Terjebak Cinta Tetangga

Terjebak Cinta Tetangga
Bab: 75 Pertengkaran Antara Rani Dan Diana


__ADS_3

CEKLEK..


Nampak pintu pun terbuka dengan lebar oleh sang tuan rumah yaitu Diana. Rani matanya melotot ke arah Diana dengan menyorot tajam. Sontak Diana terkejut dengan tatapan dari Rani yang penuh kebencian. Diana tahu Rani adalah sahabat Alya dan dia berpikir mungkin Rani akan menerkamnya karena Alya sahabat dari Rani telah di lukai hatinya oleh dia.


"Ma-mau apa Mbak Rani datang ke rumah Diana," ucapnya gugup sambil memegang pipinya yang terasa masih sakit karena tadi pagi di tampar oleh sang Bapak. Terlihat Rani tersenyum puas dengan wajah yang meringis dari Diana.


"Mau menampar lagi pipi kamu. Biar lebih sakit rasa nyerinya," sindir Rani dengan tawa penuh sinis.


DEGH ..


Sontak Diana terkejut dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh Rani. Wanita yang tengah berada di hadapannya itu seakan meledeknya. Diana terlihat terbakar emosi dan dia berpikir pasti Alya yang telah menceritakan semuanya bahwa dia tadi pagi di tampar sama Bapaknya.


_____


"Kurang ajar Mbak Alya!" gumam hati Diana.


"Ibu kamu mana!?' tanya Rani dengan melirik ke arah dalam rumah.


"Enggak ada sedang keluar beli obat ke apotek," jawab Diana dengan pandangan mendelik.


"Kamu mungkin berpikir dalam hati mau apa aku datang ke rumahmu? Aku mau ngomong sama anak ingusan seperti kamu. Awas kalau kamu berani dekat lagi dengan suami tetangga kamu. Tidak segan aku akan laporkan kamu ke Pak RW, biar semua warga tahu kamu pelakor," ancam Rani.


Rani sebenarnya menahan tawa ketika dia berucap seperti itu. Karena dia pikir mana mungkin dia bicara sama Pak RW, sedangkan dia sendiri tidak tahu rumah Pak RW dimana. Rani hanya sekedar mengancam Diana saja biar ada sifat jera. Dalam hati Rani berpikir pasti Diana takut dengan ancamannya karena kalau sampai warga tahu. Mungkin dia akan tercemar namanya dan semua orang akan mencibirnya.


______


"Ngapain kamu laporin aku ke Pak RW, aneh!" Diana mencoba menutupi kegugupan raut mukanya.


"Iya, lah. Karena kamu telah meresahkan tetangga kamu dan merebut suaminya," ucap kembali Rani.


"Ini hanya gertakan saja dan kamu tidak akan berani," jawab Diana melotot ke arah Rani.

__ADS_1


Dalam hati Rani berpikir, Diana seakan tidak ada rasa malu dan takut sedikitpun terhadap ancaman dirinya. Rani pun merasa tidak dihormati dan di sepelekan oleh Diana yang usianya jauh dari dia.


"Bukan gertakan anak ingusan. Tapi sebuah ancaman!" Rani melotot.


____


Diana nampak mendelik pandangannya dan ini membuat Rani kesal dibuatnya dengan anak ingusan yang jauh beda usianya dengan dia. Diana pun seakan tidak bisa menahan rasa emosinya kemudian dia dengan berani mengusir Rani agar segera keluar dari rumahnya itu.


"Keluar! Aku tidak mau lihat muka kamu disini. Enak saja ancam-ancam orang!" Diana terlihat terbakar emosi. Telunjuknya mengarah ke arah luar halaman rumah.


Rani seakan tidak bisa kalau anak ingusan itu tidak sopan terhadapnya dengan menggunakan telunjuk dan mengusir keluar. Rani pun terlihat tersulut emosi karena dia merasa tidak di hargai sebagai tamu. Telunjuk dari Diana dia hempaskan dan Diana pun nampak terkejut lalu dia dengan spontan ingin menampar Rani rasanya pergelangannya sudah gatal. Namun sepertinya keberuntungan masih berpihak pada Rani dan Rani pipinya tidak jadi di tampar oleh Diana karena dengan cepat tangannya Diana di tarik oleh Rani.


