Terikat Kontrak CEO Misterius

Terikat Kontrak CEO Misterius
Rencana baru


__ADS_3

Melihat Zelle yang baik-baik saja, Afina merasa lega. Saat dia datang, dia mendengar dari Ezra bahwa Zelle sudah kembali. Dia langsung bergegas ke atas untuk menemuinya. Dia tidak menyangka akan merusak momen romantis pasangan itu.


Sekarang setelah dia melihat Zelle dan langsung memarahi Brandon, Afina merasa sudah waktunya untuk dia pergi.


"Baiklah. Karena Zelle baik-baik saja, aku merasa lega. Aku masih harus pergi ke tempat Ramit untuk melakukan perawatan. Kalian harus membicarakan masalah ini, apa kalian akan bercerai atau tidak."


"Kakekmu juga mengkhawatirkanmu!" Afina memutar matanya ke arah Brandon lagi sebelum dia pergi.


🍒🍒🍒


"Mom, Zelle sudah pulang dengan Brandon. Bagaimana ****** itu masih bisa mempercayainya? Bukankah seharusnya dia membencinya?" Prilly berkata kepada Yolan saat dia berbaring di sofa, sambil makan buah.


"Bagaimana aku bisa tahu bahwa wanita ****** itu memaafkan Brandon dengan begitu mudahnya? Tapi jangan khawatir. Aku akan memikirkan cara lain untukmu. Brandon adalah milikmu, dan tidak ada orang lain yang boleh mendapatkannya," janji Yolan sambil membantu Prilly mengupas buah. Dia membuat rencana baru.


"Tapi sekarang karena mereka sudah bersama, apa yang harus aku lakukan? Aku cemburu setiap kali melihat mereka bersama." Prilly dengan kasar memasukkan buah itu ke dalam mulutnya.


Dia mengunyahnya sekuat yang dia bisa, seolah-olah dia sedang menggigit Zelle.


"Prilly, kamu harus bermurah hati saat ini. Buat mereka percaya, seolah-oleh kamu merestui mereka. Kamu harus berhenti dulu mengganggu Zelle. Kamu masih memiliki banyak peluang untuk mengusirnya. Tetaplah bersandiwara, karena dengan begitu akan membuat Brandon tetap percaya kalau kamu adalah wanita yang lembut dan berbudi luhur. Bersabarlah sebentar, tunggu waktu yang tepat, baru kemudian kita akan menjalankan rencana kita lagi," kata Yolan kepada Prilly.


Prilly berpikir sejenak dan menyadari kalau dia tidak punya pilihan lain selain mengikuti nasihat ibunya.


****


"Zelle, kenapa kamu belum tidur?" tanya Brandon saat dia melihat Zelle masih membaca sesuatu di bawah lampu.


Mendengar suaranya, Zelle buru-buru menutupi dokumen di tangannya.


"Brandon, kamu pulang. Apa kamu lelah? Aku akan siapkan air mandi untukmu." Zelle menyingkirkan bahan-bahannya. Saat ini, dia tidak ingin Brandon tahu kalau dia telah mendapatkan pekerjaan diperusahaan lain.


"Tidak perlu. Aku akan melakukannya sendiri. Zelle, kamu sudah lama cuti. Mengapa kamu tidak kembali bekerja besok?" Brandon merasakan kehilangan ketika dia tidak bisa melihat Zelle di perusahaan.


"Baiklah, besok aku akan masuk kerja." Zelle setuju. Dia juga ingin bersama Brandon. Dia bisa melakukan terjemahannya di malam hari.


Mendengar kalau Zelle menyetujuinya, Brandon dengan bahagia bersiul.


Saat Brandon memasuki kamar mandi, Zelle segera menyembunyikan materi-materi itu. Dia hampir menyelesaikan semua pekerjaannya dan dia bisa pergi dan menyerahkan terjemahannya besok lusa.

__ADS_1


Usai mandi, Brandon keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit dipinggangnya. Tubuh berototnya terlihat sangat seksi di bawah terangnya cahaya.


Zelle meliriknya dan tidak bisa lagi menarik pandangannya. Dia tanpa sadar terhipnotis oleh kotak-kotak yang tersusun rapi disana.


Brandon berjalan ke arahnya dan langsung memeluknya.


"Zelle, kamu luar biasa." Brandon mencium rambut Zelle. Dia suka mencium bau harum rambutnya.


Zelle melilitkan tangannya ke pinggang Brandon dan menempelkan wajahnya ke dadanya.


"Brandon." Suara lembutnya sungguh mempesona. Brandon tidak bisa lagi menahan godaan didepannya dan langsung saja dia menggendong Zelle dan berjalan menuju tempat tidur.


****


"Zelle, kamu akhirnya kembali bekerja. Kami sangat merindukanmu." Pagi-pagi sekali, Vela dan Audy sudah berdiri di depan pintu ruang Presedir untuk menyambut Zelle.


