Terikat Kontrak CEO Misterius

Terikat Kontrak CEO Misterius
Masker wajah


__ADS_3

Mobil melaju ke Mansion. Zelle masih tenggelam dalam kebahagian. Setelah memarkir mobil, Brandon berjalan keluar, membuka pintu dan menggendong Zelle masuk.


"Tuan Brandon, aku tidak mabuk. Aku bisa berjalan sendiri," Zelle buru-buru menjelaskan kepada Brandon


Namun, Brandon tidak mendengarkannya sama sekali. Dia menggendong nya, membawanya ke kamarnya melewati banyak pelayan.


🍂🍂🍂


Menjelang pagi, Zelle bangun dan melihat wajah tampan suaminya, "Brandon, kenapa kamu begitu kuat?"


Dia sangat marah. Tadi malam, mereka bercinta. Awalnya luar biasa, tetapi kemudian Zelle dibuat kualahan dan dia ingin menghentikan Brandon. Namun, Brandon tampak sangat energik seperti binatang buas yang kelaparan.


Pada akhirnya, Zelle kelelahan dan merasakan pinggangnya seakan mau patah.


Sementara Brandon terlihat sangat ceria karena dia telah bersenang-senang tadi malam. Melihat wajah marah Zelle, Brandon menggulingkannya kembali sambil tersenyum puas.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" Zelle tampak waspada, seluruh tubuhnya sakit dan tidak memiliki kekuatan untuk melawan.


"Aku tidak akan melakukan apapun padamu.Tenang saja baby!" kata Brandon dan meletakkan tangannya di pinggang Zelle untuk memijatnya.


Brandon sangat terampil. Zelle merasa nyaman hingga dia menutup matanya.


Brandon merasa terangsang saat menyentuh kulit Zelle yang halus dan lembut. Dia mencoba yang terbaik untuk menahan keinginannya sampai lupa memijatnya.


"Lanjutkan." Zelle menyukai pijatannya, jadi dia menjadi tidak senang saat Brandon berhenti memijatnya


"Baiklah istriku." lanjut Brandon. Ketika dia memijat, dia berpikir kalau Zelle sangat fleksibel mungkin karena dia mulai belajar balet sejak usia dini. Brandon tersenyum dan berpikir itu merupakan hal yang bagus, karena dia bisa mencoba sesuatu yang baru saat bercinta dengan Zelle di tempat tidur.


Brandon merasa Zelle pasti akan menamparnya jika dia tahu apa yang tengah pikirkannya sekarang!


Zelle terlihat puas, dia bertanya-tanya bagaimana Brandon memperlakukan Prilly sebelumnya. Apakah dia selembut dan sebaik ini?


"Baiklah, kamu boleh berhenti sekarang. Tuan Brandon, mengapa kamu tidak berangkat kerja hari ini?" Zelle bangkit dan ingin bersiap untuk pergi bekerja


"Sebenarnya, kupikir lebih baik kamu memanggilku Brandon saja atau lebih baik sayang." Brandon benci saat Zelle memanggilnya Tuan Brandon


Zelle memutar matanya ke arahnya dan tidak ingin berbicara dengannya. Dia bangun dari tempat tidur dan mandi. Setelah itu, dia mulai menyisir rambutnya yang panjang. Rambutnya hitam dan berkilau, menjuntai sampai ke pinggangnya.


"Biarkan aku membantumu." Brandon meraih sisir dan menyisir rambut Zelle dengan lembut.


"Tuan Brandon, apa kamu sering melakukan ini? Kamu tampaknya sangat mahir." Zelle melihat di cermin kalau Brandon sangat lembut.


Brandon tidak mengatakan apa-apa. Ini adalah pertama kalinya dia membantu seorang gadis menyisir rambutnya. Dia mengerutkan bibirnya dengan gugup, khawatir dia akan menyakiti Zelle


Dengan susah payah, dia akhirnya merapikan rambutnya. Lalu dia menghela napas lega.


Setelah rambutnya menjadi halus, Zelle mengikatnya menjadi ekor kuda, terlihat sangat cantik.


Saat Brandon hendak memujinya, teleponnya tiba-tiba berdering. Ternyata itu adalah asistennya, jadi dia pergi untuk menjawabnya.


