Terikat Kontrak CEO Misterius

Terikat Kontrak CEO Misterius
Mansion yang megah


__ADS_3

Para anggota dewan yang hadir semuanya ternganga. Apakah pria lembut dan penuh cinta itu adalah presiden mereka yang berdarah dingin? Apakah mata mereka bermasalah? Apakah mereka benar-benar melihat senyum di wajahnya?


"Baiklah, mari kita bicara tentang departemen penjualan!" Brandon menutup telepon dan wajahnya berubah menjadi dingin kembali


Semua orang merasa lega. Mereka yakin mereka sudah berhalusinasi.


🍒🍒🍒


"Brandon benar-benar orang terkaya di B City. Mansion ini bahkan lebih besar dari rumah baru Mark!" Vela melihat-lihat ke Mansion tempat tinggal Zelle dan mulut nya tak berhenti memujinya dengan tulus.


"Zelle, menurutku sangat baik bagimu untuk tinggal di sini. Lingkungannya bagus dan rumahnya juga besar, meski transportasinya tidak nyaman. Namun, kamu punya mobil, jadi tidak masalah sama sekali." Setelah Vela selesai mengagumi ruang tamu, dia tertarik dengan buah segar di atas meja kopi sebelum mengalihkan pandangannya ke tempat lain.


"Kita sangat beruntung. Stroberi ini terlihat segar. Ada manggis juga. Ini buah favoritku." Mata Vela bersinar karena keserakahannya.


"Audy, keluargamu ini sangat kaya. Kamu harus mentraktir kami untuk makan besar. Aku akan menguras semua hartamu untuk menghilangkan rasa iriku padamu!" Vela terus menikmati buahnya, sambil terus berbicara.


"Bagus sekali, sesuaikan saja dirimu." Audy dengan senang hati menyetujuinya.


Mereka bermain-main dan berkeliling di dalam rum


rumah tersebut. Ketika mereka bersama, mereka selalu tertawa terbahak-bahak, dan saling bersenda gurau.


"Ayo. Udang rebusnya sudah siap. Kalian pasti suka." Jaster keluar dari dapur. Dia memegang sepanci besar udang rebus ditangannya. Jaster adalah juru masak yang hebat. Zelle dibesarkan olehnya sedari dia kecil. Dia berperan sebagai ayah sekaligus ibu dirumah, makanya, dia pintar memasak


"Tuan Jaster, kapan Anda kembali?" Vela melihat Jaster dan berlari menghampirinya dengan bersemangat.


"Vela! Kamu pasti Audy, kan? Zelle bilang sahabatnya akan berkunjung kesini, jadi aku menyiapkan hidangan ini. Melihatmu, aku merasa jauh lebih tua sekarang!" Jaster menepuk bahu Vela. Dia menyaksikan anak-anak ini tumbuh dewasa. Mereka sudah seperti anak-anaknya sendiri.

__ADS_1


"Tuan Jaster, Anda itu masih muda." Vela dan Audy memuji Jaster bersamaan.


"Baiklah, kalau begitu, kalian duduklah. Aku masih harus memasak dua hidangan lagi. Sebentar lagi akan segera siap." Sekarang dia dalam keadaan sehat dan dia tidak perlu khawatir lagi dengan bisnisnya yang sudah bangkrut, Jaster merasa dia harus bersantai sekarang


"Baiklah, kami akan menunggunya dengan sabar. Tuan Jaster adalah koki masak terbaik. Ibuku sudah belajar banyak masakan darinya!" kata Vela dengan girang


"Aku iri padamu Zelle karena memiliki seorang ayah yang cakap," Kata Audy, sambil mengambil udang rebus


"Sangat lezat." Audy tidak bisa menolaknya. Itu terlalu enak, jauh lebih enak dari apa yang dimasak ibunya. Dia berencana untuk meminta ibunya untuk belajar memasak dengan Tuan Jaster.


Melihat Audy menikmati makanannya, Vela pun buru-buru bergabung. Dia takut tidak akan ada udang rebus yang tersisa untuk nya nanti.


Sedangkan Zelle sama sekali tidak memiliki nafsu makan. Dia merasa sedikit tidak nyaman saat mencium baunya. Kehamilan nya sudah menginjak dua bulan. Untungnya, dia tidak muntah lagi, karena dia sudah minum obat.


"Zelle, cobalah ini. Mengapa kamu tidak memakannya? Ini sangat enak. Nanti kamu tidak kebagian." Sambil sibuk makan, mereka tidak lupa menguliti beberapa ekor udang untuk Zelle


"Habiskan saja. Ayahku bisa membuatnya untukku kapan saja." Zelle menaruh kembali udang yang sudah dikupas ke piring Vela


Jika bukan karena melihat piring yang masih ada di atas meja, Jaster akan ragu jika dia menyajikan udang rebus itu lagi. Udang rebus itu tidak tersisa sama sekali, yang Jaster liat hanyalah setumpuk kulit udang.


