
"Kenapa Na!?" Bu Wina menatap sempurna sang anak.
Terlihat disana sang anak meringis menahan rasa sakit di daerah pipinya. Bulir putih pun menetes di ujung matanya.
"Aku di tampar sama Bapak Bu," jawabnya lirih dengan menghapus air matanya.
Diana pun menceritakan semuanya kepada sang Ibu bahwa dia sebenarnya pergi bersama Alex keluar kota. Tanpa dia sadari ternyata sang Bapak mengetahuinya karena sepeda motornya dia parkir di cafe dekat kantornya ketika dia pergi bersama Alex. Sedangkan secara kebetulan sang Bapak keberadaannya sedang disana. Diana ketika berbicara terlihat gugup karena takut sang Ibu pun menampar dirinya.
"Apa! Jadi kamu pergi dengan Alex? Kenapa kamu bohong. Katanya kamu tidak jadi bertemu dengan Alex!" sang Ibu pun nampak terlihat kecewa terhadap Diana. Tapi dia tidak seperti sang Bapak yang dengan cepat menampar anaknya. Bu Wina hanya menghela nafas panjang. Dia pun melengos ke arah dapur.
_______
Beberapa menit kemudian Bu Wina datang dan dia membawa air hangat beserta handuk kecil untuk mengompres pipi Diana yang terasa linu dan sakit.
"Kamu mandi dan setelah itu tidur istirahat. Kamu di beri uang berapa sama Alex." bisik Bu Wina lekat ke kuping sang anak. Takut ucapannya di dengar oleh sang suami yang tengah berada di kamar.
Kemudian Diana merogoh amplop berwarna coklat yang berada di tas. Kemudian dia pun menyerahkan amplop tersebut kepada sang Ibu dan berucap, bahwa uang itu buat di kumpulkan untuk cicilan motor. Sang Ibu terlihat menghitung lembaran uang merah dan tatkala setelah beres menghitung, dia pun nampak tersenyum lebar pertanda sang Ibu sedang dihinggapi rasa gembira karena uang yang di berikan oleh Alex cukup besar sekitar 1 juta.
_______
"Ambil saja 3 lembar untuk ibu, pakai belanja ke pasar," ucap Diana.
"Aduh Na, makasih ya, jangan bilang sama Bapakmu nanti dia marah," bisik sang Ibu tertawa terkekeh. Diana hanya tersenyum tipis dalam diri sang anak berpikir, mungkin ini yang di inginkan sang Ibu yaitu selalu diberi uang oleh Alex jadi Ibunya matre.
"Aku seperti di jadikan umpan oleh Ibu kepada Alex," gumam hati Diana menghela nafas secara perlahan.
"Sudah, kamu mandi dan istirahat atau mau makan dulu? Bair ibu belikan sate," sang Ibu memberikan sebuah tawaran kepada sang anak. Diana hanya menggelengkan kepalanya. Diana pun berlalu ke dalam kamarnya.
Nampak sang Ibu kembali menghitung uang yang baru saja diberikan oleh Diana. Kemudian amplop tersebut dia masukan ke saku bajunya.
_______
__ADS_1
Ehemm..
Tiba-tiba suara deheman datang dari arah kamar. Terlihat sang suami keluar dari dalam kamar dengan raut muka yang masih terlihat menyimpan gurat kekecewaan dan kesal.
Sang istri terlihat merapikan posisi duduknya dan amplop yang berwarna coklat mencoba dia sembunyikan jangan sampai terlihat oleh sang suami karena takut nanti curiga.
"Kopinya Pak! Nanti keburu dingin," ucap sang istri dengan tersenyum renyah kepada sang suami. Nampak dia seperti sedang menyembunyikan sesuatu jangan sampai sang suami kembali tersulut amarahnya.
"Memang sudah dingin, coba buat lagi yang panas," jawab sang suami.
______
PLUK...
Suara amplop nampak terjatuh dan sepertinya keberuntungan saat ini sedang tidak berpihak kepada sang istri. Meskipun tadi dia bersusah payah menyembunyikan amplop tersebut. Tapi ternyata sang istri tidak memasukkan amplop tersebut dengan sempurna. Jadi ketika dia bangun dari tempat duduk, amplop tersebut tergeser posisinya oleh dorongan badannya sendiri yang mengakibatkan amplopnya terjatuh.
