Terikat Kontrak CEO Misterius

Terikat Kontrak CEO Misterius
Kamu tidak mau mengaku juga?


__ADS_3

Brandon terdiam. Dia tidak tahu Zelle memiliki teman sejahat Elea. Yang dia tahu selama ini teman Zelle hanya Vela dan Audy. Tuhan memang adil. Mungkin ini balasan untuknya. "Baiklah, aku rasa Zelle tidak perlu menghadiri pemakamannya, karena dia hanya mantan temannya."


"Attar, kau tetaplah berada disini, sampai keluarga wanita itu datang. Dan jelaskan pada mereka ini murni kecelakaan putrinya." Brandon, melangkah pergi.


"Tunggu, Brandon. Siapa pria itu?" Attar menghentikan langkah Brandon. Dia berharap Brandon akan segera memberitahu nya. Namun.....


"Selesaikan tugasmu dulu. Kau akan segera mengetahuinya." Brandon tersenyum, yang membuat Attar menggeram kesal.


🍒 Happy reading 🍒


Semua anggota keluarga Dharmendra sudah berkumpul diruang keluarga. Zelle juga sudah berada disana. Brandon, menjemputnya setelah pulang dari rumah sakit. Tampak berbagai macam raut wajah dari setiap manusia disana. Terutama wajah Zelle yang terlihat ditekuk.


Semua orang memandang nya dengan heran. Zelle memakai pakaian hangat yang kerahnya sampai menutupi lehernya. Afina yang melihatnya, hanya bisa tersenyum geli, dia sudah berpengalaman soal itu. Pasti ini semua ulah putranya.


"Baiklah, aku mengumpulkan kalian semua disini, karena ada satu hal yang ingin kuberitahukan." Brandon melirik Aria yang duduk santai. Mungkin Aria pikir perbuatannya tidak akan diketahui. Namun, salah, Brandon sudah mengetahui semuanya.


"Terkait kejadian dihari ulang tahun kakek, aku sebagai cucu mu meminta maaf, karena tidak bisa hadir tepat waktu malam itu." Brandon melirik sang kakek yang tampak tertekan. "Selamat ulang tahun kek. Semoga kakek panjang umur."


"To the point saja. Aku tidak punya waktu mendengarkan ocehan mu itu. Aku punya janji dengan Prilly. Jangan membuang waktuku." Potong Jacob tidak sabaran. Dia nampak kesal dengan Brandon. Dia sengaja menekan kan nama Prilly, karena dia ingin menunjukkan pada Brandon, bahwa Prilly adalah miliknya.


Brandon melirik Jacob dengan dingin. Memang hubungan mereka tidak sehangat hubungan saudara pada umumnya. Kedua kakak tirinya, selalu ingin menyaingi dirinya. Brandon berdiri merapikan jasnya, dia berjalan menuju Televisi dan mengeluarkan handphone dari sakunya. Handphone itu terhubung ke televisi. Semua orang disana bertanya-tanya, apa yang sedang Brandon lakukan?


Nampak acara pesta malam itu berlangsung. Dimulai para tamu yang berdatangan, serta Zelle, Aria dan Afina yang sedang menyiapkan kursi dan meja untuk para tamu. Semua nya tampak baik-baik saja. Tidak ada yang terlihat salah dalam rekaman CCTV yang tengah mereka tonton sekarang.


Sampai dibagian dimana Aria berjalan mendekati Zelle dengan segelas minuman ditangannya. Tampak mereka berdua sedang mengobrol sampai ketika datang seorang pelayan pria membawa nampan dengan segelas minuman diatasnya.


Brandon menjeda vidio tersebut. Dia menzoom bagian wajah pria itu dan berkata, "Ingat baik-baik wajahnya. Barangkali ada diantara kalian yang mungkin mengenalinya atau bisa saja lupa." Kata-kata yang Brandon ucapkan membuat semua orang disana kebingungan. Jelas mereka tidak mengenali pelayan pria tersebut.


Aria mulai berkeringat dingin. Kaki dan telapak tangannya mulai mengeluarkan air. Vernant yang mengetahui hal aneh pada istrinya pun berbisik, "Sayang, kamu kenapa? Kamu sakit?."


Aria melihat wajah Vernant, dia tidak berkata apa-apa. Mungkin kah Brandon sudah mengetahui nya. Jika iya, maka tamatlah riwayat nya. Vernant pun menggenggam tangannya.

__ADS_1


Brandon kembali melanjutkan pemutaran vidio tersebut. Setelah Zelle meminum minuman itu, tampak dia baik-baik saja, namun, beberapa saat setelah itu, raut wajah Zelle tampak berbeda dari biasanya. Zelle terlihat menahan sesuatu. Apalagi wajahnya berubah menjadi merah.


Semua orang disana nampak serius menyaksikan vidio itu. Apa yang terjadi sebenarnya?


Dividio tersebut, beberapa saat sebelum Zelle mengalami gejala aneh, Aria pergi kesebuah ruangan sepi yang berada dibelakang. Dia berdiri didepan seorang pria berpakaian pelayan. Tampak mereka bercakap-cakap sebentar, dan kemudian Aria mengeluarkan amplop kuning dan memberikannya pada pelayan pria tersebut.


Semua orang disana menoleh pada Aria yang telah memucat. Apa maksud dari semua itu? Vernant juga merasa kebingungan. Apa yang dilakukan istrinya?


