Terikat Kontrak CEO Misterius

Terikat Kontrak CEO Misterius
Mutual Love


__ADS_3

Dia menatap Zelle dan bertingkah cemberut dengan matanya yang besar, seperti anak kecil yang imut.


"Baiklah, baiklah. Coba aku lihat dulu. Aku bisa membacanya." Zelle masih belum terlalu percaya diri. Dia pikir dia hanya bisa membacakannya untuk Brandon.


Zelle ketakutan, dia khawatir pada dokumen bisnis itu.


Namun, dia melihat-lihat lagi dan ternyata tidak terlalu sulit untuknya.


"Menurutmu apa yang harus kita lakukan dengan ini?" Setelah Zelle selesai membaca dokumen itu, dan Brandon bertanya padanya di sofa.


🍒🍒🍒


Brandon menikmati suara Zelle yang terdengar manis dan lembut saat membaca dokumen itu, seolah-olah dia sedang menikmati permen yang manis.


"Bagaimana menurutmu?" Brandon bertanya pada Zelle sambil berbaring di sofa dengan nyaman.


"Aku?" Zelle tidak bisa mempercayainya. Dia belum pernah berurusan dengan urusan ini sebelumnya. Mengapa Brandon meminta pendapatnya?


"Kamu sendiri yang mengunci pintu. Hanya ada kamu dan aku dalam ruangan ini. Siapa lagi yang bisa kuajak bicara?" Brandon tampak tidak bersalah.


Ya, Zelle sudah mengunci pintu untuk menunjukkan kemarahannya pada Prilly. Tapi sekarang dia sudah melupakannya.


"Tapi aku tidak pernah berurusan dengan ini sebelumnya. Aku tidak mengerti sama sekali." Meskipun Zelle merasa itu tidak terlalu sulit baginya, tetap saja dia takut kalau dia akan mengatakan sesuatu yang salah.


"Itu sebabnya aku bertanya padamu. Aku ingin tahu apa yang akan dilakukan seorang amatir seperti mu tentang hal ini." Brandon tersenyum pada Zelle.


Sial. Brandon terlihat sangat tampan saat dia tersenyum. Dia pasti sedang berusaha merayu Zelle.


"Baiklah, aku akan mencobanya." Karena Zelle juga tertarik berbisnis, maka, setelah dia membaca dokumen itu, dia sudah memikirkan sebuah rencana. Tapi dia tidak tahu apakah itu bisa berhasil atau tidak.


Zelle mengambil dokumen itu, menganalisisnya secara mendetail dan menyampaikan pendapatnya Kepada Brandon.


Sementara, Brandon berbaring dengan nyaman di sofa. Tapi dia mulai perlahan duduk sambil mendengarkan pendapat Zelle.

__ADS_1


Seorang wanita yang tidak pernah berurusan dengan bisnis dapat membuat rencana yang begitu hebat? Mereka bahkan berada di level yang sama.


Setelah Zelle selesai berbicara, dia melihat kalau Brandon menatapnya seolah-olah dia telah menemukan harta karun.


"Apa aku mengatakan sesuatu yang salah? Sudah ku bilang kalau aku tidak memahaminya. Aku hanya akan berbicara omong kosong. Sudahlah." Melihat ekspresi Brandon yang tidak biasa, Zelle mengira dia salah dan langsung mundur.


Tapi Brandon meraih tangannya dengan sangat bahagia.


"Kamu sangat jenius. Aku sangat mencintaimu. Kamu sebelumnya tidak pernah berurusan dengan bisnis, tapi analisismu tidak kalah dengan pembisnis yang hebat! Kamu memang istri ku yang luar biasa!" Brandon memuji Zelle dengan sepenuh hati.


Wajah Zelle memerah. Rencananya yang sederhana dapat dibandingkan dengan seorang pengusaha yang hebat?


Brandon meminta Zelle untuk membaca dokumen lain dan menyampaikan pendapatnya lagi.


Rencana itu muncul begitu saja di benak Zelle setelah dia membaca dokumen itu. Dan menurut Brandon, masing-masing dari setiap pendapat Zelle sangat mengesankan.


"Zelle apa kamu yakin belum pernah berurusan dengan ini sebelumnya?" Brandon tidak bisa mempercayainya.


"Ya. Aku belum lulus saat perusahaan ayahku bangkrut. Dan aku belajar penerjemahan yang tidak ada hubungannya dengan bisnis." Zelle juga merasa aneh. Apa dia mendapatkan bakat ini dari ayahnya, Jaster?


Namun, Brandon tidak berpikir demikian. Kalau Jaster memang memiliki bakat seperti itu, dia tidak akan mungkin bisa bangkrut. Jaster lebih rendah dari Zelle dalam hal bisnis.


Namun, Jaster adalah ayah mertuanya. Brandon tidak berani mengatakan hal itu.


"Mungkin saja. Aku tidak akan terlalu lelah mengurusi perusahaan ini lagi.


