
Ayahnya hampir sembuh dari penyakitnya. Dia sekarang sedang dalam masa pemulihan di Prancis. Zelle merasa kasihan karena dia tidak menemaninya saat ayahnya menjalani operasi.
Ketika ayahnya kembali nanti, dia akan menghabiskan banyak waktu bersamanya dan membantunya menjaga kesehatannya. Zelle yakin kalau dia bisa diandalkan dalam menjaga ayahnya.
"Zelle, ayah akan kembali besok lusa. Akhirnya ayah pulang juga!" Jaster menelepon Zelle. Dia senang karena operasinya sangat sukses. Dan dia bisa merawat putrinya ketika dia sembuh nanti.
🍂🍂🍂
Saat Jaster sampai dibandara, dia langsung mencari keberadaan putrinya. Namun, nihil, dia tidak menemukan Zelle. Sudah empat bulan lamanya dia tidak bertemu Zelle, dia sangat merindukan nya.
Ada sedikit rasa kecewa di relung hatinya. Namun, suara seseorang yang berjalan mendekat kearah nya, mengejutkannya, "Anda pasti Tuan Jaster. Saya telah menunggu anda. Mari ikut saya." Pria itu mengambil alih tas tangan Jaster dan membawanya ke depan.
"Anda siapa?" Jaster bertanya-tanya mengapa putrinya tidak datang.
"Saya di sini untuk menjemputmu. Putrimu sedang tidak sehat, makanya, dia tidak bisa datang. Lagi pula, disini terlalu ramai tidak baik untuk kesehatan nya." Pria itu menjelaskan kepada Jaster
Mungkin Zelle masih marah pada Brandon sekarang. Tadi dia bersikeras untuk pergi ke bandara, namun, Brandon juga bersikeras melarangnya. Dia belum sehat, Brandon tidak mau mengambil banyak resiko. Akhirnya, Zelle menurut juga.
Dirumah, Zelle diminta Brandon beristirahat. Keseringan muntah membuat tubuh Zelle melemah, Brandon juga sudah memanggil dokter untuk merawat Zelle. Sekarang dia tengah di infus, untuk mencukupi kebutuhan tubuhnya setelah muntah.
"Zelle sakit?" Jaster sangat cemas dan gugup. Sedari kecil, Zelle tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Dialah yang membesarkan nya seorang diri.
"Tidak. Dia tengah hamil muda, dan sering mengalami mual setiap pagi. Suaminya begitu mengkhawatirkan nya, sehingga dia dilarang untuk pergi kemana pun. Tuan Lovata, anda tidak perlu khawatir, sebentar lagi Anda bisa menemuinya. Mari." Jelas pria itu
Mendengar penjelasan pria itu, Jaster merasa lega. Putrinya sakit karena faktor kehamilan, bukan penyakit lain. Dulu, saat mengandung Zelle, ibunya juga mengalami morning sickness. Saat itu, Jaster tidak terlalu mau mengurusinya. Meskipun akhirnya, dia meninggalkannya, Jaster tidak menyesali nya.
"Liam benar-benar pria yang baik. Dia begitu peduli pada Zelle." Kata Jaster sambil tersenyum
Sementara pria itu hanya bisa melongo mendengar ucapan Jaster. Liam? Manager Abrisam Group? Apa hubungannya dengan Nyonya Dharmendra?
Setelah menempuh beberapa menit perjalanan, sekarang mereka telah sampai di Mansion. Pria itu langsung membawa Jaster masuk. Sedangkan Zelle masih terbaring diruang tamu dengan selang infus ditangannya. Dan Zelle sudah meminta Brandon pergi bekerja, dia tidak mau melihat Brandon, karena dia masih kesal padanya.
__ADS_1
"Zelle!" Jaster mau menangis rasanya saat melihat wajah pucat putrinya.
"Ayah! Bagaimana perjalananmu? Apakah semuanya baik-baik saja?" Senyum menghiasi wajahnya saat dia melihat ayahnya.
"Semuanya baik-baik saja. Zelle, apakah kamu merasa lebih baik? ayah dengar kamu mengalami morning sickness. Kamu harus berhati-hati. Makan sesuatu yang asam mungkin bisa membantu meredakannya. Ibumu dulu juga memakannya saat dia hamil." Kata Jaster
Jaster meminta pelayanan disamping nya, untuk mengambil kan jeruk untuk Zelle.
Lalu Jaster pergi mencuci tangan nya terlebih dahulu, baru setelah itu dia kembali untuk mengupas jeruknya.
"Yang ini seharusnya cukup asam. Cobalah. Kamu akan menyukainya." Jaster memberikan satu potong jeruk padanya.
Zelle menggigitnya. Tidak terasa asam sama sekali dilidahnya.
