
Terima kasih untuk yang sudah baca, komen, dan likenya.
Karena cerita ini akan segera tamat."-"
π Happy reading π
"Siapa yang memasak makanan ini. Baunya menyengat sekali. Jauhkan makanan ini dariku." Brandon merasa mual mencium bau dari makanan itu.
Semua orang yang berada di sana terheran-heran melihat Brandon. Apalagi Zelle, jelas makanan itu sangat lezat. Dan bahkan bukan pertama kalinya, Brandon memakannya.
"Brandon, kamu kenapa?"
"Jauhkan saja dariku. Aku tidak suka dengan baunya." Brandon mendorong piring itu dan menutup hidungnya.
Zelle mengambil piring itu dan mengesampingkan nya. Zelle memberi Brandon minum. Semua orang disana menatapnya aneh. Begitu juga dengan Attar. Disana juga sudah ada Vela, karena Zelle memintanya untuk datang.
"Yasudah, kalau begitu makan ini saja. Kamu baru makan sesuap, perut mu masih kosong." Zelle mendekatkan semangkuk sup daging.
"Sayang, aku tidak nafsu makan lagi. Ayo kita kekamar." Rengek Brandon manja kepada Zelle.
Attar yang baru memasukkan makanan kemulutnya, tiba-tiba menjatuhkannya kembali saat setelah dia mendengar nada perkataan Brandon. Sungguh berbeda dari Brandon yang dia kenal. Attar bergidik ngeri. Sangat menggelikan.
"Brandon, tidak boleh pergi sebelum semua orang disini selesai makan. Tidak enak dengan Tuan Charlie." Kakek Deon merasa segan dengan Nyonya Ilona dan tuan Charlie.
"Tidak apa-apa, kami juga sudah selesai. Tapi, saya dan istri saya ingin menjelaskan sesuatu pada kalian semua terutama pada Zelle." Kata Tuan Charlie sambil melap mulutnya dengan serbet.
Brandon ingat, masih ada hal yang harus diselesaikan. Zelle harus tahu karena ini menyangkut dirinya. Brandon menggenggam tangan Zelle, seperti nya dia harus mengalah dulu. Entah kenapa dia ingin sekali bermanja dengan Zelle.
"Baiklah sayang. Nanti saja kekamarnya, ada sesuatu yang harus kamu ketahui." Kata Brandon sambil mengelus pipi Zelle lembut.
Semua orang disana merasa heran dengan perubahan tingkah Brandon begitu juga dengan Zelle. Apa Brandon salah makan?
Nyonya Ilona tersenyum melihat kemesraan mereka. Dia bersyukur putrinya bisa diterima baik oleh keluarga Dharmendra. Apalagi menikah dengan seorang pria mapan seperti Brandon.
Attar dan Vela saling melirik. Attar tersenyum padanya, tapi Vela hanya memasang wajah cueknya. Attar juga ingin bermanja seperti itu, dia merasa iri dengan hubungan Brandon dan Zelle.
Jacob juga berada disana, semenjak kejadian tadi siang dia menjadi sedikit pendiam dan hanya melirik sekilas kearah Brandon dan Zelle. Setelah itu dia fokus kembali kemakananya.
Setelah makan malam selesai, mereka semua pun pindah keruang keluarga. Mereka duduk dikursi, dan mempersilahkan untuk Tuan Charlie dan Nyonya Ilona.
__ADS_1
"Zelle, kamu tumbuh dengan baik nak. Kamu sudah menjadi wanita dewasa sekarang." Nyonya Ilona duduk disamping Zelle dan memegang tangan Zelle. Dia menatap Zelle dengan penuh kasih sayang.
"Maaf Nyonya, jujur saya bingung dengan ini semua. Waktu itu, saya tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian berdua. Saya bingung apa maksudnya? kenapa kalian bilang aku ini putri kalian?." Jawab Zelle dengan hati tak karuan. Sudah bertahun-tahun dia hidup dengan Jaster. Mana mungkin dia bukan anaknya.
"Sayang, jangan panggil Nyonya!. Seperti yang kamu dengar, saya adalah ibumu. Dan ini adalah ayahmu." Kata Nyonya Ilona sambil menunjuk Tuan Charlie.
Zelle tidak percaya dengan yang dikatakan Nyonya Ilona, bukankah ibunya sudah meninggal sewaktu dia kecil dulu?
"Kebohongan apa yang kalian katakan. Ibuku sudah meninggal saat aku kecil dulu. Dan ayahku adalah orang yang merawat ku dari kecil." Jawab Zelle mulai terisak. Dia sungguh tidak terima.
"Maafkan kami Zelle. Kami tidak ada disaat kamu dalam kesusahan ataupun merawat dirimu. Waktu itu ibumu menderita kanker rahim, dan dokter menyarankan kami untuk menggugurkan mu. Namun, ibumu bersikeras untuk mempertahankannya, dia mengatakan dia hanya ingin anaknya melihat keindahan dunia. Padahal waktu itu, dokter bilang besar kemungkinan diantara kalian hanya ada satu yang bisa diselamatkan." Tuan Charlie menceritakan nya dengan perasaan yang sangat sedih kala mengingat masa itu.