Zelle berpakaian dan kemudian turun untuk sarapan. Dia benar-benar lelah tadi malam dan sekarang dia kelaparan.


Sebelum Zelle menyelesaikan sarapannya, teleponnya pun berdering. Dia melihat nama Vela dan buru-buru Zelle mengangkatnya.


"Zelle, kamu sangat beruntung! Kudengar kamu memenangkan hadiah tadi malam. Sepuluh persen saham Wade Group. YaTuhan, ini hadiah yang sangat besar!" teriak Vela


"Ya, memang benar," kata Zelle dengan makanan dimulutnya.


"Tapi kenapa kamu menolaknya? Itu uang dalam jumlah besar, yang cukup untuk sisa hidupmu. Jika kamu bercerai dengan Brandon nanti, Maka kamu bisa mengganti uangnya untuk tagihan medis ayahmu. Kenapa kamu begitu bodoh?" Vela tidak mengerti apa yang dipikirkan Zelle


"Vela, aku memang memenangkan hadiahnya. Aku akan mentraktirmu makan malam nanti. Aku akan menjelaskannya saat kita bertemu nanti. Apa pun yang ingin kamu makan, katakan saja padaku!" Zelle tidak ingin membicarakan masalah ini dengan Vela sekarang, karena akan sulit untuk menjelaskannya di telepon.

__ADS_1


"Luar biasa! Kamu memang yang terbaik. Baiklah, aku akan mengatakannya nanti. Aku mau udang karang. Akhirnya aku bisa makan sebanyak yang aku mau malam ini!" kata Vela


"Itu saja? Aku pikir kamu akan memesan sesuatu yang mahal! Kamu hanya mau udang karang?" Zelle memeriksa saldo banknya dan itu cukup untuk makan besar.


"Ya, aku hanya mau udang karang. Audy juga menginginkannya. Dia bersamaku sekarang, jadi kamu tidak perlu meneleponnya," kata Vela


"Baiklah. Aku akan memesan restoran. Kamu, Audy, dan aku akan menelepon Mark nanti." Zelle mengira Brandon tidak akan mau pergi bersama mereka untuk makan udang karang, meskipun dia telah memintanya untuk mengundangnya makan malam.


Zelle memutuskan untuk makan bersamanya lain kali.


Setelah sarapan, Zelle pun kembali kekamar untuk bekerja. Baru-baru ini, dia selalu bangun pagi untuk bekerja setiap hari. Tapi hari ini pekerjaannya tertunda sejak kepulangan Brandon.


Zelle membolak balik kertas dihadapannya, dia bertanya-tanya mengapa Brandon pulang tadi malam. Dia seharusnya bersama Prilly menikmati pesta itu. Meskipun Zelle berpikir demikian, dia tetap merasa senang Brandon telah kembali ke rumah.


Zelle bukanlah satu-satunya orang yang bahagia di keluarga ini. Melihat Brandon keluar dari kamar di pagi hari, Ezra juga merasa sangat senang. Sekarang Brandon semakin dekat dengan Zelle, Ezra akhirnya bisa meyakinkan Afina


Afina selalu ingin memiliki cucu, dan sekarang tampaknya mimpinya akan segera terwujud! Ezra pun menelepon Afina dengan bahagia.


****


"Zelle. Mommy di sini untuk menemuimu."


Zelle yang masih sibuk dengan pekerjaannya dikamar mendengar suara Afina


"Aku datang." Zelle tahu Afina sangat baik padanya. Saat ini, keluarga Dharmendra sangat baik padanya, kecuali Brandon yang tidak memiliki perasaan padanya.


Afina berdiri di luar pintu dengan banyak paper bag di tangannya, dan dia memandang Zelle sambil tersenyum.


"Nyonya Dharmendra, mengapa Anda membawa begitu banyak belanjaan?" Zelle buru-buru mengambil barang-barang itu.


"Kamu masih memanggilku Nyonya Dharmendra? Kita sudah menjadi keluarga sekarang. Panggil saja aku Mom!" Afina meletakkan belanjaan nya dan meminta Zelle memanggilnya Ibu.


"Mommy!" Sudah lama Zelle tidak memanggil kata itu. Ibunya meninggal saat Zelle masih kecil. Setelah itu, dia tidak pernah memanggil siapa pun dengan sebutan ibu


Zelle melihatnya dan tidak tahu bagaimana menghadapinya. Zelle tahu tonik itu adalah obat penguat cairan penyegar badan.