"Tuan Jaster, udang ini sangat enak. Kami sudah memakan semuanya" kata Audy dan Vela kepada Jaster dengan malu-malu


"Bagus sekali. Artinya aku masih pandai memasak. Ini bakso bakar dan kue kukus." Jaster membuat banyak hidangan sesuai dengan keinginan mereka, tetapi Zelle tidak tertarik makan apa pun.


"Ini kue manis kesukaan Zelle" Baru pada saat itulah Jaster menyajikan makanan yang diinginkan Zelle. Butuh waktu lama untuk memasak kue kesukaan Zelle. Tapi karena Zelle sangat menyukainya, Jaster akan memasaknya tidak peduli seberapa lama itu.


Makanan penutup ini disajikan begitu terlambat, sebab Audy dan Vela sudah kenyang, jadi hanya Zelle yang memiliki kesempatan untuk mencicipinya

__ADS_1


Makanan itu penuh dengan cinta seorang ayah. Zelle menikmatinya dengan senang hati. Sudah lama dia tidak pernah memakan masakan ayahnya. Sejak ayahnya dirawat di rumah sakit karena serangan jantung, Zelle sudah seperti anak kecil yang tidak diinginkan siapa pun.


"Zelle, kurasa ada yang salah denganmu!" Tiba-tiba Vela berkata kepada Zelle. Sambil makan sup, Audy juga menatap mereka.


"Apa yang salah?" Zelle mengira Vela mungkin mengetahui kehamilan nya. Zelle sedang berpikir keras bagaimana menjelaskannya kepada mereka.


"Apa kamu sengaja menyisakan makanan ini untuk kami? Makanan ini sangat enak tapi kamu seakan meminta kami untuk menghabiskannya. Aku sangat tersentuh pada mu Zelle" Vela memeluk Zelle


Saat itulah Zelle menghela napas lega. Dia hampir memberi tahu mereka tentang kehamilannya.


"Itu benar. Kalian adalah tamuku hari ini, jadi aku ingin membuat kalian bahagia. Lagi pula, ini pertama kalinya Audy menikmati makanan yang dimasak ayahku, dan dia sangat menyukainya.Tentu saja, aku harus memberinya lebih banyak makanan." Zelle terlihat sangat murah hati dan baik!


"Zelle, aku sangat mencintaimu." Audy tersenyum dengan sangat bahagia. Hari ini, dia makan dengan puas dan penuh kesenangan.


Setelah makan malam, mereka pergi kekamar Zelle untuk melihat-lihat kamarnya. Sebelum nya, Audy sudah pernah kesini. Makanya, dia tidak terlalu terkejut dengan interior nya. Sementara Vela, terkejut dengan apa yang dilihatnya. "Apa ini kamar tidurmu? Bahkan kamar tidur Zelle lebih besar dari rumahku Oh, lihatlah, ranjang ini sangat besar, muat untuk menampung beberapa orang"


Tanpa permisi, Vela langsung merebahkan tubuhnya diranjang Queen size itu. Dia merasakan kenyamanan yang tak dirasakan nya di kasur miliknya.


"Aku lega melihatmu menjalani kehidupan yang begitu baik. Zelle, kamu tidak perlu pergi bekerja lagi. Kudengar Prilly sedang dirawat di rumah sakit, tapi dia akan masuk kerja besok. Menjengkelkan sekali melihatnya. Sungguh baik bagimu untuk bersama Tuan Jaster di rumah." Vela merasa bahwa Brandon cukup baik pada Zelle. Pasti sangat luar biasa bisa tinggal dirumah ini!


"Yah, aku tidak akan bekerja untuk saat ini. Aku merasa malu ke perusahaan." Zelle tidak ingin pergi bekerja lagi. Dia sudah mendapat pekerjaan yang relatif baik.


Mereka saling mengobrol, sampai mereka tertidur tidur di tempat tidur Zelle, untungnya, tempat tidur itu besar, sehingga mereka tidak akan merasa sesak.


Hari mulai gelap, jadi sudah saatnya Vela dan Audy pulang.


Zelle mengantar mereka sampai ke depan pintu, dia sangat enggan berpisah dengan mereka.

__ADS_1


"Zelle, jaga dirimu baik-baik. Kami akan sering menelepon mu. Sepertinya kamu cukup lelah. Kamu harus istirahat dengan baik." Vela dan Audy mengingatkan Zelle sebelum mereka pergi.


Bersambung.......


__ADS_2