
Zelle membungkam mulut Brandon dengan mulutnya. Tangannya mulai menjelajah masuk kedalam kemeja Brandon, yang perlahan membuka kancingnya. Brandon begitu syok mendapatkan serangan dadakan itu. Dia juga sudah tidak tahan tapi mereka masih dalam perjalanan pulang. Tak cukup sampai disitu, tangan Zelle mulai turun kebawah membuka resleting celana Brandon.
Brandon yang merasakan sentuhan lembut dari tangan Zelle, berusaha menahannya, dengan mulut yang masih menyatu dia berusaha untuk berpikir jernih. Namun...
AHHHHK
Akhirnya ******* lolos keluar dari mulutnya. Dengan terpaksa Brandon menepikan mobilnya ditempat yang sunyi. Dia sudah tidak bisa mengontrol diri lagi.
🍒 Happy reading 🍒
Pagi pun datang membawa cahaya mentari masuk kecelah ventilasi kamar. Gundukan selimut itu menandakan dua sajoli yang saling tertidur berpelukan.
Setelah melakukan kegiatan panas didalam mobil, mereka pulang dan masih melanjutkan kegiatan panasnya malam itu. Tak kenal lelah baik Zelle maupun Brandon. Zelle sangat energik mungkin karena efek obat dalam tubuhnya, dan Brandon sangat menikmatinya.
DREEET
DREEET
DREEET
Deringan ponsel membuat Brandon terbangun dari tidurnya, tapi tidak dengan Zelle, dia tetap tidur nyenyak tak terusik. Dia terlihat sangat lelah, wajar saja, karena mereka bermain sampai shubuh.
Brandon mengucek matanya, meraba-raba mencari ponselnya. Setelah mendapatkannya, dia melihat nama Ezra disana, Brandon pun bangkit menuju balkon kamarnya menjauh takut mengganggu tidur istrinya.
"Katakan." Ucap Brandon to the point
"Tuan Brandon, mayat wanita itu sudah dievakuasi, sekarang berada dirumah sakit X. Dan untuk masalah yang menimpa Nona Zelle, pelakunya sudah ditangkap." Ezra gugup mendengar suara khas Brandon yang baru bangun tidur.
"Hmmm, bawa dia ketempat biasa. Jangan biarkan dia lolos."
KLIK
Panggilan itu pun diakhiri oleh Brandon. Dia kembali menghampiri istrinya, Brandon berdiri menatap wajah dan tubuh istrinya yang sudah seperti macan tutul. Lalu dia juga melihat tubuhnya yang hampir sama dengan Zelle. Brandon menggelengkan kepalanya, dia tersenyum merona mengingat malam panas mereka.
__ADS_1
Selesai Brandon berpakaian, sebelum dia keluar dari kamar, dia mencium kening Zelle barulah dia keluar dan tak lupa dia menitipkan pesan pada pelayan.
"Urus wanita yang berada dirumah sakit X. Aku akan segera kesana." Perintah Brandon pada Attar. Brandon memasukkan ponselnya kedalam saku dan melajukan mobilnya ketempat pelaku pertama yang menyakiti istrinya.
*****
Sesampainya Brandon ditempat, Ezra langsung menuntun Brandon masuk kedalam sebuah ruangan. Terlihat disana disebuah kursi kayu dan seorang pemuda terikat kaki dan tangannya dengan penutup kepala berwarna hitam.
"Buka, aku ingin melihat wajahnya." Titah Brandon, dan Ezra langsung melakukannya.
Saat penutup itu dibuka, tampaklah wajah yang sudah babak belur akibat hujaman dari Ezra. "Tuan, ampuni saya, saya salah, saya minta maaf." Pria itu menangis mengiba meminta ampun.
Brandon berjalan mendekat, "Hmm...apa katamu? kurang? Ezra, sepertinya, dia menginginkan aku untuk melukis wajah nya ini. Bagaimana menurutmu Ezra? tangan ku sudah gatal." Ezra hanya diam saja. Padahal wajah pria itu sudah tidak memiliki celah lagi, mata yang bengkak, bibir koyak, lebam dimana-mana. Tapi, Ezra tidak tahu harus berkata apa, dia juga ikut kesal mendengar Zelle yang disakiti.
Brandon mengeluarkan pisau lipat dari sakunya, melihat itu, pria itu pun menangis ketakutan, "Hiks, tuan, saya hanya melakukan perintah. Ampuni saya tuan. Saya masih memiliki istri dan anak yang harus saya nafkahi, hiks." Pria itu sungguh tidak tahu, kalau perempuan yang dia kasih obat itu adalah istri dari Brandon. Mungkin, jika dia tahu dia akan menolak perintah dari wanita itu.
"Siapa yang menyuruh mu?" Brandon mulai mengarahkan pisau itu kepipi pria itu. Dia seakan tak merasa kasihan sama sekali.