"Mom, aku dalam keadaan sehat. Aku tidak membutuhkan barang-barang itu, begitu pulaTuan Brandon." Zelle mengira Brandon sudah jauh lebih kuat. Jika Brandon masih meminum tonik itu, dia yang akan lebih menderita.


Zelle menolak. Dia merasa hanya orang yang lebih tua seperti Afina yang membutuhkan tonik dan dia masih sangat muda dan kuat.


"Kenapa tidak? Dengan tonik ini, kamu bisa lebih sehat dan bersiap untuk hamil. Aku sudah tidak sabar untuk menjadi seorang nenek!" Afina menjelaskan tujuannya.


Wajah Zelle memerah. Dia akan segera bercerai dengan Brandon dan dia tidak pernah ingin menjadi single mother.


Namun, Zelle tidak bisa memberi tahu Afina tentang hal ini. Ditentukan dalam kontrak antara Brandon dan dia bahwa mereka tidak boleh memberi tahu anggota keluarga mereka.


"Terima kasih, kalau begitu aku akan minum tonik ini." Zelle berpikir sejenak dan memutuskan untuk menerima ini terlebih dahulu. Kalau tidak, Afina tidak akan berhenti mengomel.


"Nah, itu bagus! Zelle, apa kamu nyaman tinggal di sini? Jika tidak, kamu bisa tinggal bersamaku di rumah utama Dharmendra. Kami memiliki lebih banyak pelayan dan tentunya bisa merawatmu dengan lebih baik." Afina sangat ingin Zelle tinggal bersamanya karena dia suka bosan di rumah. Meskipun dia memiliki dua anak laki-laki, tapi, mereka tidak dekat karena Afina bukanlah ibu kandung dari mereka. Dia benar-benar membutuhkan seseorang teman untuk mengusir kebosanan nya dirumah.


"Tidak, aku baik-baik saja di sini. Terima kasih, Bibi." Tanpa sadar, Zelle memanggil Afina Bibi lagi.


"Panggil aku Mom. Bagaimana kamu bisa lupa? Tidak apa-apa tinggal di sini jika kamu mau. Aku hanya berharap Brandon dan kamu bisa segera punya anak sehingga aku bisa membantu dan menyibukkan diri. Aku benar-benar bosan sekarang." Afina menjalani kehidupan yang membosankan setiap hari, hanya memasak, berbelanja, menata rambut, dan sebagainya.


Mendengar kata-kata Afina, wajah Zelle kembali memerah. Afina sangat baik padanya dan memperlakukannya seperti keluarga. Dia juga ingin menjadi bagian dari keluarga Dharmendra, tetapi dia tidak bisa. Kontrak akan berakhir dalam setahun. Jika dia terlibat terlalu jauh, dia akan lebih sedih saat dia pergi nanti.


"Zelle, ayo pergi dan melakukan perawatan wajah. Aku sudah membeli terlalu banyak perawatan spa dan tidak bisa menggunakan semuanya sendiri. Bisakah kamu ikut denganku?" Afina terlalu menyukai Zelle. Dia sangat cantik dan lembut. Dimata Afina, dia sempurna dalam segala hal.


Melihat mata Afina yang bersemangat, Zelle menyerah dan memutuskan untuk menunda pekerjaan nya.


"Ya, aku akan pergi bersamamu mom tapi setelah aku berganti pakaian." Zelle berganti pakaian dan pergi ke salon kecantikan bersama Afina

__ADS_1


Begitu sampai di salon kecantikan, Afina memegang tangan Zelle sepanjang jalan dan disambut oleh banyak wanita kaya. Dia menjawab sambil memperkenalkan Zelle kepada orang-orang itu.


"Ini Zelle, menantu perempuanku. Cantikkan?" Dia telah mengucapkan kata-kata yang sama berkali-kali dan dia sama sekali tidak bosan.


Namun, Zelle merasa malu. Orang-orang itu memberinya tatapan penuh arti. Sebagian besar dari mereka memandang rendah dirinya seolah-olah dia adalah social climber.


Afina dan Zelle pergi ke ruang VIP dan semua perlengkapan sudah siap.


