Terikat Kontrak CEO Misterius

Terikat Kontrak CEO Misterius
Aborsi


__ADS_3

Mereka saling mengobrol, sampai mereka tertidur tidur di tempat tidur Zelle, untungnya, tempat tidur itu besar, sehingga mereka tidak akan merasa sesak.


Hari mulai gelap, jadi sudah saatnya Vela dan Audy pulang.


Zelle mengantar mereka sampai ke depan pintu, dia sangat enggan berpisah dengan mereka.


"Zelle, jaga dirimu baik-baik. Kami akan sering menelepon mu. Sepertinya kamu cukup lelah. Kamu harus istirahat dengan baik." Vela dan Audy mengingatkan Zelle sebelum mereka pergi.


🍒🍒🍒


Usia kandungan Zelle sekarang sudah menginjak empat bulan. Dia sudah tidak menderita morning sickness lagi. Dia kembali seperti biasa, makan begitu banyak, juga dengan bayi diperutnya.


Jaster masih tinggal bersama mereka. Brandon bilang kalau Zelle menyukai makanan yang dimasak oleh Jaster, jadi dia meminta Jaster untuk tetap tinggal disana dan memasak untuk Zelle


Brandon benar, dia tidak seharusnya menyuruh ayahnya untuk pindah. Dia merasa sangat senang jika ayahnya bisa menemaninya di rumah.


"Zelle, ini sudah empat bulan. Kita harus pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan lagi." Brandon mengambil cuti sehari dari jadwalnya yang padat dan berencana membawa Zelle ke rumah sakit.


"Aku akan pergi sendiri. Kamu bisa menyelesaikan urusan mu." Zelle pikir dia bisa pergi ke rumah sakit sendiri, dan itu tidak perlu siapa pun untuk menemaninya.


"Sebaiknya aku ikut denganmu. Lagi pula, aku sudah menyelesaikan pekerjaanku hari ini, dan tidak banyak yang harus kulakukan besok." Brandon masih khawatir. Dia ingin berada disamping Zelle sepanjang waktu.


Zelle tidak memaksanyaagi. Sejak Brandon berkata demikian, dia yakin dia telah mengatur semuanya dengan baik.


Saat Zelle hamil, Brandon selalu menghabiskan lebih banyak waktu di rumah, tetapi dia sering keluar saat malam hari. Zelle mengira dia mungkin pergi menemui Prilly, jadi dia merasa sedikit bingung.


****


"Tuan Brandon, saya minta maaf untuk memberitahu Anda kabar buruk. Bayi Anda menderita kelainan bentuk fisik bawaan. Kami menyarankan untuk melakukan aborsi," Ucap dokter melihat laporan USG dan berkata kepada Brandon


"Apa? Cacat fisik bawaan?


Apa ini serius?" Brandon menjadi cemas.


"Benar Tuan. Maaf. Sejauh ini, kami tidak bisa melihat anggota tubuhnya." Dokter itu menunjukkan salah satu gambar B-ultrasound ke Brandon

__ADS_1


Brandon melihatnya dengan serius. Namun, ini adalah bayi pertamanya dan Zelle. Zelle begitu bahagia menjadi seorang ibu. Jika dia tiba-tiba menyuruhnya untuk menggugurkan bayinya, Brandon takut dia tidak akan cukup kuat untuk menahannya.


"Tidak bisakah kita menunggu lebih lama lagi?" Tanya Brandon pada dokter


"Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Kalau tidak, sang ibu akan lebih menderita dan itu akan menyebabkan efek buruk pada rahimnya. Jadi kita harus segera menggugurkan bayinya. Kamu masih muda. Saya yakin, tuhan akan memberikan kesempatan kedua kepada kalian nanti." Sang dokter menghela nafas, dia berusaha untuk menghibur Brandon. Dia juga tidak mau hal ini terjadi. Tetapi dia harus bertanggung jawab atas pasien dan anak itu.


"Aku-aku akan memikirkannya. Aku harus kembali dan membicarakannya dengan istriku." Brandon merasa sulit untuk membuat keputusan


"Baiklah, Tuan Brandon. Jika Anda sudah mengambil keputusan, tolong hubungi saya sesegera mungkin agar saya dapat mengatur operasinya." Dia mendesah lagi.


Brandon keluar dari ruangan dokter, dia merasa sedih dan merasa ini semua tidak adil.


"Bagaimana, apa yang dikatakan dokter?" Zelle melihat Brandon dengan ekspresi penuh harapan di wajahnya. Dia merasa bayinya baik-baik saja dan tidak perlu melakukan pemeriksaan apa pun.


