
Zelle mengambil berkas itu dan langsung menuju lantai 30.
TOK TOK TOK
" Masuk". Sahut seseorang didalam.
Zelle mendorong pintu lalu masuk. Zelle tertegun melihat orang yang sangat dia hindari.
π―π―π―
Brandon menegakkan badannya duduk di sofa. Tadi dia beristirahat sebentar. Saat melihat Zelle, dia tertegun karena kulit Zelle yang begitu manis dimata nya.
" Ada apa?." Brandon akhirnya membuka suara karena Zelle hanya diam mematung di ambang pintu. Aroma tubuh Zelle sungguh membuat Brandon nyaman.
" Eh, eh, aku mencari presedir." Zelle berbicara terbata. Dia ingin sekali menampar mulutnya, kenapa bisa menjadi panik seperti ini, padahal Brandon bukan lah monster atau kannibal. Kenapa dia begitu ketakutan?
" Katakan saja pada ku. Jangan membuang waktuku." Brandon berdiri, berjalan kearah Zelle dengan aura intimidasi yang kuat.
" Ah, iya, maaf sebelum nya. Aku hanya ingin mengantarkan berkas ini ke presedir. Tadi Sekretarisnya memintaku untuk mengantar kannya." Zelle meletakkan berkas tersebut di meja." Kalau begitu aku pergi dulu." Zelle berbalik memegang ganggang pintu. Namun, tiba-tiba Brandon menarik pergelangan tangannya,dan memepet tubuhnya ke dinding.
" Apa yang kamu lakukan? ini ruang presedir." Zelle kaget sampai bicara terbata-bata. Zelle menghargai pekerjaan nya di Gweneth Group. Jika presedir melihatnya bermain-main dengan pria dikantor nya, pasti karir nya akan tamat.
" Tidak masalah. Kalau presedir masuk ke sini, aku akan menyuruhnya keluar." Brandon berkata bercanda.
" Lepaskan aku! lepaskan! aku minta maaf karena sudah menabrak mobil mu dan diri mu kemaren. Aku sudah menikah, dan tolong lah bersikap sopan. Aku tidak mau kehilangan pekerjaan ku hanya gara- gara dirimu." Zelle mendorong Brandon begitu kuat hingga Brandon terjungkal.
" Oh, kamu sudah menikah ya? tapi kenapa saat dirumah sakit, kamu terlihat ahli dalam menggoda laki-laki. Atau kamu membeci ku karena aku tidak sekaya mereka?." Brandon teringat saat Zelle tersenyum lembut ke arah Mark Becher yang membuat Brandon cemburu.
" Bukan urusan mu. Mau aku dekat dengan siapa pun tidak ada urusannya dengan mu. Berkasnya ku taruh disini. Aku pergi dulu." Zelle memelototi Brandon. Zelle memegang ganggang pintu.
" Bukannya kamu mencari presedir? kalau berkas ini hilang, aku tidak mau bertanggung jawab." Brandon masih berdiri di tempat yang sama.
Brandon pintar berakting agar dia bisa berlama-lama berada didekat Zelle. Benar saja, Zelle mengambil kembali berkas itu. " presedir tidak ada disini, jadi, aku akan kesini lagi nanti." Zelle tidak mau menghabiskan waktu nya seruang dengan si pencabul ini.
__ADS_1
Tiba-tiba pintu terbuka, dan muncullah seorang pria.
" Oh, tuan Dharmendra, saya minta maaf, saya tidak tahu kalau ada perempuan disini." Attar melihat ke arah Zelle dan Brandon.
Melihat hal itu, Zelle pun memanfaatkan keadaan untuk pergi dari sana. Setelah keluar dari ruangan itu Zelle menggerutu . "Dasar pria cabul, tak tahu malu, apa yang dia lakukan diruang presedir? dan lihat, pria asing itu bahkan sangat menghormatinya, OMG, apa dia itu adalah presedir atau manager kantor ini?". Zelle pun panik, dia harus menanyakan nama belakang dari presedir kantor ini.
Sementara diruang presedir, Brandon masih terbengong menatap tempat dimana Zelle berdiri tadi.
" Tuan Dharmendra! Tuan! Gadis itu sudah pergi, apa yang anda liat?." Attar memanggilnya, menyadarkan Brandon.
" Katakan, ada apa?" Tanya Brandon dengan wajah dingin.
" Oh, aku ingat siapa wanita itu, dia Zelle, kan? wanita yang kamu ingin aku selidiki? apa kamu yang memintanya bekerja disini? Apa kamu sudah melupakan Prilly?" Tanya Attar.
