Terjebak Cinta Tetangga

Terjebak Cinta Tetangga
Bab: 50 Sang Bapak Marah


__ADS_3

Suami dari Bu Wina nampak sore itu dia mau bertemu dengan temannya di sebuah cafe, Dia mau membicarakan masalah usahanya yang nanti akan dia jalani. Setelah selesai makan sang suami nampak pamit kepada sang istri, walau wajahnya masih terlihat cemberut karena masih menyimpan rasa kesal di dalam dirinya.


"Aku ikut Pak!" pinta sang istri.


"Nanti saja, setelah benar-benar jadi waktunya untuk memulai usaha baru kamu ikut," jawab sang suami tanpa melirik ke arah sang istri sedikitpun.


Akhirnya sang suami pun berlalu pergi dari hadapan sang istri yang terlihat berdiri di depan pintu. Tiba-tiba Bu Wina melirik ke arah rumahnya Alya dan nampak terlihat Alya begitu fokus sedang menyiram bunga di halaman rumah, sambil menggendong Amira anaknya yang nampak tengah melirik ke arah Bu Wina. Terlihat Amira tersenyum tatkala melihat Bu Wina.


Bu Wina dari kejauhan mencoba berinteraksi dengan Amira dengan mengajaknya bermain dan melambaikan tangannya. Suara tertawa renyah dari Amira pun nampak terdengar jelas oleh Alya.


_______


"Kenapa Nak," ucap Alya sambil melirik ke arah sang anak yang tengah membelakangi dirinya sambil erat di gendongan. Alya pun kemudian pandangan matanya tertuju ke arah dimana sang anak sedang tertawa renyah.


Terlihat disana Bu Wina tersenyum lebar dan melambaikan tangan. Alya pun tersenyum ramah ke arah Bu Wina. Nampak Amira sepertinya ingin di gendong oleh Bu Wina. Alya pun kemudian menyeret langkah kakinya menuju rumah Bu Wina.


_______


"Anak cantik, wangi banget kamu Nak!" ucap Bu Wina mencium rambut Amira yang baru saja tiba di rumahnya bersama Alya.


Amira pun kemudian di gendong oleh Bu Wina, terlihat sang anak begitu gembira tatkala Bu Wina menggendongnya. Alya tatapan matanya tertuju ke dalam rumah dan dia terlihat dihinggapi rasa heran karena di dalam rumah nampak sepi padahal ini adalah hari libur.


"Loh, di rumah sepi Bu, pada kemana?" tanya Alya sambil duduk di pinggir Bu Wina yang tengah asik berbicara dengan Amira.


"Diana lembur kerja sementara Bapaknya sedang pergi ada urusan," jawab Bu Wina.


"Rajin ya, Diana. Aku salut Bu, sama dia," ucap Alya tersenyum.


"Iya Al, kumpulin uang buat cicilan sepeda motor, hehehe,,," jawab Bu Wina.


______

__ADS_1


Beberapa menit kemudian.


Nampak Diana datang dengan memakai sepeda motornya dan tersenyum renyah ketika menatap Amira. Sontak Amira sepertinya ingin di gendong oleh Diana karena tangannya melambai ke arah Diana.


"Anak cantik sudah mandi ya, wangi banget kamu," ucap Diana sambil mencium gemas anak tersebut.


"Baru pulang lembur Na?" tanya Alya menatap Diana dan tersenyum manis.


"Iya Mbak, hehehe,," Diana tersenyum renyah.


Padahal dalam hatinya dihinggapi rasa tidak karuan karena sebenarnya dia tidak lembur kerja. Melainkan sudah pergi keluar kota bersama Alex suami dari Alya. Diana pun sedikit lega karena kepergiannya bersama Alex tidak diketahui oleh sang Ibu karena dia tadi pagi berbohong kepada sang Ibu bahwa dia akan lembur kerja.


_____


"Oh iya, ini kue pukis buat Arya," ucap Diana dengan memberikan 2 dus kue pukis kepada Alya. Dalam hatinya berpikir hari ini uang yang dia dapat dari Alex cukup besar jadi selain bisa beli kue, dia pun bisa menyisihkan uang tersebut untuk bayar cicilan sepeda motornya bulan depan.