Zelle datang kekantor bersama Brandon hari ini. Brandon bilang kalau naik bus terlalu ramai dan tidak nyaman, jadi dia memberinya tumpangan.


"Aku juga merindukan kalian." Zelle sangat bahagia. Hari-hari yang tidak menyenangkan telah berlalu, dan dia ingin menjalani kehidupan yang baru.


"Baiklah, aku akan memberitahunya kalau aku akan keluar untuk merayakan malam ini," Zelle langsung setuju.


Mereka bertiga berbicara sebentar, dan para karyawan datang satu persatu. Lily telah diberi tahu kalau Zelle, istri presiden, akan masuk kerja hari ini, jadi dia harus datang lebih awal.


"Zelle, aku belum melihatmu dalam beberapa bulan ini. Kamu semakin cantik saja. Ngomong-ngomong, presedir telah mengatur sebuah tempat baru untukmu bekerja. Mari, ikuti aku." Lily selalu baik pada Zelle. Sekarang dia tahu kalau Zelle adalah istri dari presedir, dia menjadi lebih berhati-hati berada di sekitar Zelle.


"Di mana tempat baruku?" Zelle menatap Lily.


"Di samping meja presedir. Katanya kamu akan nyaman didekatnya." Lily tidak tahu apa tujuan Brandon. Bagaimanapun, dia hanya perlu melakukan apa yang dia perintahkan.


Zelle tersipu ketika dia mendengar kalimat itu. Dia mengikuti Lily ke ruang presedir di lantai 30.


Mejanya telah diletakkan di tempatnya. Seperti sebelumnya, di sebelah kanan Brandon. Hanya ada dua meja di seluruh ruangan itu.


Lily membawa Zelle ke sini dan memberinya beberapa instruksi sebelum dia pergi.


"Duduklah. Semuanya sudah siap. Kamu bisa langsung mulai bekerja," kata Brandon pada Zelle.

__ADS_1


"Apa Prilly tidak akan bekerja di sini lagi?"


Meja Prilly sudah hilang. Begitu juga segala sesuatu yang menjadi miliknya, seolah-olah dia belum pernah keruangan itu sebelumnya.


"Kenapa kamu peduli padanya? Kamu ingin seseorang berada di antara kita?" Brandon meletakkan pulpen di tangannya dan menatap Zelle. Selama Zelle berada di sisinya, tidak ada lagi hal yang penting baginya.


"Tentu saja tidak. Aku hanya bertanya." Zelle terkekeh. Dia merasa kalau Brandon dan dia sudah seperti pasangan lama.


Zelle duduk di belakang mejanya, dia memperhatikan ada Vas bunga dimejanya.


Dia menyentuh kelopak bunga itu, Zelle sangat senang.


"Apa kamu menyukainya?" Tatapan Brandon tertuju padanya sepanjang waktu.


"Iya, aku menyukainya." Zelle paling suka dengan tanaman.


Mendengar kalau Zelle menyukainya, Brandon juga sangat senang. Kemarin, dia sendiri yang memilihnya di toko bunga. Pemilik toko itu mengatakan kalau bunga ini sangat mudah dirawat, memiliki masa berbunga yang panjang, dan sangat harum. Semua yang dikatakannya memenuhi standar keinginan Brandon.


"Kalau kamu lapar, ada makanan di laci. Ngomong-ngomong, tolong buatkan aku secangkir kopi." Brandon telah menunggu Zelle selesai berbicara dengan Vela dan Audy agar dia bisa datang untuk membuatkan kopi untuknya. Kopi yang dibuat oleh istrinya adalah kopi yang paling enak.


Inilah yang dipikirkan Brandon, tetapi hasilnya tidak seperti yang dia harapkan.


Zelle mengambil cangkir dan pergi ke pantry untuk membuatkan kopi untuk Brandon. Karena suasana hati yang sangat baik, Zelle bahkan tidak sadar kalau dia telah membuatkan secangkir kopi dengan air dingin.


Dalam perjalanan kembali keruangan Brandon, Zelle bertanya-tanya mengapa air panas tidak mengeluarkan uap. Tidak pernah terpikir olehnya, untuk membuat kopi dengan air dingin.


Setelah meletakkan kopi di meja Brandon, Zelle kembali ke mejanya. Tugasnya adalah membaca beberapa dokumen yang tidak penting.


Brandon dengan bahagia mengambil cangkir kopi itu dan menyesapnya. Kemudian dia menatap Zelle dengan ekspresi aneh.


Zelle merasa Brandon sedang menatapnya. Jadi dia melihat ke arah samping, melihat ekspresi Brandon yang membingungkannya.


"Ada apa? Apa tidak enak?" dia bertanya pada Brandon.


"Tidak, ini enak. Aku menyukainya." Dengan cepat, Brandon meminum kopi dingin itu.


Bersambung.........

__ADS_1


__ADS_2