"Zelle, aku ingin kau bekerja denganku sebagai asistenku. Kamu harus membantuku," kata Brandon dengan serius.


Namun, Zelle tidak mau menerimanya. Dia sedang menerjemahkan dokumen dari perusahaan lain. Jika dia kembali bekerja di sini, dia tidak akan punya waktu untuk menyelesaikannya.


"Entahlah, Brandon. Mungkin ini hanya kebetulan saja .Seharusnya aku membaca dokumen-dokumen ini saja." Zelle ingin membantu Brandon menangani beberapa pekerjaannya, tetapi itu semua adalah rahasia utama Gweneth Group. Zelle berpikir kalau dia seharusnya tidak boleh tahu terlalu banyak tentang hal itu.


"Aku akan kelelahan! Kamu sama sekali tidak peduli padaku, ya?. Apa kamu masih marah padaku? Itu semua salahku. Aku akan menebusnya untukmu. Aku janji." Brandon tidak suka mengucapkan kata-kata manis, tapi sekarang dia melakukannya untuk Zelle.

__ADS_1


"Baiklah, baiklah. Aku akan mencobanya. Tapi keputusan mu harus tetap jadi penentunya. Lagi pula, aku tidak punya pengalaman." Zelle luluh melihat tingkah lucu Brandon saat dia cemberut.


Setelah bekerja, mereka berpegangan tangan dan berjalan keluar dari ruangan. Saat turun dari lift, Brandon dan Zelle bertemu dengan banyak karyawan yang menyapa mereka. Semua karyawan tahu kalau mereka sudah menikah.


Prilly tersenyum di antara para karyawan itu. Dia tersenyum semakin lebar ketika Brandon dan Zelle berjalan mendekatinya.


"Brandon, Zelle, kalian sangat romantis." Prilly menatap mereka. Sepertinya mereka tidak bertengkar, jadi apakah yang dia lakukan sia-sia?


"Ya," jawab Zelle singkat. Brandon tidak mengatakan apa-apa. Dia menatap Zelle dan bahkan tidak memandang Prilly.


Semua orang di B City pernah mengatakan bahwa Brandon, pewaris dari Gweneth Group, hanya mencintai Prilly. Tapi sekarang tidak ada yang bisa mengatakan hal itu lagi. Mereka hanya bertanya-tanya mengapa semuanya berubah ketika Prilly telah kembali.


Prilly Merasa sakit hati karena laki-laki yang dia cintai begitu mudah berubah. Tapi detik berikutnya, dia menyemangati dirinya sendiri. Dia yakin kalau dia bisa mengubah Brandon kembali dan membuatnya jatuh cinta lagi padanya.


Ketika Zelle dan Brandon berjalan kepintu, Vela dan Audy sedang menunggu Zelle di sana. Zelle yang sibuk sepanjang hari ini dan hampir melupakan mereka.


"Brandon, kamu jauh lebih baik sekarang, tapi aku sudah menyuruh Ezra untuk menyiapkan makanan untukmu. Kamu tidak boleh makan di luar hari ini sementara aku sudah berjanji untuk merayakan malam ini dengan Audy dan Vela. Kamu bisa pulang sendiri sekarang." Zelle menyuruh Brandon untuk pulang sendiri.


Brandon memelototi Audy, tapi Audy tidak peduli sama sekali. Sekarang dia adalah temannya Zelle, Brandon tidak akan bisa berbuat apa-apa padanya.


Melihat Audy yang mengabaikannya, Brandon terpaksa harus melepaskan mereka. Lagi pula, dia merasa lelah karena berlari ke kamar mandi sepanjang hari. Dia hanya berpesan pada mereka untuk selalu berhati-hati.


"Zelle, lihatlah suamimu itu. Bagaimana kamu bisa membuatnya begitu patuh?" Canda Vela.


"Ya. Dulu, dia bahkan tidak mau mendengarkan Prilly. Oh, apa yang baru saja ku katakan? Aku akan membeli tiga es krim untuk kita." Audy bingung. Setelah mengatakannya, dia menyadari kalau dia seharusnya tidak menyebut-nyebut nama Prilly lagi. Jadi, dia pun dengan cepat mengganti topik pembicaraannya.


"Audy, tidak apa-apa. Sekarang aku lebih percaya diri." Zelle melihat punggung Audy dan berkata.


Zelle juga percaya pada Brandon. Sekarang mereka saling mencintai, dan mereka harus saling percaya dan tetap bersama.


Kalau seandainya, Brandon mengkhianati cintanya, mungkin Zelle akan meninggalkannya, tak perduli degan rasa sakit yang akan dia rasakan. Zelle juga sangat merindukan Mark, entah salah atau benar, yang jelas dia tidak merasa bersalah saat merasakan rasa itu.


Zelle juga telah melupakan Liam, apalagi semenjak dia berselingkuh dengan temannya sendiri. Dan sekarang, dia dan Brandon saling mencintai. Jadi, mereka harus percaya dengan cinta mereka. Dan mungkin sampai memaut memisahkan mereka.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2