"Wah, kamu baik banget Na. Iya, kemarin Arya merengek minta beliin sama Papanya. Tapi mungkin Papanya lupa kali, bisa jadi dia pas pulang dari luar kota tidak mampir beli kue pukis. Tapi yang beliin malah kamu," puji Alya kepada Diana.


_____


Setengah jam kemudian.


Nampak mobil Alex terdengar datang dan memasuki halaman rumahnya. Alya pun berlalu pamit kepada Bu Wina dan Diana.


Terlihat Diana tersenyum puas saat melihat mobil Alex datang.


Diana pun dan sang Ibu nampak memasuki rumah dan sang Ibu pun tidak ada rasa curiga sedikitpun terhadap sang anak kalau sebenarnya Diana sudah pergi bersama Alex.


Tiba-tiba terdengar suara sepeda motor dari Bapaknya Diana dengan memasuki teras rumah. Sang Ibu pun berlalu untuk membuatkan kopi untuk sang suami. Sementara Diana tengah duduk di kursi sofa sambil fokus pandangan matanya ke arah ponselnya.


_______

__ADS_1


PLAK!


Tamparan keras melayang indah ke pipi sang anak. Sepertinya sang Bapak sudah tidak sabar menahan rasa kesal dan amarah yang memuncak terhadap sang anak.


Sontak Diana terkesiap dengan tamparan yang diberikan oleh Bapaknya itu. Mata Diana membulat sempurna dan tangannya memegang pipinya yang terasa sakit akibat tamparan dari sang Bapak barusan.


"Pak, ada apa ini!?' tanya Diana terlihat meringis kesal.


"Kamu berani-beraninya ya, bohongi Bapak kamu!" bentak sang Bapak dengan sorot mata tajam penuh kegundahan nampak terlihat disana.


"Maksud Bapak apa sih, aku tidak mengerti," Diana kembali heran dengan ulah sang Bapak. Nampaknya dia tidak memahaminya.


_______


Sang Bapak membuang nafas kasar. Dia pun lalu bercerita bahwa tadi sore dirinya melihat Diana turun dari dalam mobil Alex di sebuah cafe yang keberadaannya dekat kantor anaknya itu. Dan sepeda motor milik Diana sudah terparkir selama 1 jam sebelum Diana datang mengambilnya. Ternyata sang Bapak sedari tadi berada di cafe tersebut dan dia melihat motor sang anak. Tapi setelah itu datanglah mobil Alex kemudian Diana turun dari dalam mobil tersebut dan menaiki sepeda motornya.


"Kamu pergi keluar kota bersama Alex dan motormu di simpan di cafe itu. Dasar anak kurang ajar!" bentak sang Bapak meremas kasar rambutnya.


DEGH .


Nampak Diana terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh sang Bapak. Wajahnya terlihat pucat pasi karena dia tidak menyangka bahwa sang Bapak telah mengetahui semuanya apa yang terjadi.


Diana tidak berani menatap sang Bapak, pandangannya hanya menunduk seakan menyesali diri karena dia sudah melakukan hal yang ceroboh.


Tiba-tiba sang Ibu datang dengan membawa secangkir kopi hitam yang wanginya terasa menyeruak ruangan.


Sang Ibu nampak terkejut dengan melihat sang anak yang tengah memegang pipinya dan terlihat meringis menahan rasa sakit, dan sang suami yang nampak mukanya sedang merah padam karena sedang dihinggapi rasa emosi yang meraja.


"Ada apa ini!" sang Ibu dengan cepat menyimpan kopi di atas meja dan menghampiri Diana. Sang Ibu menatap lekat ke arah sang suami seakan dihinggapi rasa penuh tanya.


"Tanya saja kepada anak kesayangan kamu itu! Didik anakmu karena kalau sama Bapaknya tidak mau nurut," sindir sang Bapak sambil berlalu memasuki kamar.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2