Dua ahli kecantikan datang dan menyambut mereka dengan hangat.


"Nyonya Dharmendra, Anda juga di sini?" Seseorang menyapa Afina. Tapi wajahnya tampak terlalu berminyak untuk dikenali.


"Nyonya Dharmendra, saya Prilly." Prilly tersenyum manis.


"Halo, Prilly. Kamu juga di sini. Di mana ibumu?" Afina tidak menyukai Prilly. Dia hanya berpura-pura ramah karena mereka semua berasal dari keluarga terkenal.


Selain itu, dia tahu Brandon menyukai Prilly selama bertahun-tahun, dan dia hampir menyetujui pernikahan mereka. Untungnya, Prilly berhenti sendiri.


"Ibuku ada di ruangan lain untuk perawatan tubuh. Nyonya Dharmendra, kamu terlihat lebih muda." Prilly ingin menunjukkan kepada Zelle kalau Afina dan dia sangat dekat.


"Terima kasih. Kamu masih sangat manis dan bijaksana. Datang dan kunjungi kami saat kamu punya waktu." Kata Afina dengan sopan.


"Tentu." Prilly buru-buru setuju.


Kemudian Afina berhenti bicara karena sedang dipijat.


"Lihatlah kulitnya, sangat halus dan cerah. Dia tidak membutuhkan perawatan yang dalam. Yang normal saja sudah cukup. Pijat dengan lembut dan kulitnya tidak akan terluka," terdengar suara lembut di atas kepala Zelle


Dia merasakan suara ini begitu familiar baginya. Zelle pun mendongak. Ternyata itu adalah Ramit adik laki-laki nya Attar


"Baik Tuan." Jawab ahli kecantikan.


"Bibi, apakah kamu menyukai produk perawatan kulit yang aku rekomendasikan untukmu terakhir kali?" Ramit bertanya pada Afina yang telah selesai dipijat dan sedang berbaring untuk memasang masker wajah.


"Ramit, produk perawatan kulit yang kamu rekomendasikan sangat bagus. Kerutan di wajahku sudah hilang. Banyak orang bertanya padaku tentang produk apa yang kugunakan dan aku juga merekomendasikannya." Afina sangat memperhatikan wajahnya. Dan Ramit sebagai konsultannya, dia telah membantunya mendapatkan hasil terbaik dengan biaya yang lebih sedikit.


"Tidak heran aku mendapat lebih banyak pelanggan baru-baru ini. Terima kasih telah mempromosikannya." Ramit tersenyum.


"Nyonya Dharmendra, produk apa itu? Saya bisa membiarkan ibu saya mencobanya, jadi dia akan terlihat semuda Anda." Prilly telah menyelesaikan pijatan tubuhnya dan sedang menunggu masker wajah. Saat ahli kecantikan keluar untuk bersiap, dia berjalan ke tengah Zelle dan Afina dan berbicara dengan Afina


"Kamu harus tanya pada Ramit. Dia ahlinya." Afina tidak mau berbicara dengan Prilly


Prilly menoleh ke Ramit saat dia menatap wajah Zelle


"Ramit, katakan padaku. Ayo kita bicarakan diluar saja." Prilly mendatangi Ramit dan diam-diam melemparkan sesuatu ke dalam masker wajah Zelle


"Baiklah, aku akan memberitahumu." Ramit tidak menemukan adanya kejanggalan dan dia pun pergi bersama Prilly


Setelah mereka pergi, wajah Afina sudah ditutup dengan masker wajah, tapi Zelle tidak mau melakukannya. Kulitnya sangat sensitif, jadi dia memilih untuk melewatkannya.


"Saya tidak mau menggunakan masker wajah. Anda dapat memberikannya kepada orang lain. Saya mau ke kamar mandi dulu." Zelle diam-diam memberi tahu ahli kecantikan itu.


Sebelum ahli kecantikan itu sempat menjawab, Zelle sudah berdiri. Dia pergi dengan tergesa-gesa kalau-kalau Afina memanggilnya kembali.


Di ambang pintu, Zelle kebetulan bertemu dengan ahli kecantikan yang sedang memegang masker krim wajah Prilly.


BANG


Mangkuk masker krim itu jatuh ke lantai.


Bersambung..........

__ADS_1


love you All 🖤


__ADS_2