Terikat Kontrak CEO Misterius

Terikat Kontrak CEO Misterius
Pura-pura Sakit


__ADS_3

Baik Zelle maupun James, sama-sama memiliki penampilan yang luar biasa, sehingga mereka tidak dapat mencari perbedaan satu sama lain dengan mudah.


"James, kamu sangat tampan. Kenapa semua pria di sekitar Zelle sangat tampan, ya?" Vela menatap James. James mungkin hanya berumur delapan belas atau sembilan belas tahun, sangat terlihat tampilan kekanak-kanakannya.


"Kau hanya ingin memuji dirimu sendiri, bukan?" Semua orang tertawa mendengar kata-kata Zelle.


🍒🍒🍒


Mendengar James yang menyapa mereka dengan sopan, Audy dan Vela dengan senang hati meletakkan udang karang yang sudah dikupas di piringnya.


James tersenyum pada mereka. Senyumnya seperti sinar matahari, yang senantiasa menghangatkan hati semua orang.


"Zelle, bagaimana bocah ini bisa begitu tampan? Aku tidak bisa membayangkan betapa banyaknya gadis-gadis yang akan tergila-gila padanya saat dia besar nanti!" Audy dan Vela sangat menyukai James.


Mereka berempat mengobrol dengan bahagia disana. James, dikelilingi oleh tiga gadis yang ramah dan yang lebih tua darinya, James yang merupakan seorang sosialis alami, mulai berbicara banyak sekarang.


"Lihat, mereka tidak ingin kita pergi bersama mereka, tapi, coba lihat sekarang, mereka malah dengan asyiknya mengobrol dengan bocah laki-laki itu." Attar menunjuk James dan berkata dengan sinis.


'Bocah itu memang tampan. Tidak heran gadis-gadis ini tertarik padanya.' Brandon mulai merasa tidak nyaman dan berpikir sendiri. Ketika dia melihat mereka bertiga mengupas udang karang untuk James, dia merasa sangat iri. 'Apa dia tidak bisa melakukannya sendiri?'


Kedua pria itu sama sekali tidak menyukai James dan mereka berjalan ke arah mereka.


Mereka berempat berhenti mengobrol ketika mereka menyadari bahwa ada seseorang yang berjalan mendekat ke arah mereka, seketika para gadis itu merasakan getaran dingin.


"Brandon? Kenapa kamu ada disini?" Zelle berbalik dan melihat Brandon, yang memasang ekspresi aneh.


"Kami baru saja lewat dan melihat kalian makan di sini, jadi kami datang untuk bergabung dengan kalian," jelas Attar.


Mereka berempat bingung. Restoran itu jauh dari jalan utama! Bagaimana bisa mereka bisa menyebut kunjungan mereka ini dengan "lewat?"


Attar berkata kepada bos restoran tersebut, "Pak, kami butuh dua kursi lagi."


"Kalau begitu aku akan pergi sekarang. Bye." James tidak ingin tinggal lebih lama lagi karena dia tahu kedua pria itu tidak bersahabat dengannya.


"Cepat sekali? Oke. Sampai jumpa." Ekspresi enggan di wajah gadis-gadis ini membuat Brandon dan Attar semakin kesal.

__ADS_1


Brandon dan Attar tidak merasa disambut. Tak satu pun dari gadis-gadis ini tampak senang dengan kedatangan mereka, tetapi mereka malah terlihat tidak senang dengan kepergian James.


UHUK


Brandon terbatuk, dia berusaha menarik perhatian mereka.


Ternyata usahanya berhasil. Semua gadis itu menatapnya dengan ekspresi prihatin. Zelle tahu bahwa Brandon menderita diare seharian ini karena kopi dingin yang dibuatnya. Tetapi dia bertanya-tanya mengapa dia malah pergi keluar? seharusnya dia beristirahat.


"Brandon, kamu tidak sakit, kan? Kenapa kamu tidak tinggal di rumah saja?" Zelle mengangkat tangannya dan menyentuh dahi Brandon.


Dahi Brandon memang menjadi sedikit lebih hangat karena amarahnya.


"Kamu demam. Biarkan aku mengantarmu pulang." Zelle sedikit gugup.


"Tidak apa-apa. Aku merasa lebih baik saat melihat kalian. Teruskan makan kalian." Brandon segera bertindak seolah-olah dia adalah orang yang santai.


Mereka hampir menghabiskan makanan itu, tapi, karena kedatangan dua pria itu, para gadis itu tidak mau melanjutkan makanannya.


"Kalian, lanjutkan saja makannya. Aku akan mengantar Brandon pulang. Dan Attar, tolong antar teman-temanku pulang, ya." kata Zelle sambil memapah Brandon. Sepertinya dia hampir tidak bisa berdiri.