"Begitu rupanya, tapi aku berterima kasih padamu. Berkat usaha mu itu, aku dan istriku menikmati malam yang sangat menggairahkan. Karena suasana hatiku yang sedang baik, kau kulepaskan. Tapi, katakan siapa wanita itu?." Brandon pikir, pria ini tidak tahu apa-apa. Dia hanya seorang suruhan. Dan, Brandon juga tidak tega, jika dia menghabisinya, kasian anak dan istrinya. Lagi pula Zelle hanya dikasih obat perangsang yang sangat menguntungkannya semalam. Tapi, siapapun biang kerok masalah ini. Dia harus menerima balasannya.
Kemudian Brandon menoleh pada Ezra, mengisyaratkan dari matanya. Ezra yang mengetahui maksud Brandon pun segera melakukannya.
"Saya tidak tahu pasti tuan. Tapi, saya pernah mendengar seseorang memanggilnya dengan nama 'Aria'." Pengakuan pria itu, membuat Brandon diam. Bukankah Aria istri dari kakak keduanya? sejak kapan dia menjadi duri dalam keluarga Dharmendra?
Brandon berdiri, melap pisaunya dengan tisu Kemudian memasukkan nya kembali ke sakunya. "Ezra, lepaskan dia. Dan datang lah kerumah utama, suruh semua orang berkumpul. Aku akan menyelesaikan masalah ini secepatnya." Brandon sangat geram mengetahui siapa dalang dari masalah ini. Tapi, tinggal satu lagi masalah yang harus dia selesaikan.
****
Zelle terbangun dari tidurnya, dia bangkit sambil menarik selimut menutupi tubuhnya. Dia melihat sekeliling, ternyata dia sudah berada didalam kamar. Mengingat kegiatan mereka semalam, Zelle menjadi merona. Dia terlihat seperti wanita handal dalam urusan ranjang. Zelle melihat kearah samping, Brandon sudah tidak ada disana. Berarti dia sudah pergi. Zelle sangat salut dengan keperkasaan Brandon. Mengingat hal itu lagi, pipinya kembali bersemu merah.
Saat berada didalam kamar mandi, Zelle berdiri didepan sebuah cermin. Dan....
AKKKKHH
__ADS_1
Suara teriakan nya membuat para pelayan kaget. Mereka langsung naik keatas, mendobrak pintu, mereka takut Zelle dalam bahaya, bisa-bisa nyawa mereka sebagai gantinya.
TOK
TOK
TOK
"Nona, nona, nona, apa anda didalam? apa anda baik-baik saja?"
Pelayan-pelayan itu menggedor pintu kamar mandi dengan raut wajah penuh kecemasan. Zelle yang kaget melihat tubuhnya penuh dengan lebam merah, menutup mulutnya, dia begitu syok. "I...ya, aku baik-baik saja. Ta...a..di, hanya ada kecoak. Aku tidak apa-apa. Kalian pergilah." Ucap Zelle dalam kamar mandi. Dia malu untuk keluar, dia saja takut melihat tubuhnya, apalagi para pelayan itu.
Para pelayan itu menghela nafas lega. Mereka serempak mengelus dada. "Nona, segera lah turun kebawah, sarapan sudah siap. Kami akan keluar." Para pelayan itu pun keluar.
****
"Bagaimana? siapa wanita itu? " Tanya Brandon penasaran. Disana sudah ada Attar, Brandon juga meminta Attar menyelidiki wanita itu. Ezra berdiri saat mendengar suara Brandon.
"Sangat sulit dipercaya, tapi, aku percaya, mungkin ini balasan untuknya atas perbuatannya pada Zelle." Kata Attar yang membuat Brandon semakin penasaran.
"Langsung saja, jangan bertele-tele. Siapa dia?" Brandon sudah tidak sabaran.
"Wanita itu adalah mantan teman Zelle. Dia adalah Elea. Sekarang, tinggal menunggu kedatangan keluarganya." Ucap Attar dengan ringan.
Brandon terdiam. Dia tidak tahu Zelle memiliki teman sejahat Elea. Yang dia tahu selama ini teman Zelle hanya Vela dan Audy. Tuhan memang adil. Mungkin ini balasan untuknya. "Baiklah, aku rasa Zelle tidak perlu menghadiri pemakamannya, karena dia hanya mantan temannya."
"Attar, kau tetaplah berada disini, sampai keluarga wanita itu datang. Dan jelaskan pada mereka ini murni kecelakaan putrinya." Brandon, melangkah pergi.
"Tunggu, Brandon. Siapa pria itu?" Attar menghentikan langkah Brandon. Dia berharap Brandon akan segera memberitahu nya. Namun.....
"Selesaikan tugasmu dulu. Kau akan segera mengetahuinya." Brandon tersenyum, yang membuat Attar menggeram kesal.
Bersambung........
__ADS_1