
" Woii, kamu mau kemana? apa kamu tidak mau mengambil sepatu mu?" Teriak Attar lalu mengejar Vela.
Vela menoleh ke Attar dan tersenyum. " Tentu saja aku harus pergi. Disini, aku akan digigit anjing. Tidak mungkin kan, aku menggigit nya balik?"
π»π»π»
Zelle memasuki ruangannya dengan tergesa-gesa. Zelle mendekati salah satu karyawan sana. " Maaf, saya mau nanya, siapa nama presedir di perusahaan ini?".
Wanita yang ditanya, mengernyitkan kening. Bagaimana Zelle bisa tidak tahu nama CEO Gweneth Group? semua orang pasti mengenal nya. Sementara Zelle yang merupakan karyawan disini tidak tahu.
Zelle menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Wanita didepannya menatap dengan bingung. Selama ini yang terpenting bagi Zelle adalah gajinya. Hal lain mah bodoh amat bagi Zelle.
" Brandon Calvin Dharmendra. Nama boss banyak di koran dan majalah. Kenapa kamu bisa tidak tahu? " Tanya wanita itu dengan bingung.
Zelle tertegun mendengar nya. ' jadi pria itu adalah bos ku. Oh, tuhan tamat lah riwayat ku' Ucap Zelle dalam hati. Dia mengabaikan wanita didepannya. Zelle seolah berhenti bernapas, dengan terhuyung-huyung, dia kembali ke tempat duduk nya.
Zelle menatap kosong tumpukan berkas di depan nya. " Apa yang harus aku lakukan? aku sudah menyinggung presedir? apa dia akan memecat ku?" Zelle sangat membutuhkan pekerjaan ini.
" Grizelle Lovata, kenapa kamu masih disini? bos memanggil mu untuk mengantarkan berkas yang kemaren dia minta." Kata Rio saat melihat Zelle duduk melamun.
Rio pikir Zelle tidak mendengar ucapannya. Rio menghampiri Zelle. " Zelle, bos memanggil mu."
" Yah, a...a...ku, sakit perut, tolong siapa yang ingin membantu ku mengantarkan nya? " Ucap Zelle gagap. Dia hanya ingin mencari jalan aman sekarang.
" Tidak apa-apa Zelle. Kamu bisa pergi ke toilet dulu. Jangan buru-buru. Bos cuma mau kamu yang mengantar kannya." Jawab Rio.
Zelle tahu, Brandon akan membalas dendam padanya. Tapi Zelle tidak bisa begini terus, walau bagaimana pun, dia masih ingin bekerja disini. Zelle menarik napas dalam-dalam, kemudian dia mengambil berkas itu dan memaksakan untuk tersenyum. Zelle pergi menuju lantai 30.
Sesampainya disana, Zelle sudah mengetuk pintu namun, belum ada jawaban dari dalam. Zelle pikir, Brandon tidak ada didalam, jdi, dia bisa meletakkan berkas itu di meja,lalu pergi. Zelle mendorong pintu, namun dugaan nya salah, sang bos duduk sedang menatap nya.
Zelle tersenyum canggung. " Tuan Dharmendra, ini berkas yang anda minta. Kalau tidak ada yang anda butuh kan lagi, saya permisi. Dan saya akan membereskan barang-barang saya sendiri." Ujar Zelle. Namun, Zelle tidak langsung keluar, dia menunggu jawaban dari Brandon.
Brandon fokus melihat berkas yang Zelle bawa. Zelle berjalan mendekat dengan tergesa-gesa. " Tuan Dharmendra, apa anda mau minum?" Kata Zelle dan menghidangkan secangkir kopi panas. Namun, karena dia sangat gugup, kopi panas itu tumpah mengenai tangannya. Zelle mengibas-ngibaskan tangan nya yang bengkak dan merah.
" Maafkan saya tuan Dharmendra. Saya sangat menyesal." Kata Zelle menundukkan kepalanya sambil memegang tangan nya yang sakit.
Zelle tidak menghiraukan rasa sakit di tangannya. Zelle mengambil beberapa tisu kemudian dia berjongkok membersihkan noda kopi di lantai.
" Baiklah, baiklah, kamu tidak perlu membersihkannya. Pergi lah keluar! dasar gadis bodoh." Brandon melihat tangan Zelle melepuh. Dia berusaha menyembunyikan kecemasannya. Dia menyuruh Zelle pergi, seolah-olah dia tidak perduli.
" Baiklah, saya akan pergi sekarang." Zelle ingin menangis menahan rasa sakit ditangannya. Ditambah lagi Brandon yang sama sekali tidak memperdulikannya. Sungguh pria yang kejam.
Saat Zelle di depan pintu, Akhirnya Brandon mengeluarkan kata-kata manisnya. " Jangan lupa oleskan salep."
Zelle sangat malu, sampai dia tidak mendengar ucapan Brandon. Zelle menangis, dia mencari tempat yang sunyi, kemudian menangis akibat rasa sakit ditangannya. Beberapa menit kemudian, Zelle menetralkan dirinya, dia mencoba untuk tersenyum. Dia menyembunyikan tangannya di belakang, kemudian berjalan menuju ruang kerjanya.
" Zelle, bagaimana? apa kamu di persulit bos?" Tanya teman-temannya.