Ezra tertegun. Dia baru saja mencoba satu potong jeruk itu. Rasanya asam pada jeruk itu begitu kuat sehingga dia tidak bisa menelannya saat dia menggigitnya.
"Enak. Aku mau lagi." Zelle menyukai rasa ini. Sangat manis dilidahnya
Dia mau nambah satu jeruk lagi, namun Jaster menghentikannya. Dia harus makan sesuatu yang hambar setelah makan yang asam. Selain itu, terlalu banyak makan makanan asam akan merusak kesehatan giginya.
Setelah makan jaruk, Zelle merasa jauh lebih baik sekarang
"Ayah, bagaimana kesehatanmu?" Melihat ayahnya yang tersenyum padanya, Zelle tiba-tiba teringat dengan Brandon. Jika bukan karena dia, ayahnya mungkin sudah meninggal.
"Ayah baik-baik saja. Ayah menjalani banyak tes sebelum ayah keluar dari rumah sakit. Dan tidak ada masalah sama sekali. Dokter bilang kalau ayah adalah salah satu pasien yang sembuh total di rumah sakit mereka." Jaster senang dia bisa sembuh kembali.
"Bagus sekali. Ayah, kamu belum makan, kan? Aku sudah meminta pelayan untuk menyiapkan makanan untukmu. Ayah bisa makan dulu, setelah itu kita akan mengobrol nanti." Cairan infus ditangannya sudah hampir habis. Zelle mau berbicara dengan ayahnya nanti setelah semuanya selesai.
Ezra membawa Jaster ke ruang makan. Makanan telah disajikan sebelum dia tiba.
"Tempat ini tidak terlihat seperti rumah Zelle. Aku ingat Liam dan Zelle dulu tinggal di sebuah apartemen. Kapan itu menjadi Mansion?" Rumah itu sangat besar sehingga Jaster dibuat kebingungan olehnya.
__ADS_1
"Tuan Lovata, silakan makan. Anda pasti sudah lapar sekarang." Ezra berkata kepada Jaster sambil tersenyum.
Biarlah Zelle yang akan menjelaskan yang sebenarnya nanti. Tidak pantas bagi orang lain untuk mengatakannya.
"Benar. Aku sangat lapar." Jaster berada diluar negeri sudah lebih dari empat bulan, dia sangat merindukan makanan dari tanah airnya.
Dia tidak bisa makan apapun sebelum operasi. Dan
saat dia akhirnya diizinkan untuk makan, Jaster malah tidak menyukai makanan itu. Oleh karena itu, perutnya jarang sekali kenyang.
Melihat masakan dihadapannya, Jaster kembali bersemangat.
Dia hampir menghabiskan semua hidangan dimeja itu. Ezra begitu kaget melihatnya, dia tahu sekarang, dari mana Zelle memiliki nafsu makan yang baik. Sebelas dua belas dengan ayahnya.
Jaster meletakkan garpu dan mulai memuji makanannya. Dia memberi tahu Ezra bahwa dia sudah lama tidak makan masakan rumahan, dan dia merasa bahwa makanan negaranya adalah yang terbaik.
Ketika Jaster selesai makan, infus Zelle juga telah habis. Jaster pun kembali ke ruang tamu.
"Zelle, kapan kamu pindah ke sini? Rumah ini pasti sangat mahal. Liam hanya seorang manajer. Bagaimana dia bisa membelinya?" Jaster takut putrinya mengambil pinjaman. Butuh waktu lama untuk melunasinya.
"Ayah, aku dan Liam sudah bercerai." Zelle tahu dia tidak akan mampu menyembunyikan kebenaran ini lagi dari ayahnya. Sudah saatnya, Jaster tahu kebenaran nya.
"Kalian sudah bercerai? Tapi kenapa? Apa yang terjadi?" Jaster telah ditipu oleh Liam. Dan dia tidak tahu bahwa Liam lah yang membuatnya bangkrut.
"Ayah, dengar. Aku..." Zelle langsung memberi tahu Jaster bagaimana dia dipaksa bercerai tak lama setelah mereka menikah.Tapi dia tidak mengatakan apa-apa tentang malam pernikahannya.
Jaster menggeprak meja didepannya, hampir saja dia menghancurkan meja itu.
"Beraninya dia!" Jaster marah besar dengan perilaku Liam pada putrinya. Untungnya, penyakit jantung nya sudah sembuh, jika tidak, mungkin dia akan pingsan sekarang.
"Semuanya sudah berakhir ayah. Tuhan sudah mengganti rasa sedih ku menjadi kebahagiaan yang tak ternilai. Dan yang membiayai operasi mu adalah menantu laki-laki mu, ayah." Zelle berusaha mengalihkan kemarahan ayahnya, dan dia ingin Jaster memiliki kesan baik tentang Brandon.
__ADS_1
Bersambung...........