" Bukankah, kamu terlalu banyak bicara? kalau tidak ada yang penting, lebih baik kamu keluar, menganggu saja." Brandon kembali duduk di kursi kebesarannya.
" Ada sesuatu yang ingin ku katakan." Attar hampir lupa tujuannya datang kesini. Attar menghampiri Brandon kemudian membungkuk lalu membisikkan sesuatu ke telinga Brandon.
Padahal, sedikit lagi Brandon bisa mencium Zelle. Namun, karena kedatangan Attar, semuanya sirna, sungguh Brandon sangat kesal dibuatnya.
" Ah, baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu. Oh iya, soal tadi kau bisa meluangkan waktu mu untuk mengulanginya." Goda Attar. Muka Brandon memerah di buatnya.
πππ
Attar meninggalkan ruangan Brandon. Dia berhenti di lobi perusahaan kemudian mengambil Ponselnya menelepon seseorang. Pada saat yang sama, seseorang berjalan di belakang Attar, meskipun Attar sedang menelepon , dia begitu peka terhadap sekeliling nya. Suda beberapa tahun, Attar menjabat sebagai anggota militer. Attar pun mendorong tubuh orang tersebut, ketika sudah dekat dengannya tanpa melihat siapa seseorang tersebut.
" Aww, siapa yang mendorong ku?" Vela jatuh ke lantai. Gelas kopi ditangan nya juga tumpah.
Attar menatap Vela. jelas-jelas disana hanya ada mereka berdua. Masih juga bertanya, siapa?. Menurut Attar Vela adalah wanita yang bodoh. Attar sangat membenci wanita bodoh. Attar memasukkan kembali Ponsel ke sakunya, kemudian berlalu pergi meninggalkan Vela.
BRAKK
Gelas kopi melayang di belakang Attar. Untung Attar begitu peka hingga dapat menghindarinya. Kalau tidak, mungkin gelas kaca itu sudah berakhir di kepalanya.
__ADS_1
" Berhenti disana!. Kamu sudah mendorong ku jatuh ke lantai. Bukannya meminta maaf atau menolong ku, malah kau pergi tanpa rasa bersalah. Sayang sekali, aku tidak akan membiarkan mu pergi begitu saja." Vela tersenyum devil, Vela baru sadar bahwa yang mendorong nya adalah pria itu. Karena Vela lihat hanya ada mereka berdua disini. Siapa lagi kalau bukan pria ini.
Attar berbalik kemudian berjalan ke arah Vela. Attar mengeluarkan sapu tangan dari Sakunya. Vela pikir Attar akan membersihkan bajunya yang terkena noda kopi, tapi malah sebaiknya, Attar melap tanggan nya dengan sapu tangan itu kemudian memasukkan nya kembali ke dalam Sakunya.
" Kalau aku tidak pergi, haruskah aku menunggu mu membelikan makan siang disini?" Kata Attar pada Vela.
" Kamu, kamu, kamu memang brengsek!" Vela sangat marah, kemudian dia melepaskan heels nya lalu melemparkan nya ke arah Attar. Namun Attar menangkapnya, lalu Vela melemparkan lagi sebelah nya, Attar juga menangkapnya.
" Apa lagi yang akan kau lemparkan padaku, pakaian?" Attar mengangkat alisnya sebelah.
Vela semakin meradang dibuatnya. Vela mendegus kesal. Akhirnya Vela pergi dengan kaki telanjang meninggalkan Attar tanpa berkata apapun.
' Dia hanya bajingan tampan'.
Sementara Attar merasa kecewa, melihat Vela pergi. Menurut Attar Vela adalah wanita tangguh dan pemberani. Kenapa malah pergi? Bukankah mereka harus bertarung ?
" Woii, kamu mau kemana? apa kamu tidak mau mengambil sepatu mu?" Teriak Attar lalu mengejar Vela.
Vela menoleh ke Attar dan tersenyum. " Tentu saja aku harus pergi. Disini, aku akan digigit anjing. Tidak mungkin kan, aku menggigit nya balik?"
Bersambung......
Note :
Hai pembaca setiaπ
Jangan lupa ya,
karena Novel ini adalah karya pertama ku, mohon maaf nyak, kalau banyak typo or ceritanya ga nyambung, xixixi
Jangan lupa tinggalkan like, comment, vote, dan bintang lima nya juga ya π
Love You All π€
__ADS_1