Attar merasa aneh, Brandon itu kuat dan dia bisa berjalan lebih cepat darinya, terutama saat mereka tiba disini. Tapi, kenapa tiba-tiba, dia terlihat lemah dan sakit?


Brandon menyandarkan kepalanya ke bahu Zelle, dia terlihat sangat lemah. Ledakan kemarahannya yang menyebabkan suhu tubuhnya lebih tinggi, ternyata sangat membantunya.


"Lihat dirimu sekarang. Kamu sakit. Kamu harus tetap di rumah dari pada pergi keluar. Angin malam tidak baik untuk kesehatan. Dan sekarang kamu sudah demam. Mencari penyakit saja." Zelle terus saja mengomel.


Mendengar omelan tersebut, Brandon merasa sangat senang. Mengomel tanda peduli. Dia merasa Zelle peduli padanya.


"Aku tidak mau keluar. Tapi, Attar yang memaksaku dan memintaku untuk keluar, dia yang mengajak ku untuk minum bersamanya. Aku tidak punya pilihan. Jadi, aku pergi dengannya." Brandon menjadikan Attar sebagai kambing hitam.


"Kau seharusnya memberitahunya kalau kau sedang sakit." Zelle menekan kepala Brandon lebih dekat padanya untuk membuatnya merasa lebih nyaman.


Dia memapah Brandon, dengan hati-hati membantunya naik ketempat tidur, Brandon mengira kalau Zelle akan tidur dengannya, tapi ternyata tidak.


Zelle keluar dan berkata, "Tidur yang nyenyak. Panggil aku kalau kamu butuh sesuatu. Aku ada dikamar sebelah."

__ADS_1


Brandon menghela napas berat. Yang dia lakukan hanyalah untuk mendapatkan perhatian dan cinta dari Zelle. Tapi sekarang dia malah akan tidur di kamar lain.


"Apa ada masalah?" Zelle berbalik dan menatapnya.


"Aku sakit parah. Bagaimana kamu bisa meninggalkanku sendirian disini?" Pada saat ini, Brandon menatapnya dengan mata anak kucing yang paling menggoda.


"Ada yang harus aku lakukan. Kamu tidur dulu, dan aku akan kembali lagi nanti." Zelle berpikir untuk bekerja lembur karena dia belum menyelesaikan terjemahannya.


Brandon mengira Zelle tidak akan berada disini malam ini. Ternyata, ada sesuatu yang harus dilakukannya. Brandon berkata dengan lega, "Baiklah. Cepatlah kembali kesini."


"Tidurlah sekarang." Zelle membuka pintu dan keluar.


Setelah minum obat, Brandon terlihat sudah sembuh, apalagi dia tidak sakit sama sekali. Sekarang dia di tempat tidur dan tidak bisa tidur, dia bertanya-tanya mengapa Zelle agak sedikit misterius dan pekerjaan apa yang harus dia lakukan sekarang.


Brandon tidak bisa tidur dengan semua keraguan dipikirannya.


Saat itu tengah malam. Brandon ingin melihat apa yang dilakukan Zelle, tetapi dia takut Zelle akan marah padanya. Jadi dia memutuskan untuk bangun dan pergi kekamar mandi.


Zelle akhirnya menyelesaikan terjemahannya sebelum tenggat waktu. Dia meregangkan tubuhnya dan memasukkan terjemahan itu ke dalam tasnya. Kemudian, dia pergi menemui Brandon, tetapi dia tidak menemukannya di kamar.


"Brandon, Brandon?" Zelle tidak melihatnya dan memanggilnya, tapi Brandon yang mendengar suara Zelle, tidak menjawab. Sebaliknya, dia bersembunyi dikamar mandi dan mencibir.


Zelle menjadi cemas, bertanya-tanya apakah Brandon sakit lagi. Dia membuka kamar mandi dan melihat Brandon di dalam yang tampak lemah.


"Brandon, ada apa?" tanya Zelle cemas.


"Tidak apa-apa. Aku baru saja bangun dan pergi kekamar mandi. Aku baik-baik saja." Brandon terus mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Namun, semakin keras dia menjelaskan, Zelle semakin cemas.


****


Tiga hari kemudian. Brandon memperhatikan Zelle yang sedang membaca dokumen-dokumen yang seharusnya menjadi pekerjaannya. Brandon menyukainya saat melihat Zelle yang tengah berkonsentrasi pada pekerjaannya dengan kepala tertunduk, memperlihatkan lehernya yang ramping dan putih.


Sejak dia berpura-pura sakit, Zelle lah yang melakukan semua yang dia inginkan, tetapi sudah tiga hari mereka tidak bercinta. Brandon tidak bisa menekan keinginannya lagi.


Bahkan tatapan sekilasnya ke leher Zelle akan membuatnya bergairah.

__ADS_1


"Sayang!" Brandon berbisik.


Bersambung........


__ADS_2