Terjebak Cinta Tetangga

Terjebak Cinta Tetangga
Bab: 48 Bapaknya Diana kesal


__ADS_3

"Sudah pulang Na!?" tanya sang Ibu tatkala mendengar suara motor memasuki teras rumahnya.


Terlihat Diana tersenyum dan memberikan oleh-oleh kepada Ibunya tersebut. Nampak sang Ibu terlihat gembira tatkala sang anak membawakan oleh-oleh untuknya.


"Wah, kamu jadi dapat uang lembur Na," ucap sang Ibu dengan memasuki rumah. Kemudian dia duduk dan membuka makanan yang dibawa oleh sang anak.


"Itu semua pemberian Mas Alex," jawab Diana tersenyum sumringah.


"Apa,,!" sang Ibu matanya membulat sempurna seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh sang anak. Dalam benak sang Ibu berpikir akhirnya Alex kembali lagi loyal memberikan makanan kepada anaknya itu.


"Iya, itu semua yang belikan Mas Alex. Sebenarnya di kasih uangnya sih, terus aku belikan makanan kesukaan Ibu dan Bapak," jawab Diana dengan menghempaskan badannya di kursi sofa.


"Kamu telepon dia Na, atau,,," ucap sang Ibu seakan ragu untuk bisa bertanya lebih detail kepada sang anak.


"Mas Alex yang telepon aku Bu," ucap Diana dengan cepat.


_______


Terlihat wajah dari Bu Wina tersenyum lebar. Dalam benaknya berpikir akhirnya Alex tidak bisa melupakan sosok anaknya tersebut dan dalam hati kecil Bu Wina, dia ingin sekali kedekatan sang anak dan Alex agar lebih erat terjalin.


"Na, tadi Mas Alex sama kamu ngomong, bahwa dia suka sama kamu tidak?" tanya sang Ibu terdengar ragu dan takut jika pertanyaannya salah.


"Ibu mikirin apa sih, enggak lah Bu. Cuma tadi Mas Alex berencana ngajak Diana keluar kota besok dan pulangnya sore,"ucap Diana tersenyum bahagia.


"Ibu senang dengarnya Na, terus kamu mau kan menerima ajakan dari Mas Alex!" sang Ibu begitu antusias ketika berucap seakan mendukung anaknya. Diana sang anak nampak menganggukkan kepalanya dan tersenyum lebar.


______


Sang Ibu memeluk Diana dan mengelus pundak sang anak.


"Ibu Ingin kamu lebih dekat dengan Alex" gumam hati Bu Wina.

__ADS_1


Diana berpikir dalam hatinya. Mengapa sang Ibu sangat mendukung kalau dia bisa dekat dengan Alex. Pasti karena masalah finansial semata. Padahal jika membandingkan masalah finansial semata. Anaknya teman sang Bapak pun mempunyai finansial yang berlebih, apalagi dia tidak punya istri beda dengan Alex yang sudah punya istri dan anak. Bukannya lebih baik temannya sang Bapak kalau untuk di jadikan calon suami dirinya.


Berbagai tanya terasa hinggap dalam diri sang anak. Diana pun nampak menghela napas panjang kemudian dia mencoba memberanikan diri untuk bertanya kepada sang Ibu.


"Bu, apa Ibu yakin mau menjodohkan aku dengan Mas Alex kalau Diana ragu Bu!" ucapnya.


_____


Diana pun memberikan sebuah alasan bahwa Alex itu adalah suami tetangganya dan rasanya tidak mungkin kalau Alex itu akan menjadi suaminya. Dan dirinya menjadi istri kedua.


"Kalau sudah jodoh gimana?" sang Ibu dengan entengnya berucap seperti itu.


Diana memberikan sebuah alasan. Bukannya masih banyak lelaki yang lajang dan tidak mempunyai istri dan anak. Apalagi ini yang notabene suami tetangga.


"Sudahlah Na, kamu jangan banyak berpikir biar Ibu yang merencanakan semuanya. Lebih baik kamu sekarang istirahat saja mandi dan tidur kan besok mau pergi bersama Alex," jawab sang Ibu.


