Terjebak Cinta Tetangga

Terjebak Cinta Tetangga
Bab 76


__ADS_3

Satu jam kemudian.


Tiba-tiba Alex datang dari kantor dan dia nampak tersenyum ramah, tatkala melihat Rani sahabat istrinya itu. Alex tidak tahu kalau telah terjadi pertengkaran antara Rani dan Diana. Nampak Alya pun terlihat serius berbicara dengan Rani. Tatkala melihat kedatangan sang suami. Alya pun berlalu ke dapur untuk membuat secangkir kopi.


*Al, aku pamit pulang saja ya," ucap Rani tatkala Alya datang dari arah dapur dengan membawa secangkir kopi dan kini dia duduk di pinggir suaminya.


"Mau kemana Ran," ucap Alex terlihat tersipu malu karena kejadian kemarin. Tapi Rani pun seakan sudah melupakan kalau dirinya dan Alex hari kemarin sudah terjadi perdebatan.


"Suami dan anakku sedang menunggu Mas! Enggak enak sama mereka sudah menunggu lama," ucap Rani.


Rani pun pamit pulang dan sebelum pulang dia berbisik pada Alya bahwa dia harus mendengar ucapan yang barusan Rani bilang. Alya terlihat menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis.


_____


"Pah, mau makan dulu atau mau mandi?" tanya Alya kepada sang suami.


Alex nampak tersenyum renyah ke arah sang istri dan mencium kening Alya. Dalam hati Alya berpikir mungkin inilah saatnya agar dia harus bicara sama Alex mengenai masalah penting.


"Pah, tadi Kang Wisnu telpon bahwa rumah yang dia kontrakan, mulai besok sudah kosong dan alangkah baiknya kita isi cepat rumah itu," ucap Alya penuh antusias.


Nampak Alex mengernyitkan dahinya pertanda dia masih tidak paham dengan apa yang di ucapkan oleh sang istri tersebut. Karena Alex pikir 2 bulan lagi baru rumah yang di kontrakan oleh kakaknya Alya baru kosong.


"Loh, bukannya 2 bulan lagi baru kosong," jawab Alex terlihat dihinggapi rasa penasaran.


_____


Alya pun menerangkan kepada sang suami bahwa yang mengontrak rumah sudah selesai merenovasi rumahnya. Jadi dia tidak perlu tinggal di kontrakan Wisnu lagi untuk 2 bulan ke depan. Dan Alya masih teringat apa yang di ucapkan oleh sang sahabat Rani. Alya harus cepat meninggalkan rumahnya karena Diana dan Bu Wina sangat berbahaya. Mereka tidak ada sifat jera dan Rani sang sahabat mengkhawatirkan hal itu. Alya pun berharap cemas karena takut sang suami menolak keinginannya itu.


Alya terlihat bergelayut manja kepada sang suami dan berharap keinginannya bisa di kabulkan oleh sang suami. Nampak Alex menghela nafas secara perlahan dan menatap lekat kepada sang istri. Dia pun melirik ke arah perut sang istri dan mengusapnya lembut. Alya pun dalam hatinya tersenyum puas karena pasti suaminya akan memberikan kabar gembira.

__ADS_1


"Aku tidak mau Mah!" tegasnya dengan muka serius tapi terlihat menahan tawa.


____


DEGH ..


Sontak Alya terperanjat dan jarak duduknya bergeser menjauh dari arah sang suami. Dalam hatinya berpikir pasti Alex masih mengharapkan cinta Diana. Alya nampak cemberut dan matanya berubah menjadi dihinggapi rasa kesal yang tadinya redup dan membuat hati sang suami nyaman dan damai.


"Maksud Papa, apa!" Alya matanya berkaca-kaca.


"Maksud Papa, tidak mau menolaknya. Hehehe,," sang suami mencubit pipi sang istri dengan gemas.


"Tidak lucu, Pah!" jawab Alya bibirnya mengerucut. Padahal dalam hatinya dia dihinggapi rasa gembira yang luar biasa dengan apa yang di ucapkan oleh sang suami barusan.


