak memiliki hubungan darah denganku. Jika kamu tidak peduli dengan kenyataan bahwa aku sudah bangkrut, aku tetap bersedia menjaga Zelle." Jaster tersenyum, tapi senyumnya itu sangat pahit.


Mereka berdua berbicara sebentar. Ilona sudah tahu bahwa perusahaan Jaster sudah bangkrut. Putra dari keluarga Abrisam-lah yang sudah menipu Jaster.


Setelah keduanya berpisah, Ilona menelepon seseorang, "Baiklah, berhentilah bekerja dengan Abrisam Group. Jika mereka tidak terima, minta mereka untuk berbicara denganku."


****


"Ayah, aku akan pulang untuk makan malam. Brandon juga akan ikut denganku." Sudah berhari-hari sejak dia keluar. Zelle sangat merindukan Jaster dan ingin kembali menemuinya.


"Oke, ayah akan membuatkan makanan kesukaanmu." Jaster awalnya takut Ilona akan mengambil Zelle, tetapi Ilona ternyata mengizinkannya untuk terus merawat Zelle.


Saat ini, Zelle tengah meneleponnya, yang membuatnya lebih bahagia.


Dia tidak menikah lagi karena takut Zelle tidak diurus dengan baik. Zelle adalah penyemangat Jaster. Dia tidak bisa melihat Zelle menderita.


Setelah menutup telepon, Jaster pergi ke pasar untuk membeli bahan makan malam hari ini. Dia harus menyiapkan hal istimewa untuk malam ini, karena putri dan menantunya akan kembali.


"Zelle, kenapa kamu tidak berhenti tersenyum?" Brandon yang selama dua hari ini sudah meminta bantuan dari Zelle untuk membaca dokumen pekerjaannya, sekarang, dia tidak punya alasan lagi dan harus membaca dokumen itu sendiri.


"Karena aku bahagia." Zelle senang saat mengetahui Brandon sudah tidak peduli lagi dengan masalalunya. Bukankah begitu luar biasa kalau suami dan istri itu terus terang satu sama lain?


"Oh, katakan padaku mengapa kamu sangat bahagia." Brandon tidak akan pernah muak dengan dokumen-dokumen yang membosankan itu, asalkan ada Zelle disampingnya. Tapi, dia tidak bisa fokus pada pekerjaannya.


"Tidak, jangan kepo. Kembalilah bekerja." Zelle buru-buru melambaikan tangannya.Tadi malam, dia sangat lelah, tapi Brandon masih penuh semangat untuk menghujamnya. Apalagi, Zelle pikir Brandon masih sakit. Luar biasa bukan?


"Kalau kamu di sini, aku tidak bisa fokus pada pekerjaanku." Brandon telah berjalan mendekat dan memeluk Zelle di pangkuannya.


"Kalau begitu aku pergi saja sekarang. Aku tidak mau jadi pengganggu pekerjaan Presedir." Zelle mendorong Brandon, ingin dia melepaskannya.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2