______


Suara motor terdengar memasuki teras Bu Wina dan nampak sang suami baru saja pulang kerja. Dan tatkala sang Bapak membuka pintu, terlihat di meja sudah ada tersedia makanan kesukaannya sontak sang Bapak tersenyum lebar dan menanyakan makannya dari siapa.


Setelah beberapa menit kemudian dan selesai makan. Terlihat sang Bapak duduk santai di kursi sofa, sementara Diana tengah membersihkan badannya di kamarnya.


Sang Ibu membawa satu kotak kue pukis yang dibawa oleh Diana tadi dan membuat sang Bapak menelan ludah karena kue tersebut adalah kue kesukaannya.


"Alhamdulillah akhirnya anak kita punya rezeki lebih. Tapi tolong Bu, bilang sama Diana sebaiknya dia jangan hamburkan uang karena cicilan motor juga kan bulan kemarin nunggak. Jadi sebaiknya memakai uang jangan boros," ucap sang Bapak mencoba mengarahkan kepada sang istri agar anaknya jangan bersifat boros.


"Uang cicilan motor susah di bayar sama Alex dan makanan yang barusan kita makan juga uangnya pemberian dari Alex," jawab sang Ibu tersenyum dan menoleh ke arah layar televisi.


______


DEGH...

__ADS_1


Sontak pukis yang sedang di makan yang tinggal sepotong lagi di simpan di atas meja oleh sang Bapak karena dia dihinggapi rasa terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh sang istri. Sang Bapak tidak menyangka bahwa Alex suka memberikan oleh-oleh atau uang kepada anaknya.


Sang Ibu pun terlihat kaget karena dia spontan berkata barusan. Dan dia terlihat gugup tatkala matanya bertatapan dengan sang suami.


"Jadi Diana selalu di beri uang oleh Alex! Maksud Ibu begitu? Awas Bu, hati-hati. Alex itu tetangga kita dan dia adalah suami Alya. Kamu jangan membiarkan anak kita lebih dekat lagi dengan Alex," tegas sang Bapak.


Terlihat di bola mata sang Bapak penuh rasa curiga dan seperti dihinggapi rasa tidak setuju jika sang anak harus dekat dengan Alex yang notabene sudah anggap dia seperti anaknya sendiri dan kebaikan dari keluarga Alex sudah tidak diragukan lagi.


______


"Ngomong apa sih, Pak! Alex itu sudah menganggap anak kita seperti adiknya sendiri jadi Bapak jangan salah paham," ucap sang istri terdengar gugup.


"Tapi kan kalau sering di berikan uang dan makanan. Apakah itu yang di namakan Kakak?" ucap sang Bapak seakan tidak setuju dengan pendapat sang istri.


"Sudahlah Pak, jangan mikir yang macam-macam," bela sang Ibu.


Dalam hati Bu Wina berpikir kenapa dia baru saja berucap seperti itu. Bukannya ada hal yang harus dia sembunyikan kepada sang suami. Apalagi ini menyangkut Alex yang notabene Bu Wina punya rencana akan mendekatkan sang anak dengan Alex.


"Berhati-hati Bu, bukannya aku mikir yang macam-macam," jawab sang suami cemberut.


_______


Kembali sang suami berucap bahwa dia sebenarnya tidak mau jika sang istri selalu pinjam uang dari Alex. Karena pada akhirnya Alex tidak mau menerima uang pinjaman tersebut. Terlihat sang istri seakan tidak menerima wejangan dari sang suami.


"Terus saya harus sama siapa pinjem uangnya! Sedangkan gaji kamu pas-pasan Pak! Coba kamu selain kerja ada usaha lain seperti Alex," sang Ibu seakan menyindir sang suami.


"Sabar Bu, kan beberapa minggu lagi aku akan buka usaha bareng teman," sang suami seakan menegaskan bahwa dia akan buka usaha bareng temannya tapi waktunya belum tepat.


"Sabar, sabar, ada batasnya," jawab sang istri,


sambil berlalu dari hadapan istrinya itu.

__ADS_1


"Awas saja kalau sampai anak kita mengganggu hubungan rumah tangga tetangga," ancam sang suami sedikit kesal.


Bersambung..


__ADS_2