_____


Alex pun nampak dengan spontan memeluk erat tubuh Alya dan mengecup bibirnya. Entah mengapa debaran jantung Alya saat itu juga seakan berdetak lebih cepat. Alya seakan menemukan kembali rasa nyaman, canda dan tawa dari sang suami yang sudah lama hilang. Begitu pun dengan Alex rasa sayang semakin hinggap pada dirinya. Dalam hatinya berpikir mengapa dia dulu melakukan perselingkuhan terus-menerus dengan wanita lain. Padahal istrinya tidak kurang sesuatu apapun. Alya cantik, baik, dan juga sabar. Alex seakan mengumpat keadaan dirinya yang telah menjadi lelaki bodoh selama ini karena telah menyia-nyiakan ketulusan kasih dan sayang dari istrinya itu.


"Kata maaf buat apa Pah," jawab Alya lirih.


"Aku telah menyia-nyiakan kamu," jawab Alex.


Air mata pun tidak teras menetes deras di hamparan pipinya. Dan nampak kedua anak mereka saling berpandangan tatkala melihat sang Papa menangis. Arya sang anak pun nampak berkaca-kaca matanya. Dia seakan tahu kegundahan selama ini yang terjadi di antara kedua orang tuanya. Meski Arya usianya masih kecil.


"Jangan berkata seperti itu Pah. Kita mulai dari nol lagi. Semoga ada hikmah di balik semua ini. Buat kita kuat hadapi semua cobaan yang diberikan oleh sang pencipta, maka kita akan memetik kemenangan kedepannya," Alya terdengar mencoba menyabarkan hati sang suami.


Alex pun merasa nyaman tatkala sang istri berucap seperti itu. Rasanya tidak ada wanita di dunia ini yang sebaik dan senyaman istrinya saat ini. Itu yang di rasakan oleh Alex saat ini.


_____

__ADS_1


DRETT...


DRETT...


DRETT...


Suara bunyi telepon nampak terdengar di ponsel milik Alex. Terlihat Alex yang tengah berpelukan dengan Alya dengan cepat dia melepaskannya. Di layar ponsel terlihat nama sang Ibu meneleponnya. Alex menatap Alya seakan memberikan sebuah isyarat. Kalau ponsel tersebut dia angkat atau tidak. Alya nampak tersenyum dan menandakan ponsel dari Ibunya Alex angkat saja, karena sang Ibu mau berbicara. Meskipun saat ini telah terjadi perselisihan di antara mereka.


{"Assalamu'alaikum Bu,"} ucap Alex dengan suara parau di sambungan teleponnya.


Nampak di sebrang sana sang Ibu seakan curiga dengan suara sang anak yang terdengar sakit atau sedang menyimpan masalah.


{"Kamu kenapa Nak?"} tanya sang Ibu..


{"Enggak apa-apa kok Bu,"} jawab Alex dengan menghela nafas panjang.


____


Sepertinya Alex sudah siap dengan ucapan sang Ibu saat ini. Jika sang Ibu mencoba kembali menyindir istrinya, Alex sebagai suami akan membela sang istri meskipun itu adalah sang Ibu yang menentangnya karena Alex berpikir Alya sang istri di pihak yang benar dan sang Ibu di pihak yang salah.


{"Ibu besok ya, ke rumah kamu. Hari ini Ibu gak jadi datang ke rumah kamu karena ada urusan sama Ibu-ibu pengajian dan baru saja Ibu pulang,"} ucap sang Ibu dengan suara santai dan tenang. Tidak seperti biasanya yang nada bicaranya nampak terdengar kesal dan penuh emosi.


Alex pun menyadari hal itu dengan suara sang Ibu yang buat hatinya tenang. Alex bersyukur dalam hatinya dan berharap sang Ibu bisa berubah sifatnya.


{"Tidak apa-apa Bu,"} jawab Alex.


{"Gimana kondisi Alya"} tanya sang Ibu.


Alex nampak berharap cemas kalau sang Ibu marah lagi ketika menanyakan kabar istrinya itu. Penuh tanya dalam diri Alex saat ini. Apakah sang Ibu masih kesal sama istrinya, atau malah sifatnya akan berubah karena Alex begitu yakin terdengar dari suara sang ibu sudah tidak ada rasa amarah lagi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2