Zelle sangat antusias mendengarkan nya dan dia juga meneteskan air matanya. Nyonya Ilona juga menetes kan air matanya.
"Bagaimana mungkin? Tapi ayah Jaster bilang ibu ku sudah meninggal?" Brandon mengelus punggung istrinya. Dia berusaha menguatkannya.
"Itu benar Zelle. Apa yang Tuan Charlie dan Nyonya Ilona katakan adalah kebenaran." Suara seseorang datang dari pintu depan. Orang itu berjalan menuju mereka semua.
"Ayah." Zelle mendongak melihat kearah Jaster dan begitu juga dengan semua orang disana.
"Ah, iya. Maaf semuanya, saya tidak datang tepat waktu untuk menghadiri makan malamnya."Kata Jaster.
"Sayang, kamu tetap akan menjadi putriku. Ibumu berobat keluar negeri, sehingga dia menitipkan mu pada ayah. Dan selama disana, mereka fokus pada penyembuhan ibumu. Maafkan ayah yang tidak memberitahumu masalah ini dan maafkan ayah juga karena sudah berbohong padamu." Ucap Jaster sambil menyelipkan anak rambut Zelle kesamping telinganya dan kemudian dia juga mencium kening Zelle.
Zelle memeluk Jaster erat dia terisak sampai bahunya bergetar begitu juga dengan Nyonya Ilona dan tuan Charlie.
Semua orang disana menyaksikan nya. Mereka sangat terharu dengan kebenaran ini.
"Sayang, sekarang ibu yang kau rindukan sudah ada didekatmu. Ayo nak, peluk dia, dia sangat merindukan putrinya." Jaster mengurai pelukannya. Dan memberikan waktu untuk Zelle dan orang tua kandungnya.
Zelle pun melihat kearah Tuan Charlie dan Nyonya Ilona lalu dia berkata, "Mama" Zelle memeluk Nyonya Ilona dan mereka terisak bersama.
"Apa ayah juga boleh memeluk mu?" Tanya Tuan Charlie ingin bergabung dengan mereka.
Zelle melihat ayahnya, kemudian dia tersenyum dan mengangguk sambil berkata, "Ayah"
Tuan Charlie sangat terharu mendengar panggilan itu. Sudah belasan tahun dia merindukan panggilan itu. Mereka bertiga pun saling berpelukan.
Merka saling melepas rindu, mereka semua pun merasa lega akhirnya, Zelle tidak akan merasa kehilangan ibunya lagi. Afina sangat senang mengetahui hal ini.
__ADS_1
"Sayang, aku juga pengen dipeluk" Sahut Brandon memasang wajah puppy eyes nya.
Semua orang disana tertawa. Brandon sungguh konyol. Sejak kapan dia tidak tahu malu begini.
"Apa kamu mau dipeluk juga?" Bisik Attar ditelinga Vela.
Sementara Vela bersemu merah, mendengar suara dan deru nafas dari Attar.
****
PRANG
PRANG
PRANG
Barang-barang semuanya berjatuhan dari meja riasnya. Prilly mengamuk melempar semua barang nya.
"Kenapa, kenapa Brandon? Hiks, hiks, aku, aku sudah melakukan semuanya demi mu. Aku rela meninggalkan mimpiku hanya karena dirimu. Aaakkkh, hiks, hiks."
"Tapi, apa yang ku dapatkan? kau, malah memilih wanita lain. Aku membencimu Brandon, aku membencimu. Hahahahaha."
Begitulah kira-kira keadaan Prilly semenjak dia pulang dari cafe itu lebih tepatnya sejak dia bertemu Brandon. Dan kehilangan semuanya.
"Prilly, Prilly, sadarlah nak. Tidak semua hal bisa kita miliki. Kita sudah melakukan semua cara tapi kita tidak bisa memisahkan Brandon dan Zelle. Ayolah sayang, buka pintunya." Yolan menggedor-gedor pintu yang terkunci dari dalam. Dia begitu cemas dengan keadaan Prilly.
"Tidak, aku tidak akan membiarkan mereka hidup bahagia. Brandon hanya milikku, hanya milikku. Hahahah." Prilly tertawa penuh percaya diri. Kadang dia tertawa dan kadang dia menangis.
*****
"Maaf, anda bisa jelaskan nanti di kantor polisi." Ucap seorang polisi yang tidak memberikan kesempatan bicara padanya.
Tamat
Thanks yang sudah baca, like, komen, dan juga hadiah serta vote nya."-"
Terima kasih juga sudah mau mampir ke cerita yang gak seberapa ini"-"
Semoga bisa bertemu dicerita berikutnya. Insyaallah"-"
__ADS_1
Love you Allπ€