"Aww..!" teriak Diana.


"Tidak sopan kamu! Dasar anak ingusan," ucap Rani.


______


Alya nampak mengernyitkan dahi karena dia melihat Diana pergelangan tangannya tengah di pegang erat oleh Rani dengan mata yang melotot.


"Pasti mereka lagi berantem," ucap Alya.


Alya pun seakan ragu untuk menghampiri mereka yang sedang beradu mulut. Bukannya ini yang di harapkan olehnya. Diana agar di berikan sifat jera oleh sahabatnya itu. Jadi dia tidak perlu menolong Diana yang nampak meringis menahan rasa sakit.


Tapi di lain sisi Alya pun nampak khawatir dengan Diana, melihat raut mukanya yang meringis tersebut. Nampak kegundahan dalam hati Alya begitu berkecamuk. Antara ingin menolongnya atau membiarkan kejadian tersebut. Alya nampak menghela nafas panjang dan dia pun hanya menatap dari arah rumahnya. Percekcokan yang terjadi antara sahabatnya dan Diana.


_____


PLAK...


Suara tamparan keras sangat terdengar jelas ke kuping Alya, saat Alya pikirannya seakan tidak fokus dan samar melihat percekcokan yang terjadi antara Diana dan Rani.

__ADS_1


DEGH ..


Nampak Alya terkejut karena terlihat disana Rani sahabatnya tengah menampar pipi dari Diana. Alya pun nampak panik karena takut terjadi hal yang tidak di inginkan kembali muncul menimpa Diana.


Alya tahu sifat dari sahabatnya itu. Jika dia tersulut emosi takut menjadi-jadi amarahnya. Alya pun dengan cepat menyeret langkah kakinya menuju ke arah rumah Diana.


_____


"Ran, sudah cukup! Ayo, kita pulang," ajak Alya kepada Rani ketika sampai tepat di depan teras rumah Diana.


Sontak Diana matanya merah menyala. Dia berpikir ini semua gara-gara Alya yang menceritakan semuanya kepada Rani tentang kejadian tadi pagi. Jadi imbasnya Rani pun tersulut emosi kepada dirinya.


"Mbak Alya, kenapa kamu nyuruh orang ini buat tampar pipi saya!" teriak Diana dengan pandangan yang terlihat menahan amarah.


"Cukup! Anak ingusan. Kamu jangan membantah terus," teriak Rani menatap lekat dengan sorot tajam mengarah kepada Diana.


Rani sudah kesal nampaknya terhadap Diana seakan tidak mendengar ucapannya sedari tadi. Diana pun nampak terkejut karena mata dari Rani merah menyala seperti kerasukan setan dan seakan mau menerkam lebih jauh terhadapnya.


"Ran, kita keluar saja dari rumah ini. Tenang, semoga dia mau mikir dengan kejadian ini." ucap Alya mengelus pundak sang sahabat dengan lembut.


Rani pun nampak melirik ke arah Alya dengan meremas rambutnya secara kasar. Dadanya yang bergemuruh hebat, coba dia netralkan kembali agar lebih tenang.


______


BRUK ...


Suara pintu pun di tutup dengan keras oleh Diana. Nampak terlihat Diana memasuki rumah. Sepertinya dia dihinggapi rasa malu dan terlihat kecewa. Suara tangis pun pecah terdengar di dalam rumahnya. Terlihat Alya melirik ke arah rumah Diana seperti mengkhawatirkan suara tangisan Diana yang terdengar keras dan sangat sakit hati.


"Ayo!" ucap Rani sambil menarik tangan Alya.


Alya hanya bisa menghela nafas panjang. Dalam hatinya berpikir, mengapa kejadian ini bisa terjadi terhadap dirinya. Diana yang dia anggap seperti adiknya sendiri dan jika dia berkunjung ke rumahnya layaknya seperti rumahnya sendiri. Tapi kini rumah yang dia injak saat ini seperti rumah panas yang membuat dia tidak nyaman dan ingin segera pergi meninggalkannya.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2