Sang istri berlalu begitu saja dari hadapan sang suami ke arah dapur untuk membuat kopi untuk sang suami. Nampak sang suami seperti dihinggapi rasa penasaran dengan amplop yang terjatuh dari saku sang istri. Dia pun dengan cepat mengambil amplop tersebut. Kemudian membuka amplop tersebut dan betapa terkejutnya hati sang suami karena amplop tersebut berisi lembaran uang berwarna merah. Sang suami nampak mengernyitkan dahi dan dihinggapi rasa curiga.
_______
Sang suami berpikir tidak mungkin kalau itu uang milik sang istri seutuhnya karena dia belum memberikan uang jatah bulanan resiko kepada sang istri untuk bulan ini, dan Diana pun belum waktunya dia gajian. Sang suami pun berpikir dalam hatinya sang anak baru saja pergi bersama Alex dan mungkin Alex yang memberikan uang tersebut.
"Aku harus menjebaknya," kembali Bapaknya Diana berbisik didalam hatinya. Dia pun kemudian memasukkan amplop tersebut ke dalam saku celananya.
_______
"Kopinya Ibu kasih gula merah Pak, biar rasanya lebih enak," ucap sang Ibu yang tiba-tiba datang dari arah dapur dan tersenyum lebar. Sang suami tetap dengan posisi raut muka cemberut dan cuek tatkala tatapan sang istri seakan ingin sang suami bersifat ramah terhadap dirinya.
Sang suami terlihat menyeruput kopi tersebut, lalu dia pandangan matanya fokus ke layar televisi seakan tidak peduli dengan kehadiran sang istri disisinya.
______
__ADS_1
Terlihat oleh ujung mata dari sang suami, sepertinya sang istri nampak gelisah posisi duduknya. Dia seperti mencari sesuatu yang hilang di dalam saku bajunya. Nampak sang suami tersenyum puas, tapi dia mencoba tenang dan tetap fokus ke layar televisi, seakan tidak menyadari kegelisahan dari istrinya tersebut.
"Aduh kemana ya, apa aku lupa menyimpannya? Tapi tidak kok, aku tidak lupa menyimpannya, tadi aku simpan di saku baju," ucapnya pelan.
Sang suami nampak mendengar apa yang di ucapkan oleh sang istri dan dia masih tetap tidak peduli. Sang istri yang notabene seseorang yang pelupa dan sang suami sepertinya menyadari hal itu.
Bu Wina pun nampak berlalu dari hadapan sang suami, terlihat dia menyeret langkah kakinya menuju kamar sang anak.
_______
TOK ...
TOK ...
TOK...
"Na, masih mandi!?" teriak sang Ibu diluar kamar dengan wajah seperti dihinggapi rasa cemas karena pikirannya bercabang seakan mengingat amplop tersebut dia simpan dimana. Dia terlihat merogoh kembali saku bajunya dan dia yakin tadi amplop tersebut dia simpan disana. Dengan wajah panik sang Ibu pun berlalu ke dalam dapur, dia berpikir takutnya amplop tersebut berada di dapur atau terjatuh disana.
"Dimana ya," ucap Bu Wina dan matanya berselancar ke ruangan dapur takut amplop coklat tersebut terjatuh disana.
_____
"Bu,,,!" Diana menepuk pundak sang Ibu dari arah belakang.
Nampak sang Ibu terkejut dengan tepukan pundak dari sang anak, dia pikir itu adalah suaminya.
"Kamu buat kaget Ibu saja," sang Ibu nampak terlihat kesal.
"Loh, Ibu kenapa? Tadi panggil-panggil Diana, giliran anaknya datang malah marah tidak jelas," Diana pun jadi ikut kesal dengan sifat sang Ibu.
"Amplop coklat yang kamu kasih itu, Ibu lupa simpan. Atau tadi kamu ambil lagi!" tatapan Ibu penuh curiga terhadap sang anak. Terlihat sang anak mengernyitkan dahinya lalu menggelengkan kepala, pertanda dia tidak tahu dan tidak mengambil amplop coklat itu.
__ADS_1
Bersambung...