"Kenapa kalian semua melihat istri ku seperti itu? Mungkin saja Aria sedang berbagi dengan pelayan pria itu. Benerkan sayang?" Vernant menatap Aria yang semakin memucat.


"I....ya.." Aria gelagapan menjawabnya. Dia tidak tahu harus bagaimana. Semua orang merasa aneh dengan Aria.


"Kamu tidak mau mengaku juga?" Brandon bertanya dengan santainya.


Semua orang bingung apa yang dimaksud Brandon. "Brandon, apa yang kau katakan?" Vernant merasa tidak terima. Pertanyaan Brandon seakan menuduh istrinya yang melakukan hal itu pada Zelle.


"Baiklah, sepertinya, rekaman CCTV ini tidak berguna. Otak kalian sangat lamban untuk mencernanya."


"Tunggu dulu Brandon. Jelaskan maksud dari semua ini. Bagaimana bisa kamu menyuruh Aria pergi, dia menantu dirumah ini." Kakek Deon pun angkat bicara.


Brandon menghela nafas dan kemudian, "Zelle telah diberi obat perangsang, dan pelayan pria itulah yang melakukan nya."


" Lalu, apa hubungannya dengan Aria? bukankah kesalahan itu dilakukan oleh pelayan itu? seharusnya, kamu memberinya pelajaran, bukan menyuruh istriku pergi." Vernant berdiri menatap Brandon sengit.


"Istrimu inilah yang merencanakan semuanya." Brandon mulai terpancing emosi. "Jika, pada saat itu bukan aku pria yang bersama Zelle, mungkin rencana istrimu akan berhasil dan dia akan menertawakan nasib istriku. Tapi, tuhan tidak membiarkan dia menang. Jadi, silahkan bawa istrimu pergi keluar dari rumah ini karena keluarga Dharmendra tidak membutuhkan seorang pengkhianat." Kata Brandon.


Vernant mulai melayangkan tinjunya, tapi dicegah oleh Afina, "Hentikan. Masalah ini tidak akan selesai dengan perkelahian. Brandon, rekaman video ini tidak cukup untuk membuktikkan kalau Aria adalah pelakunya. Kamu tidak bisa menuduhnya tanpa bukti yang kuat."


"Baiklah, akan kutunjukkan pada kalian."


'Seorang wanita muda Tuan. Dia meminta ku untuk memberikan obat perangsang kedalam sebuah gelas minuman. Tapi, saya tidak tahu kalau itu diperuntukkan untuk siapa. Saya hanya melakukan perintah.'

__ADS_1


'Saya tidak tahu pasti tuan. Tapi, saya pernah mendengar seseorang memanggilnya dengan nama 'Aria'.'


Brandon, mematikan rekam suara tersebut. Semua orang melihat kearah Aria. Mereka tidak menyangka, sifat aslinya seperti itu.


"Aria."


"Maafkan aku, aku minta maaf, aku khilaf." Aria akhirnya mengakuinya, dia menangis terisak sambil memegang lengan Vernant.


Semua orang terdiam. Mereka masih tidak menyangka. Brandon menyeringai, "Kemasi barang-barang mu dan pergi dari sini."


"Kamu tidak bisa mengusir Aria dari sini. Dia bagian dari keluarga kita." Vernant tidak mau istrinya pergi.


"Kalau kau juga ingin ikut dengannya, itu akan lebih baik." Ucap Brandon.


Semua orang disana dalam dilema. Begitu juga kakek Deon, Brandon salah satu penerus keluarga Dharmendra, jadi dia lebih berhak menentukan keputusan nya.


"Brandon, Aria sudah minta maaf, apa tidak sebaiknya, kita memaafkan perbuatan nya?." Kakek Deon berusaha menjadi penengah.


Brandon berjalan mendekat kearah Zelle, dia memegang tangan Zelle dan berkata, "Baiklah, jika dia masih tinggal dirumah ini, maka aku dan Zelle yang akan pergi dari sini." Brandon menarik Zelle berjalan keluar. Namun Afina menghentikan nya.


"Tunggu, Brandon. Alangkah baiknya, kita serahkan keputusan ini pada Zelle. Lagi pula, Zelle-lah korban disini. Dan Aria, apapun keputusan Zelle mau tidak mau kau harus melakukannya. Setiap perbuatan ada balasan. Terlepas baik buruknya, kau harus menanggung konsekuensi nya." Afina tidak rela Zelle pergi dari rumah. Jadi, dia mengambil jalan tengah dari masalah itu.


****


"Elea, Elea, hiks, hiks." Suara tangis itu menyayat hati. Ibu Elea terkulai lemas diatas pusara Elea, dia tidak menyangka anak semata wayangnya akan pergi secepat itu.


"Mah, sudah mah, Elea sudah tenang dialam sana. Kita hanya bisa mendoakannya." Ucap sang papa mengelus punggung istrinya.


Sedangkan seorang pria yang berdiri dibalik pohon tak jauh dari tempat pemakaman Elea, dia tertegun sembari melap air matanya. Dia tidak menyangka Elea akan pergi secepat ini. Padahal baru kemaren mereka bertemu.


"Semoga kau bahagia dialam sana, Elea. Maafkan aku yang pernah berlaku kasar padamu." Liam menitikkan air matanya. Walau bagaimanapun, Elea sangat mencintai dirinya. Liam teringat dengan kenangan manisnya bersama Elea.

__ADS_1


Bersambung..........


__ADS_2