" Tidak, bos baik kok". Jawab Zelle tersenyum dan duduk di kursinya.
Teman-temannya saling pandang, mereka menduga bahwa Zelle pasti di ceramahi sang bos. Mereka pun kembali ketempat duduk masing-masing. Sementara Zelle menahan rasa sakit ditangannya yang tampak melepuh.
Zelle tetap menyelesaikan pekerjaan nya. Karena tangannya sakit, jadi Zelle sedikit lambat mengetik di keyboard.
__ADS_1
.....
'Betapa bodohnya dia! Mengapa dia tidak meminta cuti dan pergi ke dokter? Tidak bisakah dia peduli dengan tangannya?' Brandon berpikir dengan kemarahan yang tak bisa dijelaskan.
Melalui monitor, Brandon melihat Zelle menangis disuatu tempat yang sunyi. Brandon merasa menyesal dan sedih, saat dia melihat tangan Zelle melepuh, serta tatapan Zelle yang lepuh menyakitkan, Brandon tidak tahan lagi.
.....
" Zelle, ada seseorang yang menunggu mu di bawah. Katany dia keluarga mu." Kata Rio. Zelle menyembunyikan tangannya ke belakang. Zelle berpikir bahwa itu mungkin itu tentang ayahnya. Zelle pun keluar.
" Ezra, apa ada masalah dengan ayah ku?" Tanya Zelle, seking cemasnya dia berlari kebawah dengan napas terengah-terengah. Zelle bertanya dengan gugup, meraih lengan Ezra.
" Tidak, tidak, ada sesuatu yang harus anda urus dirumah Nona." Ezra melihat tangan Zelle yang melepuh. Tapi dia tidak membicarakannya.
" Ooh, syukurlah, apa itu Ezra?" Zelle lega, ternyata ayahnya baik-baik saja.
" Anda akan tahu, saat anda berada dirumah nanti, Nona." Ezra masih merahasiakannya.
Zelle memasuki mobil, menyembunyikan tangannya agar Ezra tidak melihat nya. Zelle tahu Ezra adalah orang yang baik, selalu siap membantu nya, Zelle tidak ingin Ezra khawatir.
Sesampainya mereka di Mansion, Ezra mengajak Zelle ke taman. " Begini, Nona. Ini adalah bunga kesukaan tuan. Bunga ini sebentar lagi akan mekar. Tuan tidak bisa melihat bunga ini mekar, karena tuan Sekarang sangat sibuk. Jadi, bisa kah nona memotretnya untuk tuan?." Kata Ezra menunjuk ke beberapa bunga yang memang masih kuncup.
" Iya, tapi masalah nya, aku masih harus bekerja sekarang, aku tidak punya waktu menunggu bunga ini mekar." Zelle Sebenarnya ingin membantu, tapi pekerjaan nya belum selesai. Ini masih jam kerja.
" Jangan khawatir Nona. Saya sudah meminta cuti beberapa hari untuk Nona. Selesai ini, nona bisa kembali ke kantor." Jawab Ezra sambil memberi kamera.
πΊπΊπΊπΊ
NAMA : Brandon Calvin Dharmendra
UMUR : 29 tahun
CIRI-CIRI : Tinggi 190cm, hidung mancung, brewokan, kulit putih, badan atletis, bentuk rahang tajam, alis tebal
KARAKTER : Dingin, kejam, bengis, arogan, penyayang cerdas dan bertanggung jawab
NAMA : Grizelle Lovata
UMUR : 24 tahun
CIRI-CIRI : Tinggi 170cm, hidung mancung, kulit putih, bibir sexy, body aduhai
KARAKTER : Lembut, penyayang, penyabar, pekerja keras, setia
NAMA : Liam Abrisam
UMUR : 28 tahun
CIRI-CIRI : Tinggi 183cm, hidung mancung, kulit putih, brewokan, alis tebal,
__ADS_1
KARAKTER : Jahat, sombong, serakah
NAMA : Elea Barh
UMUR : 25 tahun
CIRI-CIRI : Sexy, hidung mancung, kulit putih, hasil ciptaan dokter dengan tinggi 169cm
KARAKTER : Jahat, angkuh, sombong, penipu dan serahkah
NAMA : Ezra Labis
UMUR : 29 tahun
CIRI-CIRI : Tinggi 183cm, brewokan, kulit eksotis, badan kekar
KARAKTER : Dingin, kejam, pelindung, setia dan penurut dan dapat diandalkan
NAMA : Vela Amber
UMUR : 24 tahun
CIRI-CIRI : Tinggi 169cm, hidung minimalis, kulit putih, bola mata abu-abu
KARAKTER : Perhatian, penyayang, pekerja keras, dan sedikit bar-bar
NAMA : Attar Chokri
UMUR : 29 tahun
CIRI-CIRI : Tinggi 185cm, kulit putih, brewokan, hidung mancung, badan atletis, alis tebal
KARAKTER : Dingin, sopan, penyayang, jahil, cerdas
NAMA : Mark Becher
UMUR : 28 tahun
CIRI-CIRI : Tinggi 182cm, hidung mancung, kulit putih, bola mata biru tua
KARAKTER : Dingin, ramah dan hanya tersenyum ke orang terdekat, Perhatian
__ADS_1