"Zelle, apakah kamu lapar? Aku akan mengantar kamu pulang dulu. Ada sesuatu yang mau kuberitahukan padamu malam nanti." Brandon belum menemukan cara untuk memberi tahu Zelle. Dia ingin pergi ke perusahaan dan memikirkannya disana


"Baiklah, kalau begitu aku akan menunggumu." Melihat ekspresi Brandon yang mengerikan, Zelle berhenti bertanya.


Saat mereka meninggalkan rumah sakit, Prilly keluar dari sudut ruang sebelah. Dia melihat Brandon membawa Zelle ke sini, jadi dia mengikuti mereka. Sekarang setelah mereka pergi, dia memasuki ruangan dokter yang memeriksa Zelle barusan.


"Prilly? Aku sudah lama tidak melihatmu selama beberapa tahun ini, dan kamu semakin tinggi dan lebih cantik." Olive adalah teman sekelasnya ibu Prilly


"Olive, kamu terlihat cantik seperti biasa." Prilly dan Olive berbasa-basi.


Setelah bertukar sapa, Prilly langsung ke intinya.


"Olive, apa yang terjadi pada Brandon barusan? Dia tampak agak pucat."


"Wanita yang datang bersamanya sedang hamil. Seharusnya itu kabar baik, tetapi bayinya menderita cacat fisik. Jadi dia harus menggugurkannya." Olive tidak menyembunyikan apa pun dari Prilly dan memberitahunya.


"Yah, ini memang sangat menyedihkan." Prilly tahu kalau Olive adalah orang yang baik, jadi dia berpura-pura kasihan pada Brandon. Setelah mendapat jawaban dari rasa penasaran nya, dia pun pamit pada Olive


Prilly pergi ke perusahaan, dia melihat Brandon lagi sibuk dengan pekerjaan nya. Dia mungkin belum memberi tahu Zelle tentang berita ini. Bukan Prilly namanya, yang tidak memiliki segudang ide. Dia akan memberi tahu Zelle tentang berita ini.


✓"Brandon, aku tahu Zelle sedang hamil sekarang, tapi aku tidak keberatan. Jangan memaksanya untuk melakukan aborsi. Bayi itu adalah rezeki." Zelle tiba-tiba menerima pesan seperti ini

__ADS_1


Dan kemudian.....


✓"Maaf Zelle, aku salah kirim. Jangan salah paham dulu."


Zelle menghapus kedua pesan tersebut. Apa maksudnya?


"Apa Brandon memintaku untuk menggugurkan bayi ini? Apakah dia berpura-pura baik padaku? Tapi sepertinya dia tidak begitu."


Sedetik kemudian, Zelle menerima telepon dari nomor yang tidak dikenal. Jadi dia tidak menjawabnya.


Namun, orang itu sangat gigih. Dia terus saja menelepon, akhirnya Zelle hanya bisa mengangkatnya.


"Zelle, aku baru saja membuat kesalahan. Jangan salah paham dan jangan pernah menyalahkan Brandon tentang hal ini. Dia tidak punya pilihan lain." Prilly yang menelepon. Suaranya terdengar cemas, seolah-olah dia akan menangis.


"Maksud kamu apa?" Zelle bertanya padanya.


"Zelle, aku tidak bermaksud menyakitimu. Brandon...... aku tidak mau. Bayi itu tidak bersalah." Setelah Prilly selesai berbicara, dia menutup telepon sambil menangis.


Zelle memegang ponselnya dan menatapnya kosong. Apakah Brandon benar-benar berniat menggugurkan bayinya karena tidak ingin Prilly menjadi ibu tiri dari bayinya? usia kandungan nya sudah empat bulan. Bagaimana dia bisa begitu tidak berperasaan?


Zelle termenung dengan pikiran kosong. Sampai dia mengabaikan panggilan dari Jaster untuk makan.


Makanan yang dimasak oleh Jaster dan ahli gizi itu sangat enak, tetapi menurut Zelle hanya ada rasa hambar di lidahnya.


Zelle mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya, namun, menit berikutnya, dia menghentikan suapannya. Dia tidak nafsu makan sama sekali.


Dia ingin bertemu Brandon dan bertanya mengapa dia ingin membunuh bayinya.


Namun, dia tidak boleh terlalu cemas. Dia harus tenang demi bayinya. Dia tidak mau menggugurkan bayinya. Anaknya adalah hidupnya sekarang. Jika bayi itu diaborsi, cinta dan perhatian nya pada Brandon semuanya akan hilang.


****


"Zelle, kenapa kamu tidak menyalakan lampunya?" Brandon masuk ke kamar, melihat Zelle sedang duduk dalam kegelapan.


"Brandon, akhirnya kamu pulang." Zelle berucap dengan suara bergetar, terdengar sangat menyedihkan bagi yang mendengar nya.

__ADS_1


Bersambung.............


__ADS_2